Archive for Juni 2015

Love of Being (Part 9)

Jumat, 26 Juni 2015
Posted by Unknown
Berkencan dengan Daniel
27 November 2013. Cherrystone, washingtone
Pagi ini aku bingung dan benar-benar bingung, aku bahkan tak tahu mengapa aku seperti ini.Tapi aku tahu, setidaknya aku tahu, ehm… maksudku sebuah kata yang membuatku untuk memikirkannya kembali.Troy tersenyum nakal, dan sepertinya dia tahu rencanaku dengan Daniel.
“Kupastikan, harimu akan baik nona” ujarnya yang bersender pada pintu kamarku.
“Sepertinya kau mengetahui sesuatu?Berhentilah tersenyum seperti itu, itu terlihat menjijikkan” aku mengeluarkan beberapa pakaian dari lemari pakaianku.
“Kau bingung, hm… kupastikan kau kebingungan memilih baju untuk kau gunakan.Benar?”ujarnya.
“Kembalilah kekamarku, dan jangan menggangguku” usirku, tapi dia tidak mau beranjak dari depan kamarku.
“Ayolah, Troy…” lanjutku dan dia melengos pergi kemudian…
“Ever, berkencan. Ever akan berkencan” teriaknya dan aku tak memperdulikannya. Aku berharap menemukan pakaian yang akan kugunakan sekarang dan segera pergi.
Aku mengenakan kaos biru sampai siku dan celana panjang coklat. Kupikir ini lebih pantas walaupun terkesan jaman dulu.Tapi inilah gayaku.Aku keluar dan kulihat Troy bersama ibuku tersenyum kearahku.
“Dia akan berkencan dengan Daniel.Tetangga kita itu” ujar Troy dan aku seperti terperanjat untuk sesaat.
“Apa urusanmu?Apa perdulimu. Kau hanya anak  kecil” judasku.
“Jadi kau orang dewasa.Ibu kau dengar, Ever sekarang telah menjadi orang dewasa. Lihatlah…” ejeknya.
“Berhentilah menggoda kakakmu. Masuk dan pergi belajar” bela  ibuku terhadapku. Untuk saat ini aku menang.
“Rasakan… Aku menang” ujarku dan ibuku langsung memandangku dengan tatapan seperti mengatakan ‘Kau jangan seperti itu pada adikmu’.Lalu ibuku menggerakkan kepala seperti menyuruhku untuk pergi, seperti biasa mencium pipi dan keningnya lalu akupun pergi.
Aku membuka pintu rumahku pelan dan kudapati Daniel berdiri sambil melipat kedua tangan dibawah dada.
“Kau sudah lama menunggu?” tanyaku pelan.
“Tidak terlalu. Baiklah, kemana kita sekarang?” tanya Daniel.
“Kau tidak masalah jika kita pergi ketoko buku?” ucapku dan dia hanya mengangguk.Selama diperjalanan kami berdua hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata-pun.
“Aku memberitahu Dylan akan berkencan denganmu” ujarnya, sembari meletakkan kedua tangan dibelakang kepala.
“Lalu, bagaimana tanggapannya?.Apa yang dikatakan?” ucapku.
“Dia hanya  tersenyum dan mengatakan semoga harimu menyenangkan. Yah begitulah” aku berani menjamin dia meniru gaya Dylan ketika mengucapkan itu.
SCENE Other
Kedua remaja itu duduk diatas kursi kayu panjang. Dibawah pohon ek yang rimbun. Suara derusan  angin menerpa wajah keduanya.
“Aku akan membeli  roti disana, kau tunggulah” ujar seorang gadis dengan  rambut panjang putih pucat yang sengaja ia kuncir kuda pada pria yang tengah duduk disampingnya. Sementara pria itu hanya mengangguk dan gadis itu pergi meninggalkannya. Ever, gadis itu melewati jalan raya yang pada saat itu tidak terlalu ramai oleh kendaraan. Tapi ramai  oleh lalu-lalang orang yang lewat. Dia menuju sebuah toko kecil yang ada diujung, disana didapati seorang wanita tua yang tengah duduk disalah satu kursi plastik sambil memandang kearah pintu masuk.
“Selamat datang” ujarnya ketika Ever mendekatinya.
“Apa kau penjual roti bakar ini?” ucap Ever ketika kedua matanya tertuju kearah roti-roti berbentuk persegi itu.
“Iya, apa kau akan membelinya. Akan kupanggilkan anakku untuk membungkuskan untukmu” lirihnya pelan, lalu beberapa detik setelah dia mengucapkan hal itu, seorang wanita dengan celemek biru keputihan datang, dia sedikit memperbaiki letak  rambut hitamnya yang berantakan.
“Apa ada pelanggan?” ujarnya cepat, dia memandangi Ever dan tersenyum pada gadis itu.
“Kau ingin membeli apa?” tanyanya lagi. “Roti bakar” singkat gadis itu.
“Hari ini kami ada menu special. Roti bakar dengan aroma kayu manis. Aku baru saja membuatnya, aku akan memberikan gratis untukmu” ucapnya penuh dengan keceriaan.Dia mengambil kantung plastik putih sambil bersenandung kecil.
“Anda tidak perlu…” kata-kata Ever terhenti ketika wanita itu langsung menatap  sedih kearahnya.
“Terimalah, karena kau pelanggan pertama yang datang pagi ini.Jadi kumohon terimalah. Ini mungkin sedikit memaksa.” ucapnya, dia memandangi gadis  itu dengan penuh harapan.
“Baiklah, terimakasih” ucap gadis itu pelan.
“Nah…” ujar wanita itu sembari memberikan kantung plastik berisi roti pesanan Ever.Setelah beberapa menit berikutnya, Ever-pun meninggalkan tempat itu.
“Kau lama sekali” ujar Daniel, pria itu berdiri didekat persimpangan jalan menunggu gadis itu.
“Maaf, aku membelinya diujung  jalan sana” ucap Ever menunjuk  jalanan panjang  yang tidak terlalu ramai, bahkan jika dilihat lagi malah terlihat sepi.
“Sebaiknya kita kembali ketempat sebelumnya, kurasa kita akan menikmati roti ini dengan udara segarnya” lanjut gadis itu.Lalu, Daniel mengangguk dan mereka menuju tempat semula. Gerakan langkah mereka bersamaan, namun sesuatu membuat langkah Ever terhenti, ketika ditempat mereka semula didapati 6 orang lebih tepatnya 3 gadis dan 3 pria. Ever mengenal ketika gadis itu, Kattie  dan kedua temannya.
“Kurasa kita  akan celaka” kata Ever terdengar berbisik.
“Kau kenal mereka?” tanya Daniel.
“Iya… tapi tidak terlalu mengenal mereka” ujar gadis itu.
“Lalu, kenapa kau merasa celaka ketika melihat mereka?” ucap Daniel.
“Aku ada sedikit masalah, jadi apa kau akan meneruskan niatmu untuk kembali ketempat itu?” tanya Ever memastikan.
“Mengapa tidak? Bukankah ini tempat umum?” ujar Daniel dan berjalan mendahului Ever. Gadis itu mengikuti  dari belakang.
“Oh… kita bertemu lagi, Cash” ucap gadis blonde itu.
“Rupanya dia sedang berkencan dengan… Kurasa aku mengenalnya” ujar pria dengan rambut hitam dan menggunakan kemeja coklat sampai siku.
“Kelas satu yang tidak memiliki pendidikan.Dia bahkan berteman dengan komplotan geng.Kau tidak akan percaya, bukankah itu yang sedang beredar disekolah” tambah pria yang beralis tebal dan berdiri disebelah Katie. Ever mengangkat kepala memandangi Daniel, pria itu kembali terlihat berbeda. Dia menatap dingin kearah Katie dan teman-temannya. Ever hanya memandang wajah tirus pria itu yang dengan tatapan dinginnya.
“Daniel…” lirih Ever pelan, gadis itu takut sesuatu akan terjadi. Dia menarik lengan pria itu dan menggenggamnya pelan.“Daniel…” suaranya pelan, namun berhasil menyadarkan pria itu yang seperti dirasuki dan kini telah kembali seperti semula. Daniel tersenyum kearah Ever dan balas menggenggam tangan gadis itu.
“Kau tak perlu khawatir” ujarnya, kemudian maju beberapa langkah dan sembari berkata pada Katie dan teman-temannya.
“Kau benar, aku bergabung dengan komplotan geng.Bagaimana jika aku memanggil geng ku kesini dan menghajar kalian?Aku bisa menghubunginya sekarang.Jadi kau harus berhati-hati, kau bisa saja mati ketika kau pulang nanti.Dan jaga gadis-gadis mu itu.Mereka bahkan terlihat menjijikkan”.
Mereka pergi meninggalkan tempat itu. “Bagaimana bisa dia berkata  seperti itu? Dia bahkan tidak memiliki ssopan-santun terhadap seniornya. Heh…” marah pria dengan alis tebalnya.
“Kufikir kalian yang membuat dia marah.Bukankah sudah kuberitahu kau tak perlu mengatakan hal seperti itu?Itu hanya kabar burung yang tengah beredar disekolah kita-kan” ucap pria berambut blonde dengan kaos putih yang menyelimuti tubuhnya.
“Tapi pada kenyataannya dia benar-benar bergaul dengan komplotan geng. Sudahlah, kau tak perlu membela pria itu” ucap pria beralis tebal dengan nada yang sedikit dinaikkan. Sementara pria berambut blonde itu hanya menggeleng pelan.
“Sudahlah Jimmy, Christ… kalian tidak perlu meributkan hal seperti itu” sela Katie.
“Aku akan memberikan pelajaran untuk gadisnya, aku berani menjamin… dia tidak akan betah berada disekolah.Dan Daniel, aku akan menyuruh pria itu berlutut untuk meminta maaf pada kalian” lanjut Katie dan tersenyum evil dengan teman-temannya.
“Sudahlah, hentikan rencana konyolmu itu Katie, kufikir itu tidak akan berhasil. Sebaiknya kalian tidak terlalu berlebihan” bela pria berambut blonde.
“Christ… apa ada yang salah dengan fikiranmu saat ini?” ujar gadis dengan rambut sebahunya.
“Tidak, tidak ada yang salah. Aku tidak akan ikut dalam rencana bodoh kalian. Aku pergi” ujar pria berambut blonde itu berjalan meninggalkan mereka.
Sementara dilain tempat. -Daniel dan Ever- tengah menikmati roti bakar yang dibeli oleh Ever. “Aku sangat menyukai ini.Lezat, apa disana terdapat banyak rasa?” ucap Daniel sambil memasukkan roti kedalam mulutnya, Ever mengangguk. Lama dia-Daniel mengunyah.
“Kau harus membantuku ketempat toko roti ini.Aku akan membeli banyak” lanjutnya. Kembali ia mengunyah, Ever memandangi pria yang duduk disebelahnya.
“Tadi itu, apa tidak apa-apa?” ucapnya pelan.
