Archive for Juni 2015
Berkencan
dengan Daniel
27 November 2013. Cherrystone,
washingtone
Pagi ini aku bingung
dan benar-benar bingung, aku bahkan tak tahu mengapa aku seperti ini.Tapi aku
tahu, setidaknya aku tahu, ehm… maksudku sebuah kata yang membuatku untuk
memikirkannya kembali.Troy tersenyum nakal, dan sepertinya dia tahu rencanaku
dengan Daniel.
“Kupastikan, harimu
akan baik nona” ujarnya yang bersender pada pintu kamarku.
“Sepertinya kau
mengetahui sesuatu?Berhentilah tersenyum seperti itu, itu terlihat menjijikkan”
aku mengeluarkan beberapa pakaian dari lemari pakaianku.
“Kau bingung, hm…
kupastikan kau kebingungan memilih baju untuk kau gunakan.Benar?”ujarnya.
“Kembalilah
kekamarku, dan jangan menggangguku” usirku, tapi dia tidak mau beranjak dari
depan kamarku.
“Ayolah, Troy…”
lanjutku dan dia melengos pergi kemudian…
“Ever, berkencan. Ever
akan berkencan” teriaknya dan aku tak memperdulikannya. Aku berharap menemukan
pakaian yang akan kugunakan sekarang dan segera pergi.
Aku mengenakan kaos
biru sampai siku dan celana panjang coklat. Kupikir ini lebih pantas walaupun
terkesan jaman dulu.Tapi inilah gayaku.Aku keluar dan kulihat Troy bersama
ibuku tersenyum kearahku.
“Dia akan berkencan
dengan Daniel.Tetangga kita itu” ujar Troy dan aku seperti terperanjat untuk
sesaat.
“Apa urusanmu?Apa
perdulimu. Kau hanya anak kecil”
judasku.
“Jadi kau orang
dewasa.Ibu kau dengar, Ever sekarang telah menjadi orang dewasa. Lihatlah…”
ejeknya.
“Berhentilah menggoda
kakakmu. Masuk dan pergi belajar” bela
ibuku terhadapku. Untuk saat ini aku menang.
“Rasakan… Aku menang”
ujarku dan ibuku langsung memandangku dengan tatapan seperti mengatakan ‘Kau jangan seperti itu pada adikmu’.Lalu
ibuku menggerakkan kepala seperti menyuruhku untuk pergi, seperti biasa mencium
pipi dan keningnya lalu akupun pergi.
Aku membuka pintu
rumahku pelan dan kudapati Daniel berdiri sambil melipat kedua tangan dibawah
dada.
“Kau sudah lama
menunggu?” tanyaku pelan.
“Tidak terlalu.
Baiklah, kemana kita sekarang?” tanya Daniel.
“Kau tidak masalah
jika kita pergi ketoko buku?” ucapku dan dia hanya mengangguk.Selama
diperjalanan kami berdua hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata-pun.
“Aku memberitahu
Dylan akan berkencan denganmu” ujarnya, sembari meletakkan kedua tangan
dibelakang kepala.
“Lalu, bagaimana
tanggapannya?.Apa yang dikatakan?” ucapku.
“Dia hanya tersenyum dan mengatakan semoga harimu
menyenangkan. Yah begitulah” aku berani menjamin dia meniru gaya Dylan ketika
mengucapkan itu.
SCENE Other
Kedua remaja itu
duduk diatas kursi kayu panjang. Dibawah pohon ek yang rimbun. Suara
derusan angin menerpa wajah keduanya.
“Aku akan
membeli roti disana, kau tunggulah” ujar
seorang gadis dengan rambut panjang
putih pucat yang sengaja ia kuncir kuda pada pria yang tengah duduk
disampingnya. Sementara pria itu hanya mengangguk dan gadis itu pergi
meninggalkannya. Ever, gadis itu melewati jalan raya yang pada saat itu tidak
terlalu ramai oleh kendaraan. Tapi ramai
oleh lalu-lalang orang yang lewat. Dia menuju sebuah toko kecil yang ada
diujung, disana didapati seorang wanita tua yang tengah duduk disalah satu
kursi plastik sambil memandang kearah pintu masuk.
“Selamat datang”
ujarnya ketika Ever mendekatinya.
“Apa kau penjual roti
bakar ini?” ucap Ever ketika kedua matanya tertuju kearah roti-roti berbentuk persegi
itu.
“Iya, apa kau akan
membelinya. Akan kupanggilkan anakku untuk membungkuskan untukmu” lirihnya
pelan, lalu beberapa detik setelah dia mengucapkan hal itu, seorang wanita
dengan celemek biru keputihan datang, dia sedikit memperbaiki letak rambut hitamnya yang berantakan.
“Apa ada pelanggan?”
ujarnya cepat, dia memandangi Ever dan tersenyum pada gadis itu.
“Kau ingin membeli
apa?” tanyanya lagi. “Roti bakar” singkat gadis itu.
“Hari ini kami ada
menu special. Roti bakar dengan aroma kayu manis. Aku baru saja membuatnya, aku
akan memberikan gratis untukmu” ucapnya penuh dengan keceriaan.Dia mengambil
kantung plastik putih sambil bersenandung kecil.
“Anda tidak perlu…”
kata-kata Ever terhenti ketika wanita itu langsung menatap sedih kearahnya.
“Terimalah, karena
kau pelanggan pertama yang datang pagi ini.Jadi kumohon terimalah. Ini mungkin
sedikit memaksa.” ucapnya, dia memandangi gadis
itu dengan penuh harapan.
“Baiklah, terimakasih”
ucap gadis itu pelan.
“Nah…” ujar wanita
itu sembari memberikan kantung plastik berisi roti pesanan Ever.Setelah
beberapa menit berikutnya, Ever-pun meninggalkan tempat itu.
“Kau lama sekali”
ujar Daniel, pria itu berdiri didekat persimpangan jalan menunggu gadis itu.
“Maaf, aku membelinya
diujung jalan sana” ucap Ever
menunjuk jalanan panjang yang tidak terlalu ramai, bahkan jika dilihat
lagi malah terlihat sepi.
“Sebaiknya kita
kembali ketempat sebelumnya, kurasa kita akan menikmati roti ini dengan udara
segarnya” lanjut gadis itu.Lalu, Daniel mengangguk dan mereka menuju tempat
semula. Gerakan langkah mereka bersamaan, namun sesuatu membuat langkah Ever
terhenti, ketika ditempat mereka semula didapati 6 orang lebih tepatnya 3 gadis
dan 3 pria. Ever mengenal ketika gadis itu, Kattie dan kedua temannya.
“Kurasa kita akan celaka” kata Ever terdengar berbisik.
“Kau kenal mereka?”
tanya Daniel.
“Iya… tapi tidak terlalu
mengenal mereka” ujar gadis itu.
“Lalu, kenapa kau
merasa celaka ketika melihat mereka?” ucap Daniel.
“Aku ada sedikit
masalah, jadi apa kau akan meneruskan niatmu untuk kembali ketempat itu?” tanya
Ever memastikan.
“Mengapa tidak?
Bukankah ini tempat umum?” ujar Daniel dan berjalan mendahului Ever. Gadis itu
mengikuti dari belakang.
“Oh… kita bertemu
lagi, Cash” ucap gadis blonde itu.
“Rupanya dia sedang
berkencan dengan… Kurasa aku mengenalnya” ujar pria dengan rambut hitam dan
menggunakan kemeja coklat sampai siku.
“Kelas satu yang
tidak memiliki pendidikan.Dia bahkan berteman dengan komplotan geng.Kau tidak
akan percaya, bukankah itu yang sedang beredar disekolah” tambah pria yang
beralis tebal dan berdiri disebelah Katie. Ever mengangkat kepala memandangi
Daniel, pria itu kembali terlihat berbeda. Dia menatap dingin kearah Katie dan
teman-temannya. Ever hanya memandang wajah tirus pria itu yang dengan tatapan
dinginnya.
“Daniel…” lirih Ever
pelan, gadis itu takut sesuatu akan terjadi. Dia menarik lengan pria itu dan
menggenggamnya pelan.“Daniel…” suaranya pelan, namun berhasil menyadarkan pria
itu yang seperti dirasuki dan kini telah kembali seperti semula. Daniel
tersenyum kearah Ever dan balas menggenggam tangan gadis itu.
“Kau tak perlu
khawatir” ujarnya, kemudian maju beberapa langkah dan sembari berkata pada
Katie dan teman-temannya.
“Kau benar, aku
bergabung dengan komplotan geng.Bagaimana jika aku memanggil geng ku kesini dan
menghajar kalian?Aku bisa menghubunginya sekarang.Jadi kau harus berhati-hati,
kau bisa saja mati ketika kau pulang nanti.Dan jaga gadis-gadis mu itu.Mereka
bahkan terlihat menjijikkan”.
Mereka pergi
meninggalkan tempat itu. “Bagaimana bisa dia berkata seperti itu? Dia bahkan tidak memiliki
ssopan-santun terhadap seniornya. Heh…” marah pria dengan alis tebalnya.
“Kufikir kalian yang
membuat dia marah.Bukankah sudah kuberitahu kau tak perlu mengatakan hal
seperti itu?Itu hanya kabar burung yang tengah beredar disekolah kita-kan” ucap
pria berambut blonde dengan kaos putih yang menyelimuti tubuhnya.
“Tapi pada
kenyataannya dia benar-benar bergaul dengan komplotan geng. Sudahlah, kau tak
perlu membela pria itu” ucap pria beralis tebal dengan nada yang sedikit
dinaikkan. Sementara pria berambut blonde itu hanya menggeleng pelan.
“Sudahlah Jimmy,
Christ… kalian tidak perlu meributkan hal seperti itu” sela Katie.
“Aku akan memberikan
pelajaran untuk gadisnya, aku berani menjamin… dia tidak akan betah berada
disekolah.Dan Daniel, aku akan menyuruh pria itu berlutut untuk meminta maaf
pada kalian” lanjut Katie dan tersenyum evil dengan teman-temannya.
“Sudahlah, hentikan
rencana konyolmu itu Katie, kufikir itu tidak akan berhasil. Sebaiknya kalian
tidak terlalu berlebihan” bela pria berambut blonde.
“Christ… apa ada yang
salah dengan fikiranmu saat ini?” ujar gadis dengan rambut sebahunya.
“Tidak, tidak ada
yang salah. Aku tidak akan ikut dalam rencana bodoh kalian. Aku pergi” ujar
pria berambut blonde itu berjalan meninggalkan mereka.
Sementara dilain
tempat. -Daniel dan Ever- tengah menikmati roti bakar yang dibeli oleh Ever.
“Aku sangat menyukai ini.Lezat, apa disana terdapat banyak rasa?” ucap Daniel
sambil memasukkan roti kedalam mulutnya, Ever mengangguk. Lama dia-Daniel
mengunyah.
“Kau harus membantuku
ketempat toko roti ini.Aku akan membeli banyak” lanjutnya. Kembali ia
mengunyah, Ever memandangi pria yang duduk disebelahnya.
“Tadi itu, apa tidak
apa-apa?” ucapnya pelan.
“Maksudmu?” bingung
Daniel.
“Kau mengatakan bahwa
kau komplotan geng, dan kau bahkan mengancam mereka.Apa itu tidak masalah?”
ucap Ever berbicara hati-hati pada kalimat terakhir. Daniel menghentikan
kunyahannya. Kemudian membalas mata gadis itu lembut.
“Semuanya akan
baik-baik saja, aku tidak masalah jika mereka berfikir seperti itu.Tidak
masalah jika semua orang menjauhiku.Tapi aku tidak ingin kau menjauhiku. Aku
senang bersamamu Ever, aku bahagia bersamamu” ucap Daniel dan Ever merona. Ever
mengangkat tangan dan memegang wajah Daniel lembut.
“A..a-apa yang kau lakukan?”
ucap Daniel gelagapan.
“A-aku hanya, hanya
ingin me-menenangkan-mu. A-aku pernah membaca dibuku. Ji-jika seseorang tengah
bingung atau sedih. Ma-maka dia butuh sentuhan” ujar Ever gelagapan pula.
Langit terlihat cerah bahkan sangat cerah waktu itu, suasana disekitar mereka
terlihat penuh dengan warna. Disekitar mereka, penuh dengan bunga-bunga mekar
dimusim semi. Musim semi -EVER dan DANIEL-
Hubungan kakak dan adik
21 November 2013, Cherrystone, washingtone
Sore ini aku dan Troy pergi ke toko
buku yang baru dibuka, tempatnya tidak jauh dari rumah. Aku membantu Troy mencari
buku sejarah Amerika, kami menelusuri ruangan bercat hijau itu. Beberapa buku
tertata rapi di bagian rak yang terbuat dari kayu dengan motif biru tua,
seperti menyatu dengan tirai berwarna biru-keputihan yang beterbangan akibat
hembusan angin. Terkesan elegan dan klasik pada zaman sekarang. Beberapa
pajangan lukisan besar terpampang didinding. Aku sempat berfikir, apakah disini
menjual lukisan juga? Aku tertarik pada lukisan patung Liberty dengan langit
agak kehitam-hitaman ditengah kota.
“Aku heran, mengapa para pengunjung
seringkali mengamati lukisan Liberty itu” aku tersentak dengan ucapan seorang
pria yang tengah berdiri di belakangku. Namun aku tak menggubrisnya, dia
berdiri disebelahku.
“Kau dari SMA Cherrystone?” ujar pria
itu sembari tersenyum kearahku, aku hanya menyipit memastikan apa maksud
senyuman itu?.
“Hei... berhentilah menatapku seperti
itu. Apa kau fikir aku seorang penjahat atau sejenisnya?” lanjutnya, seolah
mengerti apa yang tengah menggerayang dalam fikiranku. ‘Hhh... berhentilah seolah engkau mengenalku’
. “Cash Everdeen, gadis yang memiliki
IQ diatas rata-rata 90%. Acuh dan tidak memiliki teman satu-pun”. ‘Berhentilah berkata seolah kau mengenalku
saja’.
“Selalu mendapat peringkat pertama di
kelas dan berani menegur serta bersikap acuh terhadap guru”. ‘Hhh... apa maksudnya ini? Jangan bertindak
seolah kau tahu banyak tentangku
’“Oi...Oi,
berhentilah memasang wajah seperti itu. Ehm... aku senang bertemu-”.
“Siapa kau?” ujarku dingin, sikap aneh
dan sok tahu. Menyebalkan.
“Kau dingin sekali” lanjutnya,
“Baiklah, namaku Drayson, kau bisa memanggilku Dray. Salam kenal Ever, aku
pergi. Dan kuharap kau bisa membantuku” ujarnya dan berlalu meninggalkanku.
Membantu? Bantu apa? Aku bahkan tak mengenalnya, apa yang bisa kubantu.
Sepertinya dia salah orang, aku memandangi punggungnya yang berlalu menjauh
dari hadapanku.
“Ever...” Aku tersentak ketika
kurasakan tangan seseorang menepuk bahuku pelan.
“Hei..., bisakah kau tidak
mengejutkanku?” ucapku sedikit membesarkan oktaf kalimat ketika kulihat Troy
berdiri sambil tersenyum miring kearah jendela.
“Hei... kau bertemu siapa? Aku bahkan
tak melihat wajahnya” ujarnya kemudian,
“Akan kuberitahu Daniel” lanjutnya.
“Apa maksudmu? Aku bahkan tak mengenal orang tadi. Berhentilah
berfikir hal-hal yang tak sepatutnya kau fikirkan. Bagaimana? Apa kau
mendapatkan buku-nya” ujarku dan ia tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
“Ini...” ujarnya mengangkat tangan
kanannya dan memperlihatkan buku yang ia dapatkan. -Sejarah Amerika tahun
1879-. Dan kami-pun langsung pulang.
22 November 2013, Cherrystone, washingtone
Aku berjalan melewati koridor kelas,
dari arah yang berbeda Samantha berdiri sambil melambai kearahku. Ralf dan
Daniel pun berada disana, aku tersenyum kearah mereka.
“Seperti biasa, untuk master Cash
Everdeen, kau dipersilahkan untuk berjalan lebih dulu” ujar Samantha. Yang
membuat mereka bertiga tertawa, hhh... sejak kapan Samantha memanggilku master?
Dan apa ini lucu? Aku menyelingkan mata kearah Samantha. Bagus. Dan ia
menghentikan tertawanya. Kalimat macam apa itu?
“Berhentilah seperti itu Ever, kau bahkan
menakuti Samantha. Sudahlah... ini hanya bercanda. Samantha mengatakan hal itu
karena setiap kita jalan bersama, kau seperti pemandu” ujar Daniel.
“Aku tidak mempermasalahkan hal itu.
Aku juga tidak mengerti maksud Samantha. Ayo...” ajakku. Daniel menyamakan
langkah denganku. Aku hanya memandang kedepan dan diam. Sementara Daniel, Ralf
dan Samantha mereka sibuk membicarakan hal yang menurut mereka lucu. Suara
tertawa mereka seakan membuatku tenang. Tuhan,
aku senang.
Sepulang sekolah, aku, Daniel, Ralf
dan Samantha akan pergi ke rumah Daniel. Kami akan minum anggur merah bersama. ‘Dylan
sudah membeli banyak anggur, dan menyuruhku untuk mengundang kalian’ ujar Daniel. Orang
yang baik. Sepulang sekolah, aku memperhatikan gelagat Daniel untuk kali ini
dia lebih banyak diam, tidak banyak omong seperti biasa? Apa yang sebenarnya
difikirkan oleh pria ini? Kami melewati jalan raya, disekitaran lebih banyak
orang yang lalu-lalang.
“Apa perlu kita mampir sebentar?” ucap
Daniel disebuah minimarket kecil. “Aku ingin membeli sesuatu” lanjutnya.
“Kau ingin membeli apa?” tanyaku
heran, tidak seperti biasanya.
“Yah... sesuatu untuk dimakan nanti”
ucapnya tersenyum, namun senyumnya terlihat getir dan sedikit takut. Entah apa
yang membuat pria itu terlihat berbeda hari ini.
“Kau benar. Untuk kita makan dirumah
Daniel. Ayo...” ujar Ralf dan membawa Daniel masuk, kemudian diikuti oleh
Samantha yang terlihat bersemangat juga. Sepertinya mereka belum menyadari
perubahan Daniel hari ini. Akupun mengikuti mereka. Mereka memilih beberapa
snack dan apple. Kemudian kami membayarnya dikasir wanita yang tersenyum dengan
topi merah khas perusahaan tempatnya bekerja.
“Kenapa harus membeli ini? Bukankah
kita bisa mengambilnya dirumahku?” ucapku pada akhirnya.
“Apa makanan seperti ini ada dirumahmu
Ever? Sepertinya tidak, kufikir kau lebih menyukai roti dengan
selai, atau makanan yang mengandung lebih banyak gula” ucap Ralf dan Samantha
pun mengangguk mengiyakan.
“Ah... bodoh, aku juga terbiasa
memakan makanan seperti itu” ujarku kesal.
Kami sudah sampai dirumah Daniel,
Daniel sibuk mengoceh dengan Ralf membicarakan tentang baseball dan semacam
jenis olahraga lainnya. Aku bahkan tak mengerti, apa yang menarik untuk pria
macam ini. Dia sedikit aneh dan sulit dimengerti.
“Oh... Hallo” ujar sebuah suara, dia?
Orang itu? Orang yang pernah kutemui ditoko buku kemarin.
“Kau? Sudah kuduga” ujar Daniel dan
berlari meninggalkan kami. Apa artinya ini? Aku heran kenapa Daniel seperti
itu.
“Hei, Daniel” teriak Ralf dan pria itu
tak menggubris sama sekali.
“Ah... anak itu, biarkanlah”
lanjutnya, kenapa dia selalu bersikap santai seperti itu?.
“Oi... kalian datang juga” ujar Dylan
yang tiba-tiba muncul membawa beberapa gelas anggur merah.
“Dia adalah Dray, kakaknya Daniel”
oh... astaga? Kakak Daniel? Pria ini?. Aku tahu, tapi masalah tentang dia
adalah kakak dari Daniel, aku baru tahu sekarang.
“Senang bertemu denganmu kak, Oh ya...
kenapa Daniel melarikan diri ketika melihatmu?” ujar Samantha yang kemudian
disambut oleh suara tawa dari Drayson, pria itu.
“Aah... dia memiliki brocon (brother
complex) semacam penyakit saudara yang memiliki perasaan terhadap kakak/adik
laki-laki” jelas kakak Daniel.
“Sejak kapan anak itu memiliki banyak
teman? Kalian mengurus Daniel dengan baik, terimakasih” lanjutnya.
“Dia juga sudah mau datang kesekolah
kak, ini berkat Ever” jelas Ralf.
“Aku tidak mengatakan jika itu
berkatku” protesku sambil menyesap anggur merah.
“Oh... kau ya? Tunggu, sepertinya kita
pernah bertemu. Tapi dimana?”. Keadaan kakak-beradik yang aneh.
“Toko buku” ucapku mengingatkan dengan
kesal.
“Oh... benar. Hahaha”. Bodoh, bukankah
waktu itu kau yang pertama kali menyapaku? Kau juga mengetahui tentangku?.
Daniel dan Drayson. Keluarga yang aneh, lalu Dylan?.
“Kalian bertiga, bersaudara-kah?” ujarku
akhirnya. “Hahahaha....” suara tawa dari Drayson,
“Aku sepupu mereka” balas Dylan.
Daniel lebih memilih tinggal ditempat Dylan, ada apa? Yang jelas aku belum
mengerti. Aku tidak terlalu tahu banyak tentang Daniel dan apa yang difikirkan
oleh pria itu. Masalahnya, sekarang dia berada dimana?
Lama kemudian, kami-pun memutuskan
untuk pergi meninggalkan rumah Dylan. Aku membantu membereskan gelas-gelas
kotor dan bekas sampah yang berserekan diatas meja. Sementara Samantha dan Ralf
sudah pulang. Setelah selesai, aku pamit pulang pada Dylan. Dan aku tidak melihat
Drayson. Aku menutup pintu rumah Dylan pelan, dan...
“Ever, kau Cash Everdeen. Senang
bertemu denganmu lagi” ujarnya.
“Tolong, jaga Daniel untukku. Ya...”
lanjutnya, kemudian aku mengangguk dan diapun masuk kedalam rumah Dylan. Aku
kembali berjalan meninggalkan rumah Dylan dan, sesuatu serasa menarikku sangat
cepat hingga aku tak bisa menahan diriku sendiri. Tubuhku terasa terbanting
disemak-semak dan kusadari mulutku tertutup oleh sebuah tangan. -Daniel-.
Apakah dia bersembunyi ditempat ini?.
“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya
sarkatis.
“Hanya meminum anggur” ujarku.
“Bisakah kau melepas tanganmu? Ini sakit” lanjutku.
“Oh... maaf” ujarnya dan menjaga jarak
agak berjauhan dariku. “Apa yang dikatakan Drayson?” tanyanya.
“Kau memiliki brocon, apa itu benar?”
jawabku.
“Apa? Tidak” balasnya. “Lalu kenapa
kau pergi?” tanyaku lebih penasaran.
“Bukan urusanmu, jangan banyak
bertanya”. Dia berbeda, ucapannya sarkatis dan bola matanya terlihat berbeda.
“Jadi begitu? Baiklah...” dan akupun
pergi meninggalkannya. Aku masih memikirkan Daniel, dia seperti ada masalah
dengan Drayson, aku tidak mengerti dengannya. Aku belum terlalu banyak
mengenalnya. Aku sudah berdiri didepan rumah, sebentar lagi matahari akan
tenggelam dan malam-pun akan tiba, aku memutuskan untuk kembali dan menemui
Daniel.
“Kenapa kau kembali?” tanyanya yang
masih duduk dengan menunduk dan terlihat sedih. Wajah itu, terlihat penuh
dengan fikiran.
“Kalau kau mau minum anggur, ada
dirumahku. Ada beberapa kue dan semacamnya. Ibuku membuatnya tadi pagi”
jelasku, dan kamipun pergi kerumahku. Aku mengajaknya ditempat biasa -Halaman belakang rumahku-.
“Maafkan aku...” ujarnya lembut,
sambil menyesap anggur merah. Dia menghendus pelan dan beberapa detik kemudian
dia mengambil sandwich yang ada dipiring dan mengunyahnya pelan.
“Sejak bertemu denganmu, hanya hal-hal
baik yang terjadi padaku. Aku senang bisa bertemu denganmu. Terimakasih”
ujarnya dan itu membuatku memerah. Pasti sekarang aku salah tingkah dan rona
merah dipipiku tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menghilang dari wajahku.
“Aku ingin melakukan sesuatu untukmu”
lanjutnya meletakkan gelas yang sudah kosong diatas meja bundar yang ada
dibelakang rumahku. Selanjutnya dia mengambil tempat didekatku.
“Apa yang bisa aku lakukan untukmu?”
tanyanya kemudian. “Kencan. Berkencanlah denganku” ujarku
spontan.
“Eh’- itu-
a’. B-baiklah. Ti,tidak masalah” ujarnya gelagapan. Aku belum mengenal dirinya.
Awal bagi Daniel
20 November 2013, Cherrystone, washingtone
Aku berjalan
ditengah keramaian koridor kelas dan melihat Daniel berdiri dan bersender di
pilar koridor. Aku berjalan tepat di hadapannya sambil memalingkan wajah kearah
lain.
“Hei...” panggilnya dan aku pun
berbalik, kemudian aku menuju kearahnya. Dia sudah berdiri tegak disamping
koridor.
“Bagaimana kabarmu pagi ini?” tanyaku.
“Yah, baik. Dan setidaknya cuaca
terlihat sedikit lebih cerah dari kemarin” ucapnya dan tersenyum kearahku, aku
sedikit terkesiap dan-
“Aku pergi, oh ya... aku sangat
menyukai senyummu. Jadi... kuharap kau akan selalu tersenyum pada semua orang.
Ingat, jangan memasang wajah musuh kearah yang lain” ucapku dan berlalu meninggalkannya.
Aku bahkan melontarkan kalimat itu, kalimat yang tak seharusnya kuucapkan pada
orang yang telah menolakku.
SCENE Other
Daniel, pria itu terlihat kaku dan
terdiam ditempat. Baru saja dia mendengar pujian dari seseorang yang kurang
lebih 2 bulan ini dekat dengannya. Dia sedikit merasa keanehan menggerogoti
seluruh hatinya, apakah dia harus mengikuti ucapan gadis itu.
“Aku menyukai senyummu. Jadi...
kuharap kau akan selalu tersenyum pada semua orang” kata-kata itu semakin
berputar dalam memory otaknya, entah ia harus mengikuti ataukah tidak? Tapi
kenyataan berkata...
Daniel berjalan ditengah koridor
dengan tubuh tegap, dia memperhatikan sekeliling. Memang, kian banyak orang tak
memperhatikannya. Kelakuannya-lah yang membuat semua orang menjauh meninggalkannya.
Ditengah perjalanan, tak sengaja seseorang membentur tubuhnya hingga membuat ia
berhenti ditempat.
“Ma-maaf, a-aku
tidak sengaja. Benar, a-aku benar-benar tak sengaja” suara ketakutan itu mulai
terdengar ditelinganya. Gadis itu benar-benar merinding dihadapan Daniel,
seketika Daniel mengangkat kepala dan sesuatu yang tak terduga, hingga membuat
pipi gadis itu benar-benar memerah.
“Tidak apa-apa” ucap Daniel dan
tersenyum manis kearah gadis itu. “K-kau tidak marah?” tanya gadis itu
memastikan.
“Aku tidak mempermasalahkan ini. Jika
kau berjalan, sebaiknya kau berhati-hati dan pandanganmu harus lurus kedepan”
ucap Daniel, benar-benar lembut. Sehingga beberapa gadis lainnya pun mulai
mendekat kearahnya.
“Daniel... kau sungguh tidak marah?”
tanya gadis lainnya.
“Iya... sudah, aku pergi dulu” ucap
Daniel kembali tersenyum dan melambai meninggalkan gadis-gadis itu.
“Apa kau tak melihatnya? Dia
benar-benar keren” ucap gadis lainnya terbawa ingatan akan senyuman Daniel.
“Ternyata dia memiliki sisi positif
juga. Ini benar-benar keren” ucap gadis pirang dengan rambut panjang yang
dikuncir kuda. Mereka terpesona akan senyuman Daniel. –Dia benar-benar
berbeda-.
“Daniel...” seseorang memanggil
namanya dengan nada tinggi, hingga dia berbalik kemudian bingung dengan pria
jangkung yang berada dihadapannya.
“Kau siapa?” tanyanya kemudian,
jelas-jelas pertanyaan-nya membuat pria yang dihadapannya ini heran dan hanya
bisa mengeluarkan nafas pasrah.
“Kau tidak mengenalku? Hei bukankah
kita berada dikelas yang sama?” tanya pria itu dengan lontaran kebingungan.
“Maaf... aku benar-benar tidak
mengenalmu” ucapnya dan berlalu meninggalkan pria jangkung itu yang hanya
menggelengkan kepala pelan.
“Kurasa kau melupakan sesuatu yang
pernah kau lakukan juga, hhh” ucap pria itu setengah berbisik.
Aku menyusuri koridor kelas yang penuh dengan
sesak keramaian para siswa-siswi Cherrystone. Hari ini benar-benar penuh dan
sesak. Akankah aku kembali setelah mendapat penolakan? Entah aku akan
memikirkan itu atau tidak? Yang jelas, aku ingin belajar untuk sekarang ini.
Kau tahu? Nilai ku benar-benar jatuh, aku tidak mau tahu apa penyebabnya
walaupun aku benar-benar mengetahuinya. Mungkin ke perpustakaan lebih baik dari
pada terlalu sering melihatnya. Aku memasuki ruangan itu, melihat seisi
perpustakaan. Sepi dan tenang. Aku mengambil tempat duduk dekat jendela,
hembusan angin melesak lewat celah jendela yang terbuka. Tirai orange
beterbangan pelan mengikuti gesekan angin yang lewat. Aroma disini benar-benar
alami. Aku menaruh kedua tanganku diatas meja lalu menidurkan kepala dan
bersender diatas tangan kiriku. Aku benar-benar lelah, sangat lelah.
“Hei... Ever” Dari arah seberang
jendela, kepala sesorang tiba-tiba menyembul dan tersenyum kearahku.
“Kau siapa?” tanyaku.
“Kau tidak mengenalku? Bukankah kita
satu kelas? Kau sama saja seperti Daniel. Oh... Aku Ralf. Ralf Carrot” ucapnya,
dia berpegangan pada balkon jendela, sesekali ia memperbaiki topi yang berada
diatas kepalanya.
“Ada perlu apa?” tanyaku, dia
tersenyum.
“Aku ingin mengatakan, kalau aku
menyukaimu”. Aaah... apa-apa’an dia? Itu bahkan tidak benar, terlihat jelas
dalam raut wajahnya.
“Kau berbohong” sinisku.
“Hahahaha... ketahuan ya. Oh... Kalian
sering bersama bukan?” ucapnya, “Dengan siapa?” tanyaku penasaran.
“Daniel”. Oh... pria itu?.
“Ralf, cepatlah...” seseorang
berteriak dari arah kejauhan. Aku melangkah menuju jendela.
“Siapa?” tanyaku penasaran.
“Temanku, baiklah... aku pergi. Jaga
hubunganmu dengan Daniel. Daah” dia melambai dan menyusul beberapa pria yang
mengenakan pakaian baseball.
“Hhh...” aku melemaskan tubuhku di
balkon jendela,
“Ternyata kau ada disini” aku
tersentak ketika wajah Daniel tiba-tiba muncul dijendela. Ini benar-benar
spontan.
“Bisakah kau tidak mengejutkan orang
lain?” tanyaku masih memegang dada, rasa keterkejutanku benar-benar spontan,
bagaimana bisa dia bersikap tenang seperti itu. Sementara ia hampir membuat
orang lain mati karenanya.
“Ada apa kau kesini?”
tanyaku membenarkan cara duduk.
“Akhir-akhir ini, aku jarang sekali
melihatmu. Apa kau bermaksud untuk menghindariku?” ucapnya memainkan bolpoin
milikku.
“Itu hanyalah perasaanmu saja,
sebaiknya kita keluar” ajakku dan berdiri, dia mengikutiku dari belakang.
Kami melewati koridor kelas, beberapa
gadis terlihat berbisik-bisik dan sesekali tersenyum ke arah Daniel. Selang
beberapa menit aku mengangkat kepala dan kulihat dia tampak tegap dan cuek
dengan gadis-gadis disekitar yang tengah tersenyum kearahnya. Hhh... dia bahkan
tidak tahu, betapa simpatiknya gadis-gadis itu terhadapnya. Kami berbelok
ditikungan koridor dan menuju kelas.
“Woy... Daniel, Ever” seseorang
menyerukan nama kami berdua. Di bangku pojok belakang kulihat Ralf tengah duduk
dengan Samantha, mereka seperti tengah membicarakan sesuatu.
“Kau mengenalnya?” tanya Daniel
padaku.
“Dia Ralf... aku baru saja bertemu
dengannya, ketika di perpustakaan” jelasku.
“Aku juga baru saja bertemu dengannya.
Aku baru tahu, selain dirimu ternyata ada juga yang memanggil namaku” ucapnya
tertawa. Tidak, bukan hanya aku dan dia. Kau bahkan tidak menyadari di luar
sana banyak gadis yang simpatik terhadapmu. Aku menuju kearah Ralf dan Sam,
kemudian diikuti oleh Daniel dibelakang.
“Bagaimana? Apa dia mengganggumu?
Ah... kufikir tidak, sepertinya kau cepat sekali berada di perpustakaan”
celoteh Ralf.
“Daniel...” panggil Ralf, dan “Ah...
bukankah kita baru saja bertemu? Aku Daniel” ucap Daniel.
“Ralf Carrot, kuharap kita bisa
menjadi teman”.
“Ah... tentu saja, kita sudah menjadi
teman”.
“Benarkah. Aku senang kalau begitu”
ujar Ralf hingga akhirnya mereka mengoceh berdua dan aku hanya memandangi awan
yang seperti berkelopak ditengah langit biru. Kufikir ini adalah awal bagi
Daniel, ketika ia akan mulai dikelilingi oleh banyak orang. Kuharap untuk
seterusnya akan seperti ini.
Diriku yang dulu tak pernah melihat
langit cerah
5 Oktober 2013, Cherrystone, washingtone
Saat jam
istirahat tiba, aku langsung meninggalkan kelas bersama Samantha... “Waah...
disini indah ya..” ucap Samantha menari-nari di taman belakang sekolah. Aku
bernaung dan duduk bersender dibawah pohon ek yang rindang dan lebat. Udara
disini sangat segar. Hhh... aku dapat merasakan hembusan angin lembut yang menerpa
tubuhku.
“Ever... kau terlihat lelah sekali,
Oh... aku akan mencari minum dikantin, kau tunggulah disini” ucap Samantha dan
berlalu meninggalkanku. Sepi... akhirnya aku dapat ketenangan. Ketenangan yang
kuinginkan, ketenangan yang akhir-akhir ini sulit kuraih... Setelah berhubungan
dengan beberapa orang yang mulai masuk dikehidupanku yang kurasa itu tak
mungkin, selain Samantha. Aku mencoba memejamkan mata barang sejenak.
SCENE Other
Ever, gadis itu terlelap dalam
mimpinya. Tanpa sepengetahuannya, seorang pria datang menghampiri dan tersenyum
kearah gadis yang tengah bersender dalam lelap itu. Dia memperhatikan wajah
Ever, kemudian terdengar suara derap langkah kaki mendekat kearahnya,
“Ever... ak-”
suara itu berhenti.
“Sssst...” sambil tersenyum pria itu
menaruh telunjuknya dibibirnya meminta gadis itu untuk diam. Kemudian gadis itu
berlari meninggalkan mereka berdua. Setelah kepergian gadis itu, pria yang tak
lain adalah Daniel, dengan lahan-perlahan, ia mengambil kepala ever dan
menjadikan pahanya sebagai bantal untuk Ever. Dia
tersenyum melihat gadis itu terlelap dalam tidur dan dia-pun menikmati hembusan
angin yang lewat.
AKU terbangun
dan kudapati... “Hei...” dia tersenyum.
“Hah.. D- Daniel?
Sejak kapan kau? Ah... aku terlambat” aku bangun dan berniat untuk berdiri,
tapi tangannya menutup mataku hingga aku terjatuh dan berbaring ditempat
semula.
“Sudah... tidur saja lagi” ucapnya,
aku memegang tangannya yang ada di atas mataku “Kenapa kau tidak
membangunkanku?” tanyaku, dia hanya tersenyum.
“Karena kau tidur dengan sangat lelap
dan juga kau terlihat manis saat tertidur”. Ucapan apa itu? Kenapa dia
mengatakan hal yang membuatku speechless
-lagi-? Jangan-jangan dia sengaja tidak membangunkanku?. Hari ini... cuacanya
sangat cerah. Pasti diriku yang dulu tak pernah menyadari bahwa langit terlihat
begitu biru cerah. Aku sadar... duniaku mulai meluas. Semua kebisingan yang
selama ini kudengar, kini terasa nyaman. Nyaman sekali.
“Daniel...” aku bangun dan berbalik
kearahnya. Dia tersenyum..
“Aku bersyukur dapat bertemu denganmu.
Aku sudah mulai menikmati kehidupanku ini” ucapku. Kini kehidupanku berubah dan
semua penilaianku tentang semua hal pun berubah. Aku tahu siapa yang
merubahnya... Daniel. Terimakasih, aku senang bertemu denganmu.
“Daniel...” aku memanggil namanya
lagi.
“Hm...?”,
“Aku menyukaimu..” Aku mengatakannya,
a-aku benar-benar mengatakannya.
A-apa yang akan dia fikirkan, bagaimana ini?
Kurasa keringat dingin membanjiri tubuhku.
“Hm... heh..” dia tersenyum, apa dia
mengejekku?
“A-aku
berbohong”.
“Kenapa wajahmu me-merah? Kau seperti
anak kecil yang baru saja diambil permennya oleh anak nakal” ucapnya tertawa,
Apa dia bersikap dewasa?.
“Lalu...? apa kau mau pacaran?”
tanyanya,
“Apa? Pa-pacaran?, hei
aku hanya berbohong” ucapku, huh...
“Benarkah? Hm... syukurlah”. Apa? Apa
yang dia katakan? Apa yang sebenarnya difikirkan oleh pria ini?
10 oktober 2013, Cherrystone, washingtone
Aku dan Daniel duduk dihalaman
belakang rumahku sambil menikmati senja yang akan kembali keperaduannya. Dia
mengambil bunga lili milik ibuku,
“Ini bagus...” dia bergumam lalu duduk
disampingku.
“Kau menyukainya?”
“Hm...” dia menghenduskan hidungnya
kearah bunga itu. Apa ini suatu kebiasaan? Kufikir ia... Dia bertindak seperti
orang gila. Dari pintu belakang kulihat Troy tersenyum evil kepadaku lalu ia
berjalan kearah kami.
“Hei Daniel... apa kakakku selalu
membuat masalah?” ucapnya, lalu duduk disamping Daniel, Daniel memandangku
sejenak lalu beralih ke Troy.
“Kufikir, tidak” ucapnya.
“Troy, sebaiknya kau masuklah kedalam
sebelum kau yang membuat masalah ditempat ini” aku menimpali. Dia menghendus
kesal dan masuk meninggalkan aku dan Daniel.
Daniel sibuk dengan bunga lili-nya
sementara aku berdiam diri dengan fikiranku sendiri.
“Apa kau tahu... Tuhan memutuskan
kapan manusia mendapat keberuntungan atau kesialan, jadi semuanya terlihat
seimbang” ucapnya dan membuatku tersentak dari lamunan anehku.
“Awalnya... aku tidak mempercayai itu
sama sekali, menurutku... itu hanyalah omong kosong belaka. Tapi akhir-akhir
ini aku berfikir. Bertemu denganmu adalah saat-saat beruntungku, jadi itu semua
menjadi seimbang. Semenjak bertemu denganmu, banyak hal-hal baik yang terjadi
padaku” ucapnya melemparkan batu krikil kecil kearah pagar kebun kecil milik
ibu lalu beberapa detik kemudian tersenyum kearahku. Aku menyerah.
“Daniel...” aku memanggil namanya.
“Hm...?” dia menatapku heran.
“Aku mencintaimu...” ucapku, aku sudah
memutuskannya dan aku mengulangi kejadian itu, raut wajahnya terlihat berubah,
sepertinya-terkejut. Dia memainkan bunga itu sambil menatap pohon holy yang
masih kecil, disebuah kebun
yang
terbilang tidak terlalu luas milik ibuku.
“Saat itu kau mengatakan ‘syukurlah’
setelah aku mengatakan aku berbohong. Aku tau, kau tidak ingin kasih sayang
dariku... tapi aku telah jatuh cinta padamu, Daniel. Apa yang harus aku
lakukan?”ucapku akhirnya, bola mataku masih menatap kearahnya, berharap dan
berharap.
“Kau ini... mengutarakannya secara
terus terang”, “Itu karena kau terus berpura-pura” sela-ku .
“Aku memang mencintaimu, tapi... mungkin
cintaku tidaklah sama dengan cinta yang kau rasakan” jelasnya melempar batu
krikil kecil kearah kebun milik ibuku.
“Sejujurnya... aku memiliki pandangan
buruk terhadapmu, Ever...” lanjutnya.
“Oh... aku tak perlu mendengarnya,
itu... yah, terserah kau saja. Tapi... aku tak ingin mendengarnya” ucapku
gelagapan.
“Hahahaha..., kau lucu sekali” ia
menyentuh kepalaku dan mengelusnya pelan. Kupastikan wajahku benar-benar
memerah, ya tuhan... Jelas dia telah menolakku.
“Aku akan menunggu, yah... aku akan
menunggu sampai kau menyukaiku. Dan aku akan mengatakannya untuk yang ke-dua
kali, ketika kau telah mulai mencintaiku” ucapku, aku harus menunggu,
menunggunya untuk kuraih dan kudapatkan. Setelah mengucap kata yang seperti
itu, aku merasa tenang dan tersenyum kearahnya.
“Hm... aku akan menunggu” ucapku.
Tiba-tiba dia berdiri dan tersenyum kearahku,
“Jadi... kau akan menunggu sampai aku
menyukaimu?” kembali ia bertanya.
“Iya...” ucapku spontan. Dia
berjongkok dihadapanku, dan mendekatkan wajahnya kewajahku. Sangat dekat,
terbilang sejengkal anak jariku. ‘Apa yang kau lakukan? Selalu saja seperti
ini? Berhentilah bermain-main denganku. Baru saja kau menolakku, bahkan tidak
sampai lima menit, kau telah berlaku seperti ini. Jadi kumohon jangan
berpura-pura. Daniel-. Bisikku dalam hati.
“Aku belum mengerti apa-apa tentang
cinta” ucapnya, seperti berbisik.
“Bagiku... itu semua hanyalah
sandiwara dunia. Sandiwara yang menyatukan seorang manusia dengan lain jenisnya
kemudian dunia merenggut kebahagiaan yang selama ini dibangun... dalam cinta
mereka. Hhh... akhirnya aku berbicara ngelantur. Jangan perdulikan aku” ucapnya
yang langsung menegakkan tubuhnya.
“Baiklah... mungkin aku terlalu lama
ditempat ini. Sebaiknya aku pulang saja, aku takut Dylan khawatir. Aku pergi”
ucapnya berdiri dan meninggalkanku.
“Tunggu...” ujarku setengah menjerit,
dia menghentikan langkahnya
“Aku... aku benar-benar akan
menunggumu” ucapku, dan dia berbalik kemudian setengah tersenyum.
“Terimakasih... Baiklah, aku pulang”
ucapnya dan melangkah meninggalkan ku sendirian ditaman belakang ini.



