Archive for Agustus 2014
Ada
banyak hal yang ingin kukatakan. Apa kau ingin mendengarnya? Kurasa tidak, tapi
ketika kau pergi waktu itu... itu mengingatkanku pada apa yang telah terjadi
sebelumnya. Maaf, aku tidak bisa mencegahmu, aku tak dapat mengatakan ‘Jangan pergi’
karena aku hanya bisa memandangi punggungmu yang mulai menjauh meninggalkanku
sendiri. Entah apa yang kurasakan saat itu, tapi dalam hati aku MERINDUKANMU.
Mengertilah !!
“Kau mau?” ujar lelaki jangkung dengan balutan jaket dan
topi kupluk diatas kepalanya. Sebuah lolypop yang ia sodorkan kearah wanita
yang sedang duduk dikursi kayu panjang dibawah pohon maple yang berguguran.
Waktu itu adalah musim semi, ketika musim semi tiba... malam terasa singkat dan
siang menjadi panjang. Kau mungkin tak dapat memikirkan hal-hal yang konyol
atau mungkin seperti bungkulan bunga yang tiba-tiba berhamburan diatas kepalamu.
Tidak mungkin, sebab saat itu kau tak akan mengerti kemana arah fikiran konyol
itu berjalan.
“Kau seperti anak kecil” ujar wanita berambut hitam
panjang itu. Gesekan angin menggerakkan poni-poni kecilnya, lembut. Beginikah
musim semi, kau tau... musim semi saat ini sangatlah berbeda seperti musim semi
lainnya. Mengherankan, jika semuanya menjadi dingin, entah ulah angin atau
sesuatu apa itu yang lembut, yang tidak kita ketahui arahnya dan membuat
kedinginan itu seolah menjelajari sekitar tempat ini.
“Benarkah, itu tidak seperti yang aku fikirkan. Ada apa?
Kau berada ditempat ini pasti telah terjadi sesuatu” ujar lelaki itu, seolah
merasakan apa yang ada dalam hati wanita yang tengah duduk mengangkat kepala,
menikmati pelukan angin dan membiarkan daun-daun maple menjatuhi wajahnya. Kau
tidak akan sadar, meski kau telah mengetahuinya. Sebab fikiranmu kau biarkan
melonjak dalam kekacauan hidup yang kau ciptakan sendiri, terserahlah... jika
mereka disana menertawakanmu. Bukankah lebih baik? Atau kau mencoba memperburuk
keadaan dengan membalas mereka. Tidak mungkin.
“Sesuatu telah terjadi? Aku hanya ingin menikmati hari
pertama musim semi. Adakah masalah untukmu? Bagaimana dengannya?” sarkatis,
namun lelaki itu benarkah tidak sadar? Dengannya? Apa kau tau maksudnya? Tidak,
sepertinya akan membingungkanmu dan kau tidak akan mengerti kemana ini akan
dimulai. Dan saat itu, kau pun akan mengerti dengan semua ini, entahlah.
Cobalah untuk pahami semuanya, sebab itu tidak boleh membingungkan fikiranmu.
“Dia...?!” terdengar terperanjat. “Bagaimana menurutmu?
Akankah lebih baik jika bersama dia?” ujarnya, seolah itu memberatkan batin dan
fikirannya untuk mengucapkan hal seperti itu. Bersama? Kemana arahnya, kau
bingung bukan? Apakah sudah terjadi. Mereka bersama? Tanpa sepengetahuannya.
Kau menyembunyikannya. Bagaimana menurutmu? Itukah lebih baik?
“Mengapa bertanya? Kufikir kau sudah memikirkan hal yang
terbaik. Jika itu baik menurutmu? Bagaimana lagi?” wanita itu berucap, dia
menarik ujung rambutnya dan menyematkan ditelinganya. Benarkah dia mengatakan
hal seperti itu? Bagaimana perasaannya? Kau mungkin tidak akan percaya.
Mungkinkah sama halnya dia menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin diketahui
orang lain? Lihatlah ruang matanya? Apa kau tidak melihat dengan jelas beningan
embun yang telah memenuhi ruang mata kecilnya itu? Dan apa kau tidak
menyadarinya, ketika dia mengangkat kepala membiarkan dirinya memandangi langit
yang cerah diawal musim semi ini?.
Lelaki itu melenguh, sedari tadi dia berdiri didepan
wanita berambut panjang itu. Apa dia mengerti? Dan bermaksud untuk
menyembunyikan kebenaran yang telah ia simpan juga? Kau mungkin akan mengambil
tindakan bodoh dan itu akan berakibat fatal, sama seperti hal sebelumnya.
Jangan biarkan menangis, sebab... mungkin kau tak akan bisa lagi menghiburnya.
Lakukanlah, apa yang terbaik menurutmu. Benar!! Itu kata-kata yang pernah ia
dengar. Dia mengambil tempat duduk didekat wanita itu. Wanita itu sedikit
tersentak, dia mengalihkan mata memandangi sosok lelaki yang duduk
disebelahnya, lelaki yang tengah tersenyum memandanginya. Hamir saja, dia tidak
bisa mengalihkan pandangannya. Begitu pula sebaliknya, mungkin itu takdir. Apa
kau percaya dengan takdir? Bagaimana jika takdir itu berubah, atau takdir itu
semakin sulit. Semakin sulit untuk dilewati. Siapa yang akan mengerti? Mungkin
kau tidak akan bisa mengartikannya, tapi jika takdir itu benar-benar bersamamu,
untuk apa ditolak? Karena takdir bukan penolakan, lihailah dalam memikirkannya.
Untuk sekali lagi.
“Aku akan pergi?” lelaki itu berujar dan berhasil membuat
wanita itu langsung memperbaiki tempat duduknya. Sepertinya mencoba untuk
mendengar lebih jelas lagi. Apa telinganya telah salah menyimak ucapan lelaki
itu? Tidak mungkin. Kau belum tahu hal ini. Mengapa
tiba-tiba? Pergi? Berarti akan meninggalkan tempat ini. Kemana? Mengapa
sebelumnya tidak memberitahu? “Aku akan pergi minggu depan” ulangnya,
mencoba memperjelas lagi. Lelaki itu tersenyum, sementara wanita itu
kebingungan. Secepat inikah?
“Kau akan kemana?” wanita itu heran, benar-benar heran.
Apa ini perpisahan? Apa mereka tak akan bertemu lagi? Kau belum tahu kemana
perginya bukan? Sepertinya ini akan menjadi sebuah pertanyaan yang akan kau
tunggu jawabannya. Secepatnya!!
“New York, ibuku memintaku ke sana. Aku akan pindah dan
tinggal disana” ujarnya sembari tersenyum kearah wanita itu. Keputusan yang tiba-tiba.
Bagaimana bisa mengambil keputusan seperti itu?
“Kau akan pergi dan meninggalkan kami?Secepat itukah?
Mengambil keputusan itu, apakah sudah difikirkan baik-baik?” ujar wanita itu,
ia menunduk. Tentu saja, sedih. Kau tidak melihatnya? Memperhatikan wajahnya
yang memerah. “Kau akan meninggalkan dia juga?” lanjutnya. Pertanyaan macam apa
itu?. “Bukankah kalian baru saja...” dia tidak ingin melanjutkan kata-katanya.
Itu hanya akan menyakiti hatinya. Benar-benar menyakitinya. Dia menahan
beningan itu yang semakin memenuhi ruang matanya, ini tidak bisa dibiarkan.
“Kami tidak ada hubungan apa-apa. Apa yang kau fikirkan
sebenarnya? Andai saja aku bisa membaca fikiranmu. Hahaha” lelaki itu tertawa
terbahak. Tidak, tapi lihatlah wajahnya. Kau melihatnya? Bukankah itu seperti
dipaksakan? Apa hatinya menangis? Apa yang kau tahu soal hati? Benar, andaikan
seperti itu. Bisa membicara fikiran orang ya? Bukankah itu konyol?
“Benarkah? Kufikir... saat itu? Kau.,” wanita itu menutup
wajahnya, memerah? Dia tersipu malu. Selama ini dia salah, fikirannya dari
kemarin benar-benar kacau. Salah, dia salah menerka. Kau benar-benar tidak
membiarkan logikamu bermain, rupanya. “Oh... maaf” langsung, kata itu lebih
tepat dari pada malu sendiri. Ini tidak ada hubungannya dengan bintang yang
bersinar itu, tapi kau tidak pernah menyaksikan kunang-kunang yang berkeliaran
ditengah musim dingin, bukan?
Waktu itu benar-benar tiba. Sungguh?
Aku benar-benar tak bisa mencegah itu terjadi. Entah kenapa aku tidak bisa
mengejarmu? Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada diriku? Bahkan kakiku
sendiri tidak bisa untuk digerakkan. Tenggorokanku... dan tenggorokanku. Aku
tidak bisa mengeluarkan suaraku sendiri, tolonglah. Jangan pergi, kembali. Jika
kau tak ada.. aku benar-benar sendiri, aku sendiri. Aku tidak memiliki siapapun
lagi. Jika kau pergi, aku kesepian.
Wanita itu berdiri dibawah pohon cemara yang rimbun.
Desahan angin dimusim semi seakan memeluknya erat. ‘Dia akan pergi? Benarkah? Aku tidak akan membiarkannya pergi. Tidak
akan’ ujarnya dalam hati. Dia memandangi ribuan bintang di langit. Apa dia
sedang memohon?.
“Mengapa sendirian... Velax?” ujar sebuah suara, kau
tahu... malam itu bulan benar-benar terang. Mungkin purnama? Dia melihat sosok
berjalan dibawah rembulan yang terang. Jelas kau bisa melihatnya. Wanita itu
tersenyum, bahagia. Dia akan membujuknya agar tidak pergi. Itu harus, tidak
akan dibiarkan.
“Avraks..?” suara nyaring wanita itu menyambutnya dengan
senyuman. Embun dimatanya masih terlihat, kau mengerti bukan? Dan sekarang dia
bahagia, lelaki itu masih berada disisinya. Untuk saat ini.
“Velax” panggil lelaki itu. Dia semakin mendekat kearah
wanita itu, dan wanita itu menunggunya dengan senyuman. Mungkin dia gembira?
Tidak. Coba kau lihat wajah lelaki itu? Bukankah dia seperti sedih? Lebih
tepatnya dirundung duka.
“Hari ini, pamanku meninggal” lanjutnya, dan membuat
wanita itu tersontak kaget. Benarkah? Kau belum mengetahui itu? Apa dia
bersedih, coba kau lihat lebih dalam lagi wajahnya, dia tidak berbohong. Pada
kenyataannya memang seperti itu?
“Pamanmu meninggal?” wanita itu mengulang kembali, dia
menunduk. Apa dia berfikir, dan apakah kau akan mengubah keputusanmu untuk
membiarkan lelaki itu pergi? Hei, fikirkan lagi.
“Velax” lelaki itu memanggil namanya, ketika melihat
wajah wanita itu murung. Kemudian memiringkan tubuh wanita itu. Dia saling
berhadapan. Apa kau akan mengerti satu sama lain? Cobalah terbuka, dan katakan
sebenarnya ! Lelaki itu menarik tubuh wanita itu kedalam pelukannya, terang
saja wanita itu tersentak. “Aku senang tinggal bersamamu dan bersama mereka,
aku senang karena kalian adalah orang baik. Terimakasih, karena telah menerima
dan menyambutku dengan hangat” lelaki itu semakin memeluk lembut wanitanya.
Tapi, andaikan kau melihatnya. Embun itu sudah keluar dan menjadi buliran air
yang kini membanjiri wajah wanita itu. “Maaf, aku harus pergi. Mengertilah. Aku
tidak mungkin tinggal disini lagi. Selamat tinggal...” lelaki itu melepas
pelukannya dan pergi meninggalkannya. Sendirian. Dibawah cahaya rembulan.
Mengapa wanita itu tidak mengatakan apa-apa? Lihatlah,
kau bisa melihatnya dengan jelas. Dia menangis, tidak kuat menahan tubuhnya dan
dia terduduk jatuh. Melihat punggung lelaki itu yang semakin menjauh.
Mengucapkan selamat tinggal semudah itu? Benar-benar menyedihkan. Menangis...
sendirian dibawah rembulan dan ribuan bintang.
Aku tidak bisa mencegahmu. Aku
bingung, aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Apa yang kau lakukan padaku?
Kau sama sekali tidak melihat kebelakang. Kau sama sekali tidak berbalik dan
membantuku berdiri. Apa yang kau lakukan padaku? Kembalilah, kumohon. Aku tidak
ingin kau pergi, jangan mengucapkan selamat tinggal semudah itu. Kumohon...
kembalilah Avraks !!
The
END
Dibawah pohon
plum berguguran di bulan februari itu mengingatkanku pada sosok yang baru saja
melintas dihadapanku. Aku merasa belum bertemu dengannya, tapi seolah dia
begitu dekat denganku. Tubuh jangkungnya, raut wajahnya, senyum sinisnya dan
gerak-gerik yang menjadi ciri khasnya kini terpadu menjadi satu didalam memory
otakku. Meski kucoba buka seluruh isi dalam fikiranku, aku sama sekali tidak
menemukan dirinya. Namun, seolah hatiku berkata lain, mengatakan bahwa aku dan
dia begitu dekat.
Dia berada
disisi seberang jalan, tanpa melihatku dia tersenyum pada seorang rekan yang
berdiri menghadap pedagang obral dipinggir jalan.Tersenyum kearah penjual dan
wanita-wanita yang sedang menawarkan mantel wol hangat diakhir musim dingin.
Banyak orang yang diberikan senyuman olehnya,
aku berfikir ‘Jika saja aku berada
disekitar tempat itu, apakah senyuman itu akan diberikan padaku?’ Mungkin
ini terdengar konyol. Beberapa terakhir ini, bisa dibilang aku kehilangan
senyuman itu.
Akan
kuceritakan sesuatu yang masih kuingat, walau hanya sedikit mungkin akan lebih
baik jika kau mendengarnya. Sebelum peristiwa itu terjadi, membuatku sulit
mengingat semua yang telah terjadi dalam hidupku. Beberapa bulan, aku bisa
mengingat sedikit demi sedikit tentang beberapa hal, tentang orang-orang yang
masuk beberapa tahun lalu dalam hidupku.
Aku mengingat
tentang wajah kusut dan sedikit amburadul dihalte bis ditengah kota Tokyo.
Menggunakan seragam sekolah lengkap sambil bersiul dan menenteng tas
dipundaknya. Tampilan yang aneh bukan? Aku berdiri dibawah pohon cemara, dia
berjalan melewati diriku.
Memandangnya,
hanya itu yang dapat aku lakukan. Melihat gerak-geriknya, cekatan matanya yang
terlihat sayu, cara siulan yang menjadi ciri khasnya ketika menunggu bis lewat,
serta tangan kanan selalu dimasukkan kedalam saku celananya.
Tanpa sadar,
setiap kali aku bertemu dengannya ditempat itu membuatku mulai bersimpatik dan
sedikit demi sedikit suasana hatiku menjadi aneh. Perasaan itupun muncul dan
aku menahannya, menyembunyikannya jauh dari dasar hatiku. Acap kali aku
berjanji pada diriku akan mengutarakan dan membuat dia tahu akan perasaanku,
namun ketika aku sudah dekat bahkan sangat dekat dengannya... aku sama sekali
tak dapat berkata apapun. Yang kulakukan hanya mundur beberapa langkah,
merunduk membiarkan dia pergi begitu saja. Dia-yang bersikap acuh itu.
Seringkali aku
mendengar akan julukan yang diberikan oleh orang-orang padanya. Brandalan,
preman kota, bermain dengan kumpulan geng dan
hampir seluruh orang Tokyo menakutinya. Aku tidak perduli akan julukan
itu, kurasa itu bohong. Jika dilihat dari matanya, dia kesepian, dia baik. Mata
sayu yang pengertian menginginkan kasih sayang, ingin berada ditengah-tengah
orang banyak, ingin diketahui keberadaannya. Itulah dia, hanya saja... orang
tidak mengetahui apa yang tersirat dalam benaknya. Aku benar-kan?
Sebenarnya dia
tidak ingin membuat masalah, dia tidak pernah menindas yang lemah, dia ingin
membantu yang lemah. Ketika dia membantu orang lain, malah kebanyakan orang
berfikir kalau dia adalah penjahat, dia preman yang harus dijauhi. Padahal
sebenarnya tidak, kebanyakan orang tidak peka akan orang lain.
Aku yakin,
ketika waktunya akan tiba... dia akan dikelilingi oleh orang banyak, kebaikan
dan ketulusan hatinya akan diakui. Dia tidak akan sendiri lagi, tidak akan ada
sayu kesendirian itu didalam binaran matanya.
“Natsume...”
aku mendengar seseorang memanggil namaku yang menyadarkanku dari lamunan dan
ingatan yang selama ini berkeliaran didalam hatiku. “Ryuta...” lirihku pelan,
kulihat sosok lelaki dengan sunggingan senyum tipis sambil berlari kecil
kearahku . Dia menenteng plastik transparan, tampak kulihat benda dengan bentuk
sedikit lonjong, roti anpan. Dia baru saja membeli roti berisi kacang hijau itu
mungkin juga berbagai macam rasa.. “Maaf... kau menunggu lama” ujarnya, berdiri
didepanku. Air mancur yang memiliki lubang-lubang kecil dibagian pinggir,
sesuatu yang sangat ingin kusaksikan bersamanya. Suara deburan dari lubang air
yang memancurkan air-air kecil dengan sangat deras, membuatku tersenyum. Bersamaan dengan dia yang berbalik kearah
pemandangan air mancur yang indah itu.
Kami berada
disebuah bilik kecil dengan pagar bambu hijau. Didekat bunga plum yang
berguguran dengan warna merah dan putih yang indah. Tidak terasa, musim semi
akan tiba, aku akan sangat senang jika semuanya akan baik-baik saja. Yah...
semuanya akan baik-baik saja.
END