“Maksudmu?” bingung Daniel.
“Kau mengatakan bahwa kau komplotan geng, dan kau bahkan mengancam mereka.Apa itu tidak masalah?” ucap Ever berbicara hati-hati pada kalimat terakhir. Daniel menghentikan kunyahannya. Kemudian membalas mata gadis itu lembut.
“Semuanya akan baik-baik saja, aku tidak masalah jika mereka berfikir seperti itu.Tidak masalah jika semua orang menjauhiku.Tapi aku tidak ingin kau menjauhiku. Aku senang bersamamu Ever, aku bahagia bersamamu” ucap Daniel dan Ever merona. Ever mengangkat tangan dan memegang wajah Daniel lembut.
“A..a-apa yang kau lakukan?” ucap Daniel gelagapan.

“A-aku hanya, hanya ingin me-menenangkan-mu. A-aku pernah membaca dibuku. Ji-jika seseorang tengah bingung atau sedih. Ma-maka dia butuh sentuhan” ujar Ever gelagapan pula. Langit terlihat cerah bahkan sangat cerah waktu itu, suasana disekitar mereka terlihat penuh dengan warna. Disekitar mereka, penuh dengan bunga-bunga mekar dimusim semi. Musim semi -EVER dan DANIEL-

Hubungan kakak dan adik
21 November 2013, Cherrystone, washingtone
Sore ini aku dan Troy pergi ke toko buku yang baru dibuka, tempatnya tidak jauh dari rumah. Aku membantu Troy mencari buku sejarah Amerika, kami menelusuri ruangan bercat hijau itu. Beberapa buku tertata rapi di bagian rak yang terbuat dari kayu dengan motif biru tua, seperti menyatu dengan tirai berwarna biru-keputihan yang beterbangan akibat hembusan angin. Terkesan elegan dan klasik pada zaman sekarang. Beberapa pajangan lukisan besar terpampang didinding. Aku sempat berfikir, apakah disini menjual lukisan juga? Aku tertarik pada lukisan patung Liberty dengan langit agak kehitam-hitaman ditengah kota.
“Aku heran, mengapa para pengunjung seringkali mengamati lukisan Liberty itu” aku tersentak dengan ucapan seorang pria yang tengah berdiri di belakangku. Namun aku tak menggubrisnya, dia berdiri disebelahku.
“Kau dari SMA Cherrystone?” ujar pria itu sembari tersenyum kearahku, aku hanya menyipit memastikan apa maksud senyuman itu?.
“Hei... berhentilah menatapku seperti itu. Apa kau fikir aku seorang penjahat atau sejenisnya?” lanjutnya, seolah mengerti apa yang tengah menggerayang dalam fikiranku. ‘Hhh... berhentilah seolah engkau mengenalku’
. “Cash Everdeen, gadis yang memiliki IQ diatas rata-rata 90%. Acuh dan tidak memiliki teman satu-pun”. ‘Berhentilah berkata seolah kau mengenalku saja’.
 “Selalu mendapat peringkat pertama di kelas dan berani menegur serta bersikap acuh terhadap guru”. ‘Hhh... apa maksudnya ini? Jangan bertindak seolah kau tahu banyak tentangku
“Oi...Oi, berhentilah memasang wajah seperti itu. Ehm... aku senang bertemu-”.
“Siapa kau?” ujarku dingin, sikap aneh dan sok tahu. Menyebalkan.
“Kau dingin sekali” lanjutnya, “Baiklah, namaku Drayson, kau bisa memanggilku Dray. Salam kenal Ever, aku pergi. Dan kuharap kau bisa membantuku” ujarnya dan berlalu meninggalkanku. Membantu? Bantu apa? Aku bahkan tak mengenalnya, apa yang bisa kubantu. Sepertinya dia salah orang, aku memandangi punggungnya yang berlalu menjauh dari hadapanku.
“Ever...” Aku tersentak ketika kurasakan tangan seseorang menepuk bahuku pelan.
“Hei..., bisakah kau tidak mengejutkanku?” ucapku sedikit membesarkan oktaf kalimat ketika kulihat Troy berdiri sambil tersenyum miring kearah jendela.
“Hei... kau bertemu siapa? Aku bahkan tak melihat wajahnya” ujarnya kemudian,
“Akan kuberitahu Daniel” lanjutnya. “Apa maksudmu? Aku bahkan tak mengenal orang tadi. Berhentilah berfikir hal-hal yang tak sepatutnya kau fikirkan. Bagaimana? Apa kau mendapatkan buku-nya” ujarku dan ia tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
“Ini...” ujarnya mengangkat tangan kanannya dan memperlihatkan buku yang ia dapatkan. -Sejarah Amerika tahun 1879-. Dan kami-pun langsung pulang.
22 November 2013, Cherrystone, washingtone
Aku berjalan melewati koridor kelas, dari arah yang berbeda Samantha berdiri sambil melambai kearahku. Ralf dan Daniel pun berada disana, aku tersenyum kearah mereka.
“Seperti biasa, untuk master Cash Everdeen, kau dipersilahkan untuk berjalan lebih dulu” ujar Samantha. Yang membuat mereka bertiga tertawa, hhh... sejak kapan Samantha memanggilku master? Dan apa ini lucu? Aku menyelingkan mata kearah Samantha. Bagus. Dan ia menghentikan tertawanya. Kalimat macam apa itu?
“Berhentilah seperti itu Ever, kau bahkan menakuti Samantha. Sudahlah... ini hanya bercanda. Samantha mengatakan hal itu karena setiap kita jalan bersama, kau seperti pemandu” ujar Daniel.
“Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Aku juga tidak mengerti maksud Samantha. Ayo...” ajakku. Daniel menyamakan langkah denganku. Aku hanya memandang kedepan dan diam. Sementara Daniel, Ralf dan Samantha mereka sibuk membicarakan hal yang menurut mereka lucu. Suara tertawa mereka seakan membuatku tenang. Tuhan, aku senang.
Sepulang sekolah, aku, Daniel, Ralf dan Samantha akan pergi ke rumah Daniel. Kami akan minum anggur merah bersama. Dylan sudah membeli banyak anggur, dan menyuruhku untuk mengundang kalian ujar Daniel. Orang yang baik. Sepulang sekolah, aku memperhatikan gelagat Daniel untuk kali ini dia lebih banyak diam, tidak banyak omong seperti biasa? Apa yang sebenarnya difikirkan oleh pria ini? Kami melewati jalan raya, disekitaran lebih banyak orang yang lalu-lalang.
“Apa perlu kita mampir sebentar?” ucap Daniel disebuah minimarket kecil. “Aku ingin membeli sesuatu” lanjutnya.
“Kau ingin membeli apa?” tanyaku heran, tidak seperti biasanya.
“Yah... sesuatu untuk dimakan nanti” ucapnya tersenyum, namun senyumnya terlihat getir dan sedikit takut. Entah apa yang membuat pria itu terlihat berbeda hari ini.
“Kau benar. Untuk kita makan dirumah Daniel. Ayo...” ujar Ralf dan membawa Daniel masuk, kemudian diikuti oleh Samantha yang terlihat bersemangat juga. Sepertinya mereka belum menyadari perubahan Daniel hari ini. Akupun mengikuti mereka. Mereka memilih beberapa snack dan apple. Kemudian kami membayarnya dikasir wanita yang tersenyum dengan topi merah khas perusahaan tempatnya bekerja.
“Kenapa harus membeli ini? Bukankah kita bisa mengambilnya dirumahku?” ucapku pada akhirnya.
“Apa makanan seperti ini ada dirumahmu Ever? Sepertinya tidak, kufikir kau lebih menyukai roti dengan selai, atau makanan yang mengandung lebih banyak gula” ucap Ralf dan Samantha pun mengangguk mengiyakan.
“Ah... bodoh, aku juga terbiasa memakan makanan seperti itu” ujarku kesal.
Kami sudah sampai dirumah Daniel, Daniel sibuk mengoceh dengan Ralf membicarakan tentang baseball dan semacam jenis olahraga lainnya. Aku bahkan tak mengerti, apa yang menarik untuk pria macam ini. Dia sedikit aneh dan sulit dimengerti.
“Oh... Hallo” ujar sebuah suara, dia? Orang itu? Orang yang pernah kutemui ditoko buku kemarin.
“Kau? Sudah kuduga” ujar Daniel dan berlari meninggalkan kami. Apa artinya ini? Aku heran kenapa Daniel seperti itu.
“Hei, Daniel” teriak Ralf dan pria itu tak menggubris sama sekali.
“Ah... anak itu, biarkanlah” lanjutnya, kenapa dia selalu bersikap santai seperti itu?.
“Oi... kalian datang juga” ujar Dylan yang tiba-tiba muncul membawa beberapa gelas anggur merah.
“Dia adalah Dray, kakaknya Daniel” oh... astaga? Kakak Daniel? Pria ini?. Aku tahu, tapi masalah tentang dia adalah kakak dari Daniel, aku baru tahu sekarang.
“Senang bertemu denganmu kak, Oh ya... kenapa Daniel melarikan diri ketika melihatmu?” ujar Samantha yang kemudian disambut oleh suara tawa dari Drayson, pria itu.
“Aah... dia memiliki brocon (brother complex) semacam penyakit saudara yang memiliki perasaan terhadap kakak/adik laki-laki” jelas kakak Daniel.
“Sejak kapan anak itu memiliki banyak teman? Kalian mengurus Daniel dengan baik, terimakasih” lanjutnya.
“Dia juga sudah mau datang kesekolah kak, ini berkat Ever” jelas Ralf.
“Aku tidak mengatakan jika itu berkatku” protesku sambil menyesap anggur merah.
“Oh... kau ya? Tunggu, sepertinya kita pernah bertemu. Tapi dimana?”. Keadaan kakak-beradik yang aneh.
“Toko buku” ucapku mengingatkan dengan kesal.
“Oh... benar. Hahaha”. Bodoh, bukankah waktu itu kau yang pertama kali menyapaku? Kau juga mengetahui tentangku?. Daniel dan Drayson. Keluarga yang aneh, lalu Dylan?.
 “Kalian bertiga, bersaudara-kah?” ujarku akhirnya. “Hahahaha....” suara tawa dari Drayson,
“Aku sepupu mereka” balas Dylan. Daniel lebih memilih tinggal ditempat Dylan, ada apa? Yang jelas aku belum mengerti. Aku tidak terlalu tahu banyak tentang Daniel dan apa yang difikirkan oleh pria itu. Masalahnya, sekarang dia berada dimana?
Lama kemudian, kami-pun memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Dylan. Aku membantu membereskan gelas-gelas kotor dan bekas sampah yang berserekan diatas meja. Sementara Samantha dan Ralf sudah pulang. Setelah selesai, aku pamit pulang pada Dylan. Dan aku tidak melihat Drayson. Aku menutup pintu rumah Dylan pelan, dan...
“Ever, kau Cash Everdeen. Senang bertemu denganmu lagi” ujarnya.
“Tolong, jaga Daniel untukku. Ya...” lanjutnya, kemudian aku mengangguk dan diapun masuk kedalam rumah Dylan. Aku kembali berjalan meninggalkan rumah Dylan dan, sesuatu serasa menarikku sangat cepat hingga aku tak bisa menahan diriku sendiri. Tubuhku terasa terbanting disemak-semak dan kusadari mulutku tertutup oleh sebuah tangan. -Daniel-. Apakah dia bersembunyi ditempat ini?.
“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya sarkatis.
“Hanya meminum anggur” ujarku. “Bisakah kau melepas tanganmu? Ini sakit” lanjutku.
“Oh... maaf” ujarnya dan menjaga jarak agak berjauhan dariku. “Apa yang dikatakan Drayson?” tanyanya.
“Kau memiliki brocon, apa itu benar?” jawabku.
“Apa? Tidak” balasnya. “Lalu kenapa kau pergi?” tanyaku lebih penasaran.
“Bukan urusanmu, jangan banyak bertanya”. Dia berbeda, ucapannya sarkatis dan bola matanya terlihat berbeda.
“Jadi begitu? Baiklah...” dan akupun pergi meninggalkannya. Aku masih memikirkan Daniel, dia seperti ada masalah dengan Drayson, aku tidak mengerti dengannya. Aku belum terlalu banyak mengenalnya. Aku sudah berdiri didepan rumah, sebentar lagi matahari akan tenggelam dan malam-pun akan tiba, aku memutuskan untuk kembali dan menemui Daniel.
“Kenapa kau kembali?” tanyanya yang masih duduk dengan menunduk dan terlihat sedih. Wajah itu, terlihat penuh dengan fikiran.
“Kalau kau mau minum anggur, ada dirumahku. Ada beberapa kue dan semacamnya. Ibuku membuatnya tadi pagi” jelasku, dan kamipun pergi kerumahku. Aku mengajaknya ditempat biasa -Halaman belakang rumahku-.
“Maafkan aku...” ujarnya lembut, sambil menyesap anggur merah. Dia menghendus pelan dan beberapa detik kemudian dia mengambil sandwich yang ada dipiring dan mengunyahnya pelan.
“Sejak bertemu denganmu, hanya hal-hal baik yang terjadi padaku. Aku senang bisa bertemu denganmu. Terimakasih” ujarnya dan itu membuatku memerah. Pasti sekarang aku salah tingkah dan rona merah dipipiku tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menghilang dari wajahku.
“Aku ingin melakukan sesuatu untukmu” lanjutnya meletakkan gelas yang sudah kosong diatas meja bundar yang ada dibelakang rumahku. Selanjutnya dia mengambil tempat didekatku.
“Apa yang bisa aku lakukan untukmu?” tanyanya kemudian. “Kencan. Berkencanlah denganku” ujarku spontan.

“Eh’- itu- a’. B-baiklah. Ti,tidak masalah” ujarnya gelagapan. Aku belum mengenal dirinya.

Love of Being (Part 7)

Senin, 22 Juni 2015
Posted by Unknown
Awal bagi Daniel
20 November 2013, Cherrystone, washingtone
Aku berjalan ditengah keramaian koridor kelas dan melihat Daniel berdiri dan bersender di pilar koridor. Aku berjalan tepat di hadapannya sambil memalingkan wajah kearah lain.
“Hei...” panggilnya dan aku pun berbalik, kemudian aku menuju kearahnya. Dia sudah berdiri tegak disamping koridor.
“Bagaimana kabarmu pagi ini?” tanyaku.
“Yah, baik. Dan setidaknya cuaca terlihat sedikit lebih cerah dari kemarin” ucapnya dan tersenyum kearahku, aku sedikit terkesiap dan-
“Aku pergi, oh ya... aku sangat menyukai senyummu. Jadi... kuharap kau akan selalu tersenyum pada semua orang. Ingat, jangan memasang wajah musuh kearah yang lain” ucapku dan berlalu meninggalkannya. Aku bahkan melontarkan kalimat itu, kalimat yang tak seharusnya kuucapkan pada orang yang telah menolakku.
SCENE Other
Daniel, pria itu terlihat kaku dan terdiam ditempat. Baru saja dia mendengar pujian dari seseorang yang kurang lebih 2 bulan ini dekat dengannya. Dia sedikit merasa keanehan menggerogoti seluruh hatinya, apakah dia harus mengikuti ucapan gadis itu.
“Aku menyukai senyummu. Jadi... kuharap kau akan selalu tersenyum pada semua orang” kata-kata itu semakin berputar dalam memory otaknya, entah ia harus mengikuti ataukah tidak? Tapi kenyataan berkata...
Daniel berjalan ditengah koridor dengan tubuh tegap, dia memperhatikan sekeliling. Memang, kian banyak orang tak memperhatikannya. Kelakuannya-lah yang membuat semua orang menjauh meninggalkannya. Ditengah perjalanan, tak sengaja seseorang membentur tubuhnya hingga membuat ia berhenti ditempat.
“Ma-maaf, a-aku tidak sengaja. Benar, a-aku benar-benar tak sengaja” suara ketakutan itu mulai terdengar ditelinganya. Gadis itu benar-benar merinding dihadapan Daniel, seketika Daniel mengangkat kepala dan sesuatu yang tak terduga, hingga membuat pipi gadis itu benar-benar memerah.
“Tidak apa-apa” ucap Daniel dan tersenyum manis kearah gadis itu. “K-kau tidak marah?” tanya gadis itu memastikan.
“Aku tidak mempermasalahkan ini. Jika kau berjalan, sebaiknya kau berhati-hati dan pandanganmu harus lurus kedepan” ucap Daniel, benar-benar lembut. Sehingga beberapa gadis lainnya pun mulai mendekat kearahnya.
“Daniel... kau sungguh tidak marah?” tanya gadis lainnya.
“Iya... sudah, aku pergi dulu” ucap Daniel kembali tersenyum dan melambai meninggalkan gadis-gadis itu.
“Apa kau tak melihatnya? Dia benar-benar keren” ucap gadis lainnya terbawa ingatan akan senyuman Daniel.
“Ternyata dia memiliki sisi positif juga. Ini benar-benar keren” ucap gadis pirang dengan rambut panjang yang dikuncir kuda. Mereka terpesona akan senyuman Daniel. –Dia benar-benar berbeda-.
“Daniel...” seseorang memanggil namanya dengan nada tinggi, hingga dia berbalik kemudian bingung dengan pria jangkung yang berada dihadapannya.
“Kau siapa?” tanyanya kemudian, jelas-jelas pertanyaan-nya membuat pria yang dihadapannya ini heran dan hanya bisa mengeluarkan nafas pasrah.
“Kau tidak mengenalku? Hei bukankah kita berada dikelas yang sama?” tanya pria itu dengan lontaran kebingungan.
“Maaf... aku benar-benar tidak mengenalmu” ucapnya dan berlalu meninggalkan pria jangkung itu yang hanya menggelengkan kepala pelan.
“Kurasa kau melupakan sesuatu yang pernah kau lakukan juga, hhh” ucap pria itu setengah berbisik.

Aku menyusuri koridor kelas yang penuh dengan sesak keramaian para siswa-siswi Cherrystone. Hari ini benar-benar penuh dan sesak. Akankah aku kembali setelah mendapat penolakan? Entah aku akan memikirkan itu atau tidak? Yang jelas, aku ingin belajar untuk sekarang ini. Kau tahu? Nilai ku benar-benar jatuh, aku tidak mau tahu apa penyebabnya walaupun aku benar-benar mengetahuinya. Mungkin ke perpustakaan lebih baik dari pada terlalu sering melihatnya. Aku memasuki ruangan itu, melihat seisi perpustakaan. Sepi dan tenang. Aku mengambil tempat duduk dekat jendela, hembusan angin melesak lewat celah jendela yang terbuka. Tirai orange beterbangan pelan mengikuti gesekan angin yang lewat. Aroma disini benar-benar alami. Aku menaruh kedua tanganku diatas meja lalu menidurkan kepala dan bersender diatas tangan kiriku. Aku benar-benar lelah, sangat lelah.
“Hei... Ever” Dari arah seberang jendela, kepala sesorang tiba-tiba menyembul dan tersenyum kearahku.
“Kau siapa?” tanyaku.
“Kau tidak mengenalku? Bukankah kita satu kelas? Kau sama saja seperti Daniel. Oh... Aku Ralf. Ralf Carrot” ucapnya, dia berpegangan pada balkon jendela, sesekali ia memperbaiki topi yang berada diatas kepalanya.
“Ada perlu apa?” tanyaku, dia tersenyum.
“Aku ingin mengatakan, kalau aku menyukaimu”. Aaah... apa-apa’an dia? Itu bahkan tidak benar, terlihat jelas dalam raut wajahnya.
“Kau berbohong” sinisku.
“Hahahaha... ketahuan ya. Oh... Kalian sering bersama bukan?” ucapnya, “Dengan siapa?” tanyaku penasaran.
“Daniel”. Oh... pria itu?.
“Ralf, cepatlah...” seseorang berteriak dari arah kejauhan. Aku melangkah menuju jendela.
“Siapa?” tanyaku penasaran.
“Temanku, baiklah... aku pergi. Jaga hubunganmu dengan Daniel. Daah” dia melambai dan menyusul beberapa pria yang mengenakan pakaian baseball.
“Hhh...” aku melemaskan tubuhku di balkon jendela,
“Ternyata kau ada disini” aku tersentak ketika wajah Daniel tiba-tiba muncul dijendela. Ini benar-benar spontan.
“Bisakah kau tidak mengejutkan orang lain?” tanyaku masih memegang dada, rasa keterkejutanku benar-benar spontan, bagaimana bisa dia bersikap tenang seperti itu. Sementara ia hampir membuat orang lain mati karenanya.
“Ada apa kau kesini?” tanyaku membenarkan cara duduk.
“Akhir-akhir ini, aku jarang sekali melihatmu. Apa kau bermaksud untuk menghindariku?” ucapnya memainkan bolpoin milikku.
“Itu hanyalah perasaanmu saja, sebaiknya kita keluar” ajakku dan berdiri, dia mengikutiku dari belakang.
Kami melewati koridor kelas, beberapa gadis terlihat berbisik-bisik dan sesekali tersenyum ke arah Daniel. Selang beberapa menit aku mengangkat kepala dan kulihat dia tampak tegap dan cuek dengan gadis-gadis disekitar yang tengah tersenyum kearahnya. Hhh... dia bahkan tidak tahu, betapa simpatiknya gadis-gadis itu terhadapnya. Kami berbelok ditikungan koridor dan menuju kelas.
“Woy... Daniel, Ever” seseorang menyerukan nama kami berdua. Di bangku pojok belakang kulihat Ralf tengah duduk dengan Samantha, mereka seperti tengah membicarakan sesuatu.
“Kau mengenalnya?” tanya Daniel padaku.
“Dia Ralf... aku baru saja bertemu dengannya, ketika di perpustakaan” jelasku.
“Aku juga baru saja bertemu dengannya. Aku baru tahu, selain dirimu ternyata ada juga yang memanggil namaku” ucapnya tertawa. Tidak, bukan hanya aku dan dia. Kau bahkan tidak menyadari di luar sana banyak gadis yang simpatik terhadapmu. Aku menuju kearah Ralf dan Sam, kemudian diikuti oleh Daniel dibelakang.
“Bagaimana? Apa dia mengganggumu? Ah... kufikir tidak, sepertinya kau cepat sekali berada di perpustakaan” celoteh Ralf.
“Daniel...” panggil Ralf, dan “Ah... bukankah kita baru saja bertemu? Aku Daniel” ucap Daniel.
“Ralf Carrot, kuharap kita bisa menjadi teman”.
“Ah... tentu saja, kita sudah menjadi teman”.

“Benarkah. Aku senang kalau begitu” ujar Ralf hingga akhirnya mereka mengoceh berdua dan aku hanya memandangi awan yang seperti berkelopak ditengah langit biru. Kufikir ini adalah awal bagi Daniel, ketika ia akan mulai dikelilingi oleh banyak orang. Kuharap untuk seterusnya akan seperti ini.

Love of Being (Part 6)

Minggu, 21 Juni 2015
Posted by Unknown
Diriku yang dulu tak pernah melihat langit cerah
5 Oktober 2013, Cherrystone, washingtone
Saat jam istirahat tiba, aku langsung meninggalkan kelas bersama Samantha... “Waah... disini indah ya..” ucap Samantha menari-nari di taman belakang sekolah. Aku bernaung dan duduk bersender dibawah pohon ek yang rindang dan lebat. Udara disini sangat segar. Hhh... aku dapat merasakan hembusan angin lembut yang menerpa tubuhku.
“Ever... kau terlihat lelah sekali, Oh... aku akan mencari minum dikantin, kau tunggulah disini” ucap Samantha dan berlalu meninggalkanku. Sepi... akhirnya aku dapat ketenangan. Ketenangan yang kuinginkan, ketenangan yang akhir-akhir ini sulit kuraih... Setelah berhubungan dengan beberapa orang yang mulai masuk dikehidupanku yang kurasa itu tak mungkin, selain Samantha. Aku mencoba memejamkan mata barang sejenak.
SCENE Other
Ever, gadis itu terlelap dalam mimpinya. Tanpa sepengetahuannya, seorang pria datang menghampiri dan tersenyum kearah gadis yang tengah bersender dalam lelap itu. Dia memperhatikan wajah Ever, kemudian terdengar suara derap langkah kaki mendekat kearahnya,
“Ever... ak-” suara itu berhenti.
“Sssst...” sambil tersenyum pria itu menaruh telunjuknya dibibirnya meminta gadis itu untuk diam. Kemudian gadis itu berlari meninggalkan mereka berdua. Setelah kepergian gadis itu, pria yang tak lain adalah Daniel, dengan lahan-perlahan, ia mengambil kepala ever dan menjadikan pahanya sebagai bantal untuk Ever. Dia tersenyum melihat gadis itu terlelap dalam tidur dan dia-pun menikmati hembusan angin yang lewat.

AKU terbangun dan kudapati... “Hei...” dia tersenyum.
“Hah.. D- Daniel? Sejak kapan kau? Ah... aku terlambat” aku bangun dan berniat untuk berdiri, tapi tangannya menutup mataku hingga aku terjatuh dan berbaring ditempat semula.
“Sudah... tidur saja lagi” ucapnya, aku memegang tangannya yang ada di atas mataku “Kenapa kau tidak membangunkanku?” tanyaku, dia hanya tersenyum.
“Karena kau tidur dengan sangat lelap dan juga kau terlihat manis saat tertidur”. Ucapan apa itu? Kenapa dia mengatakan hal yang membuatku speechless -lagi-? Jangan-jangan dia sengaja tidak membangunkanku?. Hari ini... cuacanya sangat cerah. Pasti diriku yang dulu tak pernah menyadari bahwa langit terlihat begitu biru cerah. Aku sadar... duniaku mulai meluas. Semua kebisingan yang selama ini kudengar, kini terasa nyaman. Nyaman sekali.
“Daniel...” aku bangun dan berbalik kearahnya. Dia tersenyum..
“Aku bersyukur dapat bertemu denganmu. Aku sudah mulai menikmati kehidupanku ini” ucapku. Kini kehidupanku berubah dan semua penilaianku tentang semua hal pun berubah. Aku tahu siapa yang merubahnya... Daniel. Terimakasih, aku senang bertemu denganmu.
“Daniel...” aku memanggil namanya lagi.
“Hm...?”,
“Aku menyukaimu..” Aku mengatakannya, a-aku benar-benar mengatakannya. A-apa yang akan dia fikirkan, bagaimana ini? Kurasa keringat dingin membanjiri tubuhku.
“Hm... heh..” dia tersenyum, apa dia mengejekku?
“A-aku berbohong”.
“Kenapa wajahmu me-merah? Kau seperti anak kecil yang baru saja diambil permennya oleh anak nakal” ucapnya tertawa, Apa dia bersikap dewasa?.
“Lalu...? apa kau mau pacaran?” tanyanya,
“Apa? Pa-pacaran?, hei aku hanya berbohong” ucapku, huh...
“Benarkah? Hm... syukurlah”. Apa? Apa yang dia katakan? Apa yang sebenarnya difikirkan oleh pria ini?
10 oktober 2013, Cherrystone, washingtone
Aku dan Daniel duduk dihalaman belakang rumahku sambil menikmati senja yang akan kembali keperaduannya. Dia mengambil bunga lili milik ibuku,
“Ini bagus...” dia bergumam lalu duduk disampingku.
“Kau menyukainya?”
“Hm...” dia menghenduskan hidungnya kearah bunga itu. Apa ini suatu kebiasaan? Kufikir ia... Dia bertindak seperti orang gila. Dari pintu belakang kulihat Troy tersenyum evil kepadaku lalu ia berjalan kearah kami.
“Hei Daniel... apa kakakku selalu membuat masalah?” ucapnya, lalu duduk disamping Daniel, Daniel memandangku sejenak lalu beralih ke Troy.
“Kufikir, tidak” ucapnya.
“Troy, sebaiknya kau masuklah kedalam sebelum kau yang membuat masalah ditempat ini” aku menimpali. Dia menghendus kesal dan masuk meninggalkan aku dan Daniel.
Daniel sibuk dengan bunga lili-nya sementara aku berdiam diri dengan fikiranku sendiri.
“Apa kau tahu... Tuhan memutuskan kapan manusia mendapat keberuntungan atau kesialan, jadi semuanya terlihat seimbang” ucapnya dan membuatku tersentak dari lamunan anehku.
“Awalnya... aku tidak mempercayai itu sama sekali, menurutku... itu hanyalah omong kosong belaka. Tapi akhir-akhir ini aku berfikir. Bertemu denganmu adalah saat-saat beruntungku, jadi itu semua menjadi seimbang. Semenjak bertemu denganmu, banyak hal-hal baik yang terjadi padaku” ucapnya melemparkan batu krikil kecil kearah pagar kebun kecil milik ibu lalu beberapa detik kemudian tersenyum kearahku. Aku menyerah.
“Daniel...” aku memanggil namanya. “Hm...?” dia menatapku heran.  
“Aku mencintaimu...” ucapku, aku sudah memutuskannya dan aku mengulangi kejadian itu, raut wajahnya terlihat berubah, sepertinya-terkejut. Dia memainkan bunga itu sambil menatap pohon holy yang masih kecil, disebuah kebun  yang terbilang tidak terlalu luas milik ibuku.
“Saat itu kau mengatakan ‘syukurlah’ setelah aku mengatakan aku berbohong. Aku tau, kau tidak ingin kasih sayang dariku... tapi aku telah jatuh cinta padamu, Daniel. Apa yang harus aku lakukan?”ucapku akhirnya, bola mataku masih menatap kearahnya, berharap dan berharap.
“Kau ini... mengutarakannya secara terus terang”, “Itu karena kau terus berpura-pura” sela-ku .
“Aku memang mencintaimu, tapi... mungkin cintaku tidaklah sama dengan cinta yang kau rasakan” jelasnya melempar batu krikil kecil kearah kebun milik ibuku.
“Sejujurnya... aku memiliki pandangan buruk terhadapmu, Ever...” lanjutnya.
“Oh... aku tak perlu mendengarnya, itu... yah, terserah kau saja. Tapi... aku tak ingin mendengarnya” ucapku gelagapan.
“Hahahaha..., kau lucu sekali” ia menyentuh kepalaku dan mengelusnya pelan. Kupastikan wajahku benar-benar memerah, ya tuhan... Jelas dia telah menolakku.
“Aku akan menunggu, yah... aku akan menunggu sampai kau menyukaiku. Dan aku akan mengatakannya untuk yang ke-dua kali, ketika kau telah mulai mencintaiku” ucapku, aku harus menunggu, menunggunya untuk kuraih dan kudapatkan. Setelah mengucap kata yang seperti itu, aku merasa tenang dan tersenyum kearahnya.
“Hm... aku akan menunggu” ucapku. Tiba-tiba dia berdiri dan tersenyum kearahku,
“Jadi... kau akan menunggu sampai aku menyukaimu?” kembali ia bertanya.
“Iya...” ucapku spontan. Dia berjongkok dihadapanku, dan mendekatkan wajahnya kewajahku. Sangat dekat, terbilang sejengkal anak jariku. ‘Apa yang kau lakukan? Selalu saja seperti ini? Berhentilah bermain-main denganku. Baru saja kau menolakku, bahkan tidak sampai lima menit, kau telah berlaku seperti ini. Jadi kumohon jangan berpura-pura. Daniel-. Bisikku dalam hati.
“Aku belum mengerti apa-apa tentang cinta” ucapnya, seperti berbisik.
“Bagiku... itu semua hanyalah sandiwara dunia. Sandiwara yang menyatukan seorang manusia dengan lain jenisnya kemudian dunia merenggut kebahagiaan yang selama ini dibangun... dalam cinta mereka. Hhh... akhirnya aku berbicara ngelantur. Jangan perdulikan aku” ucapnya yang langsung menegakkan tubuhnya.
“Baiklah... mungkin aku terlalu lama ditempat ini. Sebaiknya aku pulang saja, aku takut Dylan khawatir. Aku pergi” ucapnya berdiri dan meninggalkanku.
“Tunggu...” ujarku setengah menjerit, dia menghentikan langkahnya
“Aku... aku benar-benar akan menunggumu” ucapku, dan dia berbalik kemudian setengah tersenyum.

“Terimakasih... Baiklah, aku pulang” ucapnya dan melangkah meninggalkan ku sendirian ditaman belakang ini.
Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Si Perangkai Kata -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -