Posted by : Unknown
Jumat, 19 Juni 2015
The gape ‘First Love’
Aku berjalan
didepannya, kami sudah sampai dihalaman rumahku dan akupun berbalik kearahnya.
Buliran bening mengalir diwajah putihnya. “Kenapa kau menangis?” ucapku sedikit
mendekatinya.
“Aku bahagia, yah... aku menangis
bahagia. Terimakasih” dia berterimakasih padaku. Apa ini? Aku ingin menangis.
Tidak... hampir menangis. Ada apa denganku?. Entah dorongan apa yang membuatku
seperti ini, aku memeluk tubuhnya, dirinya dan mencoba untuk menenangkannya.
“Aku akan coba untuk datang kesekolah
besok” ucapnya.
“Em... tenanglah, kau akan bahagia
ketika kau dikelilingi oleh banyak orang. Dan kau akan mendapatkan itu” ucapku,
lalu melepas pelukanku.
“Eh... Ever, sepertinya aku
menyukaimu. Ketika kau memelukku jantungku berdebar begitu cepat. Aku
menyukaimu, yah... aku memang menyukaimu”. Ucapan itu membuatku takut sekaligus
merinding, bagaimana bisa kau mengatakan hal aneh seperti itu, bahkan kita baru
saja bertemu.
“Ti-tidak, itu
mungkin hanya cinta sesaat. Kau pasti akan melupakannya” ucapku menenangkan
suasana, apa yang dikatakan benar-benar menakutkan. Itu tidak benar dan tak
mungkin terjadi.
“Benarkah? Aku tidak akan mungkin
melupakanmu. Baiklah... sekarang masuklah” suruhnya dan aku pun meninggalkannya
yang berdiri dihalaman rumahku. Ini adalah ungkapan cinta yang pertama kali
dari Daniel. Hhh... apa yang kufikirkan? Bahkan saat ini, aku belum bisa fokus
pada satu hal.
“Hei... bagaimana dengan tetangga
sebelah itu?” aku memalingkan wajah mencari sosok pemilik suara itu. Ya
tuhan... Troy, dia sedang berdiri di dekat jendela dan menyingkap setengah
tirai-nya, apa dia melihatku.
“Berhentilah berdiri disitu, apa yang kau
lakukan?”ucapku sarkatis.
“Melihatmu dengan tetangga sebelah”
ucapnya santai.
“Hei diam kau, kau bahkan tak tahu
apa-apa. Mengganggu” ucapku acuh dan berlalu meninggalkannya.
11 september 2013, Cherrystone, washingtone
Aku kembali bertemu dengan Daniel
disekolah, ketika melihatnya saja, wajahku langsung memerah. Aku bahkan mencoba
untuk menghindar darinya. Aku mengunjungi perpustakaan, dimana Daniel tidak
berada ditempat itu. Aku mencoba untuk tidak mengingat kejadian itu. Aku ingin
fokus pada satu hal.
“Hei... ternyata kau berada ditempat
ini. Aku sudah menduganya” bagus, bahkan aku belum sempat mempelajari kalkulus
itu. Hhh... sekarang hidupku tak lebih dari ribuan gangguan yang datang.
“Ada apa?” tanyaku dingin, selanjutnya
ia memegang keningku.
-Sepi,
hangat, bening dan indah... Apa itu? Seakan membuat dadaku terguncang hebat
dengan perasaan itu. Kupu-kupu seperti mengeliliku ditengah padang bunga yang
luas. Apa ini?-
Aku mencoba menepis perasaan aneh yang
seakan menjelajar dalam diriku ini.
“K-kenapa kau
memegang keningku?” tanyaku heran, ku pastikan wajahku memerah.
“Memastikan apa kau baik-baik saja !!”
ucapnya, lalu duduk disebelahku.
“Tentu aku baik-baik saja” hhh...
hari-hariku benar berubah total.
“Apa kau ingin belajar? Aku tidak akan
mengganggumu. Kau perlu belajar bukan? Sekarang lanjutkanlah belajarmu. Aku
akan diam disini dan tidak akan mengeluarkan suara. Bukankah kau harus belajar
untuk hal tertentu? Jika itu adalah hal yang kau perhatikan maka aku harus
memperhatikan itu juga” ucapnya, oh...
apa itu salah satu cara seseorang perhatian, ah dia perhatian kepadaku? Wajahku
benar-benar memerah saat ini. Aku bahkan tak fokus untuk belajar lagi. Aku
menatap Danil yang tengah membaca beberapa buku
“Hei... ada apa?” tanya Daniel dan itu
membuatku tersentak kaget. Hhh tadi itu apa? Aku bahkan tak menyadari apa yang
kulakukan.
“Daniel... apa kau mau kekantin bersama?”
tanyaku akhirnya dan diapun mengangguk setuju.
Kami berjalan berdampingan dikoridor
kelas, suasananya begitu kaku. Suasana yang biasa ribut dikoridor pun sepi ketika
Daniel lewat, hanya bisikan dari beberapa orang yang terdengar. Aku mengangkat
kepala melihat pria ini, dia tetap percaya diri meski diluar sana banyak yang
membicarakan dan takut padanya. Aku belum mengerti tentang pria ini.
“Hm... ada apa?” tanyanya, ini bahkan
terdengar polos ditelingaku. Aku menunduk, menatap lantai koridor yang
kupijaki.
“Daniel... sebenarnya aku sama sekali
belum belajar” kami berhenti di tikungan koridor dekat mading. Dia mendekatkan
wajahnya padaku dan menarik kerah bajuku. Satu sentuhan hangat menyentuh
bibirku hingga membuat adrenalin dalam tubuhku berdesir naik, aku membulatkan
mata sampai membuat bola mataku hampir keluar. Aku bagai linglung ketika
sentuhan itu berakhir, A... apa yang dia... lakukan?.
“Huh.. Hatiku tidak berdebar?”. I..ini
a..apa yang dia lakukan? Aku mundur beberapa langkah, kepalaku terasa
berputar-putar. Samar-samar aku mendengar ia berkata.
“Kenapa tidak? Kenapa hatiku tidak
berdebar-debar seperti kemarin? Hm... jadi aku tahu bahwa kau tidak membuat
hatiku berdebar”. Huh... a-apa yang ia k-katakan?.
“Aku penasaran kenapa” Dia tersenyum
kearahku, wajahku masih memerah.
“Hatiku tidak berdebar seperti
sebelumnya, tapi aku tetap mencintaimu”. Keringat dingin terasa disekujur tubuhku.
“Hei... ayolah cepat, nanti waktu istirahatnya
berakhir” Ia mendahuluiku dan aku hanya terpaku dengan wajah merah merona
memandang punggungnya. Bagaimana bisa dia bersikap tenang seperti itu? Seperti
tidak pernah terjadi apa-apa? Kesadaranku pun normal kembali dan aku berjalan
mengikutinya. Kejadian tadi benar-benar mengejutkanku, aku menarik nafas pelan.
Bagaimana ini bisa terjadi? Kami duduk di bangku paling pojok dan aku hanya
menunduk malu mengingat kejadian itu. Aku memesan hot dog, sandwich, dan rice pilaf, aku menghabiskan
makanan itu dan aku memesan kembali.
“Kau memesan makanan lagi? Apa kau
masih lapar?” ucapnya,
“Diamlah... aku harus mengalihkan
fikiran dengan makanan !” aku sedikit mengeraskan suara. Kejadian itu kembali
terputar dalam kepalaku... Hhh, dadaku masih berdebar, mungkin karena aku
dikejutkan secara tiba-tiba, iyah... pasti begitu.
“Hh... Ini pertama kalinya aku makan
seenak ini. Pasti makanan apapun akan terasa enak bila aku menyantapnya
bersamamu” ucapnya, seperti panah yang menusuk hatiku secara tiba-tiba...
kenapa kau tersenyum? Debaran aneh ini tak menunjukkan tanda-tanda berhenti.
Hhh... setidaknya, aku sedikit tahu alasannya.
