Posted by : Unknown
Selasa, 05 Agustus 2014
Dibawah pohon
plum berguguran di bulan februari itu mengingatkanku pada sosok yang baru saja
melintas dihadapanku. Aku merasa belum bertemu dengannya, tapi seolah dia
begitu dekat denganku. Tubuh jangkungnya, raut wajahnya, senyum sinisnya dan
gerak-gerik yang menjadi ciri khasnya kini terpadu menjadi satu didalam memory
otakku. Meski kucoba buka seluruh isi dalam fikiranku, aku sama sekali tidak
menemukan dirinya. Namun, seolah hatiku berkata lain, mengatakan bahwa aku dan
dia begitu dekat.
Dia berada
disisi seberang jalan, tanpa melihatku dia tersenyum pada seorang rekan yang
berdiri menghadap pedagang obral dipinggir jalan.Tersenyum kearah penjual dan
wanita-wanita yang sedang menawarkan mantel wol hangat diakhir musim dingin.
Banyak orang yang diberikan senyuman olehnya,
aku berfikir ‘Jika saja aku berada
disekitar tempat itu, apakah senyuman itu akan diberikan padaku?’ Mungkin
ini terdengar konyol. Beberapa terakhir ini, bisa dibilang aku kehilangan
senyuman itu.
Akan
kuceritakan sesuatu yang masih kuingat, walau hanya sedikit mungkin akan lebih
baik jika kau mendengarnya. Sebelum peristiwa itu terjadi, membuatku sulit
mengingat semua yang telah terjadi dalam hidupku. Beberapa bulan, aku bisa
mengingat sedikit demi sedikit tentang beberapa hal, tentang orang-orang yang
masuk beberapa tahun lalu dalam hidupku.
Aku mengingat
tentang wajah kusut dan sedikit amburadul dihalte bis ditengah kota Tokyo.
Menggunakan seragam sekolah lengkap sambil bersiul dan menenteng tas
dipundaknya. Tampilan yang aneh bukan? Aku berdiri dibawah pohon cemara, dia
berjalan melewati diriku.
Memandangnya,
hanya itu yang dapat aku lakukan. Melihat gerak-geriknya, cekatan matanya yang
terlihat sayu, cara siulan yang menjadi ciri khasnya ketika menunggu bis lewat,
serta tangan kanan selalu dimasukkan kedalam saku celananya.
Tanpa sadar,
setiap kali aku bertemu dengannya ditempat itu membuatku mulai bersimpatik dan
sedikit demi sedikit suasana hatiku menjadi aneh. Perasaan itupun muncul dan
aku menahannya, menyembunyikannya jauh dari dasar hatiku. Acap kali aku
berjanji pada diriku akan mengutarakan dan membuat dia tahu akan perasaanku,
namun ketika aku sudah dekat bahkan sangat dekat dengannya... aku sama sekali
tak dapat berkata apapun. Yang kulakukan hanya mundur beberapa langkah,
merunduk membiarkan dia pergi begitu saja. Dia-yang bersikap acuh itu.
Seringkali aku
mendengar akan julukan yang diberikan oleh orang-orang padanya. Brandalan,
preman kota, bermain dengan kumpulan geng dan
hampir seluruh orang Tokyo menakutinya. Aku tidak perduli akan julukan
itu, kurasa itu bohong. Jika dilihat dari matanya, dia kesepian, dia baik. Mata
sayu yang pengertian menginginkan kasih sayang, ingin berada ditengah-tengah
orang banyak, ingin diketahui keberadaannya. Itulah dia, hanya saja... orang
tidak mengetahui apa yang tersirat dalam benaknya. Aku benar-kan?
Sebenarnya dia
tidak ingin membuat masalah, dia tidak pernah menindas yang lemah, dia ingin
membantu yang lemah. Ketika dia membantu orang lain, malah kebanyakan orang
berfikir kalau dia adalah penjahat, dia preman yang harus dijauhi. Padahal
sebenarnya tidak, kebanyakan orang tidak peka akan orang lain.
Aku yakin,
ketika waktunya akan tiba... dia akan dikelilingi oleh orang banyak, kebaikan
dan ketulusan hatinya akan diakui. Dia tidak akan sendiri lagi, tidak akan ada
sayu kesendirian itu didalam binaran matanya.
“Natsume...”
aku mendengar seseorang memanggil namaku yang menyadarkanku dari lamunan dan
ingatan yang selama ini berkeliaran didalam hatiku. “Ryuta...” lirihku pelan,
kulihat sosok lelaki dengan sunggingan senyum tipis sambil berlari kecil
kearahku . Dia menenteng plastik transparan, tampak kulihat benda dengan bentuk
sedikit lonjong, roti anpan. Dia baru saja membeli roti berisi kacang hijau itu
mungkin juga berbagai macam rasa.. “Maaf... kau menunggu lama” ujarnya, berdiri
didepanku. Air mancur yang memiliki lubang-lubang kecil dibagian pinggir,
sesuatu yang sangat ingin kusaksikan bersamanya. Suara deburan dari lubang air
yang memancurkan air-air kecil dengan sangat deras, membuatku tersenyum. Bersamaan dengan dia yang berbalik kearah
pemandangan air mancur yang indah itu.
Kami berada
disebuah bilik kecil dengan pagar bambu hijau. Didekat bunga plum yang
berguguran dengan warna merah dan putih yang indah. Tidak terasa, musim semi
akan tiba, aku akan sangat senang jika semuanya akan baik-baik saja. Yah...
semuanya akan baik-baik saja.
END
