Archive for 2014
Pandanganku
tertuju pada sebuah hamparan seperti permadani indah menjulang memenuhi jagat
raya.Senja berwarna merah kekuningan menyapu seluruh dataran langit sehingga
membentuk guratan jingga yang membentuk kumparan indah dalam bentangan alam.
Tanpa sadar, kakiku melangkah menuju tempat itu, lalu duduk di bawah pohon yang
diam. Terlihat bunga-bunga liar yang tumbuh, meliuk-liuk bak sekumpulan
peri-peri kecil yang indah dan menampakkan sinarnya, dan ditemani oleh beraneka
daun kering yang tengah terbaring tak beraturan.
Mataku
semakin menerka lebih jauh, kulihat tempat yang tak jauh diujung sana
sangat-lah berbeda. Bising suara kendaraan yang tiada hentinya melaju dijalan
raya, asap-asap dari pabrik mengepul tinggi seakan menutupi awan putih
dilangit. Aku baru sadar, kabut pucat yang berasal dari asap pabrik dan
kendaraan-kendaraan itu seakan meletup menutupi tempatku. Ternyata, tempatku
ini hanyalah taman kecil yang berada diantara gedung-gedung pencakar langit.
“Mereka mengambil dan merampas
semuanya, alam, lingkungan yang asri nan indah.Mereka tak sadar dengan apa yang
telah mereka lakukan, menikmati dan mengambil kesenangan dari apa yang telah
mereka dapatkan tanpa berfikir untuk mengembalikannya”
Kalimat itu terus terngiang dalam telingku dan kini bergelayut dalam fikiranku.
Ya, mereka menggantinya, menggantinya dengan pagar-pagar beton yang menurut
mereka akan memperindah alam. Tidakkah mereka sadari?Walaupun diam tapi
sebenarnya tumbuh-tumbuhan dan bumi menangis.Menangisi polusi yang telah
merajalela.Bahkan es dikutub telah habis mencair, tak ada lagi tempat tinggal
bagi para hewan yang ada dikutub.Kini mereka hanya-lah tinggal kenangan
keragaman satwa ensiklopedia.
Telah
banyak bencana datang yang merupakan bukti dari kemurkaan manusia, untuk
mengingatkan manusia akan anugerahnya, akan apa yang semestinya dijaga dan
pelihara, yang seharusnya dilestarikan. Bukankah kita(manusia) berhutang budi
pada alam?Kita semua tidak pernah menyadarinya, keserakahan dan selalu ingin
dan ingin itu seakan telah menguasai kita.
Sejenak
aku teringat dengan apa yang telah terjadi pada beberapa tahun silam. Ketika
kedatangan gejala alam El Nino yang menyebabkan kekeringan dan kebakaran.
Wilayah tropis disekitar ekuator yang sepanjang tahun menerima energy radiasi
sang surya. Sementara di lain pihak wilayah subtropis dan kutub hanya menerima
sedikit energy. Sebagai reaksi ada yang berbeda dalam penerimaan energi dalam
satu sistem muka bumi. Proses yang terjadi ini sangat bergantung pada besarnya
energi sang surya. Ingatkah kita akan pemborosan energi yang terjadi, ketika
pemborosan tersebut meningkatkan suhu panas pada langit akibat gas pembuangan
yang mengapung di atmosfer memberikan efek rumah kaca terhadap deretan sejuta
umat manusia didunia. Ini ulah kita!!
Ulah kita yang selalu merusak, selalu berfikir bahwa apa yang telah kita
lakukan terlihat lebih indah dan sangatlah baik.Tak dapatkah kita berfikir,
bagaimana dengan bumi ini?Bumi yang kita tempati?Bumi yang indah?Bumi yang
hijau?Bumi yang memberikan beranekaragam cagar dan satwa, flora dan faunanya?
Lalu
apa artinya kita sebagai manusia? Manusia hanya-lah mengungsi, tak malukah kita
pada alam?Tak malukah kita pada tuhan yang telah memberikan semuanya? Tak
malukah kita pada tumbuh-tumbuhan yang selalu tersenyum manis menyapa di setiap
harinya?
Andai
mereka bisa berbicara, mungkin mereka akan berteriak ‘Jangan tempati bumi ini, jika kau hanya akan merusaknya’. Jika mereka
memiliki kaki, mungkin mereka akan berlari dari kejaran polusi yang akan
membunuh mereka. Jika mereka memiliki tangan, mungkin mereka akan memukul
satu-persatu makhluk yang ingin merusak mereka.Sayang !!Mereka tak memiliki
semua itu.Mereka indah, mereka perlu dijaga, mereka butuh kasih sayang untuk di
lestarikan.
Aku
memejam-kan mata sejenak, menyandarkan punggungku pada batang pohon yang terasa
sejuk nan rindang ini. Sebuah benda lembut terasa terjatuh menerpa
wajahku.Lembut, kembali aku membuka mata, seketika benda itu kini tengah berada
di telapak tanganku. Secarik daun yang berasal dari pohon ini, rapuh dan mengering.
Fikiranku seakan melanglang jauh mengingat sebuah kisah, ketika si daun kecil
memiliki sebuah harapan.Harapan untuk diturunkannya hujan.Ternyata
air begitu sangat di perlukan, untuk manusia, dan seluruh makhluk yang ada
dialam ini.
Dan
yang sangat disayangkan adalah, ketika kita sebagai manusia menginginkan hal
yang lebih. Tidak bisa membagi apa yang mereka punya dengan makhluk-makhluk
indah yang sudah dianugerahkan oleh tuhan.Mereka tak mampu meminta, mereka juga
tak mampu untuk mengambilnya sendiri.Coba fikir, bagaimana bunga-bunga indah
yang berada di lingkungan yang asri tersenyum ramah, bersinar, meliuk-liukan
daun yang diterpa oleh angin, bertumbuh lebat sehingga semakin mempercantik
lingkungan. Kita hanya menikmati apa yang mereka miliki. Sementara mereka,
mereka tulus membagikan keindahannya.
Aku
teringat akan salah satu peristiwa. Kini flora dan fauna sudah terancam punah,
aku tidak bisa membayangkan bagaimana akhirnya jika tak ada hewan ataupun
tumbuhan yang akan memperindah bumi ini? Salah satu satwa langka telah di jerat
sampai mati oleh para manusia serakah.Bahkan aksi perburuan kini semakin
merajalela, seperti perburuan badak yang sudah punah di salah satu margasatwa
yang ada di Mozambik Selatan sana, begitupun rusa yang ada di Bangka Selatan
sudah punah dan aksi penyelundupan satwa liar lainnya. Sebenarnya apa yang
diinginkan oleh para manusia seperti itu? Merusak semuanya…? Mengambil milik
alam…? Tertawa ketika mendapatkan apa yang mereka inginkan…? Tertawa ketika
menggunakan sumber daya alam untuk kesenangan pribadi…? Tertawa ketika melihat
satwa liar punah…?
Tapi
mereka tak sadar, bahwa ada kesedihan yang tengah menanti.Aku berfikir, ‘Dengan
apa yang mereka lakukan terhadap alam… apa mereka akan sadar?’ Terkadang
orang-orang lalai dan lebih terpagut pada apa yang mereka lakukan. Menangis.
Ya, mereka bukan menangis untuk penyesalan, tapi mereka menangisi apa yang
telah mereka dapatkan dan kemudian menghilang begitu saja.
Setelah
semuanya kembali normal, mereka melakukan hal itu dan itu lagi.Begitu
seterusnya, manusia memang tak pernah jera lebih tepatnya tidak mengenal kata ‘jera’.
Kita
harusnya mampu memanfaatkan alam dengan lebih optimal bukan malah merusak
lingkungannya.Dan tidak merusak hutan yang seharusnya kita lestarikan, yang
membuat keseimbangan lingkungan tidak terjaga.
Meratapi
kehidupan yang ditemani dengan polusi yang merajai alam, tanpa mengenal belas
kasihan.Yang tak bersalah pun ikut menjadi korban, seperti para predator yang
tertawa melihat musuh yang terbantai ditindas dengan begitu kejam.
Seakan
peluang kehidupan begitu sempit, seolah pedang menancap dengan tajamnya diatas
perut melukai setiap makhluk yang berdiri membela kebenaran. Andaikan aku
seperti tumbuh-tumbuhan kering yang berada di tepi jalan dan selalu menghirup
polusi yang betebaran diudara, menghirup bau polusi yang menyengat dan membunuh
tanpa ampun.Entahlah, aku menggeleng keras.Sebuah benda bening mulai kurasakan
pada bagian kelopak mataku, menyaksikan setiap tumbuh-tumbuhan yang meliuk-liuk
dengan anggunnya yang mengenai benturan udara hitam.
Ya
tuhan…!! Beginikah nasib para makhluk indah-mu yang tak bisa melakukan
apa-apa?Ingin aku menyenandungkan kepedihan ini. Bagaikan tersayat menyaksikan
akan alam terbuka yang begitu dahsyat keganasan membunuh setiap makhluk yang
tak berdosa. Berdiri seakan ku terpaku, melihat salah satu keajaiban tuhan
untuk alam yang telah diciptakan.
Eidelweist,
bunga keabadian.Indah dan mengikat janji suci.Bunga ini seharusnya tumbuh di
daerah pegunungan.Entahlah, kufikir para pendaki meninggalkannya ditempat
ini.Atau mungkin seseorang telah membuangnya, menyia-nyiakannya.Benar !Manusia
hanya menikmati keindahan alam yang telah disajikan hanya untuk sementara, setelah
itu melupakannya, merusaknya, membunuhnya.Aku mengambil bunga itu, mencium
aromanya.Indah, dan menakjubkan.
Aku
berdiri dari tempat duduk-ku, desiran hangat nan sejuk menerpa tubuhku. Lagi,
terlihat kepulan asap berasal dari hutan yang tak pernah mereka jaga. Aku hanya
menggelengkan kepala, kenapa para manusia kembali melakukan itu?Para pengusaha
seakan tertawa menyaksikan pemandangan yang menurut mereka indah dan
menghasilkan uang, uang dan uang. Bahkan mereka tak berfikir apakah ini cara
yang terbaik? Atau bahkan akan menghancurkan mereka? Begitulah…!! Fikiran
mereka sudah dipenuhi oleh keserakahan yang merajalela, seakan menembus dada
dan jantung mereka.
Aku
tak tau… jika aku menjadi orang besar seperti mereka semua, apa aku akan berada
di dalam sebuah ruangan yang indah, lalu duduk santai dan menghitung uang lalu
menyuruh para pekerjaku untuk melakukan aksi yang dapat menghancurkan bumi ini?
Entahlah, semoga tidak !!Aku tak ingin menyakiti alam ini, aku tak ingin
membuat bumi ini menangis, aku tak ingin membuat bumi ini menumpahkan lahar
panas, aku tak ingin bumi ini membunuh kami semua, aku tak ingin bumi ini
hancur.
Aku
tak ingin berhenti menatap matahari pagi yang selalu tersenyum menyapa, aku
ingin selalu menikmati langit sore dengan senja yang begitu
menakjubkan.Melampirkan lukisan dan guratan alamiah bercorak ciptaan tuhan.Aku
ingin menikmati bentangan pelangi yang indah menampilkan senyum simpul dengan
berjuta warna menyatu dalam satu sabuk yang mengabadikan persahabatan.Aku ingin
menikmati malam yang ditemani cahaya bulan.Walaupun bulan hanya sendirian tapi
ditemani oleh berjuta bintang yang selalu berkerlap-kerlip membentuk senyuman
malam yang tak bisa pudar, membuat hati terasa tenang dan nyaman.
Semua
ciptaan tuhan indah, seindah apa yang telah terlampir dalam alam. Alam diam,
bukan berarti tak bisa berbuat apa-apa.Bumi menangis, bukan berarti
lemah.Tumbuh-tumbuhan kecil, tapi memiliki banyak manfaat.Hutan menakutkan,
hutan membunuh, hutan penuh dengan hewan buas bukan berarti merampas. Hewan itu
diciptakan supaya manusia tidak membuat keonaran didaerah mereka, supaya
manusia sadar, setiap makhluk yang terusik pasti akan marah. Setiap makhluk
ingin melindungi tempatnya.Tidakkah kita berfikir? Hewan bisa berfikir untuk
melindungi daerah yang ia tempati, sementara kita. Kita hanya bisa tertawa
dengan bangga mengatakan ‘Aku memiliki
segalanya, gedung-gedung tinggi yang menjulang kelangit, bisnis pabrik yang
meluas, pembuangan limbah yang tersedia disungai sudah ku-kuasai’.Kita
memandang alam sebagai sumber kekayaan, yang selalu siap dieksploitasi kapan
dan dimana saja, dan oleh siapa saja untuk mengambil hal-hal yang diperlukan
dan membiarkan begitu saja hal-hal yang tidak diperlukan.
Alam
dan seluruh isinya memiliki harkat dan nilai, alam memiliki nilai karena ada
kehidupan yang ada didalamnya.Kehidupan yang seharusnya di gunakan dengan
sebaik mungkin, dimanfaatkan untuk melestarikan alam.
Bumi
merupakan keseluruhan organisme yang ada dialam, mereka saling membutuhkan,
saling menopang dan saling memerlukan.Kita manusia hanya sebagai salah satu
unsur yang dapat saling mempengaruhi dengan lingkungan.Lingkungan asri apabila
manusia menjaga dan melestarikannya dengan baik.Tapi entahlah… manusia tidak
pernah memikirkan hal itu.
Eidelweist,
bunga ini masih berada dalam genggaman tanganku.Aku menarik kedua sudut bibirku
ketika seorang anak kecil melintas dihadapanku dengan bandana yang melekat
dikepalanya.
“Apa
itu?” dia mendekat kearahku dan aku mulai menjongkok mensejajarkan tubuhku
dengan tubuhnya.
“Eidelweist…
kau mau?” ucapku menyodorkan bunga itu kearahnya.
“Indah…”
desisnya pelan.
“Kau
tau?Bunga ini adalah bunga keabadian, bunga yang terikat oleh janji suci yang
harus dijaga dengan sebaik mungkin” terangku, aku melayangkan tanganku pelan
diatas rambutnya dan mengusapnya pelan.
“Apa
seperti bunga peri?” tanyanya polos.Aku terkikik geli mendengar
pertanyaannya.Peri, ini-lah dunia anak kecil. Percaya akan adanya peri yang
indah dan datang setiap tahunnya untuk menggantikan musim.
“Kau
tau soal peri?” aku bertanya seolah aku tertarik dengan percakapan ini.
“Iya,
peri itu banyak sekali.Peri air, peri kesuburan, peri cahaya, peri bunga dan
peri memperbaiki.Para peri ditugaskan untuk menggantikan musim setiap
tahunnya.Dan kau tau…?” tanyanya tersenyum kearahku.
“Apa?”
“Ketika
bayi tertawa untuk yang pertama kalinya, peri-pun terlahir.Hanya itu yang aku
tau, bukankah itu menakjubkan” ucapnya girang.
Aku
terkekeh mendengar penuturannya, dasar anak kecil.Percaya saja dengan kisah
fantasy.
“Boleh
aku mengambilnya?” tanyanya lagi, matanya tertuju pada eidelweist yang ada di
tanganku.
“Tentu
saja !ini untukmu” Dia tersenyum girang menerima eidelweist itu.
“Terimakasih…”
ucapnya dan berlalu pergi.
Inilah
dunia, terkadang anak kecil bangga dengan apa yang sudah menjadi
kepercayaannya. Dan lebih menyukai hal-hal yang baru yang dapat disajikan
sebagai kiasan untuk menyatukan imajinasinya.
Aku
melangkah pelan, dalam hati aku berjanji “Aku akan menjaga bumi ini, menjadikan
surga yang indah tanpa harus mengubahnya. Memberikan aroma fantasy yang
menakjubkan dan menciptakan suasana yang berbeda”
Janganlah
menjadi orang egois, alam ini butuh keindahan yang asri, butuh kelestarian,
butuh kasih sayang dari para makhluk bumi. Jangan merasa, bahwa alam ini hanya
milik generasi kita, tapi generasi-generasi selanjutnya pun masih ingin
menikmati alam ini, menikmati kesejukan pohon yang rindang, menikmati cakrawala
yang telah di ciptakan oleh tuhan, menikmati suatu keindahan pagi yang sejuk
dan teduh, jangan mencemari lingkungan oleh kendaraan yang lalu-lalang. Buatlah
udara ini segar, sehingga kita sebagai makhluk bumi dapat merasakan keindahan
alam yang sebenarnya. Dapat merasakan saat bumi tertawa, bumi hijau, bumi
melakukan kita dengan baik.Masih ada generasi selanjutnya yang ingin menikmati
itu semua.Menikmati udara pagi yang cerah dengan bunga-bunga liar yang selalu
menyapa disetiap paginya. Menikmati kicauan burung yang bertengger diatas dahan
pohon yang tinggi,
Menikmati
musim yang selalu berganti secara beraturan. Dan tidak terlalu kepanasan akibat
pemanasan global yang terjadi akibat efek rumah kaca yang nantinya akan
bergantian oleh badai dan curah hujan yang dapat membanjiri seluruh kota dan
menenggelamkan seluruh makhluk bumi.
Menikamati
alam dengan senyuman yang membentang bak tata surya yang diterangi oleh cahaya
matahari dengan anggunnya berputar pada porosnya. Semburat indah dengan
lengkungan kekuningan seakan menutupi separuh awan dengan corak keindahan yang
menyaksikan akan arti alam yang begitu menampilkan sejuta keajaiban yang terus
mengikat dalam suatu keabadian kehidupan.
Ada
banyak hal yang ingin kukatakan. Apa kau ingin mendengarnya? Kurasa tidak, tapi
ketika kau pergi waktu itu... itu mengingatkanku pada apa yang telah terjadi
sebelumnya. Maaf, aku tidak bisa mencegahmu, aku tak dapat mengatakan ‘Jangan pergi’
karena aku hanya bisa memandangi punggungmu yang mulai menjauh meninggalkanku
sendiri. Entah apa yang kurasakan saat itu, tapi dalam hati aku MERINDUKANMU.
Mengertilah !!
“Kau mau?” ujar lelaki jangkung dengan balutan jaket dan
topi kupluk diatas kepalanya. Sebuah lolypop yang ia sodorkan kearah wanita
yang sedang duduk dikursi kayu panjang dibawah pohon maple yang berguguran.
Waktu itu adalah musim semi, ketika musim semi tiba... malam terasa singkat dan
siang menjadi panjang. Kau mungkin tak dapat memikirkan hal-hal yang konyol
atau mungkin seperti bungkulan bunga yang tiba-tiba berhamburan diatas kepalamu.
Tidak mungkin, sebab saat itu kau tak akan mengerti kemana arah fikiran konyol
itu berjalan.
“Kau seperti anak kecil” ujar wanita berambut hitam
panjang itu. Gesekan angin menggerakkan poni-poni kecilnya, lembut. Beginikah
musim semi, kau tau... musim semi saat ini sangatlah berbeda seperti musim semi
lainnya. Mengherankan, jika semuanya menjadi dingin, entah ulah angin atau
sesuatu apa itu yang lembut, yang tidak kita ketahui arahnya dan membuat
kedinginan itu seolah menjelajari sekitar tempat ini.
“Benarkah, itu tidak seperti yang aku fikirkan. Ada apa?
Kau berada ditempat ini pasti telah terjadi sesuatu” ujar lelaki itu, seolah
merasakan apa yang ada dalam hati wanita yang tengah duduk mengangkat kepala,
menikmati pelukan angin dan membiarkan daun-daun maple menjatuhi wajahnya. Kau
tidak akan sadar, meski kau telah mengetahuinya. Sebab fikiranmu kau biarkan
melonjak dalam kekacauan hidup yang kau ciptakan sendiri, terserahlah... jika
mereka disana menertawakanmu. Bukankah lebih baik? Atau kau mencoba memperburuk
keadaan dengan membalas mereka. Tidak mungkin.
“Sesuatu telah terjadi? Aku hanya ingin menikmati hari
pertama musim semi. Adakah masalah untukmu? Bagaimana dengannya?” sarkatis,
namun lelaki itu benarkah tidak sadar? Dengannya? Apa kau tau maksudnya? Tidak,
sepertinya akan membingungkanmu dan kau tidak akan mengerti kemana ini akan
dimulai. Dan saat itu, kau pun akan mengerti dengan semua ini, entahlah.
Cobalah untuk pahami semuanya, sebab itu tidak boleh membingungkan fikiranmu.
“Dia...?!” terdengar terperanjat. “Bagaimana menurutmu?
Akankah lebih baik jika bersama dia?” ujarnya, seolah itu memberatkan batin dan
fikirannya untuk mengucapkan hal seperti itu. Bersama? Kemana arahnya, kau
bingung bukan? Apakah sudah terjadi. Mereka bersama? Tanpa sepengetahuannya.
Kau menyembunyikannya. Bagaimana menurutmu? Itukah lebih baik?
“Mengapa bertanya? Kufikir kau sudah memikirkan hal yang
terbaik. Jika itu baik menurutmu? Bagaimana lagi?” wanita itu berucap, dia
menarik ujung rambutnya dan menyematkan ditelinganya. Benarkah dia mengatakan
hal seperti itu? Bagaimana perasaannya? Kau mungkin tidak akan percaya.
Mungkinkah sama halnya dia menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin diketahui
orang lain? Lihatlah ruang matanya? Apa kau tidak melihat dengan jelas beningan
embun yang telah memenuhi ruang mata kecilnya itu? Dan apa kau tidak
menyadarinya, ketika dia mengangkat kepala membiarkan dirinya memandangi langit
yang cerah diawal musim semi ini?.
Lelaki itu melenguh, sedari tadi dia berdiri didepan
wanita berambut panjang itu. Apa dia mengerti? Dan bermaksud untuk
menyembunyikan kebenaran yang telah ia simpan juga? Kau mungkin akan mengambil
tindakan bodoh dan itu akan berakibat fatal, sama seperti hal sebelumnya.
Jangan biarkan menangis, sebab... mungkin kau tak akan bisa lagi menghiburnya.
Lakukanlah, apa yang terbaik menurutmu. Benar!! Itu kata-kata yang pernah ia
dengar. Dia mengambil tempat duduk didekat wanita itu. Wanita itu sedikit
tersentak, dia mengalihkan mata memandangi sosok lelaki yang duduk
disebelahnya, lelaki yang tengah tersenyum memandanginya. Hamir saja, dia tidak
bisa mengalihkan pandangannya. Begitu pula sebaliknya, mungkin itu takdir. Apa
kau percaya dengan takdir? Bagaimana jika takdir itu berubah, atau takdir itu
semakin sulit. Semakin sulit untuk dilewati. Siapa yang akan mengerti? Mungkin
kau tidak akan bisa mengartikannya, tapi jika takdir itu benar-benar bersamamu,
untuk apa ditolak? Karena takdir bukan penolakan, lihailah dalam memikirkannya.
Untuk sekali lagi.
“Aku akan pergi?” lelaki itu berujar dan berhasil membuat
wanita itu langsung memperbaiki tempat duduknya. Sepertinya mencoba untuk
mendengar lebih jelas lagi. Apa telinganya telah salah menyimak ucapan lelaki
itu? Tidak mungkin. Kau belum tahu hal ini. Mengapa
tiba-tiba? Pergi? Berarti akan meninggalkan tempat ini. Kemana? Mengapa
sebelumnya tidak memberitahu? “Aku akan pergi minggu depan” ulangnya,
mencoba memperjelas lagi. Lelaki itu tersenyum, sementara wanita itu
kebingungan. Secepat inikah?
“Kau akan kemana?” wanita itu heran, benar-benar heran.
Apa ini perpisahan? Apa mereka tak akan bertemu lagi? Kau belum tahu kemana
perginya bukan? Sepertinya ini akan menjadi sebuah pertanyaan yang akan kau
tunggu jawabannya. Secepatnya!!
“New York, ibuku memintaku ke sana. Aku akan pindah dan
tinggal disana” ujarnya sembari tersenyum kearah wanita itu. Keputusan yang tiba-tiba.
Bagaimana bisa mengambil keputusan seperti itu?
“Kau akan pergi dan meninggalkan kami?Secepat itukah?
Mengambil keputusan itu, apakah sudah difikirkan baik-baik?” ujar wanita itu,
ia menunduk. Tentu saja, sedih. Kau tidak melihatnya? Memperhatikan wajahnya
yang memerah. “Kau akan meninggalkan dia juga?” lanjutnya. Pertanyaan macam apa
itu?. “Bukankah kalian baru saja...” dia tidak ingin melanjutkan kata-katanya.
Itu hanya akan menyakiti hatinya. Benar-benar menyakitinya. Dia menahan
beningan itu yang semakin memenuhi ruang matanya, ini tidak bisa dibiarkan.
“Kami tidak ada hubungan apa-apa. Apa yang kau fikirkan
sebenarnya? Andai saja aku bisa membaca fikiranmu. Hahaha” lelaki itu tertawa
terbahak. Tidak, tapi lihatlah wajahnya. Kau melihatnya? Bukankah itu seperti
dipaksakan? Apa hatinya menangis? Apa yang kau tahu soal hati? Benar, andaikan
seperti itu. Bisa membicara fikiran orang ya? Bukankah itu konyol?
“Benarkah? Kufikir... saat itu? Kau.,” wanita itu menutup
wajahnya, memerah? Dia tersipu malu. Selama ini dia salah, fikirannya dari
kemarin benar-benar kacau. Salah, dia salah menerka. Kau benar-benar tidak
membiarkan logikamu bermain, rupanya. “Oh... maaf” langsung, kata itu lebih
tepat dari pada malu sendiri. Ini tidak ada hubungannya dengan bintang yang
bersinar itu, tapi kau tidak pernah menyaksikan kunang-kunang yang berkeliaran
ditengah musim dingin, bukan?
Waktu itu benar-benar tiba. Sungguh?
Aku benar-benar tak bisa mencegah itu terjadi. Entah kenapa aku tidak bisa
mengejarmu? Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada diriku? Bahkan kakiku
sendiri tidak bisa untuk digerakkan. Tenggorokanku... dan tenggorokanku. Aku
tidak bisa mengeluarkan suaraku sendiri, tolonglah. Jangan pergi, kembali. Jika
kau tak ada.. aku benar-benar sendiri, aku sendiri. Aku tidak memiliki siapapun
lagi. Jika kau pergi, aku kesepian.
Wanita itu berdiri dibawah pohon cemara yang rimbun.
Desahan angin dimusim semi seakan memeluknya erat. ‘Dia akan pergi? Benarkah? Aku tidak akan membiarkannya pergi. Tidak
akan’ ujarnya dalam hati. Dia memandangi ribuan bintang di langit. Apa dia
sedang memohon?.
“Mengapa sendirian... Velax?” ujar sebuah suara, kau
tahu... malam itu bulan benar-benar terang. Mungkin purnama? Dia melihat sosok
berjalan dibawah rembulan yang terang. Jelas kau bisa melihatnya. Wanita itu
tersenyum, bahagia. Dia akan membujuknya agar tidak pergi. Itu harus, tidak
akan dibiarkan.
“Avraks..?” suara nyaring wanita itu menyambutnya dengan
senyuman. Embun dimatanya masih terlihat, kau mengerti bukan? Dan sekarang dia
bahagia, lelaki itu masih berada disisinya. Untuk saat ini.
“Velax” panggil lelaki itu. Dia semakin mendekat kearah
wanita itu, dan wanita itu menunggunya dengan senyuman. Mungkin dia gembira?
Tidak. Coba kau lihat wajah lelaki itu? Bukankah dia seperti sedih? Lebih
tepatnya dirundung duka.
“Hari ini, pamanku meninggal” lanjutnya, dan membuat
wanita itu tersontak kaget. Benarkah? Kau belum mengetahui itu? Apa dia
bersedih, coba kau lihat lebih dalam lagi wajahnya, dia tidak berbohong. Pada
kenyataannya memang seperti itu?
“Pamanmu meninggal?” wanita itu mengulang kembali, dia
menunduk. Apa dia berfikir, dan apakah kau akan mengubah keputusanmu untuk
membiarkan lelaki itu pergi? Hei, fikirkan lagi.
“Velax” lelaki itu memanggil namanya, ketika melihat
wajah wanita itu murung. Kemudian memiringkan tubuh wanita itu. Dia saling
berhadapan. Apa kau akan mengerti satu sama lain? Cobalah terbuka, dan katakan
sebenarnya ! Lelaki itu menarik tubuh wanita itu kedalam pelukannya, terang
saja wanita itu tersentak. “Aku senang tinggal bersamamu dan bersama mereka,
aku senang karena kalian adalah orang baik. Terimakasih, karena telah menerima
dan menyambutku dengan hangat” lelaki itu semakin memeluk lembut wanitanya.
Tapi, andaikan kau melihatnya. Embun itu sudah keluar dan menjadi buliran air
yang kini membanjiri wajah wanita itu. “Maaf, aku harus pergi. Mengertilah. Aku
tidak mungkin tinggal disini lagi. Selamat tinggal...” lelaki itu melepas
pelukannya dan pergi meninggalkannya. Sendirian. Dibawah cahaya rembulan.
Mengapa wanita itu tidak mengatakan apa-apa? Lihatlah,
kau bisa melihatnya dengan jelas. Dia menangis, tidak kuat menahan tubuhnya dan
dia terduduk jatuh. Melihat punggung lelaki itu yang semakin menjauh.
Mengucapkan selamat tinggal semudah itu? Benar-benar menyedihkan. Menangis...
sendirian dibawah rembulan dan ribuan bintang.
Aku tidak bisa mencegahmu. Aku
bingung, aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Apa yang kau lakukan padaku?
Kau sama sekali tidak melihat kebelakang. Kau sama sekali tidak berbalik dan
membantuku berdiri. Apa yang kau lakukan padaku? Kembalilah, kumohon. Aku tidak
ingin kau pergi, jangan mengucapkan selamat tinggal semudah itu. Kumohon...
kembalilah Avraks !!
The
END
Dibawah pohon
plum berguguran di bulan februari itu mengingatkanku pada sosok yang baru saja
melintas dihadapanku. Aku merasa belum bertemu dengannya, tapi seolah dia
begitu dekat denganku. Tubuh jangkungnya, raut wajahnya, senyum sinisnya dan
gerak-gerik yang menjadi ciri khasnya kini terpadu menjadi satu didalam memory
otakku. Meski kucoba buka seluruh isi dalam fikiranku, aku sama sekali tidak
menemukan dirinya. Namun, seolah hatiku berkata lain, mengatakan bahwa aku dan
dia begitu dekat.
Dia berada
disisi seberang jalan, tanpa melihatku dia tersenyum pada seorang rekan yang
berdiri menghadap pedagang obral dipinggir jalan.Tersenyum kearah penjual dan
wanita-wanita yang sedang menawarkan mantel wol hangat diakhir musim dingin.
Banyak orang yang diberikan senyuman olehnya,
aku berfikir ‘Jika saja aku berada
disekitar tempat itu, apakah senyuman itu akan diberikan padaku?’ Mungkin
ini terdengar konyol. Beberapa terakhir ini, bisa dibilang aku kehilangan
senyuman itu.
Akan
kuceritakan sesuatu yang masih kuingat, walau hanya sedikit mungkin akan lebih
baik jika kau mendengarnya. Sebelum peristiwa itu terjadi, membuatku sulit
mengingat semua yang telah terjadi dalam hidupku. Beberapa bulan, aku bisa
mengingat sedikit demi sedikit tentang beberapa hal, tentang orang-orang yang
masuk beberapa tahun lalu dalam hidupku.
Aku mengingat
tentang wajah kusut dan sedikit amburadul dihalte bis ditengah kota Tokyo.
Menggunakan seragam sekolah lengkap sambil bersiul dan menenteng tas
dipundaknya. Tampilan yang aneh bukan? Aku berdiri dibawah pohon cemara, dia
berjalan melewati diriku.
Memandangnya,
hanya itu yang dapat aku lakukan. Melihat gerak-geriknya, cekatan matanya yang
terlihat sayu, cara siulan yang menjadi ciri khasnya ketika menunggu bis lewat,
serta tangan kanan selalu dimasukkan kedalam saku celananya.
Tanpa sadar,
setiap kali aku bertemu dengannya ditempat itu membuatku mulai bersimpatik dan
sedikit demi sedikit suasana hatiku menjadi aneh. Perasaan itupun muncul dan
aku menahannya, menyembunyikannya jauh dari dasar hatiku. Acap kali aku
berjanji pada diriku akan mengutarakan dan membuat dia tahu akan perasaanku,
namun ketika aku sudah dekat bahkan sangat dekat dengannya... aku sama sekali
tak dapat berkata apapun. Yang kulakukan hanya mundur beberapa langkah,
merunduk membiarkan dia pergi begitu saja. Dia-yang bersikap acuh itu.
Seringkali aku
mendengar akan julukan yang diberikan oleh orang-orang padanya. Brandalan,
preman kota, bermain dengan kumpulan geng dan
hampir seluruh orang Tokyo menakutinya. Aku tidak perduli akan julukan
itu, kurasa itu bohong. Jika dilihat dari matanya, dia kesepian, dia baik. Mata
sayu yang pengertian menginginkan kasih sayang, ingin berada ditengah-tengah
orang banyak, ingin diketahui keberadaannya. Itulah dia, hanya saja... orang
tidak mengetahui apa yang tersirat dalam benaknya. Aku benar-kan?
Sebenarnya dia
tidak ingin membuat masalah, dia tidak pernah menindas yang lemah, dia ingin
membantu yang lemah. Ketika dia membantu orang lain, malah kebanyakan orang
berfikir kalau dia adalah penjahat, dia preman yang harus dijauhi. Padahal
sebenarnya tidak, kebanyakan orang tidak peka akan orang lain.
Aku yakin,
ketika waktunya akan tiba... dia akan dikelilingi oleh orang banyak, kebaikan
dan ketulusan hatinya akan diakui. Dia tidak akan sendiri lagi, tidak akan ada
sayu kesendirian itu didalam binaran matanya.
“Natsume...”
aku mendengar seseorang memanggil namaku yang menyadarkanku dari lamunan dan
ingatan yang selama ini berkeliaran didalam hatiku. “Ryuta...” lirihku pelan,
kulihat sosok lelaki dengan sunggingan senyum tipis sambil berlari kecil
kearahku . Dia menenteng plastik transparan, tampak kulihat benda dengan bentuk
sedikit lonjong, roti anpan. Dia baru saja membeli roti berisi kacang hijau itu
mungkin juga berbagai macam rasa.. “Maaf... kau menunggu lama” ujarnya, berdiri
didepanku. Air mancur yang memiliki lubang-lubang kecil dibagian pinggir,
sesuatu yang sangat ingin kusaksikan bersamanya. Suara deburan dari lubang air
yang memancurkan air-air kecil dengan sangat deras, membuatku tersenyum. Bersamaan dengan dia yang berbalik kearah
pemandangan air mancur yang indah itu.
Kami berada
disebuah bilik kecil dengan pagar bambu hijau. Didekat bunga plum yang
berguguran dengan warna merah dan putih yang indah. Tidak terasa, musim semi
akan tiba, aku akan sangat senang jika semuanya akan baik-baik saja. Yah...
semuanya akan baik-baik saja.
END
Aku
benar, dia masih ditempat. Menugguku. Mungkin untuk waktu yang lama... Tapi,
saat ini. Aku benar-benar tak mengharapkannya. Aku juga, tidak akan pernah
diharapkan olehnya. Padahal, semuanya baik-baik saja. Memang. Pada awalnya,
sebelum itu terjadi. Aku tidak pernah memikirkan hal-hal yang menghantui
fikiranku tentangnya. Yahh... ini mungkin akan membuatku menggunakan otakku
kembali untuk memikirkannya.
Meski
sudah kuputuskan, namun... nasi sudah menjadi bubur. Terlambat aku sadari, dan
terlambat aku mengerti. Membuatku takut, dengan kejutan yang tiba-tiba. Aku
menilik langit gelap dan bertanya pada angin yang lewat... namun aku hanya
mendapatkan desahan lembut yang masuk hingga menusuk kepori-pori kulitku.
Pada
selanjutnya, aku melihat langit yang cerah... kulihat matahari pagi segera
melangsang masuk melawan jendela kaca dikamarku. Seolah ingin memberitahuku
sesuatu, memang... aku membutuhkan jawabannya, dan yang kudapat hanyalah...
siluet cahaya memberikan kibaran senyum bersematkan cahaya seolah menghias
seluruh relung yang sedang coba kucerna dalam hati.
Aku
belum menyerah, kulihat ribuan bintang berkerlap-kerlip... namun, ketika
kuperhatikan lagi... kulihat cahaya bintang mars merah tengah tersenyum
kearahku. Aku belum mengerti, akan arti dari senyuman yang ia tampakkan
diantara ribuan bintang yang berkerlap-kerlip tanpa arti itu. Aku membuang
pandangan... melihat bulan besar yang berada diantara ribuan dan menjauh dari
mars merah itu. Bulan itu semakin berkilau, menerangkan sisi-sisi dipinggir-pinggirnya.
Seolah ikut bergembira akan gemerlapan bintang yang penuh dengan keajaiban alam
itu.
Hhh...
aku melengos, mencoba mengais apa yang ada dalam fikiranku. Tentang semuanya.
Yang kuyakini akan tersemat dalam jiwaku. Meski kumendahului tentang fikiran yang
kurasa belum masuk akal itu. Namun... akan kucoba.
Dan
pada saat itu datang, aku mengerti maksud dari semua itu. Aku menyadari...
tidak ada yang salah pada diriku. Aku selalu menyalahkan diriku, tanpa mengerti
dan menilik semuanya. Hingga pada saat itu... fikiranku kubiarkan melayang jauh
didalam angan. Fikiranku ku biarkan mengacau dalam batinku, tanpa sadar... dia
mengetahuinya. Lalu membuatku semakin bersalah dengan keadaan. Aku menangis,
aku mencoba menghindar. Berlalu dari hadapannya, menghindarinya, berlaku seolah
tak mengenal dan tak mengetahui akan kehadirannya. Kalimat apa yang bisa aku
katakan lagi? Ini membuatku bingung.
Dan
untuk kedua kalinya, merasuki fikiran yang selama ini kujaga dengan baik. Baru
saja ingin menyapanya, bermain dan mencoba untuk dekat dengannya... dia
membalas. Inilah balasan darinya. Aku yang melakukan itu lebih dahulu. Aku
tidak patut menyalahkannya. Karena aku memang yang salah. Setiap dia
memanggil... aku selalu acuh, dan sekarang. Ketika dia sudah berada didekatku...
semuanya seolah hampa, hilang.
Ketika
ada dia dan aku disana, dia selalu menghindar, pergi. Aku mengerti. Dan aku
tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tidak akan pernah. Aku meminta maaf, dan dia
mengatakan... tidak apa-apa, santai saja. Baginya tidak masalah... tapi aku,
itu benar-benar masalah. Lama... sekali, aku sampai tidak bisa memaafkan diriku
sendiri. Seolah akulah letak dan awal kesalahannya.
Sampai
seseorang mengatakan, aku keren, hebat, bagus. Karena aku menyampaikan
perasaanku padanya. Namun, ada pula yang tidak menyangka... kalau aku
benar-benar mengutarakan hal itu. Heh,,, aku hanya bisa mengatakan whatever...
Gadis yang jarang bergaul sepertiku ini... bisa mengutarakan hal seperti itu?
Namun,
ada pula seseorang yang mengatakan. Kamu salah, seharusnya bukan dia. Aku
tahu... menurut mereka dia bukan orang baik. Tapi... sebenarnya dia orang baik.
Entah kenapa? Setelah aku mulai menyukainya... banyak hal positif yang aku
fikirkan tentangnya. Memang... pada awalnya, aku takut terhadapnya... dia benar-benar
menakutkan. Tapi setelah... rasa itu hadir. Hanya hal positif yang mulai
bersarang dikepalaku tentang dia.
Menyukainya
juga... aku merasa, aku semakin dekat dengan yang lainnya. Aku sering keluar
kelas pada saat keluar main dan pergi kekantin,serta duduk dibawah pohon nangka
atau duduk didepan ruang guru dan ruang kelas. Aku tidak mengerti, mengapa aku
melakukan hal itu. Namun, itu semua sangat aku nikmati. Entah kenapa, aku ingin
berterimakasih padanya. Namun... itu tidak bisa, tidak akan pernah bisa.
Aku
sadar, memikirkan dan mengingatnya bukan hal yang baik bagiku. Aku dan dia
mungkin berbeda tujuan, kami akan pergi kearah yang berbeda. Saat ini... bagiku
itu tidak akan menjadi masalah. Dia akan melakukan apa yang ingin dilakukan
oleh hidupnya dan aku akan melakukan apa yang ingin dilakukan oleh hidupku.
Keinginan itu bisa saja tidak kita dapatkan jika tanpa rasa ikhlas dan tulus
yang menyertai. Aku mengerti, karena aku tidak melakukan apa-apa. Ini
menyadarkanku akan hal yang mungkin menjadi salah satu kisah dalam hidupku.
Saat
kami sudah berjauhan, serta saling tidak mengingat... mungkin akan ada sesuatu
yang akan terjadi. Dilain waktu, tempat dan yang tidak kita ketahui. Bukan
berarti sebuah harapan menunggu disana, tapi sesuatu yang akan menjadi kenyataan
yang tidak kita ketahui dalam hidup. Bukankah kita tidak tahu bagaimana rencana
tuhan? Meskipun kami tidak dipertemukan lagi, akan ada hal yang lebih baik
sedang menunggu. Disana...!! Mungkin akan menjadi sebuah keajaiban yang
benar-benar indah. Pada waktunya.
End


