Posted by : Unknown Senin, 26 Mei 2014






Ada saja hal yang tak mungkin dapat terkuak olehku. Hanya saja disana sebuah penantian pun yang tak dapat kugali...
Ah merebaknya semua ini bagai membuat diriku terkalut dalam drama yang tak karuan
Kala ini...
pernah terbayang dalam benak,
ingin rasanya tak menggubris,
ingin rasanya melenyapkan...
tapi tak bisa.
Semua itu dimulai seperti perputaran roda saja..
Mengapa?mengapa?
Bukankah lebih baik mengurung dari pada terkurung?
Bunga yang telah kering akan berserakan tertiup angin... (Popy Merkuri – Terlambat sudah)
Kerap kali hidup memandang angkuh dengan semboyan ~angin berlalu, sudahi deraian yang tak nyata walau terkikis api membara~
Walau tak mestinya terkadang keangkuhan mendera... dalam bait meraja sang merpati bertebaran dimalam yang kian
Pertemuan secara tiba-tiba membuat merasa hal yang mungkin berbeda
Oh ... mahligai keindahan, terkadang merasa terkalut akan pemandangan yang terpancar dikala itu...
Hm... pertemuan secara tiba-tiba membuat aruman indah dalam samudra yang telah melupa...
Kadangkala, sebuah irama mengalun tepat dihati sang lembayung... 
Oh... irama merdu, bagai lendikan berkisar dalam samudra yang bertepur dalam keindahan yang mendera...
Dikala itu... seperti nyanyian terkisar menyambut datangnya esok menjemput...
Waw... pertemuan tiba-tiba mendayu-dayu dalam alunan gemericik hati yang tengah terkikis.

Demikian bunyi alunan samudra,
katanya... mungkin tak hias habis terkikis sudah,
saat menjamah senyuman terukir bak bunga merah meradu
meradu dalam sirna sang lembayung
Biarlah berlalu... berlalu, berlalu nan berlalu...
Kini... sebuah cermin indah akan nampak sekilas walau tak berkias
Pertemuan tiba-tiba yang memungkinkan untuk berlabuh secara harfiah...
Sempat berfikir pada lembayung layu ketika itu berduka... Walau terkadang sulit, namun setiap itu semua jika harus difikirkan juga tidak akan berarti. Sang balada telah menapuk samudra pada lembayung baru, lembayung lama sudah terkikis. Biarpun begitu, tak akan menjadi masalah... sebab, lembayung layu telah terpikat olehpertemuan secara tiba-tiba. Dari sang pujangg untuk menjaga samudra yang telah usang. Kadang terfikirkan, bagaimana sebaiknya lembayung pergi dengan indah...
Malam yang merajuk menyikapi seluruh kegelisahan
Ditengah gulana... sebuah pasir menepi, dalam helain sang pujangga mengaik deburan angin yang begitu keras...
Teruntuk teman ~ Mungkin tak kan kias habis memory yang telah diciptakan, akan ingatan nan keindahan serta tawa yang menghiasi waktu-waktu dikala itu.~ Katanya, tak sempat untuk meluruskan dikala semuanya telah terlambat, oh... tak dapatkah untuk bersama?
Kepada seorang teman ~ Kerapkali ia mengatakan ini adalah sebuah kemajemukan hidup dalam suasana harfiah entah mengenai bathin atau kah emosi yang memang tak sejajar dalam ingatan~ Tapi, ketahuilah ada pula saatnya pengertian itu timbul dari jiwa setiap sang pujangga malam.
Sungguh...
Tak peka aku pada sekeliling, semuanya menggebu seakan mendorong batin yang tertutup untuk terbuka kembali...
Teruntuk (Teman) 
Mungkn yg lain tak peka akan usaha yang di lakukan, jika memikirkan itu... hanya akan menambah peluh yang tak berarti...
HIDUP ini tak seperti yang kau fikirkan...
Setiap perkara menjadi satu dalam detik yang tak pernah berakhir
Keabadian setiap makhluk bukanlah sebuah persetujuan, ketika dikalutkan dalam suatu perkara yang tak berarah...
Top of Form


Ketika lembayung menangis... tak kan ada yang tahu...Oh... inilah arti lamat yang berembus sinestesia tak beraturan. Sudah terlanjur dan dapat melupa, melupa nan melupa agar lamat tak menyakit nantinya. Ah... melupa nan melupalah... sang balada ada lembayung lain yang ia kasihi. Oh... sang persada, lupa nan melupa-lah... sang lembayung merintih dalam kediaman.
Dia berjalan ditengah koridor, kemudian ia melesak ke kelas. Terduduk diatas bangku kayu dan memandang lurus kearah papan putih. Tak lama kemudian ia menunduk menatap atas meja yang penuh coretan tangan yang tak bertanggung jawab. Lalu ia menoleh kearah jendela dan menembus pandang menatap awan dilangit. Ketika itu, ia merasakan sebuah hembusan menyapa tubuhnya, lembuuuut...
Langit kebiru-biruan, dia berkata dalam hati "Angin penuh kelembutan... bertiup dari celah jendela.Aku mengerutkan wajah padanya untuk menyembunyikan perasaan aneh ini. Aku mengangguk ragu saat membentuk masa depan ditangan ini, masa depan dari diriku yang lebih baik dari kemarin" 
Ia menunduk dan melemas...
Gadis itu menarik nafas dalam... matanya menatap kosong kedepan.Sekalipun ada yang lewat bahkan menyapa, tak dihiraukan jua. Dalam hati ia mengatakan " Langit berawan menceritakan kisah yang akan datang, bentangkan tanganmu dengan keberanian yang lebih pasti. Dari kemarin... cahaya dan kegelapan masih berada dikejauhan. Walaupun begitu... Aku ingin mengetahui alasan dari perbuatan baikmu itu " dia tersadar ketika seorang teman menghampiri. Lamunannya terbang bersama angin yang berhembus pelan dan bernada ringan.
Ketika berjalan... pandangan itu lurus kedepan.Tatapan kosong sudah tak terelakkan lagi.Malam tanpa bulan seperti mengingatkannya pada sesuatu. Ketika itu, dia berkata dalam hati " Gelak tawa mengejar bulan dari langit. Menuju kemarin... Jika aku memang pembohong, penakut dan semua itu, aku hanya berkata bahwa itu semua adalah mimpi. Bersembunyi dibayangan bulan, kumenangis... Tapi air mataku mengering dan meninggalkanku. Meski jika semua termaafkan, mungkin aku akan menangis lagi "
Setelah itu ia menuju pembaringan dan mencoba memejamkan mata.
Dia berjalan dengan beberapa temannya di tengah-tengah keramaian koridor, kemudian memasuki kelas dan bercengkerama dengan teman-temannya.Ditengah kerisauan, seorang gadis duduk sendiri di atas kursi kayu, kemudian menopang dagu. Dalam hati, dia berkata " Sepinya langit dan pagi yang menyongsong, disini dan sekarang adalah dimana semuanya dimulai, aku ingin memikirkan apa yang bisaaku lakukan " Ia melihat sekeliling, dua orang gadis dengan penuh canda tawa yang tak lain adalah temannya menghampiri. Seketika ia tersenyum 
Dia menarik kursi belajarnya dan langsung duduk, membuka lembar demi lembar kertas yang ada dihadapannya.Ia mengambil bolpoin dan menuliskan sesuatu, lalu... beberapa menit kemudian ia memutar-mutar bolpoinnya sambil menopang dagu. Dlam hati, ia berkata " Memalukan jika memikirkannya. Jika aku memikirkannya, hatiku seperti terdiam. Perasaanku bercampur dengan rasa pedih, aku berbohong...
Dan sedikit lagi... momen ini tidak akan terlupakan. Oh tuhan... berilah aku sedikit keberanian " dia tersadar ketika angin lembut menyapa dari jendela yang terbuka.
Disertai keremangan malam, gadis itu mencoba menenangkan diri.Ketika sebuah kehidupan yang mulai nampak membuat dia sedikit ragu.Waktu itu... ketika dia mulai membuka mata memandangi dunia yang datang mengarungi kehidupannya, kembali.Dikediaman malam, hatinya mengatakan "Meski ini sudah menjadi takdir, atau sudah menjadi sebuah penentuan. Meski ini membuatku terluka, ini bukanlah sebuah akhir, sehingga aku selalu berharap lebih " dia tersadar ketika seseorang menarik knop pintu dan menghampirinya.
Gadis itu menerobos keluar ruangan, dia menuju sebuah tempat untuk menenangkan diri.Duduk dibawah pohon, deru angin membawa kelembutan dipagi itu.Dia terdiam, seakan memikirkan sesuatu, tapi sebenarnya tidak.Matanya berkeliaran seperti mencari sesuatu, tapi sesuatu itu tidak ditemukan jua. Dia berpindah,,, menghampiri teman-temannya, lama ia terdiam disana... Dia berpindah-lagi-, dia terduduk di pinggir koridor kelas. Keributan dari lalu-lalang siswa sama sekali tak mengganggunya.
Dalam hati ia mengatakan " Katakan sesuatu padaku, kesedihanku, bunga yang cantik, tepat sebelum aku berada disini. Ini belum bisa ku mengerti, saat lagu-lagu itu terbuat dengan sendirinya. Aku memimpikan kebebasan dan selalu mengharapkannya" Dia tersentak ketika seseorang melempar sebuah batu kecil dihadapannya
Dalam diam ia sendiri tengah berfikir, ia terlalu banyak menggunakan kepala ini untuk berfikir yang tidak sepantasnya, dalam hati ia mengatakan "Suara detak jantung membawa sebuah keinginan yang mengisi hati. Selalu saja mencari kesalahan.Dan sebuah kebaikan percaya hanya pada perasaan yang meluap mengingatkan tentang masa lalu" dia tersentak ketika sebuah benda pipih berdering disampingnya.
Saat itu juga, hampir dan hampir saja diketahui oleh yang lain. Jika dia tidak menyela mungkin akan terungkap jua. Dalam hati ia mengatakan " Ditempat terpencil seperti ini, kita dapat bertemu. Senyuman tersungging ketika angin lembut berhembus" ia tersentak ketika seseorang memanggilnya.
Jauh… didalam
Sepenggal hati tengah terluka
Menangis… dalam keremangan malam.
Ketika itu…                              
Setiap orang terjaga
Sendiri… melampirkan setiap bait kata-kata.
Diatas benda putih bergoreskan tinta hitam
Oh… ada malaikat menyelam disebuah tembok putih.
Nyanyikan lagu sang balada
Hati bertepur pada kemenangan…
Oh keremangan malam itu
Ketika sang rembulan menyapa dikala itu, hembusan angin penuh kelembutan seakan memanggil. Dikala itu… berjuta ungkapan yang tak mungkin tersampaikan untuk sang pelipur lara yang tersenyum dari kejauhan.
Mentari Nampak…
Indah ketika mata menyelang
Sebuah permadani terbentang luas
Menanti samudra yang tak kunjung datang
Sepoi-sepoi setiap helaan
Ketika nuansa nan indah mulai terkoyak
Saat kertas putih tergores tinta hitam
Belenggu mencengkam
Nirvana…  oh… nirvana
Dendangan syair bersutra diatas bumi
Ribuan tangan seakan meraih
Harapan pun tak kunjung dalam pengabdian
Sendiri menelan pahit kehidupan
Akankah semua sirna dalam sekejap ?
Malam-malam membawa sang lembayung meraih bulan. Dikala itu, angin berhembus pelan menyapa jiwa yang tengah meratapi. Oh… malam yang kian mencengkam mengaduk seluruh jiwa yang tengah gulana.
Kadangkala… ketika waktu bergulir cepat, sang lembayung terduduk menanti dan menanti. Walau di dalam kediaman… ia berfikir dan menanti. Menanti dalam waktu yang begitu lama… yang mungkin tak kan pernah tersampaikan pada sang balada.
Dalam keremangan sepi
Sebuah penantian menabuk suci
Oh… berkala merintih dalam hati sunyi
Kadangkala…
Seonggak senyum tertepis menanti kepastian
Sudahi saja… dan jera
Semuanya bak menempuh dalam kesendirian
Oh… pelara sang lembayung
Setiap dentingan berkabut menanti
Aruman mimpi-mimpi terlampiaskan
Dikala… sendiri…
Dibawah langit senja… seakan menapak pasir yang kian begitu dalam.Dibuai oleh samudra yang begitu datang tiba-tiba. Secara tak sengaja lembayung menaruh hati pada samudra lain. Oh… seperti menggapai bulan dalam mimpi indah yang tabu.
Dalam sepi… sang lembayung menepi… ketika lembayung layu tengah berguguran di tengah-tengah samudra, sang balada berpindah pada lembayung baru. Saat itu pula… sang balada menepuh samudra kembali. Ah… samudra yang tak dapat terubah oleh sinar sang pujangga.
Awan biru tertawa pada samudra yang tengah mengering. Walau begitu… sang lembayung tak dapat berbohong… ketika ada saatnya benturan langit gelap dengan cahaya matahari. Jauh… yang tak kan didapat oleh lembayung gugur.
Haruskah lembayung bersembunyi dalam kediaman?Ketika mencoba bertanya pada samudra yang tengah masam.Sang pujangga rindu menoleh dalam samudra sendiri. Tiba-tiba, dan tiba-tiba… Yang mungkin lebih baik untuk menghilangkan samudra yang tengah mengering.
Ketika sang penyair tertidur diantara malam-malam yang tabu… sang pujangga mengatakan “ Lembayung layu menangis, merintih dalam kediaman menanti. Samudra untuk balada yang tak pernah tersampaikan, hingga balada pun merajuk pada lembayung baru”
Tak salah jika angan tak sampai… bukan dalam gurauan atau hanya angan yang mungkin tak kan tiba. Lembayung menunggu saat yang tepat untuk menabur hati pada balada… Ah,,, gejolak berputar dalam bait-bait nada yang terlupakan.
Dalam kebisuan malam... saat itu, lembayung duduk di tengah-tengah suara yang mendera.Mencoba untuk menaburi jiwa yang sunyi dengan nada-nada merdu.Tak terfikirkan olehnya… dalam senandung irama yang menjamah sekujur bait.
Dikeremangan malam yang pekat
Mengalun sebuah irama merdu yang mulai menampik
Seakan mengarungi malam yang begitu tabu
Dalam sepi…
Sebuah aruman berpijak
Pijakan yang seolah-olah mendera dikala itu
Ketika itu… Embun melayap desiran angin terkikis
Angin penuh kelembutan…
Yang mulaimengarungi malam yang tabu
Banyak hal yang tak dapat kumengerti dalam hidup ini, entah sebuah ide tau pepatah yang tak mungkin bisa begitu saja diartikan. Walau dalam setiap bait… kadang kebohongan tak seperti kenyataan. Kadang pula sama sekali tak berarti omongan dengan omong kosong belaka… kadang kesalahan jauuuuuuuh dari kebenaran… begitulah hidup bagai roda berputar yang tak diketahui maksud yang berpijak didalamnya.
Bagi lembayung… kebohongan lebih baik dari kejujuran… ketika lembayung bertemu samudra untuk yang pertama kali… lebih baik tak berterus terang pada balada tertuju. Kadang… kebohongan adalah bukti nyata dari samudra yang ingin melupa nan telah terlupa.
Malam yang tabu... membawa lembayung pada samudra yang tak terkuak.
Ketika hidup mulai berjalan, seperti perputaran roda yang mencari tempat untuk bersinggah sejenak.
Entah... sebuah kebohongan atau-lah kejujuran. Nyatanya itu berbeda jauh... semuanya hanyalah dunia belaka ditempat yang durja ini...
Lembayung bagai terombang-ambing ditengah kehidupan... mencoba menguak apa yang tersirat dikala itu...
Meski samudra telah berlabuh... tapi tak dapat dipungkiri
Meski balada telah dan mungkin melupa... lembayung layu tetap menanti
Ah... Sebuah kehidupan yang menanti kepastian
Seorang teman menyela: Sebuah kehidupan yang menanti kepastian,, melewati gelap terang.a jalan menuju impian,,, deras arus gelòmbg tetap menjadi sahabat sejati mu menuju gerbang kesuksesan.
Dan aku-pun membalas : Kesuksesan yang berarti membuat hati indah saat sayup-sayup menemani malam...
Seorang teman : Sayup_sayup malam yang indah.. Tanpa sinar rembulan, yang tersipuk malu di belakang awan kelabu,,
Jawaban : Rembulan bersembunyi bertanda gelap untuk kedatangan hujan yang sebentar lagi turun. Dalam kebisuan malam... satu cahaya terang berasal dari bintang yang mengintip ditengah kegelapan
Salah seorang lain menyela ) : Bila kutitipkan dukaku pada langit, pastilah langit memanggil mendung. Bila kutitipkan resahku pada angin pastilah angin menyeru badai. Bila kutitipkan gram ku pada laut pastilah laut mnggiring gelombang. Bila kuttpkn dendamku pada gunung pastilah gunung meluapkan api...
Jawaban : Dalam kegelapan... langit menangis, dalam sepoi angin yang hilir... sebuah kemarahan seakan terkuak, ditengah laut... gelombang pun seakan menghantam karang yang tak berdosa. Gunung meluapkan api seakan tak melihat entah disana dan disana... akankah seseorang tengah mengadu...
Tak usah menyimpan amarah dalam kegelapan yang tak kunjung bisa diredakan oleh pilu yang mungkin tak berarti.
Seorang teman : Akankah Cahaya itu mengintip di tengah kegelapan...??? Pertanya'an itu kian terlontar dari bibir ke bibir,, awan kelabu menghalangi sinar bintang yang terpancar.
Jawaban : Cahaya melesik dalam setitik arus yang berawan... ah, cahaya sunyi ditengah-tengah kegelapan malam sepi
Ketika sang penyair mulai meluncurkan berbagai bait dalam kalimat... Sebuah ironi yang terkikis ditengah-tengah sajak kata.
Penyair mengatakan " Usah dirundung dalam kemalangan, lamat tak menempuh melaju kepastian "
Ketika nada mulai bergemuruh menyapa malam yang mencengkam… seakan warna cerah berubah jadi gelap, mimpi-mimpi terubah menjadi tabu… kehangatan berubah menjadi dingin. Seakan menyapa pada segelintir makhluk yang mulai berkeliaran dikala itu.
Walaupun mengharap kedatangan matahari, jika saja sang pujangga sudah berkata... tak kan bisa.
Benar... Ketika sang pencipta menganugerahi pada pujangga malam... ketika itu pulalah sang penyair mulai merangkai bait-bait yang tersampaikan...
Tapi malam kian ada cahaya yang melesak terang ketika tinta telah berubah warna... seperti... aruman kesejukan yang nampak dalam malam gelap...
Tak kias walau mimpi yang diidamkan terkadang tabu... ketahuilah, ditengah-tengah mimpi tabu setitik pengharapan bisa saja melejap dalam sekejap.
Dalam bibir-bibir indah nan manis terucap kata-kata santun yang terkuak…
Bunga yang layu menabuk sunyi, sebuah irama merana dalam kesepian keluar dari mulut-mulut para sang pujangga malam.
Terbilang rahasia... ketika mencoba untuk mengungkit.Terkadang, segelintir orang berfikir yang tak sepantasnya... tapi ketahuilah, ketika kebenaran terkuak. Kebenaran memang akan terkuak dari sang pencipta, penciptanya untuk sang mortal ini.
Ragu… ragu… nan ragu…, hingga berujung keraguan yang tak pasti. Dalam diam yang sepi, segelintir orang terkadang mengatakan “ Tak usah dipendam jika merajut luka yang teramat, ah lamat laun akan menepuh buih yang tak kunjung berakhir. Hingga sampai kepastian yang tak dapat terkuak kembali ”

Walau dalam diam…
Keremangan ketika ini tak mengapa
Tak usah terfikir juga tak masalah…
Asal tau, bukan nista yang terkuak oleh janji
Tapi kebenaran yang terkuak dengan kenyataan yang mendamba
Berjuta syair untuk menenangkan fikiran… ketika kala itu, setiap irama melaju tak berbatas merobek malam yang sepi.Sebuah kedamaian ketika menjamah malam yang gelap ini.
Desah dan nafas terdengar untuk beberapa saat dikala itu, keremangan malam seakan mengajak untuk menemui pembaringan yang sebenarnya tak dapat di percaya.Mata tak dapat terkatup tanpa nada panggilan dari pembaringan yang tengan menunggu.
Seonggak senyum menyapa segelintir makhluk untuk kesekian kalinya, sebuah nada yang berjalan terfikirkan untuk terkuak kembali… akankah dapat dimengerti maksud perbuatan baik yang sebenarnya tengah tercipta ini?
Terfikir jua untuk memikirkan masa depan yang merajut sebentar lagi… walau saat ini fikir mendera pada satu titik yang tak menentu… Entah nyata atau ilusi, sungguh… lembayung layu yang tengah merajai kasihan dalam rindu yang lamat.
Hidup ini rapuh… layaknya sebuah bait yang digunakan untuk sementara waktu, kemudian lama-lama dan berlama yang selanjutnya akan diganti dengan bait yang modern ~ cepat merapuh…
Malam untuk pagi …
Katanya : Pagi yang cerah melebuh sang fajar diantara matahari bersinar. Tengah terik menerawang membawa mimpi dengan angin yang begitu halus nan lembut… Memberikan warna untuk hidup bagi segelintir orang.
Pagi untuk malam…
Katanya : Sayup-sayup angin mengantar kedinginan dibawah sinar berpancarkan cahaya bulan. Langit gelap menanti bintang membawa setitik cahaya untuk menemani permai bulan.Bersama mengarungi langit petang untuk kedamaian yang harfiah.
Minggu untuk hari…
Katanya : Berlalu… nan berlalu, untuk kesekian kalinya bertabuh bagi permai ditengah-tengah terik yang akan datang.
Hari untuk minggu…
Katanya : Hakikat yang akan tiba membawa aruman untuk esok cerah yang tiba.
Bulan untuk bintang…
Katanya : Temani dalam sepi untuk menyinari alam perintah dari pencipta sang penciptanya
Bintang untuk bulan
Katanya : Bersama untuk bersatu, walau berjuta tak akan hampa… dalam goresan malam yang kian menapuk kesucian dari pencipta sang penciptanya.
Hujan untuk langit…
Katanya : Basahi tempat karena perintah dari pencipta sang penciptanya, memberikan aruman bagi sekian makhluk yang antah diketahui asal.
Langit untuk hujan…
Katanya : Sang pencipta, penciptanya… menabur benih bening menampik sekian juta alam yang ternodai. Ibarat tinta hitam tercelup diatas kertas putih bersih.
Dalam kebisuan malam yang gelap, seolah mentari mulai ragu untuk nampak kembali. Di keheningan,,, ketika itu seroja menapik akar yang tak dapat di mengerti. Senyuman yang tak paut untuk dilalui ketika itu, dan saat itu. Untuk menepuh waktu yang akan datang.
Dunia menepi, hidup melanda.Keremangan malam yang tertutupi oleh noda berbekas.Sejuta kata mungkin tak dapat tertorehkan dalam alunan kertas putih sebening salju yang dingin.
Rama-rama melambai, menapik hidup untuk mendamba.Sebuah anugerah menanti, menanti dan menanti.Dikala menyelam bagai arus yang menghempas begitu saja.Daku tertoreh untuk menumbuk ikatan yang tak terikat.
Dikala itu, senyuman mungkin tak dapat merekah untuk menyambut esok yang kian ceria bagi segelintir orang.Tak peluh jika memandang tanpa harus menggubris sepenggal ingatan yang tak kunjung menjauh.
Seonggak lintang yang tak berbuih, menapuk malam sepi yang tak berarah.Sebuah aruman mulai nampak dikala itu, seolah bertajuk dalam rencana yang tak terfikirkan.
Sebuih pasir dilangit, menapak sekaleng embun yang tak ter-gubris.Dalam bayangan kelabu meronta untuk kembali ketika pertempuran mulai terasakan.Saat menjamah dunia gelap yang tak diketahui seperti angin berlalu ketika datang menjemput.
Dalam keheningan malam yang mulai menyapa, sendiri aku menapuk sunyi yang tak dapat tertoreh olehku.Meski hidup tak dapat kumengerti, entahlah... mungkin hanya dapat terukir dalam rangkaian kata yang tak bermakna.
Ketika itu... Lembayung merintih bagai buih yang meronta.Sebutir embun menyapa rembulan yang mulai nampak dikala petang itu.Sambut untuk suku-suku kejora yang tengah tersenyum dikala gelapnya langit memandang dunia.
Serumpun padi disawah bergoyang, bergoyang nan bergoyang, menari, menari nan menari. Matahari tersenyum dengan ceria melatuk sang berkasih yang tengah berdawai dalam merdu melana...
Angin penuh kelembutan, katanya “ Tak habis kias untuk ku menyapa setiap makhluk yang berdawai dalam pelana yang tengah menanti ”
Dalam bayangan sebuah nirvana mulai mendaki, menuruni berbagai gunung yang tak pasti.Entah belagu ataulah berirama. Oh... ketika gunung mendaki selasih merintih nan bertepur dalam kelemahan.
Pagi yang menyambut menceritakan hidup ceria.Dalam keramaian, segelintir orang mendamba aruman yang berjelaja. Ah… menapuk suci dalam keremangan fajar yang tak kian kikis
Dalam serabuk rindu menepis angan tak sampai, bertabur dalam bumi kejora menuai intan yang menapuk dalam bayangan. Bagai cemeti menandang mahligai bertapur rindu berkasih .
Candai antah yang tak kunjung reda… Cemeda parah mengukir awan… Dalam semboyan nurani berdawai, liat awan langit cerah dipagi itu.
Surga melapak dalam kasih… Rindu menapak dalam remang. Secangkak pertapa mengayomi sang pujangga… untuk melampias bagi lembayung tak berarti.
Menawan ah menawan… deraian berkabut dalam aruman meradu.Merancau fikiran menembus pandang, bukti dari pelana memanah samudra.
Lembayung merapat dalam durja, hingga tak tahu menapuk sunyi. Pertapa agung mendamba sang pujangga, kian… nan kian berkeras diri. Dalam helaan nafas tak patut merenung dalam pagi yang menyapa… sang fajar melata.
Bak menggenggam arus dalam samudra, samudra pilu merancau dalam petang.Lembayung menuai angin berlalu, ditengah-tengah gelap yang diam mendamba balada. Untuk kesekian kali menanti… melihat nan melupa.
Segelintir menyapa, merandai awan walau tak berkias. Kadang samudra terfikir dalam melupa, namun tak dapat ditepis bila balada tengah menapuk samudra lain.
Tak sama awan mendung dan hujan berkabut… walau begitu, awan mendung akan menangis, hujan berkabut mulai merintih. Dalam kediaman, namun setitik cahaya terang dari langit tengah menanti, walau jauh… masih jauh nan jauh dalam bayangan.
Malam membawa keremangan rindu, membuai dan menanti sang mentari untuk esok paginya.
Tidak seperti yang difikirkan oleh mereka, katanya " Sebuah permata indah telah melesak dalam jiwa insan yang tengah dirundung ceria " Ah... andai mereka mengerti, tapi tak apa... jikalah ternyata mereka salah kaprah.
Dia seperti hidup kembali dalam mimpi ditengah-tengah labirin yang begitu gelap. Untuk saat ini, ia mencoba untuk berfikir kedepan... menuai keindahan yang walau masih jauh dan dalam angan. Mungkin angan akan tercapai jika tak mengeluh...Terus mencoba, sebelum masa lalu mengambilnya ~ lagi
Keluh…
Sakit…
Bagaimana ini ?
Apa yang terjadi ?
Saat telapak kaki terhempas dibumi
Semuanya bagai dunia Hayalan dan penuh Imajinasi
Aku berlari… Berlari kepantai
Mencari ketenangan yang indah
Saat semuanya tak ada yang mengganggu
Tak ada terdengar kebisingan
Hidup ini penuh dengan kedamaian dan ketenangan
Pagi yang menyambut ketika kegelapan menghilang.Sekilauan cahaya nampak memberi kesan bermakna dalam hidup.Keraguan… menghilang sejenak. Tapi akan muncul kembali ketika telah berakhir. Sama halnya ketika tuhan menciptakan malam yang gelap dan pagi yang cerah. Pagi itu pula akan berakhir ketika tiba waktunya. Senja nan indah terdapat makna yang tergores dalam kesedihan… Dapatkah bertahan dalam balutan luka?Begitupun hidup ini, tak tau… sampai manakah bisa bertahan?Setiap keindahan seakan bermakna, dibalik keindahan ada setitik lubang yang tak diketahui.
Mawar hitam nampak dalam sekelabu awan pucat, mawar merah ranum tergores oleh sayatan tangan yang tak dapat diartikan nan… terlelap dalam tidur. Walau bergerak sehaluan… mungkin dan mungkin tak dapat diartikan kembali.
Sehelai noda saja… tak dapat mengaruh hati yang lelap. Seuntai dendang saja… hanya menapik dalam dendang alam yang tak  dapat terkuak oleh hati yang telah mendera. Dalam diam, diam, diam… tak dapat diketahui apa yang tersirat dalam benak yang membatu.
Derai awan membawaku kedalam mimpi yang… entahlah, akupun tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan dalam sejuta kerlapan aruman meradu ini.Walau tak seperti yang dibayangkan… tak mungkin jua dapat terelakkan untuk samudra yang tengah didera oleh kepiluan ini.
Ketika semat dan lamat menjalur dalam arus yang sama. Dan saat itu… tak dapat termaktubkan dalam irama ataupun dendang dan bahkan mahligai yang bersenandung dalam dunia sepi yang penuh ilusi ini.
Seperti dalam cermin yang menampak… ketika sekeliling haruslah bernyanyi dalam sejuta irama yang tak… entah dapat berarti atau pun tidak.Tapi… ketika suatu yang indah bergulat – lagi. Tak kan dapatlah untuk dielakkan.
Ketika suatu masa harus berakhir, entah dapat di ungkap kembali masa lama atau masih dalam fikiran masa lalu. Mungkin, dari sejuta orang lainnya tak akan tahu - rembulan menapik bintang membisu -.
Saat telapak menjamah tanah, kebisingan mulai terdengar ditengah-tengah bentang alam. Ramai, ramai nan ramai. Hidup penuh pilu yang jemu aku melihatnya, saat goncangan mulai berirama mengikuti arus bumi yang berputar… tetap saja, ramai… ramai nan ramai. Bising… bising nan bising. Tak taukah ?disini jiwa insan tengah mengaduh dalam sepi.
Rembulan mungkin taktersenyum ketika langit pekat, Bintang pun jua tak nampak ketika langit gelap. Begitupula dengan suasana hati yang dirundung pilu yang melanda...
Kau tak pernah mengerti dan tak akan pernah mengerti. Katanya “ Bagaimana bisa kau masuk, ketika dia takut masa lalu akan mengambil masa depan yang sebenarnya?” Begitulah, bagai rembulan yang takut akan pancaran dan petir dari langit yang menyambar.
Ketika mentari melesik ditengah-tengah cakrawala, burung berkicau riang. Lalu, ketika petir melesik ditengah-tengah kebisuan malam, ketakutan serasa mencengkam dan kedinginan merambat sekujur tubuh yang telah dilanda derai yang begitu dahsyatnya. Seperti halnya, tersenum dan menangis...
Buah yang ranum melekat pada bibir-bibir indah yang mendamai, begitulah pencipta-sang penciptanya berkarya dalam menuai jiwa sang insan.
Dalam kelembutan angin malam seperti membawa kedamaian tersendiri bagi nya. Ketika hidup ini sulit untuk dihadapi, hatinya seperti sebuah emas berkarat dirundung sepi. Emas yang sudah tak diinginkan lagi – begitulah katanya.
Walau tak sama cahaya rembulan dengan cahaya bintang. Semuanya bagai sebuah sandiwara yang tak diketahui maksud dan cara penyelesaiannya. Begitulah bisikan hati dari sang pujangga yang akan terlelap diatas pembaringan.
Bintang berpancar menjamah langit malam yang kian gelap, ketika peraduan mulai menjamah bumi yang berputar semua bak terbangun dalam ingatan yang begitu syahdu. Katanya “ Akankah ikatan sama dengan terikat?”
Malam yang pilu melesak dalam kediaman sang lembayung, ketika itu pula... fikiran seakan terungkap walau tak dimengerti. Entah sudah menjadi takdir dari pencipta-sang penciptanya? Ataukah secara tiba-tiba yang memang disengaja?’
Dendangan alunan membawa lembayung dikala itu, suara semat seakan menemani samudra yang tengah terkikis oleh siksa yang tak disengaja. Ah... malapetaka ketika itu seakan menusuk, walau tak tertusuk.
Kau meniup seruling bambu
Mendendangkan irama merdu...
Hidup tak berarah
Hei kawan...
Selembut sutra dengan indahnya menari-nari
Serasa menggelitik...
Ketika sang penyair merajut bait
Dengan suara merdu
Dendangan syair indah seakan merasuk
Hidup seakan terpatri
Ketika itu...
Suara sang penyair bagai irama
Berkesan dan penuh takjub
Ketika kau nyanyikan lagu balada
Hati semakin menari-nari
Oh... penyair malam
Suara merdu dengan barisan bait yang kau atur serapi mungkin
Oh... penyair malam
Bagai irama merdu
Ketika aku tersadar, aku tiada...
Ternyata...
Itu hanya mimpi
Mimpi bunga tidur yang indah
Tidak, tidak, tidak itu tidak benar. Tak taukah ketika lembayung menanti dalam kediaman ketika samudra dengan sabarnya menemani?. Dalam bayangan-pun tak dapat tertepis kembali walau hanya sebuah angan yang tak-kan pernah sampai.
Untuk selanjutnya, angin melambat sejenak menempuh bayang yang tak pasti. Ketika dan dikala itu... Lembayung menelisik dalam wajah balada yang tengah menatap buih-buih binar dalam samudra permana.
Dalam galut seperti tak beraturan walau terkikis dari antah berantah tanpa kepastian. Lembayung seakan terperangkap dalam duka ketika balada telah menapik indah pada yang lain. Ah... bak rembulan yang ditinggal bintang tanpa pamit dikegelapan malam.
Walau rencana tak sekedar rencana, bagai mengaik kapas dalam buih yang terlelap dalam tidur. Bisa saja tak sampai walau melangkah jauh dengan kepastian yang tak diketahui. Sama halnya dengan sendiri menapuk sunyi yang sanggup menemani.
Dentingan hati mengalun dalam pengeras sang seroja yang telah menampik pada sebatang pohon yang merancau dalam akal. Ah... seperti harus menyingkapi hidup dalam bayangan yang walau tanpa sadar hanya dapat dilalui.
Apalah arti walau kian lamat menjadi semat, jikalah tak dapat ternodai hanya dengan segores tinta yang melaknat walau dalam bayang yang tak dapat disentuh.
Meski hidup berkata “Entah tak tau walau pujangga berkata apa”. Meskilah jua tinta bergores berkata “Tak rundung walau noda berpasih dalam benda bening” dan meskipun jua angin lembut berkata “Damai nan meradu dalam deliman manis dengan dendang bermata sayu” Itu hanyalah sebuah nada irama bagi sang penyair yang termaktub dalam bibir pujangga malam.
Semestinya ini tinggal cerita walau berlalu dalam bayangan yang tak pasti. Hanyalah mungkin jika lembayung meraup tidur indah diatas pembaringan. Jikalah telah menjadi suratan ketika pencipta-sang penciptanya telah melesik daun seroja dalam daun melati yang merapuh.
Namun tak dapat terelak yang kian kikis menjadi meradu. Untai demi untai bagi jelaja yang pekat mengarungi samudra yang antah sampai kapan tak mudah untuk diartikan. Begitulah bunyi kalimat dari penyair meradu dalam keheningan malam.
Jalan demi jalan bagai tak berarah, ketika aku harus menempuh hidup yang begitu membingungkan, dan benar-benar bingung akan maksud yang tersampaikan ini. Seperti hanya lembayung yang dapat mengerti tentang samudera yang tengah melanda dalam benaknya.
Dalam hati kecil mengatakan “ Apakah lembayung harus melata terlebih dahulu untuk mengungkap samudra yang telah lama dalam seroja? Tak dapatkah sang balada menelaah dalam kabut-kabut yang menelan awan?”
Sungguh... jika saja malam tak menggubris pagi untuk nampak, tak mungkin bisa teratai tumbuh akibat lembayung melanglang dengan balada. Ah... jika saja balada menoreh setitik teratai saja walau dalam bayangan yang sedikit bersama kabut terbang bersama langit, maka tak apa-lah.
Pernahkah seorang melabu dalam kebingungan?Katanya “Kehidupan adalah panggung sandiwara, dan sandiwara itu sepenuhnya menceritakan tentang kehidupan umat manusia.Maka sepanjang jalan kehidupan kita, jangan pernah melakukan perbuatan jahat, atau melakoni peran yang konyol!”(Anne Ahira)
Ketika itu… pagi menyelang, mencoba untuk meraih dunia yang begitu sulit ini… Katanya “Kesuksesan hidup tidak adahubungannya dengan apa yang Andadapatkan atau raih demi diri sendiri.Kesuksesan hidup berhubungan denganapa yang Anda lakukan pada sesama (untuk orang lain)” (Danny Thomas)
Kabut-kabut pekat seakan menoreh pada hidup yang penuh dengan sandiwara ini, entah bagaimana jikala terpagut dalam seroja yang tak diketahui walau dalam kata yang meski tak dapat tertoreh oleh segenggam jati yang berbisik.
Masa lalu yang tak dapat dimengerti, entah sebagai petaka ataukah semangat untuk melaju dalam hidup baru yang lebih indah damai dan penuh temaram, katanya “Jika Anda mengalami trauma pada masa lalu yang begitu membekas.Trauma ini lantas Anda gunakan sebagai 'kambing hitam' atas keterpurukan Anda saat ini.Anda terus terikat dengannya, meski
itu menyakitkan. Bila Anda tak bisa lepas dari trauma, maka coba tanyakanlah hal ini pada diri Anda:

"Berapa banyak luka lagi yang akansaya biarkan diderita oleh diri sayasendiri?Apakah trauma ini pantasmenghancurkan seluruh sisa hidupsaya? Siapa yang berkuasa disini,
diri saya--ataukah trauma?"

Perhatikanlah daun-daun yang mati dan berguguran dari pohon, ia sebenarnya memberikan hidup baru pada pohon. Bahkan sel-sel dalam tubuh kita pun selalu memperbaharui diri.Segala sesuatu di alam ini memberikan jalan kepada kehidupan yang baru dan membuang yang lama.Satu-satunya yangmenghalangi kita untuk melangkah darimasa lalu adalah pikiran kitasendiri.
Beban berat masa lalu, dibawa dari hari ke hari. Berubah menjadi ketakutan dan kecemasan, yang kemudian pada akhirnya akan menghancurkan hidup Anda sendiri” (sebuah nasihat untuk diri saya sendiri dan kita semua) = Anne Ahira
Jika saja langit tak menampung hujan, mungkinkah cahaya terang tak kan keluar? Katanya “hanya seorang pemenanglahyang bisa melihat potensi, sementara seorang pecundang sibuk mengingat masa lalu.
Bila kita sibuk menghabiskan waktudan energi kita memikirkan masa laludan mengkhawatirkan masa depan, makakita tidak memiliki hari ini untukdisyukuri.

Saat kita merasa sedih dan putus asa, atau bahkan menderita, coba renungkan keadaan di sekitar kita.Barangkali masih banyak yang lebih parah dibandingkan kita?

Tetaplah tegar dan percaya diri, berpikir positif dan optimis, berjuang terus, dan pantang mundur(Anne Ahira)
Aku masih digeluti dalam baying-bayang yang tak kuketahui sendiri, entah sebuah ilusi atau bentuk karya dari sang pencipta-Nya. Bertepur, walau dalam kurung waktu yang seakan lama, ini hanyalah ironi dari sebuah tragedy yang tak dapat terkuak oleh diriku sendiri.
Saat lembayung meraung dalam kehidupan yang penuh dengan (?) terlesak dalam benak meski bertabut dalam bayang yang tak dapat tertepis kembali. Katanya " Fokus pada masa depan bukan masa lalu "
“Kini sebuah hati mendera dalam malam yang sepi” kata seorang pujangga yang mengintip dari celah-celah jendela merasakan gesekan angin yang seolah menyapu lembut wajahnya ditempat itu.
Bukan hidup namanya jika penuh sandiwara dunia” katanya, saat dunia melesak dalam keajaiban yang tak normal. Namun dendang pagi itu membuainya yang hingga tak dapat ia rasakan seperti apa nuansa yang mengalun bak sutra lembut dalam kelabut yang mendera.
Panas mentari pancarkan cahaya yang tak ubahnya sebuah mahligai yang tengah mendamba. Katanya " Walau kelabu bagai perumpaan tirai yang menghias di balik awan kemudian bagai kabut berlayar -kemudian PUDAR-
Entah mengapa ketika derai bergulir lembut bagai mengartikan sepenggal kalimat, walau dalam bait harus melanglang ketika samudra dari seberang menghilir. Ah… andai rembulan berkisar pada waktunya, ketahuilah meski jeratan menaguh pada buih yang terpagut, akar-pun dapat menepis dalam bayangan tak beriak.
Kalaupun kau tahu makna dari semua itu. Bahkan tak-kan pernah mengerti sama seperti lembayung menepis mentari yang mengubur arti diatas jemari-jemari kecil.
Ketika malam menjemput, dibalik senja terukir makna yang meletup diatas rimba hitam tak beraturan. Ketika senja mulai menampik, lamunan sang penyair menyentuh air bening yang semakin melamat dalam semat yang tak-kan habis oleh curah hujan yang berdendang menggapai irama meradu.
Jangan menoreh ketika langit tak berawan, meski hanya datang tanpa bekas semua terasa terbaluti dalam dendang yang sedikit meragu.Meski hanya sebuah kategori seperti secawat embun yang dituang dan dibiarkan menangis ditengah jalan.
Desah gelisah nafas yang tergugah dalam  bayingyang tak nampak, meski menjular dalam jemari yang tak mungkin diartikan meskipun bendangan indah tengah menanti. Wahai dunia yang penuh rekayasa yang tak kunjung mereda meski dalam balutan sang mahligai yang meratap dengan embun membasahi bumi.
Meski semu tak menyemat dalam anugerah yang tak berarti, walau pertapa tengah mengingatkan sebuah nada yang tak mestinya harus menengadah pada balutan desah yang tak kunjung dengan deraian sang empu-nya.
Ketika menatap pagi yang mesti harus di ubah dalam alunan meradu dikala pagi itu, bagai setitik embun yang terbaluti dengan suasana singgah dibatas kota yang entah sampai kapan akan berakhir atau tidak ketika menjerit.
Dalam kehangatan pengantar tidur, lembayung menepis dikala sunyi menyambut. Dalam tabu dan kediaman malam yang tak Nampak walau sebuah angin lembut menyapa. Namun dan dikala  itu seonggak senyum tengan terpancar meski hati sedkit teriris menyapa.
Lembut, lembut nan lembut yang kian meradu dalam sepi. Semenjak keheningan yang tak pernah terharapkan jua seperti “ walau angin lalu, tak kan kias aku berdiri menatap sepi yang seperti tak pernah bertaruh menemani awan di kelabu yang senja”
Sedangkan luka yang tak pernah terobati seakan menghapus jejak dikala itu. Tak semat angin berlalu menubuh sang aruman meradu yang tak dapat dimengerti seolah menapuk sunyi dalam bayangan sang mentari dikala itu.
“ Itulah mengapa ” kata seorang pujangga yang ditemani malam sepi penuh kerinduan. Rembulan telah menjadi saksi ketika sekelebat kabut merayap pelan di celah langit yang terbentang.
Ketika ku coba tuk menepis...
Seakan cakrawala-pun turut mendatang
Saat itu...
Aku terdiam dan dipenuhi oleh bayangan-bayangan tabu
Yang mungkin tak dapat kutepis dan kutemukan keberadaannya
Menanti yang Tak Teraih
Aku melesik dalam bayangan penuh duka
Ketika sebuah irama menandang janji
Walau itu aku…
Tak dapat mengerti dengan semua yang terjadi
Telah dilupakan...
Ketika gerhana muncul bertandang cahaya
Katanya, buih-buih alunan meradu dalam hati
Bait-perbait tak dapat terkupas
Angin penuh kelembutan menyanyi
Merangkul, dan membelai hati yang bartandang rindu
Ah… alangkah sekejap bayangan saja tak dapat menghilang dalam rindu?

Malam sepi
Desir angin dimalam dingin
Membawa mimpi yang hanya bunga tidur
Dicelah jendela, merasuk cahaya rembulan
Seakan mengintip dari selasar sana
Menyampaikan salam yang tak berarti
Hanya-lah meradu ketika…
Rembulan mulai menyapa nan berkata
Bersama untuk menemani sang pelana yang tengah menanti
Menggapai yang tak dapat diraih
Dan hanya mendamba yang tak dapat terungkap
Ku Tunggu…
Kutunggu…
Kutunggu kau di selasah sana
Kutunggu…
Kutunggu kau di penghujung malam
Kutunggu…
Kutunggu kau dibatas senja
Kutunggu…
Kutunggu kau dalam kediaman
Kutunggu…
Kutunggu kau ditengah bising yang tak bisa kuhindari
Kutunggu untuk menanti
Dan menanti untuk kuraih
MENGADU…
Desiran panas yang membawaku
Mengadu aku…
Ah… seakan menggelora walau tak dapat kuhindari
Semestinya… ini bertandang dalam haluan yang berbeda
Namun… meski ku coba,
Aku jenuh dan lelah
Meski kucoba untuk memikirkan
Hanya dapat ku mengadu pada bulan dan bintang
Meski kuberada dikediaman
Hanya dapat ku mengadu pada hati yang tak dapat kumengerti
Meski kuberada ditengah kebisingan
Hanya dapat ku mengadu pada angin yang menerpa
dan terbawa pergi jauh… jauh… nan jauh
Menanti Kepastian
Angin penuh kelembutan…
Menyapa di sekitar
Rembulan bertandang cahaya…
Tersenyum di selasah singgah
Senja…
Memasuki peraduan
Ketika itu…
Seroja gemulai melantah ruah deru angin
Menelantar hambar yang tak pasti
Menoreh walau tak ada
Melesik kabut yang tak dianggap
Berdiam layaknya serumpun putri malu
Menanti pada malam yang menyapa, dan
Menanti untuk kepastian
Tak dimengerti
Angin mulai meradu di penghujung sana
Aku yang terdiam…
Membawaku pada kepuasan
Puas ku merintih nan puas ku berduka
Ini hanyalah sebuah pertanda
Yang tak mungkin bisa ku elak lagi
Basah rindu ini…
Mulai menyapa dengan sayup-sayup
Yang bertandang irama
Aku, aku yang seperti bunga layu
Menangis… seumpama pengemis
Suasana
Irama malam…
Membawa kedukaan kala itu
Teratai yang layu
Sudah melapuk tak terurus
Ah… Keheningan malam bersandar pada angin dingin
Seakan menjamah gelap yang tertoreh luka
Walau siyup-siyup ramai berdentang diselasah sana
Hanya-lah renungan berkasih yang membawa alunan tak meradu
Hari Yang Sama
Pada akhirnya akan tiba
Ketika dimana waktu akan bertemu pada suatu hari yang sama
Saat itu...
Aku tersenyum menyapamu didalam selasar ini
Dan ...
Kau menghampiriku, kemudian berkata
Bentangkan kedua tanganmu
Seperti sayap-sayap yang utuh
Kita akan terbang bersama menerobos langit
Namun...
Tak lama engkau-pun lelah dan meninggalkanku
Sendiri, menanti di penghujung hari yang sama
Dibawah Rembulan
Saat sayup-sayup malam mulai berdentangan
Disana...
Dibawah rembulan yang nampak
Kau memeluk dan mendengar detak jantungku
Mengelus rambutku dan berkata
Aku ingin kau seperti bulan
Memberikan cahaya disetiap kegelapan malam yang mencengkam
Namun, aku takut jika kau menghilang disaat langit tak berawan
Dan malam itu...
Kau menceritakan kisah masa lalu yang membuatmu meneteskan air mata
Aku hanya diam mendengar
Melihatmu, menangis, untuk masa yang sudah berlalu
Perbedaan
Dibawah cahaya bulan
Ketika itu...
Dimana pada masa membawa kita kesuatu hari yang biasa
Kau mengantarku keatas pembaringan
Disampingku...
Memelukku dan mendengar setiap deru nafasku
Saat itu pula, kau mengatakan
Pergilah untuk menemui hari esok yang penuh ceria
Kala itu... sekelebat kabut melesak dalam lembah berkasih
Namun...
Kini kau dan aku berada di jurang rimba yang jauh
Jurang yang berbeda, berbeda untuk semua
Yang berkasih, tapi tak berbeda pada satu -CINTA-

Tahukah Kau
Tahukah kau…
Saat hari dimana aku ingin kembali pada saat yang biasa
Serasa aku ingin menikam hati dan menghancurkan fikiran
Membunuh perasaan yang tak semestinya harus tumbuh
Betapa sakitnya aku memendam itu
Tahukah kau…
Saat malam yang gelap kembali seperti biasa
Pucuk-pucuk rindu yang inginku robek bersama dengan jantung yang berdetak ini
Namun, seakan otak-ku melarang dan membawaku tergelut kembali
Tahukah kau…
Saat hari cerah beruntun dengan awan mendung...
Jantung ini seakan berdetak hanya untukmu
Dan seakan memanggil namamu
Memanggil namamu… dalam kediaman, kesendirian dan kesedihan
Tahukah kau…
Saat siang berganti dengan senja yang pekat
Air mata ini, tak hentinya menetes setiap malam
Merindu dan mendamba dalam kesepian malam yang menemani
Perih rasa mata ini karena menangisi dirimu
Tahukah kau…
Saat malam dingin menghembuskan angin lembut
Kubungkam mulut ini rapat-rapat walau ingin ku teriak tapi hati ini melarang
Sampai mulut ini terasa mengering agar tak ku sebut namamu lagi
Meski dalam kediaman… pedih harus kuterima
Tahukah kau…
Saat fajar mulai nampak di selasar sana
Telah kucoba untuk melupakanmu
Menghapus tentangmu…
Menghapus jejak-jejak bayangmu…
Namun, semuanya tak bisa
Apa yang kulakukan semua tak berguna
Dirimu… telah melekat dalam hati dan jiwa yang  terdalam
Karena-mu, Untukmu dan Hanya kamu…
Si Petani
Angin lembut… meradu dalam keheningan
Dikala itu… Kiasan indah bertuliskan janji antara gunung dan alam
Disebuah waktu, dimana kita bisa kembali pada saat itu
Saat sayup-sayup gadis desa terdengar
Menuruni bukit-bukit tinggi
Diselasah sana…
Jalan berliku terbentang seperti hilir yang melekat
Sebuah dangau kecil
Teraliri… disana…
Air berjalan didekat bukit
Seruling bambu yang menemani senja itu
Beramai-ramai membawa lumbung
Melewati jalan setapak membumbung cangkul di pundak


KALA HATI GUNDAH
Akan tiba waktunya ketika kita kembali pada suatu hari yang biasa
Ketika dimana kabut putih menyapa untuk pertama kali dibukit sepi
Akankah kau seramah dahulu?
Tersenyum... dan duduk disampingku
Mendengar keluhan kata yang terlontar dari bibir pahit ini
Akankah kau selembut dahulu?
Memberikan patah kata sambil menyentuh lembut kedua tanganku
Memelukku, ketika ku dekap kau dekaplah lebih mesra, lebih... dekat
Akankah kau seceria dahulu?
Membawa kisah kosong dan tertawa bersama
Dan kita terbawa arus sendiri
Ketika melodi indah berdentuman dalam nada hati
Walau diselasah sana...
Segelintir orang memandang rendah dirimu dan diriku
Saat-saat kabut di langit turun pelan-pelan di bukit sepi
Dibukit Pandanwangi
Kini... kau dan aku berada di curah yang berbeda
Kau jauh... begitu-pula diriku
Disana... dilangit pekat
Cahaya bulan melihatku...
Angin lembut mulai menyapa...
Mengantarkan ribuan pertanyaan yang tak dapat kujawab sendiri
Ketika itu...
Seakan membangunkanku dari mimpi
Mimpi-mimpi yang tak dapat ku mengerti
Hingga mengantarkanku pada kegundahan hati
(For my friends...)
Malam...
Malam sepi membawaku pada pembaringan...
Ketika telah sampai...
Kerap kali mencoba, dan mencoba...
Mata tak dapat terkatup jua
Walau dalam angan
Tak pernah terasa sesuatu yang mungkin dapat membawaku ke tempat lain
Entah mimpi ataupun nyata
Berfikir nuansa indah benar-benar berlabuh dalam diriku
Tapi...
Sekali lagi kucoba mengatupkan mata
Serasa seperti film kuno yang mulai memudar
Memudar akibat malam yang berjalan dipenghulu waktu
Aku ingin memastika untuk saat ini
Ataupun dilain waktu...
Melupa...
Saat aku terdiam...
Berfikir, berfikir dan berfikir
Kau tak mungkin memberikan hati
Oh... aku ingin melupa, melupa nan melupa
Melupa jauh... sampai tertiup gesekan badai angin
Aku bagai bunga yang layu... layu... nan layu...
Bagaimana bisa aku menghapus dirimu bila kau selalu berdiam dalam otakku?
Oh... kau pergi saat itu..
Kini... aku benar-benar bagai daun layu
Mencoba untuk melupa, melupa nan melupa
Ketika kabut berkasih telah menghilang
Melupa seketika...
Tak Ingin...
Bukan bermaksud menabur luka dalam lembayung layu...
Ah... andaikan mau mengerti...
Ini jua bukanlah keinginan...
Melainkan harapan yang tak mungkin dapat teraih...
Oh... malaikat malam...
Sejuta berkasih, dalam lendungan angin yang tertiup pelan
Menyampaikan seluruh tandanya untuk (nya)
Suasana Malam
Wahai angin malam...
Bawalah rasa ini pergi jauh nan jauh...
Wahai hujan...
Hapus-lah rasa ini dengan rintik-rintik yang berjatuhan
Oh... malam...
Bawalah aku dalam kelupaan esok pagi
Oh... malam...
Biarkanlah aku dalam kediaman yang suci
Oh... malam...
Aku yang tepekur dalam hati yang tak menentu
Menanti kabut berkasih di dalam lembah bayangan
Oh... malam...
Aku titipkan doa’ku untuk tuhan pada angin malam
Yang melanda deraian hati dalam kegundahan
Mimpi bukanlah Mimpi
Saat malam-malam tabu tiba...
Seakan membawa aortaku kedalam lembah malam yang begitu gelap
Dibalik celah jendela,
Setitik cahaya bulan mengintip dari persinggahan, lalu berkata
Ketika masa membawa kita pada satu tujuan yang sama
Pada satu tujuan yang tak dapat dilupakan
Melekat dan terkubur dalam ingatan
Akankah kau merenung dalam mimpi yang singkat ini?
Bagai pecundang yang berlari menyusuri gurun
Diselasar sana... kau bahkan tak mengerti arti hidup ini
Dan kini...
Kau dan aku berdiri berhadapan
Dibawah cahaya bulan dan berkata
Mimpi itu hanya bunga tidur
Yang tak mungkin dapat menentukan apa yang akhirnya terjadi
Ketika sayup-sayup berkasih turun dari batas senja sana...
Disana-lah kau akan melihatku
Berdiri tegak menantang alam yang meremehkan
Disana... diselasar sana...
Kita akan bertemu...
Di sana... di lembah sana...
Lembah yang dulu gelap
Kini akan bertabur kasih dalam naungan ribuan nada
Singgah Penantian...
Saat teratai disana tersenyum...
Dimanalah yang pada akhirnya kita diingatkan oleh sebuah nyanyian meradu
Ketika itu...
Kau memintaku membawakan secawan anggur dan meminumnya
Didepan para petatih-tatih sabda
Akankah kau setia terkurung di selasar sana?
Dipersinggahan malam yang antah tak dapat dilewati
Di lembah kabut asap...
Kita memasuki buih-buih sabda yang bertandang pekat
Dibatas rumpun malam yang berjelaja...
Dikeheningan malam...
Bersama mendengar nyanyian bulan yang meradu
Membawa kita pada persinggahan penantian...
Bayangan...
Saat sayup-sayup malam
mengantarkanku pada pembaringan
Saat itu pula aku seperti terbawa arus
Dan ketika cahaya bulan mengintipku
Seperti ingin tahu apa yang tengah terjadi
Diselasar sana...
Kau berdiri memandangku...
Wajah pucat itu tampak melemah
Dan aku terbingung...
Ketika kusentuh...
Kau memudar bak noda
Penuh dosa yang tersucikan...
Kembali...
Karena aku Merindukanmu...
Langitnya selalu sama
Dan di hari yang sama belum berubah
Aku ingin hidup tanpa memperdulikanmu
Hidup dengan senyuman
Aku merindukanmu... Aku merindukanmu...
Karena aku merindukanmu
Satu-satunya hal yang berubah adalah...
Adalah kau tak disisiku
Aku rasa aku seharusnya membiarkanmu pergi
Tanpa meninggalkan apapun
Tidak, tidak aku belum bisa
Aku belum bisa membiarkanmu pergi
Aku merindukanmu... merindukanmu...
Karena aku sangat merindukanmu...
Setiap hari...
Disaat aku sendiri dan aku memanggilmu, memanggilmu
Karena, karena aku merindukanmu...
Karena aku merindukanmu
Aku ingin bertemu denganmu
Aku ingin bertemu denganmu
Karena aku ingin bertemu denganmu
Bahkan sekarang... ini menjadi kebiasaan
Aku masih menyebut namamu seperti biasa
Bahkan hari ini...
Maafkan aku... maafkan aku...
Apa kau dengar hatiku...?
Pengakuanku yang terlambat
Apa kau juga mampu mendengarnya?
Aku mencintaimu
(Heart Strings-CN BLUE)
Teman itu...
Ibarat permen karet, katanya..
Kalau sudah habis manis
Lalu dibuang
Ceritanya mengatakan...
Dimakan untuk dibuat mainan sementara
Ketika sudah bersenang-senang dengan permainannya sendiri...
Lalu dibuang menjadi SAMPAH
Yang tak berguna...
Menurut pandangan kalian...?
Cerita si Pujangga
Saat sayup-sayup pagi terdengar di penghujung sana...
Ribuan untaian datang walau tak diundang
Seperti...
Menggugah hati yang tengah diam
Dalam keremangan senja pekat
Disana...
Hembusan angin menyapa
Membuat sekitar jadi dingin
Ketika itu...
Cahaya bulan diselasar sana menampik pada malam gelap
Namun, saat-saat sayup dingin bersamaan dengan nada angin lewat
Semua menjadi suram, suram dan suram...
Dentingan lonceng terdengar seakan membuyarkan yang lain
Dikala itu...
Semua telah berlalu dan hanya menjadi sebuah ingatan yang tak terlupakan
JJ(Untuk Orang Tua)JJ
Akhirnya,
Sesuatu mengingatkan kita pada suatu hari yang biasa
Suatu hari yang melekat dalam ketika kau dan aku berada ditempat itu
Dipelataran sana...
Aku berdiri menatap jauh
Dari arah berlawan kau menyambut dengan senyuman
Senyuman lembut yang rapuh...
Dengan wajah rapuh dan lelahmu
Memelukku, mencium keningku dan menangis karenaku
Dengan rangkulan hangatmu membawaku pada pilu bahagia
Terimakasih, Terimakasih dan Terimakasih
Mungkin terimakasih tak dapat membalas-nya
Bahkan uang-pun tak kan dapat membalas semuanya.
-ii-
Duduk bosan dipinggir jendela
Hembusan angin masuk ke ruangan
Alasan kenapa aku cemberut adalah
Untuk menyembunyikan rasa maluku
Aku mengangguk dengan suramnya
Aku ingin menjadi lebih dari ini
Aku merasa aku ada perubahan
Kau telah menyentuh hatiku, ini pasti karenamu
Aku punya perasaan,
Melihat ke awan
Membentangkan sayap, dengan keberanian yang lebih
Cahaya dan kegelapan samar-samar ditempat yang jauh
Tapi walaupun begitu
Aku ingin tahu kenapa orang begitu baik
Tidaklah penting siapa namaku
Diujung cahaya sana
Sebelum semua menjadi masa lalu
Ayo pergi dan cari tahu
(Hyouka)
PERMAINAN
Pada kenyataannya... dunia ini seperti permainan
Permainan kehidupan, permainan jiwa, permainan hati dan rasa
Ketika mulai tersadar...
Aku seakan lupa pada dasarnya hidup itu adalah...
Sebuah nurani yang mencolok
Ataukah jalan hidup yang tak beraturan?
Ketika kucoba pertanyakan?
Jiwa mengatakan “ Jalani, meski sulit ”
Ketika untaian itu terlontar bisikan dari sebuah hati terkuak
Hingga akhirnya aku tak mengerti sendiri, dengan...
Hati, perasaan, dan Cinta?
Apa itu...?
Ketika kutanyakan kembali?
Cinta ? Apa itu ?
Hanya sebuah ungkapan yang tak dimengerti maksudnya
Biasa saja... dan mungkin dapat mengubah pendirian seseorang
Ketika kucoba bertanya...
Rasa, hingga membuat sebuah naluri bagai berkabut dilembah berkasih
Dan sampai itu pula,
Aku bahkan tak mengerti dan pada dasarnya itu kembali lagi pada hati
Hati mengatakan “ Ini gila, seharusnya tidak boleh. Mengapa kau tetap saja menerimanya? Tanpa sadar, kau akan jatuh kedalamnya dan TERSIKSA ”
Dan pada saat itu, aku berfikir kembali pada kehidupan
Kehidupan mengatakan “ Itu indah, dan tanpa sadar kau akan terjun dan tak ingin menghindar – lagi ”
Dan aku fikir, itu hanya sebuah permainan yang tak dapat ku -elak- lagi
Yang pada dasarnya, hanya sebuah ilusi...
Yang kembali terbayang didunia ini
Kata Hati yang diam
Ketika itu...
Dimana ribuan pertanyaan untuk si pujangga
Saat itu pula, dia bingung
Bingung, dan bingung
Sampai saat ini, semua belum terjawab
Meskipun beberapa tanda mengandung bukti yang tak mungkin dihindari
Namun, dia berusaha menghindar, menghindar dan menghindar
Hingga akhirnya ia tersiksa, dan menyesali semuanya
Semuanya yang berlalu begitu sia-sia dan begitu – CEPAT.
Dimana pertama kalinya dia menemukan permata yang dalam
Dengan mudahnya ia – MELARIKAN DIRI
Melarikan diri dari pepatah-pepatah yang mencoba menguak
Yang belum terkuak
Dan menghindar bagai – PECUNDANG
Kebingungan
Saat sajak-sajak kata mulai terukir
Ketika itu pula...
Bait perbait menampilkan baris yang beraturan
Begitu pula...
Saat irama mengalun di benak sang pujangga
Ketika itu pula...
Nada-nada berdentangan dari arah berbeda
Namun, entah darimana lantunan itu berasal?
Mungkinkah dari hati yang diam?
Ataukah dari sebait kata yang terucap ketika itu?
Semua terasa sulit untuk ditebak
Walau sebenarnya begitu jelas
Ah... alangkah sulit untuk dipecahkan?
Langit
Saat redup-redup awan mulai berjalan
Pelan-pelan... sebuah rintikan bening muncul
Dan saat itu pula dunia bermandikan bak peluh
Dipersinggahan sana...
Sebuah manik menanti
Dengan awan redup yang datang
Seperti berjelaja dalam petang
Menabur kabut dalam kurun yang akan datang
Begitulah, ketika sekelebat awan dilangit yang panjang
Dan tak dapat dilipat walaupun langit meraung...
Penenang Jiwa
Saat rintik-rintik hujan jatuh
Tepat diatas lapangan yang kering
Itulah dimana penuaian kebahagiaan beruntun datang
Namun... ada pula masanya rintik hujan tak turun lagi
Pada saat itu pula, kekosongan bathin bagai mendera dalam jiwa
Seperti berjelaja yang gelap nan gersang
Semua pernah terfikirkan
Tapi, pada kenyataannya pemikiran itu hanyalah penenang jiwa
Penenang jiwa bagi rasa yang gelisah
Penenang jiwa bagi rasa yang gundah
Penenang jiwa bagi rasa yang sedih
Dan penenang jiwa bagi rasa yang sepi
Jalan Hidup
Saat waktu berjalan
Tiap detik bagai tak terlewatkan
Adakalanya hidup itu terasa sempurna, dan
Adakalanya hidup itu terasa kekurangan, sepi dan sendiri
Disaat yang sama pula...
Kehidupan terasa asing dan aku mengerti hal itu
Ketika semuanya tak dapat kuraih
Aku seperti terbawa arus gelombang api yang tak dapat kukendalikan
Namun...
Disaat yang sama pula...
Kehidupan terasa berwarna dan aku paham hal itu
Ketika semuanya berada dalam genggaman
Hembusan angin membawa kesadaran hidupku pada langit biru
Disana... Di persinggahan sana
Ketika waktu berjalan kembali...
Penantian
Adakalanya dunia sepi tanpa cahaya
Adakalanya pula, dunia terang tanpa cahaya
Ketika dunia menanti dibatas senja sana
Seonggak senyuman matahari bersama awan kabut mulai membuyar
Begitupula...
Ketika dunia menanti dipersinggahan fajar
Setulus senyuman mentari beserta awan biru menanti diselasar
Kabut tipis yang mulai turun pelan-pelan dibukit sepi
Menerawang jauh menatap angin yang seakan berlalu
Meninggalkan... dalam kesendirian
Kabut tipis yang mulai turun pelan-pelan di atas bukit berkasih
Melihat terik matahari yang menoleh
Bersamaan dengan kedatangan awan bercahaya
Membawa kesejukan, kedamaian dan kemakmuran...
Indah...
Angin penuh kelembutan menyapa secara bergantian
Disinggah sana...
Aku terdiam bercermin pada diri sendiri
Termenung... menatap bayang-bayang yang tak dapat hilang
Ingatan bagai  terkelupas dalam sepi
Seperti rama-rama terbang yang bersinar
Dimalam itu...
Ini tentang senja yang nampak di ujung laut

Tak seramah dahulu, ketika ia benar-benar bertandang hati dengan penuh kebaikannya. Semuanya nampak berubah ketika ini, saat dan waktu ini. Sampai tak bisa lagi dibedakan mana rembulan dan langit biru yang pekat.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Si Perangkai Kata -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -