Archive for April 2015
This my life, so... jangan ikut campur
5 september 2013, Cherrystone, washington
Namaku adalah
Cash Everdeen, kau bisa memanggilku Cash atau Ever. Aku hanya gadis biasa yang tidak
memiliki kelebihan apapun. Hidup ku biasa saja, seperti halnya masyarakat
lainnya. Kau tau... aku tidak terlalu suka berbicara
dengan orang-orang, bisa dibilang aku jarang bersosialisasi
dengan orang lain. Aku hanya berbicara dengan orang-orang yang kukenal saja.
Aku bersekolah di SMA Cherrystone, dan DR. Sal Varkher adalah kepala sekolah
disana. Mr. Varkher adalah seorang pria paruh baya yang sudah berumur setengah
abad dengan kepala botak. Dia sangat berwibawa dan... keras. Sikap keras
mungkin lebih menonjol untuknya. Mr. Varkher yang sebenarnya bukan orang
Amerika ini memiliki wajah yang putih dan pucat, sangat kontras dengan darah
italia-nya.
“Ever...” suara khas baritone itu
terasa memekakkan telinga-ku. Yeah... sudah kuduga – Samantha Jody – sahabatku.
Orangnya feminim, otaknya sedikit bermasalah tapi tidak terlalu, tapi
ketahuilah dia seorang teman yang suka menceritakan dirinya padaku, tapi dia
baik. Kami sering bermain bersama saat masih di taman kanak-kanak. Rumahnya
tidak jauh dari rumahku, terkadang aku sering mampir dirumahnya dan dia juga
sering kerumahku untuk bermain.
“Kenapa kau meninggalkanku?” tanyanya
berdiri dihadapanku sambil melipat tangan dibawah dada.
“Maafkan aku, jam dirumahku sedikit
bermasalah dan kukira aku sudah terlambat” ujarku pelan sambil mengeluarkan
beberapa buku dari tas punggungku.
“Kau selalu saja begitu, hhh...
melelahkan” ucap Sam dan duduk disampingku, kemudian melemas diatas mejanya.
“Kau kenapa?” tanyaku heran.
“Aku lelah berlari karena aku
terlambat naik bus. Kau tidak lihat aku kelelahan?” tanyanya, kenapa dia yang
marah? Sudah kukatakan, bukankah dia itu...
agak sedikit bermasalah. Aku hanya menanggapi dengan gelengan kepala.
“Bisakah kau berhenti untuk membaca
rumus kalkulus itu untuk sebentar saja? Hei dengar...” ucapnya menekan setiap
kalimatnya.
“Aku mendengarkanmu jadi bicaralah
sekarang” ucapku sarkatis namun tenang.
“Berhentilah bersikap seolah kau
baik-baik saja. Aku tahu tentang kejadian kemarin. Jadi berbagilah padaku” ucapnya
mendekati bahkan tubuhnya menempel di tubuhku.
“Berhentilah menggeser tubuhku seperti
ini. Aku bahkan mau jatuh. Bersikaplah normal Sam... Tidak ada masalah apa-apa,
itu hanya salah faham. Jadi kau jangan mendesakku” ucapku. Untuk apa? Untuk apa
dia tahu, apa dia harus tahu? Aku bahkan tak tahu mulai menceritakan kejadian
itu darimana? Hei... disini aku sebagai korban, apa dia tidak mengerti?.
Kudengar helaan nafas keluar dari bibirnya.
“Baiklah... kau selalu seperti
itu. Kau tidak bisa terbuka padaku” kritiknya.
“Apa itu penting, hhh menyebalkan” aku keluar
meninggalkan Samantha yang duduk sendirian.
AKU bersender di salah satu pilar
koridor kelas sambil melipat tangan dibawah dada, aku mendesah... angin lembut
menerpa tubuhku dan menerbangkan beberapa helai rambutku. Suara hiruk pikuk
siswa ditengah koridor sangat mengganggu, tapi... jika aku kembali kedalam kelas,
pasti Samantha akan melontarkan beribu pertanyaan padaku dan aku tak tahu
bagaimana cara untuk menghindari pertanyaan itu dan kufikir hanya inilah cara
yang tepat. Paling tidak, aku masih bisa mempelajari rumus kalkulus ini.
Teet
Teet...
Suara bel masuk pun terdengar dan
akupun memasuki kelas, Samantha masih melihatku dengan tatapan memohon ‘berhentilah seperti ini Sam’ batinku.
“Apa kau sudah memikirkannya?”
tanyanya antusias.
“Apa? Aku sama sekali tidak memikirkan
apapun, jadi berhentilah untuk bertanya padaku. Aku tak tahu harus jawab apa.
Dan kufikir...” aku terdiam sejenak.
“Kau tak perlu tau... dan itu tidak
penting” lanjutku. Aku tak tahu, mungkin aku telah menyakiti hatinya, tapi
mengertilah Sam... aku tak bermaksud untuk seperti itu. Pelajaran pertama-pun
berlangsung -Fisika-, kami mengikuti pelajaran dengan tenang walaupun ada
beberapa yang masih sibuk dengan omongan masing-masing dan berkutat pada diri
mereka sendiri. Aku sama sekali tak memperdulikan hal itu.
Aku berdiri di koridor depan kelasku
dan akan segera pulang, tapi sial... tiga gadis menghadangku sambil melipat
tangan di bawah dada. Apa lagi ini?
“Hei... bukankah kau Cash?” tanya
seorang gadis yang tak kukenal kini berada tepat didepan ku bahkan sangat dekat.
“Iya... ada apa?” tanyaku heran.
“Kau bertanya ada apa? Bukankah
kemarin kau yang menjatuhkan minuman sialan itu kebaju Katie? Berhentilah
berpura-pura tidak mengetahui apa yang telah kau lakukan. Kau bahkan tak
bertanggung jawab atas kelakuan yang kau perbuat” ucap gadis itu. Oh... aku
ingat, aku belum menceritakan pada kalian. Yeah... ini termasuk salah satu
pertanyaan Samantha, aku tidak sengaja menjatuhkan minuman
kepada gadis itu -Katie-, gadis paling populer disekolah, dan APA masalahnya? Aku bahkan sudah meminta
maaf, aku tidak sengaja... entah apa yang menyandung kakiku dan tiba-tiba
tubuhku terasa terhuyung dan langsung, nampan berisi segelas teh hangat itu
mengenai gadis itu-Katie-. Dan sempat kulihat, beberapa temannya tersenyum
mengejek dan setelah itu aku mendengar
“Hei apa yang kau lakukan?” gadis itu
menjerit dan seolah-olah akulah sang tersangka.
“Kau tidak tahu berapa harga baju ini?
Aku baru membelinya dan kau baru saja mengotorinya” suaranya terdengar
menggelegar ditengah-tengah keramaian kantin.
“Aku tidak sengaja, sungguh maafkan
aku” ucapku. Plakk... satu tamparan mendarat dipipi kiriku. Hei apa masalahnya?
Aku tidak sengaja. Apa gadis populer dan sangat disegani disekolah bahkan
sangat diperebutkan oleh semua lelaki di Cherrystone ini boleh bertindak
seenaknya? Hhh... buruk.
“Maafkan aku...” ucapku dan berlalu
meninggalkan gadis-gadis itu. Sempat kudengar mereka berteriak
“Hei... gadis sialan. Kau harus
mengganti semua ini”. Aku tak peduli dan... mengganggu.
Dan sekarang... aku dihadang oleh
gadis-gadis yang kemarin, tidak dengan... Katie.
“Biarkan aku lewat...” ucapku. Oh...
bahkan mereka tengah tersenyum seperti evil sekarang. Benar-benar mengganggu.
“Kau mau lewat? Tidak secepat itu
nona, sebelum kau mencium kaki Katie” ucap gadis dengan rambut lurus sebahunya.
Aku melongo’ tak mengerti, cih... mengganggu.
“Hm...” gadis dengan rambut blonde-nya
menimpali.
“Ever...” teriak seseorang dan
sekaligus mengalihkan perhatian mereka.
“Hari ini kau selamat gadis sialan.
Tapi besok kau akan bisa lari dari kami. Ayo...” ucap gadis
berambut blonde itu-lagi. Aku melihat punggung mereka yang sudah menjauh, setidaknya
aku akan berterimakasih pada mrs. Rose.
“Ever... bisa kau kesini sebentar?”
ucapnya lagi dan aku-pun berbalik dan berjalan kearah guru berumur 35tahun itu.
“Kudengar kau ada masalah? Apa
gadis-gadis itu salah satunya?” tanya mrs. Rose, dan aku hanya mengangguk.
“Apa aku boleh membantu?” tanyanya
lagi.
“Yah... kalau itu mungkin terjadi,
dengan senang hati aku akan menerima tawaran itu. Tapi... sekarang akulah letak
masalahnya” jelasku pasrah.
“Aku bisa membantumu, tapi kau harus
membantuku...” ucap mrs. Rose.
“Membantu apa? Anda jangan memintaku
untuk hal-hal bodoh atau semacamnya” ucapku memalingkan wajah ketempat lain.
“Hei... kenapa kau berfikir begitu?
Kau jangan se-sarkatis itu. Lihatlah dirimu... Kufikir tidak ada salahnya jika
kau tidak memiliki teman gara-gara sikap mu yang seperti itu. Seharusnya kau
bersyukur masih ada yang mau menjadi temanmu, seperti... Samantha, mungkin?”
jelasnya. Apa masalah untuknya jika Samantha menjadi temanku? Kenapa dia
mengikutcampurkan masalah Samantha? Apa penting untuknya?. Jika dia bukan wali
kelasku, mungkin aku takkan perduli? Atau mungkin. Yah... mrs. Rose adalah wali
kelas ku. Terkadang orangnya baik dan juga menyebalkan seperti ini, tapi... apa
boleh buat, dia juga telah membantuku-saat ini-.
“Baiklah... apa yang bisa aku bantu
anda mrs. Cardigans?” tanyaku pelan, sengaja mengambil nama belakangnya untuk
lebih menghormati, kufikir.
“Uh... itu. Ya... kudengar, rumahmu
bersebelahan dengan Daniel? Daniel Schrifer” ucapnya tersenyum.
“Daniel?Maaf Aku tidak mengenalnya dan
aku baru saja mendengar nama itu” ucapku jujur dan terkekeh pelan.
“Apa? Kau jangan bercanda nona
Everdeen. Bagaimana bisa kau tidak tahu teman kelasmu? Ya tuhan... apa saja
yang kau kerjakan di kelas. Dan... kau pasti juga tidak mengenal gadis-gadis
yang tadi bukan?” tanyanya. Aku hanya nyengir pelan.
“Aku mengenal mereka, tapi aku tak
tahu namanya. Hanya Katie... gadis itu ya, dia gadis terpopuler di sekolah.
Samantha yang menceritakan padaku. Itu yang aku tahu” jawabku dan mrs. Rose
hanya menggeleng lemah.
“Aku akan memberikan alamatnya padamu,
dan kuharap kau memberikan ini pada Daniel” ucapnya dan memberikan bungkusan
map coklat padaku.
“Kenapa anda tidak menemuinya sendiri?
Kenapa harus aku?” protesku.
“Daniel sama sekali tidak mau bertemu
denganku. Oh... dia tidak pernah masuk sekolah, jadi... bisakah kau membujuknya?
Sekali saja!” pinta mrs. Rose memohon.
“Kenapa harus aku? Apa kau yakin aku
bisa melakukan ini? Aku sendiri... tidak begitu yakin” ucapku.
“Ayolah... aku yakin kau bisa. Dia
jarang sekali masuk sekolah, kalau terus begini... dia bisa saja dikeluarkan.
Aku bahkan tak bisa membuat alasan pada mr. botak itu. Jadi bantulah aku. Kalau
kau membantuku... aku akan membelikanmu buku rumus kalkulus terbaru,
bagaimana?”. Apa dia menyogokku?, entah kenapa aku menyetujuinya? Ayolah...
kufikir ini gara-gara rumus kalkulus itu sendiri.haha.
Ada banyak sekali orang, beda rupa, beda prilaku dan beda kepribadian.Bermacam-macam tingkah laku, mulai dari orang baik, jahat, ada yang memiliki rasa hormat ada yang acuh/sok cuek tapi ingin ditegur, ada yang kasar, ada yang lembut dan sebagainya, mungkin tidak perlu disebutkan lagi. Andaikan kita bertemu dengan satu orang kemudian kita melihat orang yang lainnya lagi, mungkin kita akan menilai bahwa orang yang ini berbeda dengan orang yang sebelumnya pernah kita temui.
