Posted by : Unknown
Jumat, 26 Juni 2015
Hubungan kakak dan adik
21 November 2013, Cherrystone, washingtone
Sore ini aku dan Troy pergi ke toko
buku yang baru dibuka, tempatnya tidak jauh dari rumah. Aku membantu Troy mencari
buku sejarah Amerika, kami menelusuri ruangan bercat hijau itu. Beberapa buku
tertata rapi di bagian rak yang terbuat dari kayu dengan motif biru tua,
seperti menyatu dengan tirai berwarna biru-keputihan yang beterbangan akibat
hembusan angin. Terkesan elegan dan klasik pada zaman sekarang. Beberapa
pajangan lukisan besar terpampang didinding. Aku sempat berfikir, apakah disini
menjual lukisan juga? Aku tertarik pada lukisan patung Liberty dengan langit
agak kehitam-hitaman ditengah kota.
“Aku heran, mengapa para pengunjung
seringkali mengamati lukisan Liberty itu” aku tersentak dengan ucapan seorang
pria yang tengah berdiri di belakangku. Namun aku tak menggubrisnya, dia
berdiri disebelahku.
“Kau dari SMA Cherrystone?” ujar pria
itu sembari tersenyum kearahku, aku hanya menyipit memastikan apa maksud
senyuman itu?.
“Hei... berhentilah menatapku seperti
itu. Apa kau fikir aku seorang penjahat atau sejenisnya?” lanjutnya, seolah
mengerti apa yang tengah menggerayang dalam fikiranku. ‘Hhh... berhentilah seolah engkau mengenalku’
. “Cash Everdeen, gadis yang memiliki
IQ diatas rata-rata 90%. Acuh dan tidak memiliki teman satu-pun”. ‘Berhentilah berkata seolah kau mengenalku
saja’.
“Selalu mendapat peringkat pertama di
kelas dan berani menegur serta bersikap acuh terhadap guru”. ‘Hhh... apa maksudnya ini? Jangan bertindak
seolah kau tahu banyak tentangku
’“Oi...Oi,
berhentilah memasang wajah seperti itu. Ehm... aku senang bertemu-”.
“Siapa kau?” ujarku dingin, sikap aneh
dan sok tahu. Menyebalkan.
“Kau dingin sekali” lanjutnya,
“Baiklah, namaku Drayson, kau bisa memanggilku Dray. Salam kenal Ever, aku
pergi. Dan kuharap kau bisa membantuku” ujarnya dan berlalu meninggalkanku.
Membantu? Bantu apa? Aku bahkan tak mengenalnya, apa yang bisa kubantu.
Sepertinya dia salah orang, aku memandangi punggungnya yang berlalu menjauh
dari hadapanku.
“Ever...” Aku tersentak ketika
kurasakan tangan seseorang menepuk bahuku pelan.
“Hei..., bisakah kau tidak
mengejutkanku?” ucapku sedikit membesarkan oktaf kalimat ketika kulihat Troy
berdiri sambil tersenyum miring kearah jendela.
“Hei... kau bertemu siapa? Aku bahkan
tak melihat wajahnya” ujarnya kemudian,
“Akan kuberitahu Daniel” lanjutnya.
“Apa maksudmu? Aku bahkan tak mengenal orang tadi. Berhentilah
berfikir hal-hal yang tak sepatutnya kau fikirkan. Bagaimana? Apa kau
mendapatkan buku-nya” ujarku dan ia tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
“Ini...” ujarnya mengangkat tangan
kanannya dan memperlihatkan buku yang ia dapatkan. -Sejarah Amerika tahun
1879-. Dan kami-pun langsung pulang.
22 November 2013, Cherrystone, washingtone
Aku berjalan melewati koridor kelas,
dari arah yang berbeda Samantha berdiri sambil melambai kearahku. Ralf dan
Daniel pun berada disana, aku tersenyum kearah mereka.
“Seperti biasa, untuk master Cash
Everdeen, kau dipersilahkan untuk berjalan lebih dulu” ujar Samantha. Yang
membuat mereka bertiga tertawa, hhh... sejak kapan Samantha memanggilku master?
Dan apa ini lucu? Aku menyelingkan mata kearah Samantha. Bagus. Dan ia
menghentikan tertawanya. Kalimat macam apa itu?
“Berhentilah seperti itu Ever, kau bahkan
menakuti Samantha. Sudahlah... ini hanya bercanda. Samantha mengatakan hal itu
karena setiap kita jalan bersama, kau seperti pemandu” ujar Daniel.
“Aku tidak mempermasalahkan hal itu.
Aku juga tidak mengerti maksud Samantha. Ayo...” ajakku. Daniel menyamakan
langkah denganku. Aku hanya memandang kedepan dan diam. Sementara Daniel, Ralf
dan Samantha mereka sibuk membicarakan hal yang menurut mereka lucu. Suara
tertawa mereka seakan membuatku tenang. Tuhan,
aku senang.
Sepulang sekolah, aku, Daniel, Ralf
dan Samantha akan pergi ke rumah Daniel. Kami akan minum anggur merah bersama. ‘Dylan
sudah membeli banyak anggur, dan menyuruhku untuk mengundang kalian’ ujar Daniel. Orang
yang baik. Sepulang sekolah, aku memperhatikan gelagat Daniel untuk kali ini
dia lebih banyak diam, tidak banyak omong seperti biasa? Apa yang sebenarnya
difikirkan oleh pria ini? Kami melewati jalan raya, disekitaran lebih banyak
orang yang lalu-lalang.
“Apa perlu kita mampir sebentar?” ucap
Daniel disebuah minimarket kecil. “Aku ingin membeli sesuatu” lanjutnya.
“Kau ingin membeli apa?” tanyaku
heran, tidak seperti biasanya.
“Yah... sesuatu untuk dimakan nanti”
ucapnya tersenyum, namun senyumnya terlihat getir dan sedikit takut. Entah apa
yang membuat pria itu terlihat berbeda hari ini.
“Kau benar. Untuk kita makan dirumah
Daniel. Ayo...” ujar Ralf dan membawa Daniel masuk, kemudian diikuti oleh
Samantha yang terlihat bersemangat juga. Sepertinya mereka belum menyadari
perubahan Daniel hari ini. Akupun mengikuti mereka. Mereka memilih beberapa
snack dan apple. Kemudian kami membayarnya dikasir wanita yang tersenyum dengan
topi merah khas perusahaan tempatnya bekerja.
“Kenapa harus membeli ini? Bukankah
kita bisa mengambilnya dirumahku?” ucapku pada akhirnya.
“Apa makanan seperti ini ada dirumahmu
Ever? Sepertinya tidak, kufikir kau lebih menyukai roti dengan
selai, atau makanan yang mengandung lebih banyak gula” ucap Ralf dan Samantha
pun mengangguk mengiyakan.
“Ah... bodoh, aku juga terbiasa
memakan makanan seperti itu” ujarku kesal.
Kami sudah sampai dirumah Daniel,
Daniel sibuk mengoceh dengan Ralf membicarakan tentang baseball dan semacam
jenis olahraga lainnya. Aku bahkan tak mengerti, apa yang menarik untuk pria
macam ini. Dia sedikit aneh dan sulit dimengerti.
“Oh... Hallo” ujar sebuah suara, dia?
Orang itu? Orang yang pernah kutemui ditoko buku kemarin.
“Kau? Sudah kuduga” ujar Daniel dan
berlari meninggalkan kami. Apa artinya ini? Aku heran kenapa Daniel seperti
itu.
“Hei, Daniel” teriak Ralf dan pria itu
tak menggubris sama sekali.
“Ah... anak itu, biarkanlah”
lanjutnya, kenapa dia selalu bersikap santai seperti itu?.
“Oi... kalian datang juga” ujar Dylan
yang tiba-tiba muncul membawa beberapa gelas anggur merah.
“Dia adalah Dray, kakaknya Daniel”
oh... astaga? Kakak Daniel? Pria ini?. Aku tahu, tapi masalah tentang dia
adalah kakak dari Daniel, aku baru tahu sekarang.
“Senang bertemu denganmu kak, Oh ya...
kenapa Daniel melarikan diri ketika melihatmu?” ujar Samantha yang kemudian
disambut oleh suara tawa dari Drayson, pria itu.
“Aah... dia memiliki brocon (brother
complex) semacam penyakit saudara yang memiliki perasaan terhadap kakak/adik
laki-laki” jelas kakak Daniel.
“Sejak kapan anak itu memiliki banyak
teman? Kalian mengurus Daniel dengan baik, terimakasih” lanjutnya.
“Dia juga sudah mau datang kesekolah
kak, ini berkat Ever” jelas Ralf.
“Aku tidak mengatakan jika itu
berkatku” protesku sambil menyesap anggur merah.
“Oh... kau ya? Tunggu, sepertinya kita
pernah bertemu. Tapi dimana?”. Keadaan kakak-beradik yang aneh.
“Toko buku” ucapku mengingatkan dengan
kesal.
“Oh... benar. Hahaha”. Bodoh, bukankah
waktu itu kau yang pertama kali menyapaku? Kau juga mengetahui tentangku?.
Daniel dan Drayson. Keluarga yang aneh, lalu Dylan?.
“Kalian bertiga, bersaudara-kah?” ujarku
akhirnya. “Hahahaha....” suara tawa dari Drayson,
“Aku sepupu mereka” balas Dylan.
Daniel lebih memilih tinggal ditempat Dylan, ada apa? Yang jelas aku belum
mengerti. Aku tidak terlalu tahu banyak tentang Daniel dan apa yang difikirkan
oleh pria itu. Masalahnya, sekarang dia berada dimana?
Lama kemudian, kami-pun memutuskan
untuk pergi meninggalkan rumah Dylan. Aku membantu membereskan gelas-gelas
kotor dan bekas sampah yang berserekan diatas meja. Sementara Samantha dan Ralf
sudah pulang. Setelah selesai, aku pamit pulang pada Dylan. Dan aku tidak melihat
Drayson. Aku menutup pintu rumah Dylan pelan, dan...
“Ever, kau Cash Everdeen. Senang
bertemu denganmu lagi” ujarnya.
“Tolong, jaga Daniel untukku. Ya...”
lanjutnya, kemudian aku mengangguk dan diapun masuk kedalam rumah Dylan. Aku
kembali berjalan meninggalkan rumah Dylan dan, sesuatu serasa menarikku sangat
cepat hingga aku tak bisa menahan diriku sendiri. Tubuhku terasa terbanting
disemak-semak dan kusadari mulutku tertutup oleh sebuah tangan. -Daniel-.
Apakah dia bersembunyi ditempat ini?.
“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya
sarkatis.
“Hanya meminum anggur” ujarku.
“Bisakah kau melepas tanganmu? Ini sakit” lanjutku.
“Oh... maaf” ujarnya dan menjaga jarak
agak berjauhan dariku. “Apa yang dikatakan Drayson?” tanyanya.
“Kau memiliki brocon, apa itu benar?”
jawabku.
“Apa? Tidak” balasnya. “Lalu kenapa
kau pergi?” tanyaku lebih penasaran.
“Bukan urusanmu, jangan banyak
bertanya”. Dia berbeda, ucapannya sarkatis dan bola matanya terlihat berbeda.
“Jadi begitu? Baiklah...” dan akupun
pergi meninggalkannya. Aku masih memikirkan Daniel, dia seperti ada masalah
dengan Drayson, aku tidak mengerti dengannya. Aku belum terlalu banyak
mengenalnya. Aku sudah berdiri didepan rumah, sebentar lagi matahari akan
tenggelam dan malam-pun akan tiba, aku memutuskan untuk kembali dan menemui
Daniel.
“Kenapa kau kembali?” tanyanya yang
masih duduk dengan menunduk dan terlihat sedih. Wajah itu, terlihat penuh
dengan fikiran.
“Kalau kau mau minum anggur, ada
dirumahku. Ada beberapa kue dan semacamnya. Ibuku membuatnya tadi pagi”
jelasku, dan kamipun pergi kerumahku. Aku mengajaknya ditempat biasa -Halaman belakang rumahku-.
“Maafkan aku...” ujarnya lembut,
sambil menyesap anggur merah. Dia menghendus pelan dan beberapa detik kemudian
dia mengambil sandwich yang ada dipiring dan mengunyahnya pelan.
“Sejak bertemu denganmu, hanya hal-hal
baik yang terjadi padaku. Aku senang bisa bertemu denganmu. Terimakasih”
ujarnya dan itu membuatku memerah. Pasti sekarang aku salah tingkah dan rona
merah dipipiku tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menghilang dari wajahku.
“Aku ingin melakukan sesuatu untukmu”
lanjutnya meletakkan gelas yang sudah kosong diatas meja bundar yang ada
dibelakang rumahku. Selanjutnya dia mengambil tempat didekatku.
“Apa yang bisa aku lakukan untukmu?”
tanyanya kemudian. “Kencan. Berkencanlah denganku” ujarku
spontan.
“Eh’- itu-
a’. B-baiklah. Ti,tidak masalah” ujarnya gelagapan. Aku belum mengenal dirinya.
