Posted by : Unknown
Senin, 07 Juli 2014
Aku
benar, dia masih ditempat. Menugguku. Mungkin untuk waktu yang lama... Tapi,
saat ini. Aku benar-benar tak mengharapkannya. Aku juga, tidak akan pernah
diharapkan olehnya. Padahal, semuanya baik-baik saja. Memang. Pada awalnya,
sebelum itu terjadi. Aku tidak pernah memikirkan hal-hal yang menghantui
fikiranku tentangnya. Yahh... ini mungkin akan membuatku menggunakan otakku
kembali untuk memikirkannya.
Meski
sudah kuputuskan, namun... nasi sudah menjadi bubur. Terlambat aku sadari, dan
terlambat aku mengerti. Membuatku takut, dengan kejutan yang tiba-tiba. Aku
menilik langit gelap dan bertanya pada angin yang lewat... namun aku hanya
mendapatkan desahan lembut yang masuk hingga menusuk kepori-pori kulitku.
Pada
selanjutnya, aku melihat langit yang cerah... kulihat matahari pagi segera
melangsang masuk melawan jendela kaca dikamarku. Seolah ingin memberitahuku
sesuatu, memang... aku membutuhkan jawabannya, dan yang kudapat hanyalah...
siluet cahaya memberikan kibaran senyum bersematkan cahaya seolah menghias
seluruh relung yang sedang coba kucerna dalam hati.
Aku
belum menyerah, kulihat ribuan bintang berkerlap-kerlip... namun, ketika
kuperhatikan lagi... kulihat cahaya bintang mars merah tengah tersenyum
kearahku. Aku belum mengerti, akan arti dari senyuman yang ia tampakkan
diantara ribuan bintang yang berkerlap-kerlip tanpa arti itu. Aku membuang
pandangan... melihat bulan besar yang berada diantara ribuan dan menjauh dari
mars merah itu. Bulan itu semakin berkilau, menerangkan sisi-sisi dipinggir-pinggirnya.
Seolah ikut bergembira akan gemerlapan bintang yang penuh dengan keajaiban alam
itu.
Hhh...
aku melengos, mencoba mengais apa yang ada dalam fikiranku. Tentang semuanya.
Yang kuyakini akan tersemat dalam jiwaku. Meski kumendahului tentang fikiran yang
kurasa belum masuk akal itu. Namun... akan kucoba.
Dan
pada saat itu datang, aku mengerti maksud dari semua itu. Aku menyadari...
tidak ada yang salah pada diriku. Aku selalu menyalahkan diriku, tanpa mengerti
dan menilik semuanya. Hingga pada saat itu... fikiranku kubiarkan melayang jauh
didalam angan. Fikiranku ku biarkan mengacau dalam batinku, tanpa sadar... dia
mengetahuinya. Lalu membuatku semakin bersalah dengan keadaan. Aku menangis,
aku mencoba menghindar. Berlalu dari hadapannya, menghindarinya, berlaku seolah
tak mengenal dan tak mengetahui akan kehadirannya. Kalimat apa yang bisa aku
katakan lagi? Ini membuatku bingung.
Dan
untuk kedua kalinya, merasuki fikiran yang selama ini kujaga dengan baik. Baru
saja ingin menyapanya, bermain dan mencoba untuk dekat dengannya... dia
membalas. Inilah balasan darinya. Aku yang melakukan itu lebih dahulu. Aku
tidak patut menyalahkannya. Karena aku memang yang salah. Setiap dia
memanggil... aku selalu acuh, dan sekarang. Ketika dia sudah berada didekatku...
semuanya seolah hampa, hilang.
Ketika
ada dia dan aku disana, dia selalu menghindar, pergi. Aku mengerti. Dan aku
tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tidak akan pernah. Aku meminta maaf, dan dia
mengatakan... tidak apa-apa, santai saja. Baginya tidak masalah... tapi aku,
itu benar-benar masalah. Lama... sekali, aku sampai tidak bisa memaafkan diriku
sendiri. Seolah akulah letak dan awal kesalahannya.
Sampai
seseorang mengatakan, aku keren, hebat, bagus. Karena aku menyampaikan
perasaanku padanya. Namun, ada pula yang tidak menyangka... kalau aku
benar-benar mengutarakan hal itu. Heh,,, aku hanya bisa mengatakan whatever...
Gadis yang jarang bergaul sepertiku ini... bisa mengutarakan hal seperti itu?
Namun,
ada pula seseorang yang mengatakan. Kamu salah, seharusnya bukan dia. Aku
tahu... menurut mereka dia bukan orang baik. Tapi... sebenarnya dia orang baik.
Entah kenapa? Setelah aku mulai menyukainya... banyak hal positif yang aku
fikirkan tentangnya. Memang... pada awalnya, aku takut terhadapnya... dia benar-benar
menakutkan. Tapi setelah... rasa itu hadir. Hanya hal positif yang mulai
bersarang dikepalaku tentang dia.
Menyukainya
juga... aku merasa, aku semakin dekat dengan yang lainnya. Aku sering keluar
kelas pada saat keluar main dan pergi kekantin,serta duduk dibawah pohon nangka
atau duduk didepan ruang guru dan ruang kelas. Aku tidak mengerti, mengapa aku
melakukan hal itu. Namun, itu semua sangat aku nikmati. Entah kenapa, aku ingin
berterimakasih padanya. Namun... itu tidak bisa, tidak akan pernah bisa.
Aku
sadar, memikirkan dan mengingatnya bukan hal yang baik bagiku. Aku dan dia
mungkin berbeda tujuan, kami akan pergi kearah yang berbeda. Saat ini... bagiku
itu tidak akan menjadi masalah. Dia akan melakukan apa yang ingin dilakukan
oleh hidupnya dan aku akan melakukan apa yang ingin dilakukan oleh hidupku.
Keinginan itu bisa saja tidak kita dapatkan jika tanpa rasa ikhlas dan tulus
yang menyertai. Aku mengerti, karena aku tidak melakukan apa-apa. Ini
menyadarkanku akan hal yang mungkin menjadi salah satu kisah dalam hidupku.
Saat
kami sudah berjauhan, serta saling tidak mengingat... mungkin akan ada sesuatu
yang akan terjadi. Dilain waktu, tempat dan yang tidak kita ketahui. Bukan
berarti sebuah harapan menunggu disana, tapi sesuatu yang akan menjadi kenyataan
yang tidak kita ketahui dalam hidup. Bukankah kita tidak tahu bagaimana rencana
tuhan? Meskipun kami tidak dipertemukan lagi, akan ada hal yang lebih baik
sedang menunggu. Disana...!! Mungkin akan menjadi sebuah keajaiban yang
benar-benar indah. Pada waktunya.
End
