Archive for 2015

Jumat, 10 Juli 2015
Posted by Unknown



Masalah disekolah dan Keluarga Daniel
29 november 2013, Cherrystone, washingtone
Pagi itu gerimis turun ditengah kota washingtone. Ever, gadis itu melindungi diri dengan payung yang bercorak bunga matahari dibagian pinggir. Ditangannya tengah didapati note kecil berisi kumpulan rangkuman sejarah.
“Ever, benar?” dia menghentikan aktivitasnya ketika seseorang dengan payung hitam sedang berjalan tepat disampingnya.
“Siapa kau?” ujar gadis itu dingin, ketika dia menoleh sebentar lalu melanjutkan aktivitasnya.
“Ternyata kau sudah menghapusku dari ingatanmu.Apa kau benar-benar tak mengingatku?” ujar pria itu.
“Apa sebelumnya kita pernah bertemu?” tanya gadis itu acuh.
“Seorang Ever tak mungkin mengingat hal yang tak penting.Benar?” ucap pria itu.
“Sepertinya? Jadi apa tujuanmu sebenarnya?” ucap Ever dan memasukkan bukunya kedalam tas dan mereka menutup payung bersamaan ketika sampai dikoridor.
“Aku hanya memberitahumu untuk hati-hati. Sepertinya Katie belum puas dengan apa yang terjadi kemarin” ujar pria itu berjalan mendahului Ever.
“Apa yang kau lakukan dengannya?” ucap suara yang tiba-tiba muncul dibelakangnya dan membuat dia terlonjak.
“Daniel, kau mengejutkanku” uajr Ever mengelus dadanya pelan.
“Apa dia mengganggumu?” tanya Daniel dan berjalan disamping gadis itu.
“Tidak” singkat gadis itu.
“Daniel, Ever…” teriak seseorang ditengah keramaian koridor, dan membuat mereka menoleh.Samantha, gadis itu mengambil langkah seribu untuk menemui keduanya.
“Hujannya mungkin tidak akan reda” ucap gadis itu mengambil tempat diantara keduanya -Daniel dan Ever-. 
“Jadi… bagaimana kencanmu kemarin?” lanjutnya setengah berbisik ditelinga Ever, Ever terlonjak dan langsung melongo’ terkejut dengan ucapan gadis itu.
“Darimana kau tau…?” ucap Ever heran.“Dari sumber terpercaya” singkat gadis itu.
AKU terkejut dengan pertanyaan Sam, darimana dia tau kalau aku dan Daniel kencan? Oh tuhan…  apa yang akan difikirkan gadis ini.
“Ayolah, ceritakan padaku” ujarnya, hingga membuatku merona. Aku mengalihkan pandangan pada Daniel sebentar kemudian memandang Sam yang tengah penasaran dengan apa yang telah terjadi kemarin. Aku ingin melupakannya, tidak untuk semuanya. Kejadian kemarin benar-benar mengganggu, namun ada beberapa hal yang ingin kuingat. Ingatanku tentang Daniel, benar-benar melekat.
“Apa ada sesuatu yang tak bisa kau ceritakan padaku?” lanjutnya, hei tak bisakah  kau membiarkanku untuk berfikir sebentar.
“Hei Ralf…” panggil Daniel dan membuatku melihat kearah Ralf yang tengah berdiri didekat mading sekolah.
“Hei… Daniel, Ever, Sam…” balasnya menyebut nama kami.
“Kau lihat ini.Bagian klub sastra sepertinya akan meluncurkan karya terbaru” jelasnya memperhatikan satu-persatu judul yang terpampang di madding.
“Sepertinya ini akan menarik” lanjut Samantha.‘Semoga saja !!’ucapku dalam  hati.
“Waw… kau lihat dia Lizzy, dia bahkan tak tertarik dengan itu semua” aku melirik sejenak menangkap pembicaraan dua orang yang berdiri di sebelah kiri kami.Aku menarik nafas dan hendak meninggalkan tempat itu, namun Daniel mencengkal tanganku.
“Apa kau takut?” gumamnya pelan seperti berbisik.Iya, aku takut. Aku takut dia akan membalas yang kemarin terjadi padaku dan Daniel. Aku kembali teringat dengan pesan pria itu, sementara mereka  berdua adalah teman-teman Katie.
“Tetap disini, tidak  ada yang akan terjadi. Mereka sekumpulan orang yang hanya besar mulut saja” ucapnya kemudian menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan kecil.Aku membalas dengan senyuman tipis. Sebenarnya apa yang harus kutakutkan? Sebelumnya aku tidak pernah mendapat masalah sampai seperti ini dengan yang lain, kurasa masalah itu akan berakhir jika Daniel tidak membuat mereka marah kemarin.
“Jadi… bagaimana selanjutnya Marie?Apa kau akan terus seperti itu?” ucap gadis yang mugkin jika tak salah bernama Lizzy.
“Apa kalian ada masalah?” ujar Ralf, dia sedikit memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh gadis-gadis itu.
“Akan kuceritakan.Bagaimana jika pergi sekarang Daniel? Tidak ada untungnya mengurus gadis-gadis itu.Ayolah, ini akan semakin memperburuk keadaan” ucapku dan Daniel akhirnya menuruti kataku.Dan kami pergi meninggalkan tempat itu.
Kami sampai didalam ruangan. Samantha menatapku penuh tanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kau, Daniel, kedua gadis itu? Dan mungkin… Katie?” cercanya.
“Kufikir, mrs. Rose akan melindungimu. Dan nyatanya kau sekarang akan menjadi bualan mereka. Oh Shit…” lanjutnya.
“Jadi… apa yang terjadi, ceritakan pada kami.Atau kalian akan dipermalukan oleh mereka” ucap Ralf.Aku duduk dibangkuku dan melihat kearah jendela. Kulihat Katie dan teman-temannya tersenyum, sepertinya kearahku. Dan kupastikan itu bukanlah senyuman persahabatan. Kuyakin itu adalah senyuman pembalasan, senyuman ketidaksukaan dan senyuman kemarahan.  Apa yang harus kulakukan, sekarang?. Aku tahu, gadis seperti mereka tidak akan tinggal diam. Tapi apakah kemarin itu begitu memalukan bagi mereka?
Tak lama, suara dentingan  bel terdengar dan jam pertamapun akan dimulai. Kami mengikuti pelajaran, dan kulihat Daniel tampak santai.Bagaimana bisa dia terlihat tenang seperti itu?Apa dia tidak takut dengan sesuatu yang akan terjadi padanya nanti? Ketika melihat matanya waktu dia menenangkanku tadi itu… dia seperti bersungguh-sungguh.Benar, seharusnya tak ada yang perlu ditakutkan.Mengapa  aku harus takut pada mereka? Aku tak perduli jika  aku benar-benar dipermalukan. Aku selalu tahan dengan ketidakperdulian orang lain dan aku selalu acuh. Bukankah itu salah satu sifatku?Daniel memandangku dan tersenyum.Aku membalas dengan senyuman tipis pula.
Jam pertama berakhir, aku, Daniel, Samantha dan Ralf menuju ke kantin. Aku membawa nampan berisi jus orange dan sandwich.“Hei… disini” kulihat Daniel melambai kearah kami-aku dan Samantha-, dia terlebih dahulu memesan makanan bersama Ralf.Kami menuju tempat mereka, dekat jendela palig pojok, tepatnya didekatpohon akasia yang rimbun. Pohonnya besar dan tinggi, dahannya memanjang hingga dedaunan menyentuh jendela kantin sekolah. Aku menyantap makananku, Ralf dan Daniel sibuk mengoceh sementara Samantha memperhatikan pukat laba-laba yang membentuk sarangnya di ventilasi jendela. Dia Nampak asyik dalam fikiran dan imajinasinya.
“Aku tidak membayangkan bagaimana jika Katie berada disini dan berulah denganmu Ever” ujarnya dan  memandang kearahku dengan wajah cemas.
“Bayangkan saja sekarang” celotehku dan menyedot jus orange yang ada dihadapanku.
“Apa yang akan dilakukan Katie dan teman-temannya nanti?Apa kau tidak khawatir”. Aku diam sejenak untuk berfikir, namun itu kucoba tepis dan terbawa akan perkataan Daniel, apakah itu seperti melindungi? Mungkin saja?
“Sudahlah, tidak usah difikirkan. Ever, kau jangan  takut. Aku akan melindungimu”
“Apa maksud semua ini?Apa kalian ada sesuatu?” ujar Ralf yang sepertinya tertarik dengan perkataan Daniel barusan.
“Tidak ada apa-apa.Kalian jangan berfikir macam-macam”.Aku yang merasa malu dengan pertanyaan Ralf.
“Wajahmu memerah Ever, kau jangan berpura-pura” Ada apa dengan Samantha, kenapa dia ikut-ikutan.
“Tidak, sungguh kami  tidak ada apa-apa. Benarkan Daniel”
“Sepertinya begitu”
Apa-apaan pernyataan itu?Kau lebih menikmati makananmu rupanya.Aku tidak begitu yakin dengan semua ini. Apakah aku harus percaya  dengan ucapan Daniel?.
Kami kembali dari kantin dan hendak menuju kelas.Aku melihat Katie dan teman-temannya tersenyum kearah kami.‘Jadi bagaimana sekarang?’ seolah pertanyaan itu ingin segera kulontarkan pada Daniel. Sekarang ini.Ketika kutahu dia benar-benar tersenyum seperti setan dineraka. Ya tuhan… apa yang akan terjadi selanjutnya?.
Bel pulang berbunyi. Aku dan Daniel pulang bersama, dia mengajakku untuk jalan-jalan. Sebenarnya apa hubungan kami sekarang? Bukankah dia  tidak menyukaiku, dia menyukaiku hanyalah sebatas teman. Mungkin, itu yang kufikirkan.
“Hei Ever…” aku menghentikan langkahku. Seorang pria dengan kemeja kotak-kotak berwarna hijau dan bagian lengannya dilipat sampai siku.Beberapa siswi perempuan sedang mengerumuninya, dia melambai dan aku tersenyum.
“Kau mencari Daniel? Dia ada disini” ujarku menunjuk kearah samping tapi…
“Dia tidak bersamamu Ever, aku melihat kau hanya berjalan sendirian”
“Tapi… barusan aku bersamanya, kemana perginya?”
“Aku tidak melihatnya bersamamu” dia berjalan kearahku “Kau ada waktu?” tanyanya
“Ada apa?”
“Aku ingin berjalan-jalan denganmu  sebentar. Apa bisa?”
“Baiklah”
Kami meninggalkan sekolah dan kekaguman para siswi yang masih berdiri di depan gerbang sekolah bercat biru itu. “Aku akan minum latte” ujarnya lalu menarikku kepinggir jalan mengetuk jendela Java the hut dan memesan kopi expresso.
“Kau mau?” tanyanya, seorang anak memberikan pesanannya lewat jendela pelayanan.
“Tidak, terimakasih”  
“Sekarang?Kemana?”
“Bukankah kita akan pergi jalan-jalan? Kau ikuti saja”
“Aku tidak mau membuang waktu”
“Hei, ayolah.Aku ingin membicarakan tentang Daniel” Degh… aku sedikit tersentak, namanya lewat begitu saja. Ada apa dengan Daniel? Benar! Aku belum mengetahui terlalu banyak tentang pria itu, lalu apa sekarang?
“Aku tidak mau ditempat ini.Kita akan mencari tempat yang lebih baik, lebih tenang dan nyaman” lanjutnya, kemudian berjalan mendahuluiku. Aku mengikuti,ia terlihat santai sambil meminum kopi-nya. Dia tidak ada bedanya dengan Daniel.
Daun-daun mapel terlihat basah akibat hujan tadi pagi, jika saja musim semi maka akan berwarna orange terang dan dedaunanya akan berjatuhan. Siluet cahaya berbentuk pisau menyambar didahan pohon, burung-burung kecil berkicau membuat sedikit keramaian ditempat itu.Hanya satu, dua orang yang lewat membuat tempat itu terasa tidak mengganggu.
“Bagaimana hubunganmu dengan Daniel?” ujar Drayson, dia meminum habis kopinya kemudian membuangnya di tong sampah berwarna biru.
“Aku hanya temannya”
“O-ooh, kufikir hubungan kalian lebih dari sekedar  teman.  Jika dilihat, kau dan Daniel seperti sepasang kekasih”
“Aku sudah mengutarakan perasaanku  padanya, tapi dia menolakku” ucapku
“Oh..benarkah? Kau memang hebat” ucapnya, “Kau tunggu sebentar, aku ingin membeli sesuatu ditempat ini” lanjutnya dan pergi meninggalkanku sendiri.Aku berjalan-jalan ditempat itu, bunga lilac kecil tertanam di sebuah kebun kecil berbentuk segitiga. Bunganya terlihat rimbun dan baunya tercium juga olehku. Didekatnya ada bangku kayu panjang. Di bagian ujung kiri, ada jembatan gantung kecil dan dibawahnya mengalir anakan sungai. Aku memutuskan untuk duduk dibangku panjang itu sambil menunggu Drayson.
“Ternyata kau ada disini. Aku mencarimu…” ucapnya dari arah kanan menenteng sebuah kantung plastik.
“Kau  darimana?”
“Aku mau memakan makanan yang  manis. Jadi aku membeli donat” ucapnya dan mengeluarkan kotak kecil berbentuk persegi panjang berwarna merah muda dan terdapat pita merah diatasnya.
“Ini…” dia memberiku satu donat yang dilapisi meses warna-warni diatasnya. “Makanlah…” lanjutnya.Aku memakan donat itu dan… enak.
“Aku menyukai  makanan yang manis. Ketika aku di Australia, aku sangat ingin memakan makanan seperti ini. Kau tau… aku menyukai makanan yang manis, seperti ini. Dan waah… aku sangat ingin memakan pizza, mayonnaise, pepperoni, minestrone aah… aku akan meminta Dylan untuk membuatkan makanan itu”
Sebenarnya, dia ingin membicarakan Daniel atau tentang makanan yang ingin dimakan, aku mulai bosan.Aku melahap donatku habis.
“Kau mau lagi?” tawarnya, dan aku menolak.Aku merasa kenyang.
“Aku senang berada ditempat ini.Disini banyak makanan” ucapnya, dan melahap cepat donatnya.Apa dia tidak bisa pelan-pelan?
“Aku ingin membicarakan tentang… Daniel” ucapnya, dia berjalan menuju jembatan gantung dan menyenderkan punggungnya dibesi-besi penyanggah jembatan. Aliran deras sungai membuat dia mengeraskan suaranya. Aku sudah menunggu untuk membicarakan itu, tapi kau malah membicarakan tentang makanan.
“Mengapa Daniel belum datang juga? Apa dia tidak menerima pesanku?” lanjutnya
“Kau mengirimkan pesan untuk Daniel. Apa dia  akan benar-benar datang?” tanyaku, dia tersenyum kemudian berbalik menopang kedua tangannya pada besi-besi penyanggah jembatan itu, dia melihat aliran air sungai.
“Jika itu menyangkut tentangmu, kuyakin dia akan datang” ucapnya sembari tersenyum kearahku.
“Ayah ingin Daniel kembali kerumah. Ayahku meminta untuk membawa Daniel kerumah” lanjutnya, dia mengangkat kepala memandang langit yang terlihat sedikit redup.
“Apa yang terjadi?”
“Kau menghalangi Daniel untuk pulang”
“Aku?Apa alasannya?”
“Karena kau, jika kau masih berada disekolah atau disekitarnya, dia tidak akan pulang. Aku ingin kau meninggalkannya”
“Apa maksudmu?”
“Selama kau berada disisinya, dia tidak akan pulang” dia mendekat kearahku, bukan masalahku jika Daniel tidak ingin pulang. Tapi apa maksudnya? Apa akan lebih baik jika aku menjauhi Daniel?
“Drayson”
Daniel muncul, lalu merangkulku dari belakang.Dia membuatku terkejut.Entah, aku tidak tahu… matanya memandang tajam kearah kakaknya seperti elang yang siap mencabik mangsanya.
“Apa yang kau inginkan?”
“Membawamu pulang.Apa lagi?” ujarnya memandang kearah Daniel lalu tersenyum, sangat transparan.Senyuman tulus ataukah evil yang dipancarkan wajahnya itu. Apakah Daniel akan pulang? Aku tidak mau pergi.Benar-benar tidak bisa.
“Aku tidak akan pulang, kita pergi” ujarnya dan menarik tanganku
“Daniel…” aku berhenti dan menarik keras lengannya hingga ia berhenti, aku tidak tahu apa yang difikirkan pria ini. Kuyakin dia tidak tenang, dia ingin kembali.Tapi tidak bisa mengatakan itu pada ka’ Drayson.
“Kita dengarkan dulu penjelasan ka’ Drayson” ucapku, kemudian dia berbalik.
“Apa yang ingin kau katakan? Jika kau memintaku untuk kembali ketempat itu, aku tidak akan mau. Karena disana tempat sarang para iblis, aku tidak akan bersama iblis seperti kalian”
Kata-kata Daniel itu membuatku terlonjak, apa maksudnya? Masalah apa  sebenarnya yang terjadi dikeluarganya?
“Hahaha… aku tidak akan memintamu untuk kembali, aku juga tidak ingin kau kembali. Tapi ayah yang menginginkanmu untuk pulang”
Suara gertakan gigi Daniel terdengar, dan aku memegang telapak tangannya, matanya semakin tajam seperti elang, wajahnya memerah seperti menahan marah, aku tidak bisa apa-apa.
“Kau tenanglah… ayah akan membiarkanmu untuk tetap disini, jika  kau selalu pergi ke sekolah. Ayah tidak ingin jika kau tidak sekolah. Selama gadis itu berada disisimu, kau  pasti akan tetap mengunjungi sekolahmu bukan? Ayah berfikir, kau tidak pernah ke sekolah dan dia memintaku untuk melihat perkembanganmu. Dan seperti yang kulihat, jadi kau tidak  perlu pulang. Aku akan mengatakannya pada  ayah, dan kau akan diijinkan untuk tetap disini. Aku tidak ingin kau kembali, ingat itu Daniel” jelas Drayson.
Dia merangkulku dari belakang dan aku kembali tersentak, “Selama ada Ever, aku  akan tetap ke sekolah. Aku tidak ingin bertemu kau lagi, jadi jangan pernah muncul  lagi dari hadapanku. Ayo  Ever…” ujar Daniel, dia menggenggam tanganku kemudian menarikku pergi dari tempat  itu. Dari kejauhan kulihat Drayson tersenyum kearah kami, lalu melambai dan memandang langit yang sudah terlihat cerah. Ternyata 2 jam  telah berlalu dan awan sudah mulai terlihat cerah.
“Jangan menemui dia lagi. Kalau kau melihatnya, sebaiknya  kau lari saja” ucapnya
“Dia yang meminta untuk bertemu denganku. Akan tidak baik jika aku menolaknya” Kami berhenti didekat danau  kecil, sapuan angin lembut membawa suasananya  sedikit berbeda.
“Kau bilang kau menyukaiku”
“Kenapa kau mengatakannya?” aku malu, dan dia membelakangiku
“Daniel…”
“Jika  ada tempat yang membuatmu ingin kembali sebaiknya kembalilah. Aku tau, kau merindukan ayahmu, keluargamu.Jika kau ingin kembali, sebaiknya kembalilah. Tidak apa-apa” ucapku
“Apa maksudmu?Aku senang berada didekatmu. Aku senang bersamamu Ever” dia berbalik dan saat ini kami saling berhadapan.
Aku merengkuh wajahnya pelan dan mengusap pipi tirusnya, “A-apa yang kau lakukan?” ujarnya, wajah tirusnya kemerah-merahan.

“Aku tidak tau, aku pernah membaca disebuah buku.Jika seseorang sedang gelisah dia lebih membutuhkan sentuhan.Jadi aku melakukan ini” ucapku agak malu, dia membalas tanganku dan mengusapnya pelan.Daniel tersenyum, sebuah guratan terang menerpa wajahnya, menyalip tubuh jangkungnya dan terlihat tulus dengan senyuman manisnya.

Love of Being (Part 9)

Jumat, 26 Juni 2015
Posted by Unknown
Berkencan dengan Daniel
27 November 2013. Cherrystone, washingtone
Pagi ini aku bingung dan benar-benar bingung, aku bahkan tak tahu mengapa aku seperti ini.Tapi aku tahu, setidaknya aku tahu, ehm… maksudku sebuah kata yang membuatku untuk memikirkannya kembali.Troy tersenyum nakal, dan sepertinya dia tahu rencanaku dengan Daniel.
“Kupastikan, harimu akan baik nona” ujarnya yang bersender pada pintu kamarku.
“Sepertinya kau mengetahui sesuatu?Berhentilah tersenyum seperti itu, itu terlihat menjijikkan” aku mengeluarkan beberapa pakaian dari lemari pakaianku.
“Kau bingung, hm… kupastikan kau kebingungan memilih baju untuk kau gunakan.Benar?”ujarnya.
“Kembalilah kekamarku, dan jangan menggangguku” usirku, tapi dia tidak mau beranjak dari depan kamarku.
“Ayolah, Troy…” lanjutku dan dia melengos pergi kemudian…
“Ever, berkencan. Ever akan berkencan” teriaknya dan aku tak memperdulikannya. Aku berharap menemukan pakaian yang akan kugunakan sekarang dan segera pergi.
Aku mengenakan kaos biru sampai siku dan celana panjang coklat. Kupikir ini lebih pantas walaupun terkesan jaman dulu.Tapi inilah gayaku.Aku keluar dan kulihat Troy bersama ibuku tersenyum kearahku.
“Dia akan berkencan dengan Daniel.Tetangga kita itu” ujar Troy dan aku seperti terperanjat untuk sesaat.
“Apa urusanmu?Apa perdulimu. Kau hanya anak  kecil” judasku.
“Jadi kau orang dewasa.Ibu kau dengar, Ever sekarang telah menjadi orang dewasa. Lihatlah…” ejeknya.
“Berhentilah menggoda kakakmu. Masuk dan pergi belajar” bela  ibuku terhadapku. Untuk saat ini aku menang.
“Rasakan… Aku menang” ujarku dan ibuku langsung memandangku dengan tatapan seperti mengatakan ‘Kau jangan seperti itu pada adikmu’.Lalu ibuku menggerakkan kepala seperti menyuruhku untuk pergi, seperti biasa mencium pipi dan keningnya lalu akupun pergi.
Aku membuka pintu rumahku pelan dan kudapati Daniel berdiri sambil melipat kedua tangan dibawah dada.
“Kau sudah lama menunggu?” tanyaku pelan.
“Tidak terlalu. Baiklah, kemana kita sekarang?” tanya Daniel.
“Kau tidak masalah jika kita pergi ketoko buku?” ucapku dan dia hanya mengangguk.Selama diperjalanan kami berdua hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata-pun.
“Aku memberitahu Dylan akan berkencan denganmu” ujarnya, sembari meletakkan kedua tangan dibelakang kepala.
“Lalu, bagaimana tanggapannya?.Apa yang dikatakan?” ucapku.
“Dia hanya  tersenyum dan mengatakan semoga harimu menyenangkan. Yah begitulah” aku berani menjamin dia meniru gaya Dylan ketika mengucapkan itu.
SCENE Other
Kedua remaja itu duduk diatas kursi kayu panjang. Dibawah pohon ek yang rimbun. Suara derusan  angin menerpa wajah keduanya.
“Aku akan membeli  roti disana, kau tunggulah” ujar seorang gadis dengan  rambut panjang putih pucat yang sengaja ia kuncir kuda pada pria yang tengah duduk disampingnya. Sementara pria itu hanya mengangguk dan gadis itu pergi meninggalkannya. Ever, gadis itu melewati jalan raya yang pada saat itu tidak terlalu ramai oleh kendaraan. Tapi ramai  oleh lalu-lalang orang yang lewat. Dia menuju sebuah toko kecil yang ada diujung, disana didapati seorang wanita tua yang tengah duduk disalah satu kursi plastik sambil memandang kearah pintu masuk.
“Selamat datang” ujarnya ketika Ever mendekatinya.
“Apa kau penjual roti bakar ini?” ucap Ever ketika kedua matanya tertuju kearah roti-roti berbentuk persegi itu.
“Iya, apa kau akan membelinya. Akan kupanggilkan anakku untuk membungkuskan untukmu” lirihnya pelan, lalu beberapa detik setelah dia mengucapkan hal itu, seorang wanita dengan celemek biru keputihan datang, dia sedikit memperbaiki letak  rambut hitamnya yang berantakan.
“Apa ada pelanggan?” ujarnya cepat, dia memandangi Ever dan tersenyum pada gadis itu.
“Kau ingin membeli apa?” tanyanya lagi. “Roti bakar” singkat gadis itu.
“Hari ini kami ada menu special. Roti bakar dengan aroma kayu manis. Aku baru saja membuatnya, aku akan memberikan gratis untukmu” ucapnya penuh dengan keceriaan.Dia mengambil kantung plastik putih sambil bersenandung kecil.
“Anda tidak perlu…” kata-kata Ever terhenti ketika wanita itu langsung menatap  sedih kearahnya.
“Terimalah, karena kau pelanggan pertama yang datang pagi ini.Jadi kumohon terimalah. Ini mungkin sedikit memaksa.” ucapnya, dia memandangi gadis  itu dengan penuh harapan.
“Baiklah, terimakasih” ucap gadis itu pelan.
“Nah…” ujar wanita itu sembari memberikan kantung plastik berisi roti pesanan Ever.Setelah beberapa menit berikutnya, Ever-pun meninggalkan tempat itu.
“Kau lama sekali” ujar Daniel, pria itu berdiri didekat persimpangan jalan menunggu gadis itu.
“Maaf, aku membelinya diujung  jalan sana” ucap Ever menunjuk  jalanan panjang  yang tidak terlalu ramai, bahkan jika dilihat lagi malah terlihat sepi.
“Sebaiknya kita kembali ketempat sebelumnya, kurasa kita akan menikmati roti ini dengan udara segarnya” lanjut gadis itu.Lalu, Daniel mengangguk dan mereka menuju tempat semula. Gerakan langkah mereka bersamaan, namun sesuatu membuat langkah Ever terhenti, ketika ditempat mereka semula didapati 6 orang lebih tepatnya 3 gadis dan 3 pria. Ever mengenal ketika gadis itu, Kattie  dan kedua temannya.
“Kurasa kita  akan celaka” kata Ever terdengar berbisik.
“Kau kenal mereka?” tanya Daniel.
“Iya… tapi tidak terlalu mengenal mereka” ujar gadis itu.
“Lalu, kenapa kau merasa celaka ketika melihat mereka?” ucap Daniel.
“Aku ada sedikit masalah, jadi apa kau akan meneruskan niatmu untuk kembali ketempat itu?” tanya Ever memastikan.
“Mengapa tidak? Bukankah ini tempat umum?” ujar Daniel dan berjalan mendahului Ever. Gadis itu mengikuti  dari belakang.
“Oh… kita bertemu lagi, Cash” ucap gadis blonde itu.
“Rupanya dia sedang berkencan dengan… Kurasa aku mengenalnya” ujar pria dengan rambut hitam dan menggunakan kemeja coklat sampai siku.
“Kelas satu yang tidak memiliki pendidikan.Dia bahkan berteman dengan komplotan geng.Kau tidak akan percaya, bukankah itu yang sedang beredar disekolah” tambah pria yang beralis tebal dan berdiri disebelah Katie. Ever mengangkat kepala memandangi Daniel, pria itu kembali terlihat berbeda. Dia menatap dingin kearah Katie dan teman-temannya. Ever hanya memandang wajah tirus pria itu yang dengan tatapan dinginnya.
“Daniel…” lirih Ever pelan, gadis itu takut sesuatu akan terjadi. Dia menarik lengan pria itu dan menggenggamnya pelan.“Daniel…” suaranya pelan, namun berhasil menyadarkan pria itu yang seperti dirasuki dan kini telah kembali seperti semula. Daniel tersenyum kearah Ever dan balas menggenggam tangan gadis itu.
“Kau tak perlu khawatir” ujarnya, kemudian maju beberapa langkah dan sembari berkata pada Katie dan teman-temannya.
“Kau benar, aku bergabung dengan komplotan geng.Bagaimana jika aku memanggil geng ku kesini dan menghajar kalian?Aku bisa menghubunginya sekarang.Jadi kau harus berhati-hati, kau bisa saja mati ketika kau pulang nanti.Dan jaga gadis-gadis mu itu.Mereka bahkan terlihat menjijikkan”.
Mereka pergi meninggalkan tempat itu. “Bagaimana bisa dia berkata  seperti itu? Dia bahkan tidak memiliki ssopan-santun terhadap seniornya. Heh…” marah pria dengan alis tebalnya.
“Kufikir kalian yang membuat dia marah.Bukankah sudah kuberitahu kau tak perlu mengatakan hal seperti itu?Itu hanya kabar burung yang tengah beredar disekolah kita-kan” ucap pria berambut blonde dengan kaos putih yang menyelimuti tubuhnya.
“Tapi pada kenyataannya dia benar-benar bergaul dengan komplotan geng. Sudahlah, kau tak perlu membela pria itu” ucap pria beralis tebal dengan nada yang sedikit dinaikkan. Sementara pria berambut blonde itu hanya menggeleng pelan.
“Sudahlah Jimmy, Christ… kalian tidak perlu meributkan hal seperti itu” sela Katie.
“Aku akan memberikan pelajaran untuk gadisnya, aku berani menjamin… dia tidak akan betah berada disekolah.Dan Daniel, aku akan menyuruh pria itu berlutut untuk meminta maaf pada kalian” lanjut Katie dan tersenyum evil dengan teman-temannya.
“Sudahlah, hentikan rencana konyolmu itu Katie, kufikir itu tidak akan berhasil. Sebaiknya kalian tidak terlalu berlebihan” bela pria berambut blonde.
“Christ… apa ada yang salah dengan fikiranmu saat ini?” ujar gadis dengan rambut sebahunya.
“Tidak, tidak ada yang salah. Aku tidak akan ikut dalam rencana bodoh kalian. Aku pergi” ujar pria berambut blonde itu berjalan meninggalkan mereka.
Sementara dilain tempat. -Daniel dan Ever- tengah menikmati roti bakar yang dibeli oleh Ever. “Aku sangat menyukai ini.Lezat, apa disana terdapat banyak rasa?” ucap Daniel sambil memasukkan roti kedalam mulutnya, Ever mengangguk. Lama dia-Daniel mengunyah.
“Kau harus membantuku ketempat toko roti ini.Aku akan membeli banyak” lanjutnya. Kembali ia mengunyah, Ever memandangi pria yang duduk disebelahnya.
“Tadi itu, apa tidak apa-apa?” ucapnya pelan.
“Maksudmu?” bingung Daniel.
“Kau mengatakan bahwa kau komplotan geng, dan kau bahkan mengancam mereka.Apa itu tidak masalah?” ucap Ever berbicara hati-hati pada kalimat terakhir. Daniel menghentikan kunyahannya. Kemudian membalas mata gadis itu lembut.
“Semuanya akan baik-baik saja, aku tidak masalah jika mereka berfikir seperti itu.Tidak masalah jika semua orang menjauhiku.Tapi aku tidak ingin kau menjauhiku. Aku senang bersamamu Ever, aku bahagia bersamamu” ucap Daniel dan Ever merona. Ever mengangkat tangan dan memegang wajah Daniel lembut.
“A..a-apa yang kau lakukan?” ucap Daniel gelagapan.

“A-aku hanya, hanya ingin me-menenangkan-mu. A-aku pernah membaca dibuku. Ji-jika seseorang tengah bingung atau sedih. Ma-maka dia butuh sentuhan” ujar Ever gelagapan pula. Langit terlihat cerah bahkan sangat cerah waktu itu, suasana disekitar mereka terlihat penuh dengan warna. Disekitar mereka, penuh dengan bunga-bunga mekar dimusim semi. Musim semi -EVER dan DANIEL-

Hubungan kakak dan adik
21 November 2013, Cherrystone, washingtone
Sore ini aku dan Troy pergi ke toko buku yang baru dibuka, tempatnya tidak jauh dari rumah. Aku membantu Troy mencari buku sejarah Amerika, kami menelusuri ruangan bercat hijau itu. Beberapa buku tertata rapi di bagian rak yang terbuat dari kayu dengan motif biru tua, seperti menyatu dengan tirai berwarna biru-keputihan yang beterbangan akibat hembusan angin. Terkesan elegan dan klasik pada zaman sekarang. Beberapa pajangan lukisan besar terpampang didinding. Aku sempat berfikir, apakah disini menjual lukisan juga? Aku tertarik pada lukisan patung Liberty dengan langit agak kehitam-hitaman ditengah kota.
“Aku heran, mengapa para pengunjung seringkali mengamati lukisan Liberty itu” aku tersentak dengan ucapan seorang pria yang tengah berdiri di belakangku. Namun aku tak menggubrisnya, dia berdiri disebelahku.
“Kau dari SMA Cherrystone?” ujar pria itu sembari tersenyum kearahku, aku hanya menyipit memastikan apa maksud senyuman itu?.
“Hei... berhentilah menatapku seperti itu. Apa kau fikir aku seorang penjahat atau sejenisnya?” lanjutnya, seolah mengerti apa yang tengah menggerayang dalam fikiranku. ‘Hhh... berhentilah seolah engkau mengenalku’
. “Cash Everdeen, gadis yang memiliki IQ diatas rata-rata 90%. Acuh dan tidak memiliki teman satu-pun”. ‘Berhentilah berkata seolah kau mengenalku saja’.
 “Selalu mendapat peringkat pertama di kelas dan berani menegur serta bersikap acuh terhadap guru”. ‘Hhh... apa maksudnya ini? Jangan bertindak seolah kau tahu banyak tentangku
“Oi...Oi, berhentilah memasang wajah seperti itu. Ehm... aku senang bertemu-”.
“Siapa kau?” ujarku dingin, sikap aneh dan sok tahu. Menyebalkan.
“Kau dingin sekali” lanjutnya, “Baiklah, namaku Drayson, kau bisa memanggilku Dray. Salam kenal Ever, aku pergi. Dan kuharap kau bisa membantuku” ujarnya dan berlalu meninggalkanku. Membantu? Bantu apa? Aku bahkan tak mengenalnya, apa yang bisa kubantu. Sepertinya dia salah orang, aku memandangi punggungnya yang berlalu menjauh dari hadapanku.
“Ever...” Aku tersentak ketika kurasakan tangan seseorang menepuk bahuku pelan.
“Hei..., bisakah kau tidak mengejutkanku?” ucapku sedikit membesarkan oktaf kalimat ketika kulihat Troy berdiri sambil tersenyum miring kearah jendela.
“Hei... kau bertemu siapa? Aku bahkan tak melihat wajahnya” ujarnya kemudian,
“Akan kuberitahu Daniel” lanjutnya. “Apa maksudmu? Aku bahkan tak mengenal orang tadi. Berhentilah berfikir hal-hal yang tak sepatutnya kau fikirkan. Bagaimana? Apa kau mendapatkan buku-nya” ujarku dan ia tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
“Ini...” ujarnya mengangkat tangan kanannya dan memperlihatkan buku yang ia dapatkan. -Sejarah Amerika tahun 1879-. Dan kami-pun langsung pulang.
22 November 2013, Cherrystone, washingtone
Aku berjalan melewati koridor kelas, dari arah yang berbeda Samantha berdiri sambil melambai kearahku. Ralf dan Daniel pun berada disana, aku tersenyum kearah mereka.
“Seperti biasa, untuk master Cash Everdeen, kau dipersilahkan untuk berjalan lebih dulu” ujar Samantha. Yang membuat mereka bertiga tertawa, hhh... sejak kapan Samantha memanggilku master? Dan apa ini lucu? Aku menyelingkan mata kearah Samantha. Bagus. Dan ia menghentikan tertawanya. Kalimat macam apa itu?
“Berhentilah seperti itu Ever, kau bahkan menakuti Samantha. Sudahlah... ini hanya bercanda. Samantha mengatakan hal itu karena setiap kita jalan bersama, kau seperti pemandu” ujar Daniel.
“Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Aku juga tidak mengerti maksud Samantha. Ayo...” ajakku. Daniel menyamakan langkah denganku. Aku hanya memandang kedepan dan diam. Sementara Daniel, Ralf dan Samantha mereka sibuk membicarakan hal yang menurut mereka lucu. Suara tertawa mereka seakan membuatku tenang. Tuhan, aku senang.
Sepulang sekolah, aku, Daniel, Ralf dan Samantha akan pergi ke rumah Daniel. Kami akan minum anggur merah bersama. Dylan sudah membeli banyak anggur, dan menyuruhku untuk mengundang kalian ujar Daniel. Orang yang baik. Sepulang sekolah, aku memperhatikan gelagat Daniel untuk kali ini dia lebih banyak diam, tidak banyak omong seperti biasa? Apa yang sebenarnya difikirkan oleh pria ini? Kami melewati jalan raya, disekitaran lebih banyak orang yang lalu-lalang.
“Apa perlu kita mampir sebentar?” ucap Daniel disebuah minimarket kecil. “Aku ingin membeli sesuatu” lanjutnya.
“Kau ingin membeli apa?” tanyaku heran, tidak seperti biasanya.
“Yah... sesuatu untuk dimakan nanti” ucapnya tersenyum, namun senyumnya terlihat getir dan sedikit takut. Entah apa yang membuat pria itu terlihat berbeda hari ini.
“Kau benar. Untuk kita makan dirumah Daniel. Ayo...” ujar Ralf dan membawa Daniel masuk, kemudian diikuti oleh Samantha yang terlihat bersemangat juga. Sepertinya mereka belum menyadari perubahan Daniel hari ini. Akupun mengikuti mereka. Mereka memilih beberapa snack dan apple. Kemudian kami membayarnya dikasir wanita yang tersenyum dengan topi merah khas perusahaan tempatnya bekerja.
“Kenapa harus membeli ini? Bukankah kita bisa mengambilnya dirumahku?” ucapku pada akhirnya.
“Apa makanan seperti ini ada dirumahmu Ever? Sepertinya tidak, kufikir kau lebih menyukai roti dengan selai, atau makanan yang mengandung lebih banyak gula” ucap Ralf dan Samantha pun mengangguk mengiyakan.
“Ah... bodoh, aku juga terbiasa memakan makanan seperti itu” ujarku kesal.
Kami sudah sampai dirumah Daniel, Daniel sibuk mengoceh dengan Ralf membicarakan tentang baseball dan semacam jenis olahraga lainnya. Aku bahkan tak mengerti, apa yang menarik untuk pria macam ini. Dia sedikit aneh dan sulit dimengerti.
“Oh... Hallo” ujar sebuah suara, dia? Orang itu? Orang yang pernah kutemui ditoko buku kemarin.
“Kau? Sudah kuduga” ujar Daniel dan berlari meninggalkan kami. Apa artinya ini? Aku heran kenapa Daniel seperti itu.
“Hei, Daniel” teriak Ralf dan pria itu tak menggubris sama sekali.
“Ah... anak itu, biarkanlah” lanjutnya, kenapa dia selalu bersikap santai seperti itu?.
“Oi... kalian datang juga” ujar Dylan yang tiba-tiba muncul membawa beberapa gelas anggur merah.
“Dia adalah Dray, kakaknya Daniel” oh... astaga? Kakak Daniel? Pria ini?. Aku tahu, tapi masalah tentang dia adalah kakak dari Daniel, aku baru tahu sekarang.
“Senang bertemu denganmu kak, Oh ya... kenapa Daniel melarikan diri ketika melihatmu?” ujar Samantha yang kemudian disambut oleh suara tawa dari Drayson, pria itu.
“Aah... dia memiliki brocon (brother complex) semacam penyakit saudara yang memiliki perasaan terhadap kakak/adik laki-laki” jelas kakak Daniel.
“Sejak kapan anak itu memiliki banyak teman? Kalian mengurus Daniel dengan baik, terimakasih” lanjutnya.
“Dia juga sudah mau datang kesekolah kak, ini berkat Ever” jelas Ralf.
“Aku tidak mengatakan jika itu berkatku” protesku sambil menyesap anggur merah.
“Oh... kau ya? Tunggu, sepertinya kita pernah bertemu. Tapi dimana?”. Keadaan kakak-beradik yang aneh.
“Toko buku” ucapku mengingatkan dengan kesal.
“Oh... benar. Hahaha”. Bodoh, bukankah waktu itu kau yang pertama kali menyapaku? Kau juga mengetahui tentangku?. Daniel dan Drayson. Keluarga yang aneh, lalu Dylan?.
 “Kalian bertiga, bersaudara-kah?” ujarku akhirnya. “Hahahaha....” suara tawa dari Drayson,
“Aku sepupu mereka” balas Dylan. Daniel lebih memilih tinggal ditempat Dylan, ada apa? Yang jelas aku belum mengerti. Aku tidak terlalu tahu banyak tentang Daniel dan apa yang difikirkan oleh pria itu. Masalahnya, sekarang dia berada dimana?
Lama kemudian, kami-pun memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Dylan. Aku membantu membereskan gelas-gelas kotor dan bekas sampah yang berserekan diatas meja. Sementara Samantha dan Ralf sudah pulang. Setelah selesai, aku pamit pulang pada Dylan. Dan aku tidak melihat Drayson. Aku menutup pintu rumah Dylan pelan, dan...
“Ever, kau Cash Everdeen. Senang bertemu denganmu lagi” ujarnya.
“Tolong, jaga Daniel untukku. Ya...” lanjutnya, kemudian aku mengangguk dan diapun masuk kedalam rumah Dylan. Aku kembali berjalan meninggalkan rumah Dylan dan, sesuatu serasa menarikku sangat cepat hingga aku tak bisa menahan diriku sendiri. Tubuhku terasa terbanting disemak-semak dan kusadari mulutku tertutup oleh sebuah tangan. -Daniel-. Apakah dia bersembunyi ditempat ini?.
“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya sarkatis.
“Hanya meminum anggur” ujarku. “Bisakah kau melepas tanganmu? Ini sakit” lanjutku.
“Oh... maaf” ujarnya dan menjaga jarak agak berjauhan dariku. “Apa yang dikatakan Drayson?” tanyanya.
“Kau memiliki brocon, apa itu benar?” jawabku.
“Apa? Tidak” balasnya. “Lalu kenapa kau pergi?” tanyaku lebih penasaran.
“Bukan urusanmu, jangan banyak bertanya”. Dia berbeda, ucapannya sarkatis dan bola matanya terlihat berbeda.
“Jadi begitu? Baiklah...” dan akupun pergi meninggalkannya. Aku masih memikirkan Daniel, dia seperti ada masalah dengan Drayson, aku tidak mengerti dengannya. Aku belum terlalu banyak mengenalnya. Aku sudah berdiri didepan rumah, sebentar lagi matahari akan tenggelam dan malam-pun akan tiba, aku memutuskan untuk kembali dan menemui Daniel.
“Kenapa kau kembali?” tanyanya yang masih duduk dengan menunduk dan terlihat sedih. Wajah itu, terlihat penuh dengan fikiran.
“Kalau kau mau minum anggur, ada dirumahku. Ada beberapa kue dan semacamnya. Ibuku membuatnya tadi pagi” jelasku, dan kamipun pergi kerumahku. Aku mengajaknya ditempat biasa -Halaman belakang rumahku-.
“Maafkan aku...” ujarnya lembut, sambil menyesap anggur merah. Dia menghendus pelan dan beberapa detik kemudian dia mengambil sandwich yang ada dipiring dan mengunyahnya pelan.
“Sejak bertemu denganmu, hanya hal-hal baik yang terjadi padaku. Aku senang bisa bertemu denganmu. Terimakasih” ujarnya dan itu membuatku memerah. Pasti sekarang aku salah tingkah dan rona merah dipipiku tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menghilang dari wajahku.
“Aku ingin melakukan sesuatu untukmu” lanjutnya meletakkan gelas yang sudah kosong diatas meja bundar yang ada dibelakang rumahku. Selanjutnya dia mengambil tempat didekatku.
“Apa yang bisa aku lakukan untukmu?” tanyanya kemudian. “Kencan. Berkencanlah denganku” ujarku spontan.

“Eh’- itu- a’. B-baiklah. Ti,tidak masalah” ujarnya gelagapan. Aku belum mengenal dirinya.

Love of Being (Part 7)

Senin, 22 Juni 2015
Posted by Unknown
Awal bagi Daniel
20 November 2013, Cherrystone, washingtone
Aku berjalan ditengah keramaian koridor kelas dan melihat Daniel berdiri dan bersender di pilar koridor. Aku berjalan tepat di hadapannya sambil memalingkan wajah kearah lain.
“Hei...” panggilnya dan aku pun berbalik, kemudian aku menuju kearahnya. Dia sudah berdiri tegak disamping koridor.
“Bagaimana kabarmu pagi ini?” tanyaku.
“Yah, baik. Dan setidaknya cuaca terlihat sedikit lebih cerah dari kemarin” ucapnya dan tersenyum kearahku, aku sedikit terkesiap dan-
“Aku pergi, oh ya... aku sangat menyukai senyummu. Jadi... kuharap kau akan selalu tersenyum pada semua orang. Ingat, jangan memasang wajah musuh kearah yang lain” ucapku dan berlalu meninggalkannya. Aku bahkan melontarkan kalimat itu, kalimat yang tak seharusnya kuucapkan pada orang yang telah menolakku.
SCENE Other
Daniel, pria itu terlihat kaku dan terdiam ditempat. Baru saja dia mendengar pujian dari seseorang yang kurang lebih 2 bulan ini dekat dengannya. Dia sedikit merasa keanehan menggerogoti seluruh hatinya, apakah dia harus mengikuti ucapan gadis itu.
“Aku menyukai senyummu. Jadi... kuharap kau akan selalu tersenyum pada semua orang” kata-kata itu semakin berputar dalam memory otaknya, entah ia harus mengikuti ataukah tidak? Tapi kenyataan berkata...
Daniel berjalan ditengah koridor dengan tubuh tegap, dia memperhatikan sekeliling. Memang, kian banyak orang tak memperhatikannya. Kelakuannya-lah yang membuat semua orang menjauh meninggalkannya. Ditengah perjalanan, tak sengaja seseorang membentur tubuhnya hingga membuat ia berhenti ditempat.
“Ma-maaf, a-aku tidak sengaja. Benar, a-aku benar-benar tak sengaja” suara ketakutan itu mulai terdengar ditelinganya. Gadis itu benar-benar merinding dihadapan Daniel, seketika Daniel mengangkat kepala dan sesuatu yang tak terduga, hingga membuat pipi gadis itu benar-benar memerah.
“Tidak apa-apa” ucap Daniel dan tersenyum manis kearah gadis itu. “K-kau tidak marah?” tanya gadis itu memastikan.
“Aku tidak mempermasalahkan ini. Jika kau berjalan, sebaiknya kau berhati-hati dan pandanganmu harus lurus kedepan” ucap Daniel, benar-benar lembut. Sehingga beberapa gadis lainnya pun mulai mendekat kearahnya.
“Daniel... kau sungguh tidak marah?” tanya gadis lainnya.
“Iya... sudah, aku pergi dulu” ucap Daniel kembali tersenyum dan melambai meninggalkan gadis-gadis itu.
“Apa kau tak melihatnya? Dia benar-benar keren” ucap gadis lainnya terbawa ingatan akan senyuman Daniel.
“Ternyata dia memiliki sisi positif juga. Ini benar-benar keren” ucap gadis pirang dengan rambut panjang yang dikuncir kuda. Mereka terpesona akan senyuman Daniel. –Dia benar-benar berbeda-.
“Daniel...” seseorang memanggil namanya dengan nada tinggi, hingga dia berbalik kemudian bingung dengan pria jangkung yang berada dihadapannya.
“Kau siapa?” tanyanya kemudian, jelas-jelas pertanyaan-nya membuat pria yang dihadapannya ini heran dan hanya bisa mengeluarkan nafas pasrah.
“Kau tidak mengenalku? Hei bukankah kita berada dikelas yang sama?” tanya pria itu dengan lontaran kebingungan.
“Maaf... aku benar-benar tidak mengenalmu” ucapnya dan berlalu meninggalkan pria jangkung itu yang hanya menggelengkan kepala pelan.
“Kurasa kau melupakan sesuatu yang pernah kau lakukan juga, hhh” ucap pria itu setengah berbisik.

Aku menyusuri koridor kelas yang penuh dengan sesak keramaian para siswa-siswi Cherrystone. Hari ini benar-benar penuh dan sesak. Akankah aku kembali setelah mendapat penolakan? Entah aku akan memikirkan itu atau tidak? Yang jelas, aku ingin belajar untuk sekarang ini. Kau tahu? Nilai ku benar-benar jatuh, aku tidak mau tahu apa penyebabnya walaupun aku benar-benar mengetahuinya. Mungkin ke perpustakaan lebih baik dari pada terlalu sering melihatnya. Aku memasuki ruangan itu, melihat seisi perpustakaan. Sepi dan tenang. Aku mengambil tempat duduk dekat jendela, hembusan angin melesak lewat celah jendela yang terbuka. Tirai orange beterbangan pelan mengikuti gesekan angin yang lewat. Aroma disini benar-benar alami. Aku menaruh kedua tanganku diatas meja lalu menidurkan kepala dan bersender diatas tangan kiriku. Aku benar-benar lelah, sangat lelah.
“Hei... Ever” Dari arah seberang jendela, kepala sesorang tiba-tiba menyembul dan tersenyum kearahku.
“Kau siapa?” tanyaku.
“Kau tidak mengenalku? Bukankah kita satu kelas? Kau sama saja seperti Daniel. Oh... Aku Ralf. Ralf Carrot” ucapnya, dia berpegangan pada balkon jendela, sesekali ia memperbaiki topi yang berada diatas kepalanya.
“Ada perlu apa?” tanyaku, dia tersenyum.
“Aku ingin mengatakan, kalau aku menyukaimu”. Aaah... apa-apa’an dia? Itu bahkan tidak benar, terlihat jelas dalam raut wajahnya.
“Kau berbohong” sinisku.
“Hahahaha... ketahuan ya. Oh... Kalian sering bersama bukan?” ucapnya, “Dengan siapa?” tanyaku penasaran.
“Daniel”. Oh... pria itu?.
“Ralf, cepatlah...” seseorang berteriak dari arah kejauhan. Aku melangkah menuju jendela.
“Siapa?” tanyaku penasaran.
“Temanku, baiklah... aku pergi. Jaga hubunganmu dengan Daniel. Daah” dia melambai dan menyusul beberapa pria yang mengenakan pakaian baseball.
“Hhh...” aku melemaskan tubuhku di balkon jendela,
“Ternyata kau ada disini” aku tersentak ketika wajah Daniel tiba-tiba muncul dijendela. Ini benar-benar spontan.
“Bisakah kau tidak mengejutkan orang lain?” tanyaku masih memegang dada, rasa keterkejutanku benar-benar spontan, bagaimana bisa dia bersikap tenang seperti itu. Sementara ia hampir membuat orang lain mati karenanya.
“Ada apa kau kesini?” tanyaku membenarkan cara duduk.
“Akhir-akhir ini, aku jarang sekali melihatmu. Apa kau bermaksud untuk menghindariku?” ucapnya memainkan bolpoin milikku.
“Itu hanyalah perasaanmu saja, sebaiknya kita keluar” ajakku dan berdiri, dia mengikutiku dari belakang.
Kami melewati koridor kelas, beberapa gadis terlihat berbisik-bisik dan sesekali tersenyum ke arah Daniel. Selang beberapa menit aku mengangkat kepala dan kulihat dia tampak tegap dan cuek dengan gadis-gadis disekitar yang tengah tersenyum kearahnya. Hhh... dia bahkan tidak tahu, betapa simpatiknya gadis-gadis itu terhadapnya. Kami berbelok ditikungan koridor dan menuju kelas.
“Woy... Daniel, Ever” seseorang menyerukan nama kami berdua. Di bangku pojok belakang kulihat Ralf tengah duduk dengan Samantha, mereka seperti tengah membicarakan sesuatu.
“Kau mengenalnya?” tanya Daniel padaku.
“Dia Ralf... aku baru saja bertemu dengannya, ketika di perpustakaan” jelasku.
“Aku juga baru saja bertemu dengannya. Aku baru tahu, selain dirimu ternyata ada juga yang memanggil namaku” ucapnya tertawa. Tidak, bukan hanya aku dan dia. Kau bahkan tidak menyadari di luar sana banyak gadis yang simpatik terhadapmu. Aku menuju kearah Ralf dan Sam, kemudian diikuti oleh Daniel dibelakang.
“Bagaimana? Apa dia mengganggumu? Ah... kufikir tidak, sepertinya kau cepat sekali berada di perpustakaan” celoteh Ralf.
“Daniel...” panggil Ralf, dan “Ah... bukankah kita baru saja bertemu? Aku Daniel” ucap Daniel.
“Ralf Carrot, kuharap kita bisa menjadi teman”.
“Ah... tentu saja, kita sudah menjadi teman”.

“Benarkah. Aku senang kalau begitu” ujar Ralf hingga akhirnya mereka mengoceh berdua dan aku hanya memandangi awan yang seperti berkelopak ditengah langit biru. Kufikir ini adalah awal bagi Daniel, ketika ia akan mulai dikelilingi oleh banyak orang. Kuharap untuk seterusnya akan seperti ini.
Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Si Perangkai Kata -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -