Archive for 2014

Senandung Alam Yang Terlupakan

Sabtu, 27 Desember 2014
Posted by Unknown
Pandanganku tertuju pada sebuah hamparan seperti permadani indah menjulang memenuhi jagat raya.Senja berwarna merah kekuningan menyapu seluruh dataran langit sehingga membentuk guratan jingga yang membentuk kumparan indah dalam bentangan alam. Tanpa sadar, kakiku melangkah menuju tempat itu, lalu duduk di bawah pohon yang diam. Terlihat bunga-bunga liar yang tumbuh, meliuk-liuk bak sekumpulan peri-peri kecil yang indah dan menampakkan sinarnya, dan ditemani oleh beraneka daun kering yang tengah terbaring tak beraturan.
Mataku semakin menerka lebih jauh, kulihat tempat yang tak jauh diujung sana sangat-lah berbeda. Bising suara kendaraan yang tiada hentinya melaju dijalan raya, asap-asap dari pabrik mengepul tinggi seakan menutupi awan putih dilangit. Aku baru sadar, kabut pucat yang berasal dari asap pabrik dan kendaraan-kendaraan itu seakan meletup menutupi tempatku. Ternyata, tempatku ini hanyalah taman kecil yang berada diantara gedung-gedung pencakar langit.
“Mereka mengambil dan merampas semuanya, alam, lingkungan yang asri nan indah.Mereka tak sadar dengan apa yang telah mereka lakukan, menikmati dan mengambil kesenangan dari apa yang telah mereka dapatkan tanpa berfikir untuk mengembalikannya” Kalimat itu terus terngiang dalam telingku dan kini bergelayut dalam fikiranku. Ya, mereka menggantinya, menggantinya dengan pagar-pagar beton yang menurut mereka akan memperindah alam. Tidakkah mereka sadari?Walaupun diam tapi sebenarnya tumbuh-tumbuhan dan bumi menangis.Menangisi polusi yang telah merajalela.Bahkan es dikutub telah habis mencair, tak ada lagi tempat tinggal bagi para hewan yang ada dikutub.Kini mereka hanya-lah tinggal kenangan keragaman satwa ensiklopedia.
Telah banyak bencana datang yang merupakan bukti dari kemurkaan manusia, untuk mengingatkan manusia akan anugerahnya, akan apa yang semestinya dijaga dan pelihara, yang seharusnya dilestarikan. Bukankah kita(manusia) berhutang budi pada alam?Kita semua tidak pernah menyadarinya, keserakahan dan selalu ingin dan ingin itu seakan telah menguasai kita.
Sejenak aku teringat dengan apa yang telah terjadi pada beberapa tahun silam. Ketika kedatangan gejala alam El Nino yang menyebabkan kekeringan dan kebakaran. Wilayah tropis disekitar ekuator yang sepanjang tahun menerima energy radiasi sang surya. Sementara di lain pihak wilayah subtropis dan kutub hanya menerima sedikit energy. Sebagai reaksi ada yang berbeda dalam penerimaan energi dalam satu sistem muka bumi. Proses yang terjadi ini sangat bergantung pada besarnya energi sang surya. Ingatkah kita akan pemborosan energi yang terjadi, ketika pemborosan tersebut meningkatkan suhu panas pada langit akibat gas pembuangan yang mengapung di atmosfer memberikan efek rumah kaca terhadap deretan sejuta umat manusia didunia.  Ini ulah kita!! Ulah kita yang selalu merusak, selalu berfikir bahwa apa yang telah kita lakukan terlihat lebih indah dan sangatlah baik.Tak dapatkah kita berfikir, bagaimana dengan bumi ini?Bumi yang kita tempati?Bumi yang indah?Bumi yang hijau?Bumi yang memberikan beranekaragam cagar dan satwa, flora dan faunanya?
Lalu apa artinya kita sebagai manusia? Manusia hanya-lah mengungsi, tak malukah kita pada alam?Tak malukah kita pada tuhan yang telah memberikan semuanya? Tak malukah kita pada tumbuh-tumbuhan yang selalu tersenyum manis menyapa di setiap harinya?
Andai mereka bisa berbicara, mungkin mereka akan berteriak ‘Jangan tempati bumi ini, jika kau hanya akan merusaknya’. Jika mereka memiliki kaki, mungkin mereka akan berlari dari kejaran polusi yang akan membunuh mereka. Jika mereka memiliki tangan, mungkin mereka akan memukul satu-persatu makhluk yang ingin merusak mereka.Sayang !!Mereka tak memiliki semua itu.Mereka indah, mereka perlu dijaga, mereka butuh kasih sayang untuk di lestarikan.
Aku memejam-kan mata sejenak, menyandarkan punggungku pada batang pohon yang terasa sejuk nan rindang ini. Sebuah benda lembut terasa terjatuh menerpa wajahku.Lembut, kembali aku membuka mata, seketika benda itu kini tengah berada di telapak tanganku. Secarik daun yang berasal dari pohon ini, rapuh dan mengering. Fikiranku seakan melanglang jauh mengingat sebuah kisah, ketika si daun kecil memiliki sebuah harapan.Harapan untuk diturunkannya hujan.Ternyata air begitu sangat di perlukan, untuk manusia, dan seluruh makhluk yang ada dialam ini.
Dan yang sangat disayangkan adalah, ketika kita sebagai manusia menginginkan hal yang lebih. Tidak bisa membagi apa yang mereka punya dengan makhluk-makhluk indah yang sudah dianugerahkan oleh tuhan.Mereka tak mampu meminta, mereka juga tak mampu untuk mengambilnya sendiri.Coba fikir, bagaimana bunga-bunga indah yang berada di lingkungan yang asri tersenyum ramah, bersinar, meliuk-liukan daun yang diterpa oleh angin, bertumbuh lebat sehingga semakin mempercantik lingkungan. Kita hanya menikmati apa yang mereka miliki. Sementara mereka, mereka tulus membagikan keindahannya.
Aku teringat akan salah satu peristiwa. Kini flora dan fauna sudah terancam punah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana akhirnya jika tak ada hewan ataupun tumbuhan yang akan memperindah bumi ini? Salah satu satwa langka telah di jerat sampai mati oleh para manusia serakah.Bahkan aksi perburuan kini semakin merajalela, seperti perburuan badak yang sudah punah di salah satu margasatwa yang ada di Mozambik Selatan sana, begitupun rusa yang ada di Bangka Selatan sudah punah dan aksi penyelundupan satwa liar lainnya. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh para manusia seperti itu? Merusak semuanya…? Mengambil milik alam…? Tertawa ketika mendapatkan apa yang mereka inginkan…? Tertawa ketika menggunakan sumber daya alam untuk kesenangan pribadi…? Tertawa ketika melihat satwa liar punah…?
Tapi mereka tak sadar, bahwa ada kesedihan yang tengah menanti.Aku berfikir, ‘Dengan apa yang mereka lakukan terhadap alam… apa mereka akan sadar?’ Terkadang orang-orang lalai dan lebih terpagut pada apa yang mereka lakukan. Menangis. Ya, mereka bukan menangis untuk penyesalan, tapi mereka menangisi apa yang telah mereka dapatkan dan kemudian menghilang begitu saja.
Setelah semuanya kembali normal, mereka melakukan hal itu dan itu lagi.Begitu seterusnya, manusia memang tak pernah jera lebih tepatnya tidak mengenal kata ‘jera’.
Kita harusnya mampu memanfaatkan alam dengan lebih optimal bukan malah merusak lingkungannya.Dan tidak merusak hutan yang seharusnya kita lestarikan, yang membuat keseimbangan lingkungan tidak terjaga.
Meratapi kehidupan yang ditemani dengan polusi yang merajai alam, tanpa mengenal belas kasihan.Yang tak bersalah pun ikut menjadi korban, seperti para predator yang tertawa melihat musuh yang terbantai ditindas dengan begitu kejam.
Seakan peluang kehidupan begitu sempit, seolah pedang menancap dengan tajamnya diatas perut melukai setiap makhluk yang berdiri membela kebenaran. Andaikan aku seperti tumbuh-tumbuhan kering yang berada di tepi jalan dan selalu menghirup polusi yang betebaran diudara, menghirup bau polusi yang menyengat dan membunuh tanpa ampun.Entahlah, aku menggeleng keras.Sebuah benda bening mulai kurasakan pada bagian kelopak mataku, menyaksikan setiap tumbuh-tumbuhan yang meliuk-liuk dengan anggunnya yang mengenai benturan udara hitam.
Ya tuhan…!! Beginikah nasib para makhluk indah-mu yang tak bisa melakukan apa-apa?Ingin aku menyenandungkan kepedihan ini. Bagaikan tersayat menyaksikan akan alam terbuka yang begitu dahsyat keganasan membunuh setiap makhluk yang tak berdosa. Berdiri seakan ku terpaku, melihat salah satu keajaiban tuhan untuk alam yang telah diciptakan.
Eidelweist, bunga keabadian.Indah dan mengikat janji suci.Bunga ini seharusnya tumbuh di daerah pegunungan.Entahlah, kufikir para pendaki meninggalkannya ditempat ini.Atau mungkin seseorang telah membuangnya, menyia-nyiakannya.Benar !Manusia hanya menikmati keindahan alam yang telah disajikan hanya untuk sementara, setelah itu melupakannya, merusaknya, membunuhnya.Aku mengambil bunga itu, mencium aromanya.Indah, dan menakjubkan.
Aku berdiri dari tempat duduk-ku, desiran hangat nan sejuk menerpa tubuhku. Lagi, terlihat kepulan asap berasal dari hutan yang tak pernah mereka jaga. Aku hanya menggelengkan kepala, kenapa para manusia kembali melakukan itu?Para pengusaha seakan tertawa menyaksikan pemandangan yang menurut mereka indah dan menghasilkan uang, uang dan uang. Bahkan mereka tak berfikir apakah ini cara yang terbaik? Atau bahkan akan menghancurkan mereka? Begitulah…!! Fikiran mereka sudah dipenuhi oleh keserakahan yang merajalela, seakan menembus dada dan jantung mereka.
Aku tak tau… jika aku menjadi orang besar seperti mereka semua, apa aku akan berada di dalam sebuah ruangan yang indah, lalu duduk santai dan menghitung uang lalu menyuruh para pekerjaku untuk melakukan aksi yang dapat menghancurkan bumi ini? Entahlah, semoga tidak !!Aku tak ingin menyakiti alam ini, aku tak ingin membuat bumi ini menangis, aku tak ingin membuat bumi ini menumpahkan lahar panas, aku tak ingin bumi ini membunuh kami semua, aku tak ingin bumi ini hancur.
Aku tak ingin berhenti menatap matahari pagi yang selalu tersenyum menyapa, aku ingin selalu menikmati langit sore dengan senja yang begitu menakjubkan.Melampirkan lukisan dan guratan alamiah bercorak ciptaan tuhan.Aku ingin menikmati bentangan pelangi yang indah menampilkan senyum simpul dengan berjuta warna menyatu dalam satu sabuk yang mengabadikan persahabatan.Aku ingin menikmati malam yang ditemani cahaya bulan.Walaupun bulan hanya sendirian tapi ditemani oleh berjuta bintang yang selalu berkerlap-kerlip membentuk senyuman malam yang tak bisa pudar, membuat hati terasa tenang dan nyaman.
Semua ciptaan tuhan indah, seindah apa yang telah terlampir dalam alam. Alam diam, bukan berarti tak bisa berbuat apa-apa.Bumi menangis, bukan berarti lemah.Tumbuh-tumbuhan kecil, tapi memiliki banyak manfaat.Hutan menakutkan, hutan membunuh, hutan penuh dengan hewan buas bukan berarti merampas. Hewan itu diciptakan supaya manusia tidak membuat keonaran didaerah mereka, supaya manusia sadar, setiap makhluk yang terusik pasti akan marah. Setiap makhluk ingin melindungi tempatnya.Tidakkah kita berfikir? Hewan bisa berfikir untuk melindungi daerah yang ia tempati, sementara kita. Kita hanya bisa tertawa dengan bangga mengatakan ‘Aku memiliki segalanya, gedung-gedung tinggi yang menjulang kelangit, bisnis pabrik yang meluas, pembuangan limbah yang tersedia disungai sudah ku-kuasai’.Kita memandang alam sebagai sumber kekayaan, yang selalu siap dieksploitasi kapan dan dimana saja, dan oleh siapa saja untuk mengambil hal-hal yang diperlukan dan membiarkan begitu saja hal-hal yang tidak diperlukan.
Alam dan seluruh isinya memiliki harkat dan nilai, alam memiliki nilai karena ada kehidupan yang ada didalamnya.Kehidupan yang seharusnya di gunakan dengan sebaik mungkin, dimanfaatkan untuk melestarikan alam.
Bumi merupakan keseluruhan organisme yang ada dialam, mereka saling membutuhkan, saling menopang dan saling memerlukan.Kita manusia hanya sebagai salah satu unsur yang dapat saling mempengaruhi dengan lingkungan.Lingkungan asri apabila manusia menjaga dan melestarikannya dengan baik.Tapi entahlah… manusia tidak pernah memikirkan hal itu.
Eidelweist, bunga ini masih berada dalam genggaman tanganku.Aku menarik kedua sudut bibirku ketika seorang anak kecil melintas dihadapanku dengan bandana yang melekat dikepalanya.
“Apa itu?” dia mendekat kearahku dan aku mulai menjongkok mensejajarkan tubuhku dengan tubuhnya.
“Eidelweist… kau mau?” ucapku menyodorkan bunga itu kearahnya.
“Indah…” desisnya pelan.
“Kau tau?Bunga ini adalah bunga keabadian, bunga yang terikat oleh janji suci yang harus dijaga dengan sebaik mungkin” terangku, aku melayangkan tanganku pelan diatas rambutnya dan mengusapnya pelan.
“Apa seperti bunga peri?” tanyanya polos.Aku terkikik geli mendengar pertanyaannya.Peri, ini-lah dunia anak kecil. Percaya akan adanya peri yang indah dan datang setiap tahunnya untuk menggantikan musim.
“Kau tau soal peri?” aku bertanya seolah aku tertarik dengan percakapan ini.
“Iya, peri itu banyak sekali.Peri air, peri kesuburan, peri cahaya, peri bunga dan peri memperbaiki.Para peri ditugaskan untuk menggantikan musim setiap tahunnya.Dan kau tau…?” tanyanya tersenyum kearahku.
“Apa?”
“Ketika bayi tertawa untuk yang pertama kalinya, peri-pun terlahir.Hanya itu yang aku tau, bukankah itu menakjubkan” ucapnya girang.
Aku terkekeh mendengar penuturannya, dasar anak kecil.Percaya saja dengan kisah fantasy.
“Boleh aku mengambilnya?” tanyanya lagi, matanya tertuju pada eidelweist yang ada di tanganku.
“Tentu saja !ini untukmu” Dia tersenyum girang menerima eidelweist itu.
“Terimakasih…” ucapnya dan berlalu pergi.
Inilah dunia, terkadang anak kecil bangga dengan apa yang sudah menjadi kepercayaannya. Dan lebih menyukai hal-hal yang baru yang dapat disajikan sebagai kiasan untuk menyatukan imajinasinya.
Aku melangkah pelan, dalam hati aku berjanji “Aku akan menjaga bumi ini, menjadikan surga yang indah tanpa harus mengubahnya. Memberikan aroma fantasy yang menakjubkan dan menciptakan suasana yang berbeda”
Janganlah menjadi orang egois, alam ini butuh keindahan yang asri, butuh kelestarian, butuh kasih sayang dari para makhluk bumi. Jangan merasa, bahwa alam ini hanya milik generasi kita, tapi generasi-generasi selanjutnya pun masih ingin menikmati alam ini, menikmati kesejukan pohon yang rindang, menikmati cakrawala yang telah di ciptakan oleh tuhan, menikmati suatu keindahan pagi yang sejuk dan teduh, jangan mencemari lingkungan oleh kendaraan yang lalu-lalang. Buatlah udara ini segar, sehingga kita sebagai makhluk bumi dapat merasakan keindahan alam yang sebenarnya. Dapat merasakan saat bumi tertawa, bumi hijau, bumi melakukan kita dengan baik.Masih ada generasi selanjutnya yang ingin menikmati itu semua.Menikmati udara pagi yang cerah dengan bunga-bunga liar yang selalu menyapa disetiap paginya. Menikmati kicauan burung yang bertengger diatas dahan pohon yang tinggi,
Menikmati musim yang selalu berganti secara beraturan. Dan tidak terlalu kepanasan akibat pemanasan global yang terjadi akibat efek rumah kaca yang nantinya akan bergantian oleh badai dan curah hujan yang dapat membanjiri seluruh kota dan menenggelamkan seluruh makhluk bumi.

Menikamati alam dengan senyuman yang membentang bak tata surya yang diterangi oleh cahaya matahari dengan anggunnya berputar pada porosnya. Semburat indah dengan lengkungan kekuningan seakan menutupi separuh awan dengan corak keindahan yang menyaksikan akan arti alam yang begitu menampilkan sejuta keajaiban yang terus mengikat dalam suatu keabadian kehidupan.

Good Bye

Kamis, 07 Agustus 2014
Posted by Unknown

Ada banyak hal yang ingin kukatakan. Apa kau ingin mendengarnya? Kurasa tidak, tapi ketika kau pergi waktu itu... itu mengingatkanku pada apa yang telah terjadi sebelumnya. Maaf, aku tidak bisa mencegahmu, aku tak dapat mengatakan ‘Jangan pergi’ karena aku hanya bisa memandangi punggungmu yang mulai menjauh meninggalkanku sendiri. Entah apa yang kurasakan saat itu, tapi dalam hati aku MERINDUKANMU. Mengertilah !!
“Kau mau?” ujar lelaki jangkung dengan balutan jaket dan topi kupluk diatas kepalanya. Sebuah lolypop yang ia sodorkan kearah wanita yang sedang duduk dikursi kayu panjang dibawah pohon maple yang berguguran. Waktu itu adalah musim semi, ketika musim semi tiba... malam terasa singkat dan siang menjadi panjang. Kau mungkin tak dapat memikirkan hal-hal yang konyol atau mungkin seperti bungkulan bunga yang tiba-tiba berhamburan diatas kepalamu. Tidak mungkin, sebab saat itu kau tak akan mengerti kemana arah fikiran konyol itu berjalan.
“Kau seperti anak kecil” ujar wanita berambut hitam panjang itu. Gesekan angin menggerakkan poni-poni kecilnya, lembut. Beginikah musim semi, kau tau... musim semi saat ini sangatlah berbeda seperti musim semi lainnya. Mengherankan, jika semuanya menjadi dingin, entah ulah angin atau sesuatu apa itu yang lembut, yang tidak kita ketahui arahnya dan membuat kedinginan itu seolah menjelajari sekitar tempat ini.
“Benarkah, itu tidak seperti yang aku fikirkan. Ada apa? Kau berada ditempat ini pasti telah terjadi sesuatu” ujar lelaki itu, seolah merasakan apa yang ada dalam hati wanita yang tengah duduk mengangkat kepala, menikmati pelukan angin dan membiarkan daun-daun maple menjatuhi wajahnya. Kau tidak akan sadar, meski kau telah mengetahuinya. Sebab fikiranmu kau biarkan melonjak dalam kekacauan hidup yang kau ciptakan sendiri, terserahlah... jika mereka disana menertawakanmu. Bukankah lebih baik? Atau kau mencoba memperburuk keadaan dengan membalas mereka. Tidak mungkin.
“Sesuatu telah terjadi? Aku hanya ingin menikmati hari pertama musim semi. Adakah masalah untukmu? Bagaimana dengannya?” sarkatis, namun lelaki itu benarkah tidak sadar? Dengannya? Apa kau tau maksudnya? Tidak, sepertinya akan membingungkanmu dan kau tidak akan mengerti kemana ini akan dimulai. Dan saat itu, kau pun akan mengerti dengan semua ini, entahlah. Cobalah untuk pahami semuanya, sebab itu tidak boleh membingungkan fikiranmu.
“Dia...?!” terdengar terperanjat. “Bagaimana menurutmu? Akankah lebih baik jika bersama dia?” ujarnya, seolah itu memberatkan batin dan fikirannya untuk mengucapkan hal seperti itu. Bersama? Kemana arahnya, kau bingung bukan? Apakah sudah terjadi. Mereka bersama? Tanpa sepengetahuannya. Kau menyembunyikannya. Bagaimana menurutmu? Itukah lebih baik?
“Mengapa bertanya? Kufikir kau sudah memikirkan hal yang terbaik. Jika itu baik menurutmu? Bagaimana lagi?” wanita itu berucap, dia menarik ujung rambutnya dan menyematkan ditelinganya. Benarkah dia mengatakan hal seperti itu? Bagaimana perasaannya? Kau mungkin tidak akan percaya. Mungkinkah sama halnya dia menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin diketahui orang lain? Lihatlah ruang matanya? Apa kau tidak melihat dengan jelas beningan embun yang telah memenuhi ruang mata kecilnya itu? Dan apa kau tidak menyadarinya, ketika dia mengangkat kepala membiarkan dirinya memandangi langit yang cerah diawal musim semi ini?.
Lelaki itu melenguh, sedari tadi dia berdiri didepan wanita berambut panjang itu. Apa dia mengerti? Dan bermaksud untuk menyembunyikan kebenaran yang telah ia simpan juga? Kau mungkin akan mengambil tindakan bodoh dan itu akan berakibat fatal, sama seperti hal sebelumnya. Jangan biarkan menangis, sebab... mungkin kau tak akan bisa lagi menghiburnya. Lakukanlah, apa yang terbaik menurutmu. Benar!! Itu kata-kata yang pernah ia dengar. Dia mengambil tempat duduk didekat wanita itu. Wanita itu sedikit tersentak, dia mengalihkan mata memandangi sosok lelaki yang duduk disebelahnya, lelaki yang tengah tersenyum memandanginya. Hamir saja, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Begitu pula sebaliknya, mungkin itu takdir. Apa kau percaya dengan takdir? Bagaimana jika takdir itu berubah, atau takdir itu semakin sulit. Semakin sulit untuk dilewati. Siapa yang akan mengerti? Mungkin kau tidak akan bisa mengartikannya, tapi jika takdir itu benar-benar bersamamu, untuk apa ditolak? Karena takdir bukan penolakan, lihailah dalam memikirkannya. Untuk sekali lagi.
“Aku akan pergi?” lelaki itu berujar dan berhasil membuat wanita itu langsung memperbaiki tempat duduknya. Sepertinya mencoba untuk mendengar lebih jelas lagi. Apa telinganya telah salah menyimak ucapan lelaki itu? Tidak mungkin. Kau belum tahu hal ini. Mengapa tiba-tiba? Pergi? Berarti akan meninggalkan tempat ini. Kemana? Mengapa sebelumnya tidak memberitahu? “Aku akan pergi minggu depan” ulangnya, mencoba memperjelas lagi. Lelaki itu tersenyum, sementara wanita itu kebingungan. Secepat inikah?
“Kau akan kemana?” wanita itu heran, benar-benar heran. Apa ini perpisahan? Apa mereka tak akan bertemu lagi? Kau belum tahu kemana perginya bukan? Sepertinya ini akan menjadi sebuah pertanyaan yang akan kau tunggu jawabannya. Secepatnya!!
“New York, ibuku memintaku ke sana. Aku akan pindah dan tinggal disana” ujarnya sembari tersenyum kearah wanita itu. Keputusan yang tiba-tiba. Bagaimana bisa mengambil keputusan seperti itu?
“Kau akan pergi dan meninggalkan kami?Secepat itukah? Mengambil keputusan itu, apakah sudah difikirkan baik-baik?” ujar wanita itu, ia menunduk. Tentu saja, sedih. Kau tidak melihatnya? Memperhatikan wajahnya yang memerah. “Kau akan meninggalkan dia juga?” lanjutnya. Pertanyaan macam apa itu?. “Bukankah kalian baru saja...” dia tidak ingin melanjutkan kata-katanya. Itu hanya akan menyakiti hatinya. Benar-benar menyakitinya. Dia menahan beningan itu yang semakin memenuhi ruang matanya, ini tidak bisa dibiarkan.
“Kami tidak ada hubungan apa-apa. Apa yang kau fikirkan sebenarnya? Andai saja aku bisa membaca fikiranmu. Hahaha” lelaki itu tertawa terbahak. Tidak, tapi lihatlah wajahnya. Kau melihatnya? Bukankah itu seperti dipaksakan? Apa hatinya menangis? Apa yang kau tahu soal hati? Benar, andaikan seperti itu. Bisa membicara fikiran orang ya? Bukankah itu konyol?
“Benarkah? Kufikir... saat itu? Kau.,” wanita itu menutup wajahnya, memerah? Dia tersipu malu. Selama ini dia salah, fikirannya dari kemarin benar-benar kacau. Salah, dia salah menerka. Kau benar-benar tidak membiarkan logikamu bermain, rupanya. “Oh... maaf” langsung, kata itu lebih tepat dari pada malu sendiri. Ini tidak ada hubungannya dengan bintang yang bersinar itu, tapi kau tidak pernah menyaksikan kunang-kunang yang berkeliaran ditengah musim dingin, bukan?
Waktu itu benar-benar tiba. Sungguh? Aku benar-benar tak bisa mencegah itu terjadi. Entah kenapa aku tidak bisa mengejarmu? Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada diriku? Bahkan kakiku sendiri tidak bisa untuk digerakkan. Tenggorokanku... dan tenggorokanku. Aku tidak bisa mengeluarkan suaraku sendiri, tolonglah. Jangan pergi, kembali. Jika kau tak ada.. aku benar-benar sendiri, aku sendiri. Aku tidak memiliki siapapun lagi. Jika kau pergi, aku kesepian.
Wanita itu berdiri dibawah pohon cemara yang rimbun. Desahan angin dimusim semi seakan memeluknya erat. ‘Dia akan pergi? Benarkah? Aku tidak akan membiarkannya pergi. Tidak akan’ ujarnya dalam hati. Dia memandangi ribuan bintang di langit. Apa dia sedang memohon?.
“Mengapa sendirian... Velax?” ujar sebuah suara, kau tahu... malam itu bulan benar-benar terang. Mungkin purnama? Dia melihat sosok berjalan dibawah rembulan yang terang. Jelas kau bisa melihatnya. Wanita itu tersenyum, bahagia. Dia akan membujuknya agar tidak pergi. Itu harus, tidak akan dibiarkan.
“Avraks..?” suara nyaring wanita itu menyambutnya dengan senyuman. Embun dimatanya masih terlihat, kau mengerti bukan? Dan sekarang dia bahagia, lelaki itu masih berada disisinya. Untuk saat ini.
“Velax” panggil lelaki itu. Dia semakin mendekat kearah wanita itu, dan wanita itu menunggunya dengan senyuman. Mungkin dia gembira? Tidak. Coba kau lihat wajah lelaki itu? Bukankah dia seperti sedih? Lebih tepatnya dirundung duka.
“Hari ini, pamanku meninggal” lanjutnya, dan membuat wanita itu tersontak kaget. Benarkah? Kau belum mengetahui itu? Apa dia bersedih, coba kau lihat lebih dalam lagi wajahnya, dia tidak berbohong. Pada kenyataannya memang seperti itu?
“Pamanmu meninggal?” wanita itu mengulang kembali, dia menunduk. Apa dia berfikir, dan apakah kau akan mengubah keputusanmu untuk membiarkan lelaki itu pergi? Hei, fikirkan lagi.
“Velax” lelaki itu memanggil namanya, ketika melihat wajah wanita itu murung. Kemudian memiringkan tubuh wanita itu. Dia saling berhadapan. Apa kau akan mengerti satu sama lain? Cobalah terbuka, dan katakan sebenarnya ! Lelaki itu menarik tubuh wanita itu kedalam pelukannya, terang saja wanita itu tersentak. “Aku senang tinggal bersamamu dan bersama mereka, aku senang karena kalian adalah orang baik. Terimakasih, karena telah menerima dan menyambutku dengan hangat” lelaki itu semakin memeluk lembut wanitanya. Tapi, andaikan kau melihatnya. Embun itu sudah keluar dan menjadi buliran air yang kini membanjiri wajah wanita itu. “Maaf, aku harus pergi. Mengertilah. Aku tidak mungkin tinggal disini lagi. Selamat tinggal...” lelaki itu melepas pelukannya dan pergi meninggalkannya. Sendirian. Dibawah cahaya rembulan.
Mengapa wanita itu tidak mengatakan apa-apa? Lihatlah, kau bisa melihatnya dengan jelas. Dia menangis, tidak kuat menahan tubuhnya dan dia terduduk jatuh. Melihat punggung lelaki itu yang semakin menjauh. Mengucapkan selamat tinggal semudah itu? Benar-benar menyedihkan. Menangis... sendirian dibawah rembulan dan ribuan bintang.
Aku tidak bisa mencegahmu. Aku bingung, aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Apa yang kau lakukan padaku? Kau sama sekali tidak melihat kebelakang. Kau sama sekali tidak berbalik dan membantuku berdiri. Apa yang kau lakukan padaku? Kembalilah, kumohon. Aku tidak ingin kau pergi, jangan mengucapkan selamat tinggal semudah itu. Kumohon... kembalilah Avraks !!
The END

My Feel

Selasa, 05 Agustus 2014
Posted by Unknown

Dibawah pohon plum berguguran di bulan februari itu mengingatkanku pada sosok yang baru saja melintas dihadapanku. Aku merasa belum bertemu dengannya, tapi seolah dia begitu dekat denganku. Tubuh jangkungnya, raut wajahnya, senyum sinisnya dan gerak-gerik yang menjadi ciri khasnya kini terpadu menjadi satu didalam memory otakku. Meski kucoba buka seluruh isi dalam fikiranku, aku sama sekali tidak menemukan dirinya. Namun, seolah hatiku berkata lain, mengatakan bahwa aku dan dia begitu dekat.
Dia berada disisi seberang jalan, tanpa melihatku dia tersenyum pada seorang rekan yang berdiri menghadap pedagang obral dipinggir jalan.Tersenyum kearah penjual dan wanita-wanita yang sedang menawarkan mantel wol hangat diakhir musim dingin. Banyak orang yang diberikan senyuman olehnya,    aku berfikir ‘Jika saja aku berada disekitar tempat itu, apakah senyuman itu akan diberikan padaku?’ Mungkin ini terdengar konyol. Beberapa terakhir ini, bisa dibilang aku kehilangan senyuman itu.
Akan kuceritakan sesuatu yang masih kuingat, walau hanya sedikit mungkin akan lebih baik jika kau mendengarnya. Sebelum peristiwa itu terjadi, membuatku sulit mengingat semua yang telah terjadi dalam hidupku. Beberapa bulan, aku bisa mengingat sedikit demi sedikit tentang beberapa hal, tentang orang-orang yang masuk beberapa tahun lalu dalam hidupku.
Aku mengingat tentang wajah kusut dan sedikit amburadul dihalte bis ditengah kota Tokyo. Menggunakan seragam sekolah lengkap sambil bersiul dan menenteng tas dipundaknya. Tampilan yang aneh bukan? Aku berdiri dibawah pohon cemara, dia berjalan melewati diriku.
Memandangnya, hanya itu yang dapat aku lakukan. Melihat gerak-geriknya, cekatan matanya yang terlihat sayu, cara siulan yang menjadi ciri khasnya ketika menunggu bis lewat, serta tangan kanan selalu dimasukkan kedalam saku celananya.
Tanpa sadar, setiap kali aku bertemu dengannya ditempat itu membuatku mulai bersimpatik dan sedikit demi sedikit suasana hatiku menjadi aneh. Perasaan itupun muncul dan aku menahannya, menyembunyikannya jauh dari dasar hatiku. Acap kali aku berjanji pada diriku akan mengutarakan dan membuat dia tahu akan perasaanku, namun ketika aku sudah dekat bahkan sangat dekat dengannya... aku sama sekali tak dapat berkata apapun. Yang kulakukan hanya mundur beberapa langkah, merunduk membiarkan dia pergi begitu saja. Dia-yang bersikap acuh itu.
Seringkali aku mendengar akan julukan yang diberikan oleh orang-orang padanya. Brandalan, preman kota, bermain dengan kumpulan geng dan  hampir seluruh orang Tokyo menakutinya. Aku tidak perduli akan julukan itu, kurasa itu bohong. Jika dilihat dari matanya, dia kesepian, dia baik. Mata sayu yang pengertian menginginkan kasih sayang, ingin berada ditengah-tengah orang banyak, ingin diketahui keberadaannya. Itulah dia, hanya saja... orang tidak mengetahui apa yang tersirat dalam benaknya. Aku benar-kan?
Sebenarnya dia tidak ingin membuat masalah, dia tidak pernah menindas yang lemah, dia ingin membantu yang lemah. Ketika dia membantu orang lain, malah kebanyakan orang berfikir kalau dia adalah penjahat, dia preman yang harus dijauhi. Padahal sebenarnya tidak, kebanyakan orang tidak peka akan orang lain.
Aku yakin, ketika waktunya akan tiba... dia akan dikelilingi oleh orang banyak, kebaikan dan ketulusan hatinya akan diakui. Dia tidak akan sendiri lagi, tidak akan ada sayu kesendirian itu didalam binaran matanya.
“Natsume...” aku mendengar seseorang memanggil namaku yang menyadarkanku dari lamunan dan ingatan yang selama ini berkeliaran didalam hatiku. “Ryuta...” lirihku pelan, kulihat sosok lelaki dengan sunggingan senyum tipis sambil berlari kecil kearahku . Dia menenteng plastik transparan, tampak kulihat benda dengan bentuk sedikit lonjong, roti anpan. Dia baru saja membeli roti berisi kacang hijau itu mungkin juga berbagai macam rasa.. “Maaf... kau menunggu lama” ujarnya, berdiri didepanku. Air mancur yang memiliki lubang-lubang kecil dibagian pinggir, sesuatu yang sangat ingin kusaksikan bersamanya. Suara deburan dari lubang air yang memancurkan air-air kecil dengan sangat deras, membuatku tersenyum.  Bersamaan dengan dia yang berbalik kearah pemandangan air mancur yang indah itu.
Kami berada disebuah bilik kecil dengan pagar bambu hijau. Didekat bunga plum yang berguguran dengan warna merah dan putih yang indah. Tidak terasa, musim semi akan tiba, aku akan sangat senang jika semuanya akan baik-baik saja. Yah... semuanya akan baik-baik saja.
END

SORRY

Senin, 07 Juli 2014
Posted by Unknown
Aku benar, dia masih ditempat. Menugguku. Mungkin untuk waktu yang lama... Tapi, saat ini. Aku benar-benar tak mengharapkannya. Aku juga, tidak akan pernah diharapkan olehnya. Padahal, semuanya baik-baik saja. Memang. Pada awalnya, sebelum itu terjadi. Aku tidak pernah memikirkan hal-hal yang menghantui fikiranku tentangnya. Yahh... ini mungkin akan membuatku menggunakan otakku kembali untuk memikirkannya.
Meski sudah kuputuskan, namun... nasi sudah menjadi bubur. Terlambat aku sadari, dan terlambat aku mengerti. Membuatku takut, dengan kejutan yang tiba-tiba. Aku menilik langit gelap dan bertanya pada angin yang lewat... namun aku hanya mendapatkan desahan lembut yang masuk hingga menusuk kepori-pori kulitku.
Pada selanjutnya, aku melihat langit yang cerah... kulihat matahari pagi segera melangsang masuk melawan jendela kaca dikamarku. Seolah ingin memberitahuku sesuatu, memang... aku membutuhkan jawabannya, dan yang kudapat hanyalah... siluet cahaya memberikan kibaran senyum bersematkan cahaya seolah menghias seluruh relung yang sedang coba kucerna dalam hati.
Aku belum menyerah, kulihat ribuan bintang berkerlap-kerlip... namun, ketika kuperhatikan lagi... kulihat cahaya bintang mars merah tengah tersenyum kearahku. Aku belum mengerti, akan arti dari senyuman yang ia tampakkan diantara ribuan bintang yang berkerlap-kerlip tanpa arti itu. Aku membuang pandangan... melihat bulan besar yang berada diantara ribuan dan menjauh dari mars merah itu. Bulan itu semakin berkilau, menerangkan sisi-sisi dipinggir-pinggirnya. Seolah ikut bergembira akan gemerlapan bintang yang penuh dengan keajaiban alam itu.
Hhh... aku melengos, mencoba mengais apa yang ada dalam fikiranku. Tentang semuanya. Yang kuyakini akan tersemat dalam jiwaku. Meski kumendahului tentang fikiran yang kurasa belum masuk akal itu. Namun... akan kucoba.
Dan pada saat itu datang, aku mengerti maksud dari semua itu. Aku menyadari... tidak ada yang salah pada diriku. Aku selalu menyalahkan diriku, tanpa mengerti dan menilik semuanya. Hingga pada saat itu... fikiranku kubiarkan melayang jauh didalam angan. Fikiranku ku biarkan mengacau dalam batinku, tanpa sadar... dia mengetahuinya. Lalu membuatku semakin bersalah dengan keadaan. Aku menangis, aku mencoba menghindar. Berlalu dari hadapannya, menghindarinya, berlaku seolah tak mengenal dan tak mengetahui akan kehadirannya. Kalimat apa yang bisa aku katakan lagi? Ini membuatku bingung.
Dan untuk kedua kalinya, merasuki fikiran yang selama ini kujaga dengan baik. Baru saja ingin menyapanya, bermain dan mencoba untuk dekat dengannya... dia membalas. Inilah balasan darinya. Aku yang melakukan itu lebih dahulu. Aku tidak patut menyalahkannya. Karena aku memang yang salah. Setiap dia memanggil... aku selalu acuh, dan sekarang. Ketika dia sudah berada didekatku... semuanya seolah hampa, hilang.
Ketika ada dia dan aku disana, dia selalu menghindar, pergi. Aku mengerti. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tidak akan pernah. Aku meminta maaf, dan dia mengatakan... tidak apa-apa, santai saja. Baginya tidak masalah... tapi aku, itu benar-benar masalah. Lama... sekali, aku sampai tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Seolah akulah letak dan awal kesalahannya.
Sampai seseorang mengatakan, aku keren, hebat, bagus. Karena aku menyampaikan perasaanku padanya. Namun, ada pula yang tidak menyangka... kalau aku benar-benar mengutarakan hal itu. Heh,,, aku hanya bisa mengatakan whatever... Gadis yang jarang bergaul sepertiku ini... bisa mengutarakan hal seperti itu?
Namun, ada pula seseorang yang mengatakan. Kamu salah, seharusnya bukan dia. Aku tahu... menurut mereka dia bukan orang baik. Tapi... sebenarnya dia orang baik. Entah kenapa? Setelah aku mulai menyukainya... banyak hal positif yang aku fikirkan tentangnya. Memang... pada awalnya, aku takut terhadapnya... dia benar-benar menakutkan. Tapi setelah... rasa itu hadir. Hanya hal positif yang mulai bersarang dikepalaku tentang dia.
Menyukainya juga... aku merasa, aku semakin dekat dengan yang lainnya. Aku sering keluar kelas pada saat keluar main dan pergi kekantin,serta duduk dibawah pohon nangka atau duduk didepan ruang guru dan ruang kelas. Aku tidak mengerti, mengapa aku melakukan hal itu. Namun, itu semua sangat aku nikmati. Entah kenapa, aku ingin berterimakasih padanya. Namun... itu tidak bisa, tidak akan pernah bisa.
Aku sadar, memikirkan dan mengingatnya bukan hal yang baik bagiku. Aku dan dia mungkin berbeda tujuan, kami akan pergi kearah yang berbeda. Saat ini... bagiku itu tidak akan menjadi masalah. Dia akan melakukan apa yang ingin dilakukan oleh hidupnya dan aku akan melakukan apa yang ingin dilakukan oleh hidupku. Keinginan itu bisa saja tidak kita dapatkan jika tanpa rasa ikhlas dan tulus yang menyertai. Aku mengerti, karena aku tidak melakukan apa-apa. Ini menyadarkanku akan hal yang mungkin menjadi salah satu kisah dalam hidupku.
Saat kami sudah berjauhan, serta saling tidak mengingat... mungkin akan ada sesuatu yang akan terjadi. Dilain waktu, tempat dan yang tidak kita ketahui. Bukan berarti sebuah harapan menunggu disana, tapi sesuatu yang akan menjadi kenyataan yang tidak kita ketahui dalam hidup. Bukankah kita tidak tahu bagaimana rencana tuhan? Meskipun kami tidak dipertemukan lagi, akan ada hal yang lebih baik sedang menunggu. Disana...!! Mungkin akan menjadi sebuah keajaiban yang benar-benar indah. Pada waktunya.
End

Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Si Perangkai Kata -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -