Posted by : Unknown
Jumat, 26 Juni 2015
Berkencan
dengan Daniel
27 November 2013. Cherrystone,
washingtone
Pagi ini aku bingung
dan benar-benar bingung, aku bahkan tak tahu mengapa aku seperti ini.Tapi aku
tahu, setidaknya aku tahu, ehm… maksudku sebuah kata yang membuatku untuk
memikirkannya kembali.Troy tersenyum nakal, dan sepertinya dia tahu rencanaku
dengan Daniel.
“Kupastikan, harimu
akan baik nona” ujarnya yang bersender pada pintu kamarku.
“Sepertinya kau
mengetahui sesuatu?Berhentilah tersenyum seperti itu, itu terlihat menjijikkan”
aku mengeluarkan beberapa pakaian dari lemari pakaianku.
“Kau bingung, hm…
kupastikan kau kebingungan memilih baju untuk kau gunakan.Benar?”ujarnya.
“Kembalilah
kekamarku, dan jangan menggangguku” usirku, tapi dia tidak mau beranjak dari
depan kamarku.
“Ayolah, Troy…”
lanjutku dan dia melengos pergi kemudian…
“Ever, berkencan. Ever
akan berkencan” teriaknya dan aku tak memperdulikannya. Aku berharap menemukan
pakaian yang akan kugunakan sekarang dan segera pergi.
Aku mengenakan kaos
biru sampai siku dan celana panjang coklat. Kupikir ini lebih pantas walaupun
terkesan jaman dulu.Tapi inilah gayaku.Aku keluar dan kulihat Troy bersama
ibuku tersenyum kearahku.
“Dia akan berkencan
dengan Daniel.Tetangga kita itu” ujar Troy dan aku seperti terperanjat untuk
sesaat.
“Apa urusanmu?Apa
perdulimu. Kau hanya anak kecil”
judasku.
“Jadi kau orang
dewasa.Ibu kau dengar, Ever sekarang telah menjadi orang dewasa. Lihatlah…”
ejeknya.
“Berhentilah menggoda
kakakmu. Masuk dan pergi belajar” bela
ibuku terhadapku. Untuk saat ini aku menang.
“Rasakan… Aku menang”
ujarku dan ibuku langsung memandangku dengan tatapan seperti mengatakan ‘Kau jangan seperti itu pada adikmu’.Lalu
ibuku menggerakkan kepala seperti menyuruhku untuk pergi, seperti biasa mencium
pipi dan keningnya lalu akupun pergi.
Aku membuka pintu
rumahku pelan dan kudapati Daniel berdiri sambil melipat kedua tangan dibawah
dada.
“Kau sudah lama
menunggu?” tanyaku pelan.
“Tidak terlalu.
Baiklah, kemana kita sekarang?” tanya Daniel.
“Kau tidak masalah
jika kita pergi ketoko buku?” ucapku dan dia hanya mengangguk.Selama
diperjalanan kami berdua hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata-pun.
“Aku memberitahu
Dylan akan berkencan denganmu” ujarnya, sembari meletakkan kedua tangan
dibelakang kepala.
“Lalu, bagaimana
tanggapannya?.Apa yang dikatakan?” ucapku.
“Dia hanya tersenyum dan mengatakan semoga harimu
menyenangkan. Yah begitulah” aku berani menjamin dia meniru gaya Dylan ketika
mengucapkan itu.
SCENE Other
Kedua remaja itu
duduk diatas kursi kayu panjang. Dibawah pohon ek yang rimbun. Suara
derusan angin menerpa wajah keduanya.
“Aku akan
membeli roti disana, kau tunggulah” ujar
seorang gadis dengan rambut panjang
putih pucat yang sengaja ia kuncir kuda pada pria yang tengah duduk
disampingnya. Sementara pria itu hanya mengangguk dan gadis itu pergi
meninggalkannya. Ever, gadis itu melewati jalan raya yang pada saat itu tidak
terlalu ramai oleh kendaraan. Tapi ramai
oleh lalu-lalang orang yang lewat. Dia menuju sebuah toko kecil yang ada
diujung, disana didapati seorang wanita tua yang tengah duduk disalah satu
kursi plastik sambil memandang kearah pintu masuk.
“Selamat datang”
ujarnya ketika Ever mendekatinya.
“Apa kau penjual roti
bakar ini?” ucap Ever ketika kedua matanya tertuju kearah roti-roti berbentuk persegi
itu.
“Iya, apa kau akan
membelinya. Akan kupanggilkan anakku untuk membungkuskan untukmu” lirihnya
pelan, lalu beberapa detik setelah dia mengucapkan hal itu, seorang wanita
dengan celemek biru keputihan datang, dia sedikit memperbaiki letak rambut hitamnya yang berantakan.
“Apa ada pelanggan?”
ujarnya cepat, dia memandangi Ever dan tersenyum pada gadis itu.
“Kau ingin membeli
apa?” tanyanya lagi. “Roti bakar” singkat gadis itu.
“Hari ini kami ada
menu special. Roti bakar dengan aroma kayu manis. Aku baru saja membuatnya, aku
akan memberikan gratis untukmu” ucapnya penuh dengan keceriaan.Dia mengambil
kantung plastik putih sambil bersenandung kecil.
“Anda tidak perlu…”
kata-kata Ever terhenti ketika wanita itu langsung menatap sedih kearahnya.
“Terimalah, karena
kau pelanggan pertama yang datang pagi ini.Jadi kumohon terimalah. Ini mungkin
sedikit memaksa.” ucapnya, dia memandangi gadis
itu dengan penuh harapan.
“Baiklah, terimakasih”
ucap gadis itu pelan.
“Nah…” ujar wanita
itu sembari memberikan kantung plastik berisi roti pesanan Ever.Setelah
beberapa menit berikutnya, Ever-pun meninggalkan tempat itu.
“Kau lama sekali”
ujar Daniel, pria itu berdiri didekat persimpangan jalan menunggu gadis itu.
“Maaf, aku membelinya
diujung jalan sana” ucap Ever
menunjuk jalanan panjang yang tidak terlalu ramai, bahkan jika dilihat
lagi malah terlihat sepi.
“Sebaiknya kita
kembali ketempat sebelumnya, kurasa kita akan menikmati roti ini dengan udara
segarnya” lanjut gadis itu.Lalu, Daniel mengangguk dan mereka menuju tempat
semula. Gerakan langkah mereka bersamaan, namun sesuatu membuat langkah Ever
terhenti, ketika ditempat mereka semula didapati 6 orang lebih tepatnya 3 gadis
dan 3 pria. Ever mengenal ketika gadis itu, Kattie dan kedua temannya.
“Kurasa kita akan celaka” kata Ever terdengar berbisik.
“Kau kenal mereka?”
tanya Daniel.
“Iya… tapi tidak terlalu
mengenal mereka” ujar gadis itu.
“Lalu, kenapa kau
merasa celaka ketika melihat mereka?” ucap Daniel.
“Aku ada sedikit
masalah, jadi apa kau akan meneruskan niatmu untuk kembali ketempat itu?” tanya
Ever memastikan.
“Mengapa tidak?
Bukankah ini tempat umum?” ujar Daniel dan berjalan mendahului Ever. Gadis itu
mengikuti dari belakang.
“Oh… kita bertemu
lagi, Cash” ucap gadis blonde itu.
“Rupanya dia sedang
berkencan dengan… Kurasa aku mengenalnya” ujar pria dengan rambut hitam dan
menggunakan kemeja coklat sampai siku.
“Kelas satu yang
tidak memiliki pendidikan.Dia bahkan berteman dengan komplotan geng.Kau tidak
akan percaya, bukankah itu yang sedang beredar disekolah” tambah pria yang
beralis tebal dan berdiri disebelah Katie. Ever mengangkat kepala memandangi
Daniel, pria itu kembali terlihat berbeda. Dia menatap dingin kearah Katie dan
teman-temannya. Ever hanya memandang wajah tirus pria itu yang dengan tatapan
dinginnya.
“Daniel…” lirih Ever
pelan, gadis itu takut sesuatu akan terjadi. Dia menarik lengan pria itu dan
menggenggamnya pelan.“Daniel…” suaranya pelan, namun berhasil menyadarkan pria
itu yang seperti dirasuki dan kini telah kembali seperti semula. Daniel
tersenyum kearah Ever dan balas menggenggam tangan gadis itu.
“Kau tak perlu
khawatir” ujarnya, kemudian maju beberapa langkah dan sembari berkata pada
Katie dan teman-temannya.
“Kau benar, aku
bergabung dengan komplotan geng.Bagaimana jika aku memanggil geng ku kesini dan
menghajar kalian?Aku bisa menghubunginya sekarang.Jadi kau harus berhati-hati,
kau bisa saja mati ketika kau pulang nanti.Dan jaga gadis-gadis mu itu.Mereka
bahkan terlihat menjijikkan”.
Mereka pergi
meninggalkan tempat itu. “Bagaimana bisa dia berkata seperti itu? Dia bahkan tidak memiliki
ssopan-santun terhadap seniornya. Heh…” marah pria dengan alis tebalnya.
“Kufikir kalian yang
membuat dia marah.Bukankah sudah kuberitahu kau tak perlu mengatakan hal
seperti itu?Itu hanya kabar burung yang tengah beredar disekolah kita-kan” ucap
pria berambut blonde dengan kaos putih yang menyelimuti tubuhnya.
“Tapi pada
kenyataannya dia benar-benar bergaul dengan komplotan geng. Sudahlah, kau tak
perlu membela pria itu” ucap pria beralis tebal dengan nada yang sedikit
dinaikkan. Sementara pria berambut blonde itu hanya menggeleng pelan.
“Sudahlah Jimmy,
Christ… kalian tidak perlu meributkan hal seperti itu” sela Katie.
“Aku akan memberikan
pelajaran untuk gadisnya, aku berani menjamin… dia tidak akan betah berada
disekolah.Dan Daniel, aku akan menyuruh pria itu berlutut untuk meminta maaf
pada kalian” lanjut Katie dan tersenyum evil dengan teman-temannya.
“Sudahlah, hentikan
rencana konyolmu itu Katie, kufikir itu tidak akan berhasil. Sebaiknya kalian
tidak terlalu berlebihan” bela pria berambut blonde.
“Christ… apa ada yang
salah dengan fikiranmu saat ini?” ujar gadis dengan rambut sebahunya.
“Tidak, tidak ada
yang salah. Aku tidak akan ikut dalam rencana bodoh kalian. Aku pergi” ujar
pria berambut blonde itu berjalan meninggalkan mereka.
Sementara dilain
tempat. -Daniel dan Ever- tengah menikmati roti bakar yang dibeli oleh Ever.
“Aku sangat menyukai ini.Lezat, apa disana terdapat banyak rasa?” ucap Daniel
sambil memasukkan roti kedalam mulutnya, Ever mengangguk. Lama dia-Daniel
mengunyah.
“Kau harus membantuku
ketempat toko roti ini.Aku akan membeli banyak” lanjutnya. Kembali ia
mengunyah, Ever memandangi pria yang duduk disebelahnya.
“Tadi itu, apa tidak
apa-apa?” ucapnya pelan.
“Maksudmu?” bingung
Daniel.
“Kau mengatakan bahwa
kau komplotan geng, dan kau bahkan mengancam mereka.Apa itu tidak masalah?”
ucap Ever berbicara hati-hati pada kalimat terakhir. Daniel menghentikan
kunyahannya. Kemudian membalas mata gadis itu lembut.
“Semuanya akan
baik-baik saja, aku tidak masalah jika mereka berfikir seperti itu.Tidak
masalah jika semua orang menjauhiku.Tapi aku tidak ingin kau menjauhiku. Aku
senang bersamamu Ever, aku bahagia bersamamu” ucap Daniel dan Ever merona. Ever
mengangkat tangan dan memegang wajah Daniel lembut.
“A..a-apa yang kau lakukan?”
ucap Daniel gelagapan.
“A-aku hanya, hanya
ingin me-menenangkan-mu. A-aku pernah membaca dibuku. Ji-jika seseorang tengah
bingung atau sedih. Ma-maka dia butuh sentuhan” ujar Ever gelagapan pula.
Langit terlihat cerah bahkan sangat cerah waktu itu, suasana disekitar mereka
terlihat penuh dengan warna. Disekitar mereka, penuh dengan bunga-bunga mekar
dimusim semi. Musim semi -EVER dan DANIEL-
