Archive for Juni 2014

The wicked of evil

Jumat, 27 Juni 2014
Posted by Unknown


Main Cast : ZERO SBANT, HUNTER LORD, GRIPPIN HIERARKI, ROKY ZENDON dan JULIO EXPANT.
GENRE : Action of death
Rating ;-

-Kegelapan memang benar-benar ada , seperti sebuah penghancuran yang siap meletuk dikeheningan malam. Kegelapan itu kuat, seperti mesin penghancur yang jika kau katakan kau mati didalam sebuah jurang kehancuran.Bagaimana hidup bisa berbagi, jika engkau memilih untuk mengekang didalam satu sisi. Kehidupan benar-benar sungguh diluar batas, jika engkau terpaut hanya dalam satu kenikmatan, satu hasrat yang benar-benar menggoyah dan mengambang pada fikiran yang benar-benar tak bisa dibayangkan-
-ZH, sbant-
Suatu hari… disebuah dunia…
Hunter : “Aku ingin menceritakan sesuatu padamu, tuan…!?” (terduduk diatas sebuah kursi sambil merunduk)
Grippin : “Kau ingin menceritakan aku apa…?” (sambil menghisap rokok) –Hunter menarik nafas pelan-
Hunter : “Ini adalah cerita terbahagia dalam hidupku, bertemu dengan seorang pria. Nama-nya… Zero…, dan dia adalah seorang pemburu hadiah yang cukup terkenal”

THE SCENE OF STORY NOW…
Zero : “Apa kau yakin?, kau telah menemukan pria itu…?” (memasukkan tangan kiri kedalam saku celana, sementara tangan kanan memperbaiki letak kacamata yang bertengger di matanya)
Julio : “Iya… aku sangat yakin, akhirnya… aku menemukannya juga. Wajahnya, hampir tidak dikenali. Dan sepertinya… orang-orang sama sekali tak menyadari keberadaannya” (tertawa sambil menelaah poster-poster yang berserekan dihadapannya)
Julio : “Sejak aku nyaris mati oleh orang ini, sedetik-pun aku tidak bisa melupakannya. Dia dengan mata iblisnya yang penuh dengan kegelapan itu” (mengingat hal yang terjadi sebelumnya. Ketika dia-Julio- berhadapan dengan seorang penjahat dan penjahat tersebut menodongkan senjata api padanya. Tapi jelas saja, penjahat tersebut tidak membunuhnya, malah meninggalkan Julio yang tengah terkapar tak berdaya)
Julio : “Namanya… HUNTER. ‘WANTED dead or alive’… dan hadiah untuk penjahat super class A, bernilai jutaan dollar”
Zero : “Jadi… sampai sekarang, dia masih menjadi ‘most wanted’?, Ini baru namanya pembunuhan yangberarti… aku akan membunuhnya” (mengangkat pistol sambil memain-mainkannya)
Julio : “Aku tahu akan kemampuanmu tapi…, Hunter berbeda dengan penjahat-penjahat yang ada diluar sana” (sambil menopang dagu dengan tangan diatas meja)
Zero : “Aku tahu…, oleh sebab itu,,, aku memiliki cara ‘menguasai’
Julio : “Tidak ada orang yang lupa bagaimana nikmatnya menguasai orang lain bukan…? Kau juga begitu, tuan Zero Sbant”
Zero : “Tidak…, aku lebih mencari kesempurnaan dari pada kenikmatan itu, dan sempurnanya menguasai orang lain adalah dengan ‘membunuhnya’dengan merampas nyawa orang, berarti kita juga telah merampas seluruh kesadaran dan masa depan orang itu…” (tersenyum sinis)
Julio : “Orang itu sekarang, kabarnya tengah berada di sebuah gedung putih lantai dua… itu adalah tempat komunitas para drugs”
Zero : “Tempat persembunyian yang bagus…” (meninggalkan ruangan tersebut)
CUT TO…
Gedung Putih
Writers : “Tuan… tuan ingin apa?” (melangkah kearah Zero yang sudah memasuki tempat tersebut)
Zero : “Aku mencari seorang pria berambut hitam, kau kenal ini?” (mengeluarkan sebuah foto yang langsung dilihat oleh sang writers)
Writers : “Ow… Hunter?” (menunjuk tepat ketika seorang pria berambut hitam sambil menghisap rokok berjalan kearahnya)
Hunter : “Hei… Roky” (mendekat kearah Zero dan pria yang bernama Roky itu)
Roky/Writers : “Ada yang mencari-mu, aku tinggal dulu. Bye…” (menepuk bahu Hunter dan pergi meninggalkan keduanya)
Mereka duduk diatas sebuah sofa yang ada diruangan itu…
Zero : “Kenapa kau bekerja ditempat ini?” (sambil menghisap rokok)
Hunter : “Sebenarnya aku tidak bekerja, aku hanya menghabiskan waktu ditempat ini untuk mencari suatu hal yang menarik” (mengangkat kaki kanan dan menaruhnya diatas tumpuan kaki kiri)
Zero : “Tapi…”
Hunter : “Aku sudah bosan disini… apa kau mau bekerjasama denganku?” (berbisik ditelinga Zero)
‘Tidak salah lagi…’ ungkap Zero dalam hati.
Door… Door…
Suara tembakan terdengar ditempat itu yang dibarengi dengan berdirinya Hunter, sementara Zero hanya terduduk heran memandang wajah pria yang beraksi dihadapannya.
Roky/Writers : “Ada apa ini…?, apa yang kau inginkan?” (teriak Roky membuang puntung rokok-nya)
Hunter : “Yang tersisa ditempat ini, tinggal orang-orang yang berada dalam pengaruh obat-obatan. Zero…, kumpulkan uang dan barang-barang berharga milik mereka semua”(keluar dari ruangan tersebut dan diikuti oleh Zero dengan tatapan tak percaya)
‘Hebat…, dia melakukannya sendiri. Dia yang mencari musuh’ ungkap Zero memandang tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya.
Roky/Writers : “Hunter… kembali kau” (berteriak seperti orang gila)
Door… (satu tembakan menembus tubuh Roky)
Hunter : “Masa bodoh…” (berlalu dari tempat tersebut)
Scene of Jalanan/Jalan setapak/Jalan raya.
‘Pria ini masih menguasaiku sampai saat ini, dia berbeda dengan manusia lainnya. Kalau aku berhasil menguasainya betapa senangnya aku…’ ungkap Zero
Zero : “Apa rencanamu selanjutnya, Hunter…?” (memegang barang hasil curiannya)
Hunter : “Aku ingin ketempat yang layak…” (berbalik kearah Zero)
Zero : “Kenapa kau lakukan semua ini?, apa sebenarnya tujuan dan alasanmu?”
Hunter : “Aku hanya melakukan hal yang ingin aku lakukan saja…” (tersenyum kearah Zero)
Scene of Ruangan
Beberapa botol wine tersedia ditempat itu, beserta music-music DJ yang berputar menemani kedua pria itu.
Zero : “Uang kita sudah habis…”
Hunter : “Ambil saja dari orang lain… mau itu orang atau benda, hancurkan saja yang menghalangi aksi kita” (meneguk botol wine)
‘Dia terlalu bebas untuk melakukan apapun’ guram Zero dalam hati
Hunter mulai oleng karena pengaruh wine yang diminum terlalu banyak, kesempatan ini tidak akan disia-siakan oleh Zero, dia mulai mendekat lahan-perlahan ke tempat Hunter mencoba untuk mengambil pistol milik Hunter.
Hunter : “Pistolmu yang ini?... nih aku kembalikan” (menatap dengan sayu lalu menyodorkan pistol tersebut kearah Zero)
Zero pun mengambil pistol tersebut
‘Pria yang mengerikan…’ gumam Zero dalam hati
Keesokan harinya…
Scene of Jalanan
Zero : “Hunter… ada razia”
Hunter : “Iya aku tau…” (mensejajarkan tubuhnya dengan Zero)
Hunter : “Woy…” (mendekat kesegerombolan polisi)
Polisi : “ Aaah… kamu!?”CONT’D
Hunter : “Ada apa?”
Polisi : “Ada laporan dari masyarakat, kalau mereka telah melihat penjahat yang sedang buron disekitar tempat ini, dan sepertinya dia juga yang telah melakukan perampokan dan pembunuhan”CONT’D
Hunter : “Waaah… heheh, sudah ketahuan ya??”
Polisi : “Kau… jangan-jangan k-kau” (wajah ketakutan)CONT’D
Hunter : “Jangan menghalangi jalanku” (berbisik didekat telinga polisi)
Hunter : “Atau kau akan mati” (menarik beludru pistol, lalu… Door)
Pria itu menembak beberapa polisi yang ada dihadapannya dengan senyuman se-sinis mungkin.
Hunter : “Zero…, bunuh yang dibelakang”
Door, Door, Door…
Hunter : “Mereka sudah melihat wajah kita…, kalau tidak dibunuh akan merepotkan nantinya” (berbalik kearah Zero dan menembak satu polisi yang berada dibelakang Zero)
Hunter : “Ayo… Zero… kita pergi”
Zero : “Mau kemana…?” (berjalan dibelakang Hunter)
Hunter : “Kesuatu tempat… tempat yang bagus” (menaruh pistol diatas bahunya)
Zero : “Harga nyawamu makin lama, makin bertambah. Kufikir semua orang akan mengincarmu Hunter…”
Hunter mengalihkan pandangan sebentar kearah Zero, lalu sedetik kemudian memandang kedepan…
Zero : “Apa ini tidak terlalu berbahaya…?”
Hunter : “Kau takut…?”
Zero : “Tidak… maksudku…”
Hunter : “Kita akan ketempat yang lebih aman”
CUT TO
JALAN SEPI…
Josh : “Selamat datang tuan…” (membungkuk memberi hormat) CONT’D
Seseorang berlari mendekat kearah Zero…
Julio : “Jangan bergerak, lakukan apa yang aku perintahkan…” (menodong Zero dengan pistol di punggungnya)
Zero : “Kau…” (berdesis pelan)
Julio: “Jika kau ingin nyawa temanmu ini selamat, jatuhkan pistolmu…” ( mendorong Zero dan melangkah mendekat kearah Hunter)
Hunter berbalik, menatap kedua pria yang berada dihadapannya…
Julio: “Berpura-puralah kau tidak mengenalku. AKU sudah menduga, kalau dia akan ketempat ini. Kau berpura-pura menjadi temannya hanya untuk membuat dia lengah, bukan?. Kalau begitu… sekarang tembak dia, Zero…” (nada memerintah)
Hunter mengeluarkan pistolnya, dengan gerak lambat dia menurunkan pistolnya…
Julio : “Lihat…!, Hunter sekarang tanpa pertahanan sama sekali. Cepat tembak dia…”
Door…
Zero : “Maaf…” (menembak tepat dikepala Grippin)
Zero berbalik mengeluarkan pistol dan… dia lebih membiarkan penjahat itu hidup. Dan lebih memilih untuk membunuh partner kerjanya.
Door…
Suara itu kembali terdengar bersamaan dengan peluru yang menembus tubuh Zero sampai ketubuh Grippin.
Bough…
Zero terjatuh sambil memegang perutnya yang sudah dipenuhi dengan benda kental berwarna merah
Zero : “Kau sudah tahu ya…? Kalau aku sebenarnya mengincar nyawamu…” (memegang perutnya yang sudah dipenuhi dengan darah)
Hunter : “Jadi… kau mengincar nyawaku…?” (terduduk dihadapan Zero)
Zero : “Katakan padaku…, kenapa kau memilihku untuk bekerjasama dengan-muh?”
Hunter : “Karena…, mata-mulah yang memintanya. Apa kau menikmatinya?” (melepas kacamata yang bertengger dimata Zero, lalu memakainya sambil tersenyum sinis. Dan pergi meninggalkan pria yang sudah tidak berdaya itu)
The Story OFF
Grippin : “Jadi itu ceritamu yang membuatmu bahagia, hm…?” (membuang puntung rokok)
Grippin : “Sesungguhnya, tidak ada orang yang bisa menguasai orang lain… semua nyawa, dikuasai oleh yang namanya… takdir” (mengambil rokok dan menyulutnya dengan korek lalu menghisapnya kembali)
Hunter : “Ucapan anda memang benar tuan…” (memperbaiki letak kacamatanya, lalu berdiri…)
Hunter : “Terimakasih…” (Door… menembakkan peluru kearah pria yang ada dihadapannya. Seketika hening… dan dia pun pergi menghilang dikegelapan)


*THE END*

AWAY

Jumat, 13 Juni 2014
Posted by Unknown



Apalah, artinya cinta...
Bila cinta tak tersampaikan
Yang ada hanyalah penyesaln
Didalam hati dan menjadi hancur
Semua telah hilang, hanyut terbawa aku
Jadi harapan yang tak mungkin kumiliki
Apakah kau tahu, aku mencintaimu, bila kuingat dirimu
Pernah kah kau sadari, kucoba raih hatimu
Dan tak akan henti, untuk tempatkan kau didalam hatiku.
Yang aku rasakan saat ini, cinta yang tlah lama kupendam
Tak bisa, kukatakan padamu. Karena kau telah berdua dengannya.
Suara merdu gadis berambut hitam sebahu itu mengiringi matahari yang akan sebentar lagi kembali pada peraduannya. Ia memejamkan mata menghayati setiap lirik demi lirik dari lagu dengan alat musik yang ia mainkan. Sebuah gitar berwarna putih polos itu seakan mengantarkan apa yang sedang dialami oleh hatinya. Tetesan-tetesan kecil mulai merembes diwajahnya, ia mencoba untuk mengusapnya namun tetesan itu semakin terus mengalir deras.
‘Apa yang harus kulakukan? Kenapa aku menyukainya dan benar-benar menyukainya?’ gumamnya dalam hati. Dia menaruh gitar itu disampingnya, kemudian duduk dibalkon jendela menikmati resapan angin. Dia melamun, mengingat dan merindukannya. lelaki yang selama ini singgah dihatinya, lelaki yang selama ini selalu menghiasi mimpinya dan lelaki yang pernah membuat ia merasakan getaran-getaran hangat itu. Dia bahkan tak bertemu ketika perpisahan kemarin yang diadakan disekolah dan membuat dia semakin merindukan lelaki itu. Walaupun niatnya memberikan bingkisan kecil untuk kenang-kenangan yang dititipkan pada temannya waktu itu telah tersampai, namun apalah artinya, jika tak dapat bertemu. Tak dapat memberikannya secara langsung. Bagi gadis itu, sangat mengecewakan, dan menyedihkan. Meski dia mencoba dalam keadaan baik-baik saja, namun hatinya belum tentu baik. “Aku tidak akan pernah memilikinya, sampai kapanpun aku tak akan pernah” ia bergumam kecil.
Tut...tut...
Suara deringan membuatnya sedikit terlonjak. Dia melihat sebuah benda pipih diatas meja belajarnya yang tengahmenyala, kemudian ia bangun, meninggalkan balkon dan menuju meja belajarnya, melihat isi pesan yang beberapa hari tidak pernah masuk kedalam ponselnya.
‘Kita akan liburan besok. Ikutlah, kamu tidak pernah ikut liburan bersama. Jadi untuk hari ini saja, ikutlah. Untuk perpisahan kita’
Dia menarik kursi belajarnya kemudian menjatuhkan bokongnya. Lalu mengetik huruf-huruf yang ada diponselnya.
‘Insyaalloh, aku akan ikut. Tapi apakah ini liburan satu kelas?’ dia menekan tombol send dan mengirimnya. Beberapa menit berlalu, balasan dari pesannya-pun datang.
‘Iya, sepertinya Jadith  juga akan ikut. Datanglah, kita semua akan berkumpul disekolah besok. Pukul 8, jangan terlambat. Oke’ dia terkikik geli melihat kata terakhir dari balasan temannya itu. Kemudian mengetik lagi,
‘Baiklah...’ hanya kata singkat itu, kemudian terkirim. Dia menunggu balasan pesan dari temannya, tapi kunjung tiba. Dan pada menit yang sudah berlalu meninggalkan menit sebelumnya, dia mengambil buku kecil berbentuk persegi dengan sampul tebal berwarna coklat ketua’an dan gambar mobil bis berwarna merah. Di bagian atas terdapat bertuliskan england kemudian mulai menulis beberapa kata, dan kata itu berasal dari fikirannya. Semua yang difikirkan terangkai dalam buku kecil itu.
02 mei 2014
Dear Deary
Mengapa aku begini? Ini melelahkan... Apa yang sebenarnya difikirkan oleh gadis sepertiku ini? Kenapa aku menyukai seseorang yang tidak menyukaiku? Seseorang yang sudah memiliki kekasih. Seharusnya aku sadar akan diriku, aku tidak boleh berharap lebih. Seharusnya aku membuang perasaan ini jauh-jauh dari kemarin. Seharusnya aku benar-benar melupakannya untuk suatu alasan yang jelas dan bahkan sangat jelas.
Deary, kemarin ketika perpisahan yang diadakan disekolah, Aku sama sekali tak melihatnya, kufikir dia tak datang. Aku sempat kecewa. Benar saja, kufikir dia tidak mau menerima kenang-kenangan yang akan kuberikan makanya dia tidak hadir diacara perpisahan sekolah. Aku sempat meliarkan mata mencarinya, tapi tidak ketemu. Pas pulang, kebetulan aku bertemu dengan temannya yang dulu samanya pulang pergi kesekolah, lalu aku titipkan saja padanya. Dan syukurnya, dia mau membantuku.
Dan akupun pulang bersama bapak yang sudah menungguku diluar gerbang sekolah. Dan pada malam harinya, temanku Diana mengirimiku pesan, dan mengatakan kalau dia datang dan dia benar-benar keren dengan balutan jaket kainnya. Ya tuhan... aku menyesal pulang, andaikan aku mau menunggu untuk beberapa menit, mungkin aku bisa bertemu dan memberikan bingkisan itu secara langsung. Mmh... tapi apalah, waktu tak bisa kuputar, itu sudah terlanjur.
Dia menutup buku diarynya dan mulai beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan ke arah pintu, ia memegang gagang pintu dan menarik knopnya kemudian terbuka. Dilihatnya seorang anak kecil dengan rambut keriting, bibirnya tipis dan matanya lebar serta bundaran hitam didalam matanya terlihat sangat besar. Wajah kecilnya memandang polos dan manis.
“Aku mau main ayunan” dia berujar polos, membuat gadis itu tersenyum. Anak kecil itu berlari kearah luar dan menuju ayunan yang menggantung dipohon mangga, gadis itupun mengikuti kemana dia pergi. “Dorong...” rengeknya, kemudian dia mulai mendorongkan anak kecil itu, suara gelak tawa terdengar dari mulut sikecil. “Pegangan, nanti jatuh” suruh gadis itu, namun sikecil hanya tertawa kemudian menggerakkan ayunan kain itu dengan keras membuat si gadis khawatir.
“Zayna...” suara seseorang membuat dia menghentikan aksinya. “Pelan-pelan caranya” ujar pemilik suara yang menyebut namanya tadi. “Iya, ini koq pelan-pelan. Aku takut juga nanti dia jatuh” ucap gadis bernama Zayna itu, dia terkikik juga melihat aksi si kecil yang terlalu bahagia. “Terus... tinggi-tinggi ya” perintahnya seperti komando kapal perang, semakin membuat Zayna tertawa. “Kamu itu ya, makanya pegangan yang benar. Nanti aku dorongin tinggi-tinggi, tapi pegangnya yang bener. Biar kamu ndak jatuh. Nanti kalau jatuh nangis, terus aku yang disalahin” ucap Zayna, bukan marah hanya memperingati gadis kecil itu.
“Aku mau berhenti” lanjut sikecil.
“Lah? Kenapa? Toh enakan?” Zayna berhenti mendorong ayunan itu, dan sikecil turun. “Hati-hati” lembut Zayna membantu sikecil turun dari ayunannya.
“Dea. Main sana...” suruh wanita paruh baya yang tengah duduk dikursi yang bahannya dari bambu berwarna kuning kecoklatan. Tidak terlalu banyak ukiran, namun adem. “Udah, ah...” suaranya polos. Dea, si rambut keriting, sukanya nyerocos, sedikit nakal namun pemalu. Malunya hanya didekat orang yang baru dilihatnya. Tapi nanti kalau udah lama-lama, yah... jadinya sok kenal, awalnya baik tapi jadi nakal. Fuh... Dea, Dea.
“Bu... Aku besok mau pergi liburan sama temen-temen. Satu kelas” ujar Zayna menuju tempat wanita yang dipanggil ibu itu. “Jam berapa?” tanya ibunya.
“Sekitar jam 8”
“Iya, boleh. Kamu bawa bekal?”
“Ndak. Toh disana banyak mungkin yang jualan”
“Kemana?”
“Nah kurang tau? Temen-temen belum kasih tau dimana tempatnya. Aku ya, hanya ikut-ikut aja”jelas gadis itu dan masuk kedalam rumah lagi.
Tepat pada keesokan harinya. Tas punggung hitam yang berisi mukenah dan hp serta novel, buku catatan kecil dan dompet hitam sudah siap. Dia mengenakan celana jeans biru, kaos hitam biasa dan jilbab abu-abu kemudian menggunakan jaket merah. ‘It’s perfecto’ gumamnya dalam hati. Kemudian berangkat menuju sekolah karena kumpulnya memang disekolah.
Sesampainya disekolah, semua teman-temannya sudah kumpul. Lengakap. Mereka semua terlihat gembira ketika berkumpul, sebab sudah lama tidak bertemu. Semua rasa kangen dan rindu sudah dilepaskan.
“Zayna” sapa temannya, “Aku kangen, udah lama kita tidak ketemu” ujarnya seperti biasa. Diana namanya, gadis alay dan kalau diajak bicara + menerawang sesuatu sukanya lola. “Iya, aku juga kangen. Kamu jarang balas pesanku. Cuman beberapa lalu ngilang. Mentang-mentang udah mau tamat sekolah” ujar Zayna tersenyum tipis. Lama juga menunggu, karena beberapa masih belum keliatan batang idungnya.
“Hai, hai, hai... aku kangen kalian”seseorang berlari menuju kearah mereka yang berkumpul
“Hehehe, aku juga” peluk dan cium itu sudah menjadi khas para gadis, mungkin.
Beberapa jam menunggu, sekitar pukul 9 mereka pun berangkat. Tujuannya mereka pergi ke batu payung, salah satu pantai indah yang berada dilombok. Kami menaiki bus berwarna biru muda dengan ukiran seorang gadis sasak yang sedang duduk dipinggir pantai. Selama berada dalam perjalanan, Zayna tampak asyik melihat pemandangan bukit yang dilewati, berbagai macam tumbuhan yang belum pernah ia lihat berjejer dipinggir jalanan. Sawah-sawah terlihat hijau, bahkan para petani disana tidak menggunakan alat traktor untuk sawahnya, tapi mereka menggunakan sapi. Senangnya, disana juga terlihat banyak lumpur. Jalanan yang dilewati terjal dan rusak. Setiap orang yang berada didalam bis tampak mengeluh namun sekali-kali tertawa.
Zayna melihat lelakinya bersama dengan gadis lain. Tepatnya kekasihnya. Gadis itu bergelayut manja dan tidak mau pisah dari lelaki itu. Ia merasakan dadanya terasa panas, perasaannya terasa dicabik jika boleh ia ingin menangis didalam bus. Dia hanya bisa diam dengan kesesakan yang ia rasakan. Sesekali dia mendengar mereka tertawa bersama, malah semakin membuat gadis itu kecewa. ‘Kenapa aku ikut jika seperti ini? Aku benar-benar bodoh’ gumamnya dalam hati.
“Zayna... kamu nggak apa-apa? Sabar ya” ucap Diana yang duduk disebelahnya
“Sabar, sakit...” ujar Naomi, teman yang duduk dibelakangnya.
“Sudahlah... aku toh juga ndak terlalu berharap. Sebenarnya aku salah menyukainya. Seharusnya aku tidak suka sama dia. Tapi kenapa?”
“Nggak, kamu keren. Aku salut sama kamu. Kamu udah nyatain perasaan kamu sendiri. Keren”
“Itu salah, seharusnya ndak boleh. Besok aku akan lupa sama dia”
“Cinta bertepuk sebelah tangan”
“Diam Naomi”
Semua sibuk dengan ocehan masing-masing, namun salah seorang teman mereka-Nanda- membawa gitar kemudian mulai memainkan gitar. Mereka bernyanyi.
Bungkamlah mulutku,
Ketika kau tau kumulai banyak bicara tentang kita
Kau tau ku rindu, biarkan saja aku
Terus mengagumimu dan simpan cerita... tentangmu
Kau jauh dariku
Biasanya sepi menemaniku
Takkan hilang sampai kau kembali, kesini...
Aku masih disini, aku menunggumu
Sampai kau kembali aku tetap begini
Aku masih disini, aku menunggumu
Sampai kau kembali aku tetap begini
Bungkamlah mulutku
Ketika kau tau kumulai banyak bicara tentang kita
Kau tau kurindu,
Biarkan saja aku
Terus mengagumimu dan miliki semua darimu
Kau jauh dariku...
Biasanya sepi, menemaniku
Dan takkan hilang sampai kau kembali, kesini...
Aku masih disini, Aku menunggumu
Aku masih disini, aku menunggumu
Sampai kau kembali aku tetap begini
Whowooo
Aku masih disini, aku menunggumu, sampai kau kembali, aku tetap begini 3x
(Tahta : Aku masih disini)
Zayna merasa sedikit terenyuh ketika mendengar suara Nanda, seolah dia merasakan dia sedang berada diposisi lagu yang dinyanyikan oleh Nanda, suara tepuk tanganpun terdengar nyaring dan suara siulan membuat suasana semakin riuh. Mereka terus bernyanyi, menyanyikan apa saja, seolah didalam bus adalah sebuah panggung. Kadang mereka membuat lelucon, katanya supaya lebih seru. Dan semua tampak menikmati perjalanan itu kecuali gadis itu. Wajahnya sedikit menegang dan sedih, dia tak hentinya memandang kedekatan lelakinya itu dengan gadis lain. ‘Aku akan pergi. Dan tak kan ada lagi cinta’ gumamnya dalam hati.
Tempat itu luas, airnya terlihat bersih dan biru. Disana pasirnya putih dan lembut. Hembusan angin serasa segar yang bercampur aduk dengan kepanasan ditempat itu. Udaranya  terasa sejuk, beberapa orang asing terlihat berjalan kesana kemari disekitar tempat itu. Terang saja, tempat itu sangat indah dan menakjubkan namun panas.
“Kita ganti baju yuk, terus mandi” ajak salah seorang temannya-Naomi-
“Ayo...”
Merekapun pergi ketempat ganti. Disekitar tempat itu ada mushola kecil dan beberapa mukenah telah disediakan. Mereka masuk kedalam kamar mandi kemudian mengganti pakaian. Zayna, gadis itu memakai kaos hitam dan celana selutut. Kemudian lebih dahulu keluar dari tempat itu. Saat hendak pergi, dia bertemu dengan kekasih lelakinya. Zayna hanya tersenyum dan gadis itu pun membalas dengan senyuman bersama teman-temannya.
Mereka menaruh tas dan barang-barang yang lain didalam bus. Zayna, Naomi, Diana, dan Reina pergi jalan-jalan menikmati keindahan pantai. Sesekali mereka bertemu dengan turis-turis yang sedang berjemur. Dan ditempat lain, tepatnya didekat bus, teman-teman mereka sedang berkumpul dan duduk-duduk. Adapula yang mendekati laut dan berenang.
Jadith, pria itu duduk pasir keputih-putihan dibawah bale-bale kecil. Disana dia dan beberapa teman menonton ombak laut yang semakin besar sambil menyesapi angin yang lewat. Seseorang melambai kearahnya sambil berseru. “Aku mandi ya” ujarnya dengan beberapa teman gadisnya. Dan Jadith pria itu hanya mengangguk dan tersenyum.
Sementara, dilain tempat, tak jauh dari bale-bale kecil. Zayna dan teman-temannya saling menertawakan dan bermain. Mereka juga menari-nari dipanggung terbuka itu. Mereka tak perduli berapa banyak orang yang memperhatikan, yang jelas mereka bersuka cita ditempat itu.
Ditempat lain tak jauh dari tempat mereka. Seseorang tengah memperhatikan aktifitas keempat gadis itu. Jadith-lelaki itu sekali-sekali mencuri pandang kearah mereka.
“Lihatlah anak-anak itu. Sepertinya seru” ujar Nanda yang membuat mata teman-temannya berdalih dari ombak menuju kepada empat gadis itu.
“Sepertinya seru...”
“Aku kesana bentar” ujar lelaki yang tengah menggunakan kaca mata hitam kemudian berlari kecil kearah gadis-gadis itu.
“Seru juga rupanya, kita kesana liat-liat yuk. Jadith, kau mau ikut?” ajak Nanda sambil menenteng gitarnya, kemudian dia pun pergi tanpa mendapat balasan jawaban dari lelaki itu-Jadith.
Zayna terus bernyanyi sambil berjoget bebas, seolah masalah kemarin ia lupakan dengan begitu cepat. “Wah, seru ya. Aku ikutan ya” ucap salah seorang teman lelakinya yang membuat Zayna langsung menghentikan aksinya.
“Tidak boleh. Kau dilarang ikut Sony” larang Naomi
“Plit sekali kamu Naomi” ujar lelaki itu, tapi diapun tetap menari.
Suara musik yang dimainkan lewat ponsel Zayna, diikuti dengan alunan-alunannya, Zayna menyanyikannya seperti orang gila. Sesekali, dia tertawa.
“Heh... aku lelah” ucap Zayna berhenti sebentar
“Lanjut dong Na... seru nih” ujar Diana tambah asik dengan tariannya.
“Woi... wah seru ya...” ucap seseorang lagi yang tiba-tiba muncul dengan sebuah gitarnya.
“Nanda, hehe...” kikuk Zayna pelan
“Kenapa Na...? lanjut aja, nggak usah malu”
“Ndak koq, hehe... jelas aku malu, ndak taunya Nanda udah disini? Hehe. Ndak usah ketawa” ujar Zayna
“Kita lagi main nih, emang mau ikutan ya?” lanjut Zayna bertanya.
“Boleh...”
“Nanda yang duluan nyanyi”
“Lagu apa?”
“Apa aja, asal nyanyi”
“Woi...” ujar salah seorang temannya sedikit memukul pundak Reina,
“Eh... nakalnya...” ucap Reina, dia ingin membalas tapi keduluan temannya langsung pergi melarikan diri, dia bbermain-main bersama Reina.
“Lagi nyanyi-nyanyi ya. Kayaknya seru tuh” ujar Dani salah seorang temannya
“Eh kita ngumpul dibawah bale-bale kecil sambilan nyanyi yuk” seru Ani-temannya, gadis itu nampak bersemangat sekali. Mereka semuanya menuju tempat yang dimaksudkan sama Ani, tempatnya teduh, sejuk ditambah desahan angin yang lewat. Mereka menyanyi bersama-sama, Zayna mencuri pandang, dilihatnya lelaki itu tengah bermesraan dengan gadisnya. Gadis itu tidur dibahu sang lelaki dan itu semakin membuat hatinya merasa tercabik. Dia harus menerima kenyataan, dia tidak mungkin bersama lelaki itu, benar-benar tidak mungkin. Lelaki itu sudah dimiliki oleh gadis lain, tentunyalah lelaki itu mencintai gadisnya, apa haknya arah. Sungguh dia tidak punya hak untuk marah, dia ingin menangis. Tapi apalah, ini tempat umum. Dia tidak bisa mengeluarkan air mata begitu saja, sementara disana banyak orang. Beberapa dalam kediaman yang tak berarti dan memikirkan hal yang tidak mungkin, yah... hatinya benar-benar hancur. Suara musik yang keluar dari gitar dan lagu-lagu melow yang mereka dendangkan terasa mengerti akan apa yang dirasakan, dia diam. Diam menatap kosong kearah depan, memandang semilir ombak dilaut, namun tidak berarti.
“Zayna...” seru seorang lelaki dari arah berlawanan, baju kaos kuning dan celana katok selutut. Berwajah putih dan kacamata minus.
“Zayna...” serunya lagi, Zayna tersentak sedikit. Dia mencari-cari pemilik suara itu, dan menggerakkan kepalanya kearah kiri, kanan, samping, belakang.
“Zayna...” untuk yang ketiga kalinya, suara yang cari ditemukan juga. Pemilik suara itu tersenyum, namun Zayna tidak mengerti. Dia tidak mengenal lelaki itu, dia merasa belum pernah bertemu dengannya atau dia pernah bertemu tapi lupa?
“Siapa tuh Na...?” ujar Diana heran
“Ndak tau, aku ndak kenal orang itu”
“Tapi dia koq kenal kamu ya?”
“Aku ndak tau-lah” dia melihat lelaki itu melambai sembari tersenyum kearahnya. ‘Siapa ya?’ bisiknya dalam hati.
“Sini... Zayna” ujar lelaki itu lagi sambil menggerakkan jemari-jemari tangannya menyuruh untuk kemari-ke tempatnya-.
“Tuh, kamu disuruh kesana. Cepet”
“Masa’? Tapi aku ndak kenal”
“Cobain aja, temuin dia dulu”
Zayna bangun dari tempat duduknya dan menuju kearah lelaki itu, lelaki itu tersenyum. Wajah putihnya semakin bersinar dibawah terik matahari.
“Apa kabar kamu?” ujarnya ramah, Zayna tampak kikuk. Ndak kenal udah nanyain kabar.
“Ba..ik” ujarnya pelan.
“Kamu kenapa koq gitu? Kayak nggak kenal aja. Nggak usah malu” ucapnya
“Gimana kabar kakakmu?”
“Ka Rasya?”
“Iya, siapa lagi?”
“Baik. Temennya ka’ Raysa ya?”
“Iyalah, aku sering kerumah kamu dulu. Kamu lupa?”
Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ‘Sering kerumah? Dulu?, ah siapa ya?. Salah jika tak kenal, salah pula jika pura-pura kenal’
“Nah... kamu lupa ya?” ucap lelaki itu sembari membenarkan letak kacamata-nya. Zayna terkekeh pelan, sambil mengangguk.
“Aku Sam... temen kakakmu dulu”
Oh, mendengar nama itu dia kikuk sendiri. Ah,, bagaimana bisa lupa sama orang yang dulu mampir setiap sore kerumahnya. Orang yang dulu sering diolok bahkan ditertawakan ketika bertandang ke rumahnya. Orang yang menyapa ketika dia membersihkan rumah. Dia seperti berfikir, menghadap terik panas sebelah timur.
“Kak Sam? Ah... maaf, aku bener-bener lupa. Hehehe, maaf bener-bener lupa sama wajahnya kakak. Maaf ya, lasingan beda banget rupanya” ujar Zayna kikuk, dia tersenyum kearah beberapa orang temannya yang sedang memperhatikannya.
“Beda? Beda apanya? Perasaan muka ku tetep aja dari dulu kayak gini”
“Iya, kakak makin putih aja. Jarang berjemur ya?”
“Pakaian kale yang dijemur. Kamu tuh ya, ada-ada aja. Gimana kabar bapak sama ibu dirumah”
“Mereka baik-baik aja kak. Tumben kita ketemu, jadinya lupa deh wajahnya kakak. Ndak inget aku. Maaf ya”
“Ya, nggak apa-apa. Oh... iya, kamu lagi liburan sama temen-temenmu ya? Dimana besok kuliahnya?”
“Mungkin aku di Jawa, nyusul kak Rasya”
“O... rajin-rajin ya”
“Kakak ngapain disini? Sama siapa kakak disini?”
“Keluarganya kakak. Mereka disana” ujarnya menunjuk tempat teduh bagian timur yang agak jauh dari tempat mereka.
“O...” hanya bulatan singkat itu yang dilontarkan Zayna.
“Seru banget kayaknya temen-temen kamu ya? Aku minta nomernya Raysa boleh?”
“Iya, aku ambil handphone ku bentar” Zayna berlari kearah bus dan masuk mencari tasnya. Kemudian setelah ketemu, ia mengambil benda pipih itu didalam tasnya. Lalu keluar, sempat ia mendengar “Siapa, Na...?” hingga membuat ia menoleh. “Temen kakakku” balasnya kemudian berlari kecil kearah Sam-lelaki itu.
“Kebukit yuk Na...” ujar Sam, melihat Zayna yang baru tiba dihadapannya.
“Ayo’ aku juga mau lihat-lihat pemandangan diatas bukit” ucap Zayna, kemudian mereka pergi menuju bukit, berjalan-jalan dipinggir laut menikmati semilir angin.
“Cie... katanya nggak kenal tadi. Tapi koq jalan bareng?” teriak Naomi nyerocos, Zayna mendengar dan langsung nyengir kearah teman-temannya. Dia mencuri pandang kearah Jadith, pria itu terlihat biasa-biasa saja. Dia diam dan acuh, tidak perduli.
“Temen-temen kamu lucu ya Na...?”
“Aah, kakak ini... iya mungkin” ujarnya, dia mempercepat langkahnya. Malu akan ejekan teman-temannya. Dia menunduk, memikirkan sesuatu yang masih berseliweran didalam kepalanya. Andai saja itu tak pernah terjadi, mungkin dia akan menghadapi hidup yang lebih baik sekarang, akan senang dan lebih berani dan akrab dengan yang lainnya.
“Na...” dia berbalik dan sebongkahan pasir mendarat tepat di ujung rambutnya. Sedikit pasir-pasir kecil melayang disekitar pupil matanya, dia mengerjap-kerjap beberapa kali, kemudian mengucek matanya pelan dengan punggung jemari tangan kanannya.
“Maaf...” ujar Sam
“Ndak apa-apa kak” ucapnya, dia mempercepat langkahnya. Wajah Zayna sedikit murung, memang terlihat murung.
“Ada sesuatu?” Menyadari hal itu, Sam langsung bertanya seolah ada sesuatu yang mengganggu fikiran gadis yang tengah bersamanya itu.
“Ndak ada apa-apa kak”
Beberapa menit dalam perjalanan, mereka telah sampai di atas bukit. Kemudian mulai berfoto bareng. Beberapa orang asing pun ikut mengambil foto, ramai sekali orang ditempat itu. Sam dan Zayna mengambil beberapa foto mereka kemudian tertawa bersama.

“Habis dari mana?” tanya Jadith ketika Zayna sudah berada dibawah bale-bale. Tubuhnya sudah terlindungi dari terik matahari. Zayna terkejut, tampak kikuk dan malu.
“Ke bukit” ucapnya membuang pandangan. Dia memang tidak berani memandang bola mata pria yang ada dihadapannya itu.
“Seru ya... siapa?” ucapnya terdengar sinis dan seperti mengintrogasi.
“Temen kakak” polos Zayna
“O... ngapain aja disana?”
“Main--”
“Jadith,,,” ucap seseorang melambai kearah mereka
“Tuh dipanggil”
Jadith memandang gadis itu, seolah belum berniat pergi dari tempat itu. Begitu pula Zayna, namun apalah daya. Dia tidak bisa mencegah semua itu, itu diluar kendalinya.
Jadith berlari kecil menuju kearah pacarnya, sementara Zayna berdiri mematung melihat kepergian lelaki itu. ‘Cinta tak mesti harus memiliki’
Itulah terakhir kalinya Zayna melihat lelaki yang dicintainya. Dia mungkin tak akan pernah bertemu lagi. Cinta pertama yang tak dapat diraihnya, hanya dapat dirasakan tanpa memiliki. Dia tak dapat menggapai lelakinya, namun ketika tuhan berkata lain. Siapa tahu?

THE END
Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Si Perangkai Kata -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -