Archive for Juli 2015
Masalah
disekolah dan Keluarga Daniel
29 november 2013, Cherrystone,
washingtone
Pagi itu gerimis turun ditengah kota
washingtone. Ever, gadis itu melindungi diri dengan payung yang bercorak bunga
matahari dibagian pinggir. Ditangannya tengah didapati note kecil berisi
kumpulan rangkuman sejarah.
“Ever, benar?” dia menghentikan
aktivitasnya ketika seseorang dengan payung hitam sedang berjalan tepat
disampingnya.
“Siapa kau?” ujar gadis itu dingin,
ketika dia menoleh sebentar lalu melanjutkan aktivitasnya.
“Ternyata kau sudah menghapusku dari
ingatanmu.Apa kau benar-benar tak mengingatku?” ujar pria itu.
“Apa sebelumnya kita pernah
bertemu?” tanya gadis itu acuh.
“Seorang Ever tak mungkin mengingat
hal yang tak penting.Benar?” ucap pria itu.
“Sepertinya? Jadi apa tujuanmu
sebenarnya?” ucap Ever dan memasukkan bukunya kedalam tas dan mereka menutup
payung bersamaan ketika sampai dikoridor.
“Aku hanya memberitahumu untuk
hati-hati. Sepertinya Katie belum puas dengan apa yang terjadi kemarin” ujar
pria itu berjalan mendahului Ever.
“Apa yang kau lakukan dengannya?”
ucap suara yang tiba-tiba muncul dibelakangnya dan membuat dia terlonjak.
“Daniel, kau mengejutkanku” uajr
Ever mengelus dadanya pelan.
“Apa dia mengganggumu?” tanya Daniel
dan berjalan disamping gadis itu.
“Tidak” singkat gadis itu.
“Daniel, Ever…” teriak seseorang
ditengah keramaian koridor, dan membuat mereka menoleh.Samantha, gadis itu
mengambil langkah seribu untuk menemui keduanya.
“Hujannya mungkin tidak akan reda”
ucap gadis itu mengambil tempat diantara keduanya -Daniel dan Ever-.
“Jadi… bagaimana kencanmu kemarin?”
lanjutnya setengah berbisik ditelinga Ever, Ever terlonjak dan langsung
melongo’ terkejut dengan ucapan gadis itu.
“Darimana kau tau…?” ucap Ever
heran.“Dari sumber terpercaya” singkat gadis itu.
AKU terkejut dengan pertanyaan Sam,
darimana dia tau kalau aku dan Daniel kencan? Oh tuhan… apa yang akan difikirkan gadis ini.
“Ayolah, ceritakan padaku” ujarnya,
hingga membuatku merona. Aku mengalihkan pandangan pada Daniel sebentar
kemudian memandang Sam yang tengah penasaran dengan apa yang telah terjadi
kemarin. Aku ingin melupakannya, tidak untuk semuanya. Kejadian kemarin
benar-benar mengganggu, namun ada beberapa hal yang ingin kuingat. Ingatanku
tentang Daniel, benar-benar melekat.
“Apa ada sesuatu yang tak bisa kau
ceritakan padaku?” lanjutnya, hei tak bisakah
kau membiarkanku untuk berfikir sebentar.
“Hei Ralf…” panggil Daniel dan
membuatku melihat kearah Ralf yang tengah berdiri didekat mading sekolah.
“Hei… Daniel, Ever, Sam…” balasnya
menyebut nama kami.
“Kau lihat ini.Bagian klub sastra
sepertinya akan meluncurkan karya terbaru” jelasnya memperhatikan satu-persatu
judul yang terpampang di madding.
“Sepertinya ini akan menarik” lanjut
Samantha.‘Semoga saja !!’ucapku dalam hati.
“Waw… kau lihat dia Lizzy, dia
bahkan tak tertarik dengan itu semua” aku melirik sejenak menangkap pembicaraan
dua orang yang berdiri di sebelah kiri kami.Aku menarik nafas dan hendak
meninggalkan tempat itu, namun Daniel mencengkal tanganku.
“Apa kau takut?” gumamnya pelan
seperti berbisik.Iya, aku takut. Aku takut dia akan membalas yang kemarin
terjadi padaku dan Daniel. Aku kembali teringat dengan pesan pria itu,
sementara mereka berdua adalah teman-teman
Katie.
“Tetap disini, tidak ada yang akan terjadi. Mereka sekumpulan
orang yang hanya besar mulut saja” ucapnya kemudian menarik kedua sudut
bibirnya hingga membentuk lengkungan kecil.Aku membalas dengan senyuman tipis.
Sebenarnya apa yang harus kutakutkan? Sebelumnya aku tidak pernah mendapat
masalah sampai seperti ini dengan yang lain, kurasa masalah itu akan berakhir
jika Daniel tidak membuat mereka marah kemarin.
“Jadi… bagaimana selanjutnya
Marie?Apa kau akan terus seperti itu?” ucap gadis yang mugkin jika tak salah
bernama Lizzy.
“Apa kalian ada masalah?” ujar Ralf,
dia sedikit memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh gadis-gadis itu.
“Akan kuceritakan.Bagaimana jika
pergi sekarang Daniel? Tidak ada untungnya mengurus gadis-gadis itu.Ayolah, ini
akan semakin memperburuk keadaan” ucapku dan Daniel akhirnya menuruti
kataku.Dan kami pergi meninggalkan tempat itu.
Kami sampai didalam ruangan.
Samantha menatapku penuh tanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kau,
Daniel, kedua gadis itu? Dan mungkin… Katie?” cercanya.
“Kufikir, mrs. Rose akan
melindungimu. Dan nyatanya kau sekarang akan menjadi bualan mereka. Oh Shit…”
lanjutnya.
“Jadi… apa yang terjadi, ceritakan
pada kami.Atau kalian akan dipermalukan oleh mereka” ucap Ralf.Aku duduk
dibangkuku dan melihat kearah jendela. Kulihat Katie dan teman-temannya
tersenyum, sepertinya kearahku. Dan kupastikan itu bukanlah senyuman
persahabatan. Kuyakin itu adalah senyuman pembalasan, senyuman ketidaksukaan
dan senyuman kemarahan. Apa yang harus
kulakukan, sekarang?. Aku tahu, gadis seperti mereka tidak akan tinggal diam.
Tapi apakah kemarin itu begitu memalukan bagi mereka?
Tak lama, suara dentingan bel terdengar dan jam pertamapun akan
dimulai. Kami mengikuti pelajaran, dan kulihat Daniel tampak santai.Bagaimana
bisa dia terlihat tenang seperti itu?Apa dia tidak takut dengan sesuatu yang
akan terjadi padanya nanti? Ketika melihat matanya waktu dia menenangkanku tadi
itu… dia seperti bersungguh-sungguh.Benar, seharusnya tak ada yang perlu
ditakutkan.Mengapa aku harus takut pada
mereka? Aku tak perduli jika aku
benar-benar dipermalukan. Aku selalu tahan dengan ketidakperdulian orang lain
dan aku selalu acuh. Bukankah itu salah satu sifatku?Daniel memandangku dan
tersenyum.Aku membalas dengan senyuman tipis pula.
Jam pertama berakhir, aku, Daniel,
Samantha dan Ralf menuju ke kantin. Aku membawa nampan berisi jus orange dan
sandwich.“Hei… disini” kulihat Daniel melambai kearah kami-aku dan Samantha-,
dia terlebih dahulu memesan makanan bersama Ralf.Kami menuju tempat mereka,
dekat jendela palig pojok, tepatnya didekatpohon akasia yang rimbun. Pohonnya
besar dan tinggi, dahannya memanjang hingga dedaunan menyentuh jendela kantin
sekolah. Aku menyantap makananku, Ralf dan Daniel sibuk mengoceh sementara
Samantha memperhatikan pukat laba-laba yang membentuk sarangnya di ventilasi
jendela. Dia Nampak asyik dalam fikiran dan imajinasinya.
“Aku tidak membayangkan bagaimana
jika Katie berada disini dan berulah denganmu Ever” ujarnya dan memandang kearahku dengan wajah cemas.
“Bayangkan saja sekarang” celotehku
dan menyedot jus orange yang ada dihadapanku.
“Apa yang akan dilakukan Katie dan
teman-temannya nanti?Apa kau tidak khawatir”. Aku diam sejenak untuk berfikir,
namun itu kucoba tepis dan terbawa akan perkataan Daniel, apakah itu seperti
melindungi? Mungkin saja?
“Sudahlah, tidak usah difikirkan.
Ever, kau jangan takut. Aku akan
melindungimu”
“Apa maksud semua ini?Apa kalian ada
sesuatu?” ujar Ralf yang sepertinya tertarik dengan perkataan Daniel barusan.
“Tidak ada apa-apa.Kalian jangan
berfikir macam-macam”.Aku yang merasa malu dengan pertanyaan Ralf.
“Wajahmu memerah Ever, kau jangan
berpura-pura” Ada apa dengan Samantha, kenapa dia ikut-ikutan.
“Tidak, sungguh kami tidak ada apa-apa. Benarkan Daniel”
“Sepertinya begitu”
Apa-apaan pernyataan itu?Kau lebih
menikmati makananmu rupanya.Aku tidak begitu yakin dengan semua ini. Apakah aku
harus percaya dengan ucapan Daniel?.
Kami kembali dari kantin dan hendak
menuju kelas.Aku melihat Katie dan teman-temannya tersenyum kearah kami.‘Jadi
bagaimana sekarang?’ seolah pertanyaan itu ingin segera kulontarkan pada
Daniel. Sekarang ini.Ketika kutahu dia benar-benar tersenyum seperti setan
dineraka. Ya tuhan… apa yang akan terjadi selanjutnya?.
Bel pulang berbunyi. Aku dan Daniel
pulang bersama, dia mengajakku untuk jalan-jalan. Sebenarnya apa hubungan kami
sekarang? Bukankah dia tidak menyukaiku,
dia menyukaiku hanyalah sebatas teman. Mungkin, itu yang kufikirkan.
“Hei Ever…” aku menghentikan
langkahku. Seorang pria dengan kemeja kotak-kotak berwarna hijau dan bagian
lengannya dilipat sampai siku.Beberapa siswi perempuan sedang mengerumuninya,
dia melambai dan aku tersenyum.
“Kau mencari Daniel? Dia ada disini”
ujarku menunjuk kearah samping tapi…
“Dia tidak bersamamu Ever, aku
melihat kau hanya berjalan sendirian”
“Tapi… barusan aku bersamanya,
kemana perginya?”
“Aku tidak melihatnya bersamamu” dia
berjalan kearahku “Kau ada waktu?” tanyanya
“Ada apa?”
“Aku ingin berjalan-jalan
denganmu sebentar. Apa bisa?”
“Baiklah”
Kami meninggalkan sekolah dan
kekaguman para siswi yang masih berdiri di depan gerbang sekolah bercat biru
itu. “Aku akan minum latte” ujarnya lalu menarikku kepinggir jalan mengetuk
jendela Java the hut dan memesan kopi expresso.
“Kau mau?” tanyanya, seorang anak
memberikan pesanannya lewat jendela pelayanan.
“Tidak, terimakasih”
“Sekarang?Kemana?”
“Bukankah kita akan pergi
jalan-jalan? Kau ikuti saja”
“Aku tidak mau membuang waktu”
“Hei, ayolah.Aku ingin membicarakan
tentang Daniel” Degh… aku sedikit tersentak, namanya lewat begitu saja. Ada apa
dengan Daniel? Benar! Aku belum mengetahui terlalu banyak tentang pria itu,
lalu apa sekarang?
“Aku tidak mau ditempat ini.Kita
akan mencari tempat yang lebih baik, lebih tenang dan nyaman” lanjutnya,
kemudian berjalan mendahuluiku. Aku mengikuti,ia terlihat santai sambil meminum
kopi-nya. Dia tidak ada bedanya dengan Daniel.
Daun-daun mapel terlihat basah
akibat hujan tadi pagi, jika saja musim semi maka akan berwarna orange terang
dan dedaunanya akan berjatuhan. Siluet cahaya berbentuk pisau menyambar didahan
pohon, burung-burung kecil berkicau membuat sedikit keramaian ditempat
itu.Hanya satu, dua orang yang lewat membuat tempat itu terasa tidak
mengganggu.
“Bagaimana hubunganmu dengan Daniel?”
ujar Drayson, dia meminum habis kopinya kemudian membuangnya di tong sampah
berwarna biru.
“Aku hanya temannya”
“O-ooh, kufikir hubungan kalian
lebih dari sekedar teman. Jika dilihat, kau dan Daniel seperti sepasang
kekasih”
“Aku sudah mengutarakan
perasaanku padanya, tapi dia menolakku”
ucapku
“Oh..benarkah? Kau memang hebat”
ucapnya, “Kau tunggu sebentar, aku ingin membeli sesuatu ditempat ini”
lanjutnya dan pergi meninggalkanku sendiri.Aku berjalan-jalan ditempat itu,
bunga lilac kecil tertanam di sebuah kebun
kecil berbentuk segitiga. Bunganya terlihat rimbun dan baunya tercium juga
olehku. Didekatnya ada bangku kayu panjang. Di bagian ujung kiri, ada jembatan
gantung kecil dan dibawahnya mengalir anakan sungai. Aku memutuskan untuk duduk
dibangku panjang itu sambil menunggu Drayson.
“Ternyata kau ada disini. Aku
mencarimu…” ucapnya dari arah kanan menenteng sebuah kantung plastik.
“Kau
darimana?”
“Aku mau memakan makanan yang manis. Jadi aku membeli donat” ucapnya dan mengeluarkan
kotak kecil berbentuk persegi panjang berwarna merah muda dan terdapat pita
merah diatasnya.
“Ini…” dia memberiku satu donat yang
dilapisi meses warna-warni diatasnya. “Makanlah…” lanjutnya.Aku memakan donat
itu dan… enak.
“Aku menyukai makanan yang manis. Ketika aku di Australia,
aku sangat ingin memakan makanan seperti ini. Kau tau… aku menyukai makanan
yang manis, seperti ini. Dan waah… aku sangat ingin memakan pizza, mayonnaise,
pepperoni, minestrone aah… aku akan meminta Dylan untuk membuatkan makanan itu”
Sebenarnya, dia ingin membicarakan
Daniel atau tentang makanan yang ingin dimakan, aku mulai bosan.Aku melahap
donatku habis.
“Kau mau lagi?” tawarnya, dan aku
menolak.Aku merasa kenyang.
“Aku senang berada ditempat
ini.Disini banyak makanan” ucapnya, dan melahap cepat donatnya.Apa dia tidak
bisa pelan-pelan?
“Aku ingin membicarakan tentang…
Daniel” ucapnya, dia berjalan menuju jembatan gantung dan menyenderkan
punggungnya dibesi-besi penyanggah jembatan. Aliran deras sungai membuat dia
mengeraskan suaranya. Aku sudah menunggu untuk membicarakan itu, tapi kau malah
membicarakan tentang makanan.
“Mengapa Daniel belum datang juga?
Apa dia tidak menerima pesanku?” lanjutnya
“Kau mengirimkan pesan untuk Daniel.
Apa dia akan benar-benar datang?”
tanyaku, dia tersenyum kemudian berbalik menopang kedua tangannya pada
besi-besi penyanggah jembatan itu, dia melihat aliran air sungai.
“Jika itu menyangkut tentangmu,
kuyakin dia akan datang” ucapnya sembari tersenyum kearahku.
“Ayah ingin Daniel kembali kerumah.
Ayahku meminta untuk membawa Daniel kerumah” lanjutnya, dia mengangkat kepala
memandang langit yang terlihat sedikit redup.
“Apa yang terjadi?”
“Kau menghalangi Daniel untuk
pulang”
“Aku?Apa alasannya?”
“Karena kau, jika kau masih berada
disekolah atau disekitarnya, dia tidak akan pulang. Aku ingin kau
meninggalkannya”
“Apa maksudmu?”
“Selama kau berada disisinya, dia
tidak akan pulang” dia mendekat kearahku, bukan masalahku jika Daniel tidak
ingin pulang. Tapi apa maksudnya? Apa akan lebih baik jika aku menjauhi Daniel?
“Drayson”
Daniel muncul, lalu merangkulku dari
belakang.Dia membuatku terkejut.Entah, aku tidak tahu… matanya memandang tajam
kearah kakaknya seperti elang yang siap mencabik mangsanya.
“Apa yang kau inginkan?”
“Membawamu pulang.Apa lagi?” ujarnya
memandang kearah Daniel lalu tersenyum, sangat transparan.Senyuman tulus
ataukah evil yang dipancarkan wajahnya itu. Apakah Daniel akan pulang? Aku
tidak mau pergi.Benar-benar tidak bisa.
“Aku tidak akan pulang, kita pergi”
ujarnya dan menarik tanganku
“Daniel…” aku berhenti dan menarik
keras lengannya hingga ia berhenti, aku tidak tahu apa yang difikirkan pria
ini. Kuyakin dia tidak tenang, dia ingin kembali.Tapi tidak bisa mengatakan itu
pada ka’ Drayson.
“Kita dengarkan dulu penjelasan ka’
Drayson” ucapku, kemudian dia berbalik.
“Apa yang ingin kau katakan? Jika
kau memintaku untuk kembali ketempat itu, aku tidak akan mau. Karena disana
tempat sarang para iblis, aku tidak akan bersama iblis seperti kalian”
Kata-kata Daniel itu membuatku
terlonjak, apa maksudnya? Masalah apa
sebenarnya yang terjadi dikeluarganya?
“Hahaha… aku tidak akan memintamu
untuk kembali, aku juga tidak ingin kau kembali. Tapi ayah yang menginginkanmu
untuk pulang”
Suara gertakan gigi Daniel
terdengar, dan aku memegang telapak tangannya, matanya semakin tajam seperti
elang, wajahnya memerah seperti menahan marah, aku tidak bisa apa-apa.
“Kau tenanglah… ayah akan
membiarkanmu untuk tetap disini, jika
kau selalu pergi ke sekolah. Ayah tidak ingin jika kau tidak sekolah.
Selama gadis itu berada disisimu, kau
pasti akan tetap mengunjungi sekolahmu bukan? Ayah berfikir, kau tidak
pernah ke sekolah dan dia memintaku untuk melihat perkembanganmu. Dan seperti
yang kulihat, jadi kau tidak perlu
pulang. Aku akan mengatakannya pada
ayah, dan kau akan diijinkan untuk tetap disini. Aku tidak ingin kau
kembali, ingat itu Daniel” jelas Drayson.
Dia merangkulku dari belakang dan
aku kembali tersentak, “Selama ada Ever, aku
akan tetap ke sekolah. Aku tidak ingin bertemu kau lagi, jadi jangan
pernah muncul lagi dari hadapanku.
Ayo Ever…” ujar Daniel, dia menggenggam
tanganku kemudian menarikku pergi dari tempat
itu. Dari kejauhan kulihat Drayson tersenyum kearah kami, lalu melambai
dan memandang langit yang sudah terlihat cerah. Ternyata 2 jam telah berlalu dan awan sudah mulai terlihat
cerah.
“Jangan menemui dia lagi. Kalau kau
melihatnya, sebaiknya kau lari saja”
ucapnya
“Dia yang meminta untuk bertemu
denganku. Akan tidak baik jika aku menolaknya” Kami berhenti didekat danau kecil, sapuan angin lembut membawa
suasananya sedikit berbeda.
“Kau bilang kau menyukaiku”
“Kenapa kau mengatakannya?” aku
malu, dan dia membelakangiku
“Daniel…”
“Jika ada tempat yang membuatmu ingin kembali
sebaiknya kembalilah. Aku tau, kau merindukan ayahmu, keluargamu.Jika kau ingin
kembali, sebaiknya kembalilah. Tidak apa-apa” ucapku
“Apa maksudmu?Aku senang berada
didekatmu. Aku senang bersamamu Ever” dia berbalik dan saat ini kami saling
berhadapan.
Aku merengkuh wajahnya pelan dan
mengusap pipi tirusnya, “A-apa yang kau lakukan?” ujarnya, wajah tirusnya
kemerah-merahan.
“Aku tidak tau, aku pernah membaca
disebuah buku.Jika seseorang sedang gelisah dia lebih membutuhkan sentuhan.Jadi
aku melakukan ini” ucapku agak malu, dia membalas tanganku dan mengusapnya
pelan.Daniel tersenyum, sebuah guratan terang menerpa wajahnya, menyalip tubuh
jangkungnya dan terlihat tulus dengan senyuman manisnya.
