Posted by : Unknown Sabtu, 27 Desember 2014

Pandanganku tertuju pada sebuah hamparan seperti permadani indah menjulang memenuhi jagat raya.Senja berwarna merah kekuningan menyapu seluruh dataran langit sehingga membentuk guratan jingga yang membentuk kumparan indah dalam bentangan alam. Tanpa sadar, kakiku melangkah menuju tempat itu, lalu duduk di bawah pohon yang diam. Terlihat bunga-bunga liar yang tumbuh, meliuk-liuk bak sekumpulan peri-peri kecil yang indah dan menampakkan sinarnya, dan ditemani oleh beraneka daun kering yang tengah terbaring tak beraturan.
Mataku semakin menerka lebih jauh, kulihat tempat yang tak jauh diujung sana sangat-lah berbeda. Bising suara kendaraan yang tiada hentinya melaju dijalan raya, asap-asap dari pabrik mengepul tinggi seakan menutupi awan putih dilangit. Aku baru sadar, kabut pucat yang berasal dari asap pabrik dan kendaraan-kendaraan itu seakan meletup menutupi tempatku. Ternyata, tempatku ini hanyalah taman kecil yang berada diantara gedung-gedung pencakar langit.
“Mereka mengambil dan merampas semuanya, alam, lingkungan yang asri nan indah.Mereka tak sadar dengan apa yang telah mereka lakukan, menikmati dan mengambil kesenangan dari apa yang telah mereka dapatkan tanpa berfikir untuk mengembalikannya” Kalimat itu terus terngiang dalam telingku dan kini bergelayut dalam fikiranku. Ya, mereka menggantinya, menggantinya dengan pagar-pagar beton yang menurut mereka akan memperindah alam. Tidakkah mereka sadari?Walaupun diam tapi sebenarnya tumbuh-tumbuhan dan bumi menangis.Menangisi polusi yang telah merajalela.Bahkan es dikutub telah habis mencair, tak ada lagi tempat tinggal bagi para hewan yang ada dikutub.Kini mereka hanya-lah tinggal kenangan keragaman satwa ensiklopedia.
Telah banyak bencana datang yang merupakan bukti dari kemurkaan manusia, untuk mengingatkan manusia akan anugerahnya, akan apa yang semestinya dijaga dan pelihara, yang seharusnya dilestarikan. Bukankah kita(manusia) berhutang budi pada alam?Kita semua tidak pernah menyadarinya, keserakahan dan selalu ingin dan ingin itu seakan telah menguasai kita.
Sejenak aku teringat dengan apa yang telah terjadi pada beberapa tahun silam. Ketika kedatangan gejala alam El Nino yang menyebabkan kekeringan dan kebakaran. Wilayah tropis disekitar ekuator yang sepanjang tahun menerima energy radiasi sang surya. Sementara di lain pihak wilayah subtropis dan kutub hanya menerima sedikit energy. Sebagai reaksi ada yang berbeda dalam penerimaan energi dalam satu sistem muka bumi. Proses yang terjadi ini sangat bergantung pada besarnya energi sang surya. Ingatkah kita akan pemborosan energi yang terjadi, ketika pemborosan tersebut meningkatkan suhu panas pada langit akibat gas pembuangan yang mengapung di atmosfer memberikan efek rumah kaca terhadap deretan sejuta umat manusia didunia.  Ini ulah kita!! Ulah kita yang selalu merusak, selalu berfikir bahwa apa yang telah kita lakukan terlihat lebih indah dan sangatlah baik.Tak dapatkah kita berfikir, bagaimana dengan bumi ini?Bumi yang kita tempati?Bumi yang indah?Bumi yang hijau?Bumi yang memberikan beranekaragam cagar dan satwa, flora dan faunanya?
Lalu apa artinya kita sebagai manusia? Manusia hanya-lah mengungsi, tak malukah kita pada alam?Tak malukah kita pada tuhan yang telah memberikan semuanya? Tak malukah kita pada tumbuh-tumbuhan yang selalu tersenyum manis menyapa di setiap harinya?
Andai mereka bisa berbicara, mungkin mereka akan berteriak ‘Jangan tempati bumi ini, jika kau hanya akan merusaknya’. Jika mereka memiliki kaki, mungkin mereka akan berlari dari kejaran polusi yang akan membunuh mereka. Jika mereka memiliki tangan, mungkin mereka akan memukul satu-persatu makhluk yang ingin merusak mereka.Sayang !!Mereka tak memiliki semua itu.Mereka indah, mereka perlu dijaga, mereka butuh kasih sayang untuk di lestarikan.
Aku memejam-kan mata sejenak, menyandarkan punggungku pada batang pohon yang terasa sejuk nan rindang ini. Sebuah benda lembut terasa terjatuh menerpa wajahku.Lembut, kembali aku membuka mata, seketika benda itu kini tengah berada di telapak tanganku. Secarik daun yang berasal dari pohon ini, rapuh dan mengering. Fikiranku seakan melanglang jauh mengingat sebuah kisah, ketika si daun kecil memiliki sebuah harapan.Harapan untuk diturunkannya hujan.Ternyata air begitu sangat di perlukan, untuk manusia, dan seluruh makhluk yang ada dialam ini.
Dan yang sangat disayangkan adalah, ketika kita sebagai manusia menginginkan hal yang lebih. Tidak bisa membagi apa yang mereka punya dengan makhluk-makhluk indah yang sudah dianugerahkan oleh tuhan.Mereka tak mampu meminta, mereka juga tak mampu untuk mengambilnya sendiri.Coba fikir, bagaimana bunga-bunga indah yang berada di lingkungan yang asri tersenyum ramah, bersinar, meliuk-liukan daun yang diterpa oleh angin, bertumbuh lebat sehingga semakin mempercantik lingkungan. Kita hanya menikmati apa yang mereka miliki. Sementara mereka, mereka tulus membagikan keindahannya.
Aku teringat akan salah satu peristiwa. Kini flora dan fauna sudah terancam punah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana akhirnya jika tak ada hewan ataupun tumbuhan yang akan memperindah bumi ini? Salah satu satwa langka telah di jerat sampai mati oleh para manusia serakah.Bahkan aksi perburuan kini semakin merajalela, seperti perburuan badak yang sudah punah di salah satu margasatwa yang ada di Mozambik Selatan sana, begitupun rusa yang ada di Bangka Selatan sudah punah dan aksi penyelundupan satwa liar lainnya. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh para manusia seperti itu? Merusak semuanya…? Mengambil milik alam…? Tertawa ketika mendapatkan apa yang mereka inginkan…? Tertawa ketika menggunakan sumber daya alam untuk kesenangan pribadi…? Tertawa ketika melihat satwa liar punah…?
Tapi mereka tak sadar, bahwa ada kesedihan yang tengah menanti.Aku berfikir, ‘Dengan apa yang mereka lakukan terhadap alam… apa mereka akan sadar?’ Terkadang orang-orang lalai dan lebih terpagut pada apa yang mereka lakukan. Menangis. Ya, mereka bukan menangis untuk penyesalan, tapi mereka menangisi apa yang telah mereka dapatkan dan kemudian menghilang begitu saja.
Setelah semuanya kembali normal, mereka melakukan hal itu dan itu lagi.Begitu seterusnya, manusia memang tak pernah jera lebih tepatnya tidak mengenal kata ‘jera’.
Kita harusnya mampu memanfaatkan alam dengan lebih optimal bukan malah merusak lingkungannya.Dan tidak merusak hutan yang seharusnya kita lestarikan, yang membuat keseimbangan lingkungan tidak terjaga.
Meratapi kehidupan yang ditemani dengan polusi yang merajai alam, tanpa mengenal belas kasihan.Yang tak bersalah pun ikut menjadi korban, seperti para predator yang tertawa melihat musuh yang terbantai ditindas dengan begitu kejam.
Seakan peluang kehidupan begitu sempit, seolah pedang menancap dengan tajamnya diatas perut melukai setiap makhluk yang berdiri membela kebenaran. Andaikan aku seperti tumbuh-tumbuhan kering yang berada di tepi jalan dan selalu menghirup polusi yang betebaran diudara, menghirup bau polusi yang menyengat dan membunuh tanpa ampun.Entahlah, aku menggeleng keras.Sebuah benda bening mulai kurasakan pada bagian kelopak mataku, menyaksikan setiap tumbuh-tumbuhan yang meliuk-liuk dengan anggunnya yang mengenai benturan udara hitam.
Ya tuhan…!! Beginikah nasib para makhluk indah-mu yang tak bisa melakukan apa-apa?Ingin aku menyenandungkan kepedihan ini. Bagaikan tersayat menyaksikan akan alam terbuka yang begitu dahsyat keganasan membunuh setiap makhluk yang tak berdosa. Berdiri seakan ku terpaku, melihat salah satu keajaiban tuhan untuk alam yang telah diciptakan.
Eidelweist, bunga keabadian.Indah dan mengikat janji suci.Bunga ini seharusnya tumbuh di daerah pegunungan.Entahlah, kufikir para pendaki meninggalkannya ditempat ini.Atau mungkin seseorang telah membuangnya, menyia-nyiakannya.Benar !Manusia hanya menikmati keindahan alam yang telah disajikan hanya untuk sementara, setelah itu melupakannya, merusaknya, membunuhnya.Aku mengambil bunga itu, mencium aromanya.Indah, dan menakjubkan.
Aku berdiri dari tempat duduk-ku, desiran hangat nan sejuk menerpa tubuhku. Lagi, terlihat kepulan asap berasal dari hutan yang tak pernah mereka jaga. Aku hanya menggelengkan kepala, kenapa para manusia kembali melakukan itu?Para pengusaha seakan tertawa menyaksikan pemandangan yang menurut mereka indah dan menghasilkan uang, uang dan uang. Bahkan mereka tak berfikir apakah ini cara yang terbaik? Atau bahkan akan menghancurkan mereka? Begitulah…!! Fikiran mereka sudah dipenuhi oleh keserakahan yang merajalela, seakan menembus dada dan jantung mereka.
Aku tak tau… jika aku menjadi orang besar seperti mereka semua, apa aku akan berada di dalam sebuah ruangan yang indah, lalu duduk santai dan menghitung uang lalu menyuruh para pekerjaku untuk melakukan aksi yang dapat menghancurkan bumi ini? Entahlah, semoga tidak !!Aku tak ingin menyakiti alam ini, aku tak ingin membuat bumi ini menangis, aku tak ingin membuat bumi ini menumpahkan lahar panas, aku tak ingin bumi ini membunuh kami semua, aku tak ingin bumi ini hancur.
Aku tak ingin berhenti menatap matahari pagi yang selalu tersenyum menyapa, aku ingin selalu menikmati langit sore dengan senja yang begitu menakjubkan.Melampirkan lukisan dan guratan alamiah bercorak ciptaan tuhan.Aku ingin menikmati bentangan pelangi yang indah menampilkan senyum simpul dengan berjuta warna menyatu dalam satu sabuk yang mengabadikan persahabatan.Aku ingin menikmati malam yang ditemani cahaya bulan.Walaupun bulan hanya sendirian tapi ditemani oleh berjuta bintang yang selalu berkerlap-kerlip membentuk senyuman malam yang tak bisa pudar, membuat hati terasa tenang dan nyaman.
Semua ciptaan tuhan indah, seindah apa yang telah terlampir dalam alam. Alam diam, bukan berarti tak bisa berbuat apa-apa.Bumi menangis, bukan berarti lemah.Tumbuh-tumbuhan kecil, tapi memiliki banyak manfaat.Hutan menakutkan, hutan membunuh, hutan penuh dengan hewan buas bukan berarti merampas. Hewan itu diciptakan supaya manusia tidak membuat keonaran didaerah mereka, supaya manusia sadar, setiap makhluk yang terusik pasti akan marah. Setiap makhluk ingin melindungi tempatnya.Tidakkah kita berfikir? Hewan bisa berfikir untuk melindungi daerah yang ia tempati, sementara kita. Kita hanya bisa tertawa dengan bangga mengatakan ‘Aku memiliki segalanya, gedung-gedung tinggi yang menjulang kelangit, bisnis pabrik yang meluas, pembuangan limbah yang tersedia disungai sudah ku-kuasai’.Kita memandang alam sebagai sumber kekayaan, yang selalu siap dieksploitasi kapan dan dimana saja, dan oleh siapa saja untuk mengambil hal-hal yang diperlukan dan membiarkan begitu saja hal-hal yang tidak diperlukan.
Alam dan seluruh isinya memiliki harkat dan nilai, alam memiliki nilai karena ada kehidupan yang ada didalamnya.Kehidupan yang seharusnya di gunakan dengan sebaik mungkin, dimanfaatkan untuk melestarikan alam.
Bumi merupakan keseluruhan organisme yang ada dialam, mereka saling membutuhkan, saling menopang dan saling memerlukan.Kita manusia hanya sebagai salah satu unsur yang dapat saling mempengaruhi dengan lingkungan.Lingkungan asri apabila manusia menjaga dan melestarikannya dengan baik.Tapi entahlah… manusia tidak pernah memikirkan hal itu.
Eidelweist, bunga ini masih berada dalam genggaman tanganku.Aku menarik kedua sudut bibirku ketika seorang anak kecil melintas dihadapanku dengan bandana yang melekat dikepalanya.
“Apa itu?” dia mendekat kearahku dan aku mulai menjongkok mensejajarkan tubuhku dengan tubuhnya.
“Eidelweist… kau mau?” ucapku menyodorkan bunga itu kearahnya.
“Indah…” desisnya pelan.
“Kau tau?Bunga ini adalah bunga keabadian, bunga yang terikat oleh janji suci yang harus dijaga dengan sebaik mungkin” terangku, aku melayangkan tanganku pelan diatas rambutnya dan mengusapnya pelan.
“Apa seperti bunga peri?” tanyanya polos.Aku terkikik geli mendengar pertanyaannya.Peri, ini-lah dunia anak kecil. Percaya akan adanya peri yang indah dan datang setiap tahunnya untuk menggantikan musim.
“Kau tau soal peri?” aku bertanya seolah aku tertarik dengan percakapan ini.
“Iya, peri itu banyak sekali.Peri air, peri kesuburan, peri cahaya, peri bunga dan peri memperbaiki.Para peri ditugaskan untuk menggantikan musim setiap tahunnya.Dan kau tau…?” tanyanya tersenyum kearahku.
“Apa?”
“Ketika bayi tertawa untuk yang pertama kalinya, peri-pun terlahir.Hanya itu yang aku tau, bukankah itu menakjubkan” ucapnya girang.
Aku terkekeh mendengar penuturannya, dasar anak kecil.Percaya saja dengan kisah fantasy.
“Boleh aku mengambilnya?” tanyanya lagi, matanya tertuju pada eidelweist yang ada di tanganku.
“Tentu saja !ini untukmu” Dia tersenyum girang menerima eidelweist itu.
“Terimakasih…” ucapnya dan berlalu pergi.
Inilah dunia, terkadang anak kecil bangga dengan apa yang sudah menjadi kepercayaannya. Dan lebih menyukai hal-hal yang baru yang dapat disajikan sebagai kiasan untuk menyatukan imajinasinya.
Aku melangkah pelan, dalam hati aku berjanji “Aku akan menjaga bumi ini, menjadikan surga yang indah tanpa harus mengubahnya. Memberikan aroma fantasy yang menakjubkan dan menciptakan suasana yang berbeda”
Janganlah menjadi orang egois, alam ini butuh keindahan yang asri, butuh kelestarian, butuh kasih sayang dari para makhluk bumi. Jangan merasa, bahwa alam ini hanya milik generasi kita, tapi generasi-generasi selanjutnya pun masih ingin menikmati alam ini, menikmati kesejukan pohon yang rindang, menikmati cakrawala yang telah di ciptakan oleh tuhan, menikmati suatu keindahan pagi yang sejuk dan teduh, jangan mencemari lingkungan oleh kendaraan yang lalu-lalang. Buatlah udara ini segar, sehingga kita sebagai makhluk bumi dapat merasakan keindahan alam yang sebenarnya. Dapat merasakan saat bumi tertawa, bumi hijau, bumi melakukan kita dengan baik.Masih ada generasi selanjutnya yang ingin menikmati itu semua.Menikmati udara pagi yang cerah dengan bunga-bunga liar yang selalu menyapa disetiap paginya. Menikmati kicauan burung yang bertengger diatas dahan pohon yang tinggi,
Menikmati musim yang selalu berganti secara beraturan. Dan tidak terlalu kepanasan akibat pemanasan global yang terjadi akibat efek rumah kaca yang nantinya akan bergantian oleh badai dan curah hujan yang dapat membanjiri seluruh kota dan menenggelamkan seluruh makhluk bumi.

Menikamati alam dengan senyuman yang membentang bak tata surya yang diterangi oleh cahaya matahari dengan anggunnya berputar pada porosnya. Semburat indah dengan lengkungan kekuningan seakan menutupi separuh awan dengan corak keindahan yang menyaksikan akan arti alam yang begitu menampilkan sejuta keajaiban yang terus mengikat dalam suatu keabadian kehidupan.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Si Perangkai Kata -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -