Posted by : Unknown
Senin, 22 Juni 2015
Awal bagi Daniel
20 November 2013, Cherrystone, washingtone
Aku berjalan
ditengah keramaian koridor kelas dan melihat Daniel berdiri dan bersender di
pilar koridor. Aku berjalan tepat di hadapannya sambil memalingkan wajah kearah
lain.
“Hei...” panggilnya dan aku pun
berbalik, kemudian aku menuju kearahnya. Dia sudah berdiri tegak disamping
koridor.
“Bagaimana kabarmu pagi ini?” tanyaku.
“Yah, baik. Dan setidaknya cuaca
terlihat sedikit lebih cerah dari kemarin” ucapnya dan tersenyum kearahku, aku
sedikit terkesiap dan-
“Aku pergi, oh ya... aku sangat
menyukai senyummu. Jadi... kuharap kau akan selalu tersenyum pada semua orang.
Ingat, jangan memasang wajah musuh kearah yang lain” ucapku dan berlalu meninggalkannya.
Aku bahkan melontarkan kalimat itu, kalimat yang tak seharusnya kuucapkan pada
orang yang telah menolakku.
SCENE Other
Daniel, pria itu terlihat kaku dan
terdiam ditempat. Baru saja dia mendengar pujian dari seseorang yang kurang
lebih 2 bulan ini dekat dengannya. Dia sedikit merasa keanehan menggerogoti
seluruh hatinya, apakah dia harus mengikuti ucapan gadis itu.
“Aku menyukai senyummu. Jadi...
kuharap kau akan selalu tersenyum pada semua orang” kata-kata itu semakin
berputar dalam memory otaknya, entah ia harus mengikuti ataukah tidak? Tapi
kenyataan berkata...
Daniel berjalan ditengah koridor
dengan tubuh tegap, dia memperhatikan sekeliling. Memang, kian banyak orang tak
memperhatikannya. Kelakuannya-lah yang membuat semua orang menjauh meninggalkannya.
Ditengah perjalanan, tak sengaja seseorang membentur tubuhnya hingga membuat ia
berhenti ditempat.
“Ma-maaf, a-aku
tidak sengaja. Benar, a-aku benar-benar tak sengaja” suara ketakutan itu mulai
terdengar ditelinganya. Gadis itu benar-benar merinding dihadapan Daniel,
seketika Daniel mengangkat kepala dan sesuatu yang tak terduga, hingga membuat
pipi gadis itu benar-benar memerah.
“Tidak apa-apa” ucap Daniel dan
tersenyum manis kearah gadis itu. “K-kau tidak marah?” tanya gadis itu
memastikan.
“Aku tidak mempermasalahkan ini. Jika
kau berjalan, sebaiknya kau berhati-hati dan pandanganmu harus lurus kedepan”
ucap Daniel, benar-benar lembut. Sehingga beberapa gadis lainnya pun mulai
mendekat kearahnya.
“Daniel... kau sungguh tidak marah?”
tanya gadis lainnya.
“Iya... sudah, aku pergi dulu” ucap
Daniel kembali tersenyum dan melambai meninggalkan gadis-gadis itu.
“Apa kau tak melihatnya? Dia
benar-benar keren” ucap gadis lainnya terbawa ingatan akan senyuman Daniel.
“Ternyata dia memiliki sisi positif
juga. Ini benar-benar keren” ucap gadis pirang dengan rambut panjang yang
dikuncir kuda. Mereka terpesona akan senyuman Daniel. –Dia benar-benar
berbeda-.
“Daniel...” seseorang memanggil
namanya dengan nada tinggi, hingga dia berbalik kemudian bingung dengan pria
jangkung yang berada dihadapannya.
“Kau siapa?” tanyanya kemudian,
jelas-jelas pertanyaan-nya membuat pria yang dihadapannya ini heran dan hanya
bisa mengeluarkan nafas pasrah.
“Kau tidak mengenalku? Hei bukankah
kita berada dikelas yang sama?” tanya pria itu dengan lontaran kebingungan.
“Maaf... aku benar-benar tidak
mengenalmu” ucapnya dan berlalu meninggalkan pria jangkung itu yang hanya
menggelengkan kepala pelan.
“Kurasa kau melupakan sesuatu yang
pernah kau lakukan juga, hhh” ucap pria itu setengah berbisik.
Aku menyusuri koridor kelas yang penuh dengan
sesak keramaian para siswa-siswi Cherrystone. Hari ini benar-benar penuh dan
sesak. Akankah aku kembali setelah mendapat penolakan? Entah aku akan
memikirkan itu atau tidak? Yang jelas, aku ingin belajar untuk sekarang ini.
Kau tahu? Nilai ku benar-benar jatuh, aku tidak mau tahu apa penyebabnya
walaupun aku benar-benar mengetahuinya. Mungkin ke perpustakaan lebih baik dari
pada terlalu sering melihatnya. Aku memasuki ruangan itu, melihat seisi
perpustakaan. Sepi dan tenang. Aku mengambil tempat duduk dekat jendela,
hembusan angin melesak lewat celah jendela yang terbuka. Tirai orange
beterbangan pelan mengikuti gesekan angin yang lewat. Aroma disini benar-benar
alami. Aku menaruh kedua tanganku diatas meja lalu menidurkan kepala dan
bersender diatas tangan kiriku. Aku benar-benar lelah, sangat lelah.
“Hei... Ever” Dari arah seberang
jendela, kepala sesorang tiba-tiba menyembul dan tersenyum kearahku.
“Kau siapa?” tanyaku.
“Kau tidak mengenalku? Bukankah kita
satu kelas? Kau sama saja seperti Daniel. Oh... Aku Ralf. Ralf Carrot” ucapnya,
dia berpegangan pada balkon jendela, sesekali ia memperbaiki topi yang berada
diatas kepalanya.
“Ada perlu apa?” tanyaku, dia
tersenyum.
“Aku ingin mengatakan, kalau aku
menyukaimu”. Aaah... apa-apa’an dia? Itu bahkan tidak benar, terlihat jelas
dalam raut wajahnya.
“Kau berbohong” sinisku.
“Hahahaha... ketahuan ya. Oh... Kalian
sering bersama bukan?” ucapnya, “Dengan siapa?” tanyaku penasaran.
“Daniel”. Oh... pria itu?.
“Ralf, cepatlah...” seseorang
berteriak dari arah kejauhan. Aku melangkah menuju jendela.
“Siapa?” tanyaku penasaran.
“Temanku, baiklah... aku pergi. Jaga
hubunganmu dengan Daniel. Daah” dia melambai dan menyusul beberapa pria yang
mengenakan pakaian baseball.
“Hhh...” aku melemaskan tubuhku di
balkon jendela,
“Ternyata kau ada disini” aku
tersentak ketika wajah Daniel tiba-tiba muncul dijendela. Ini benar-benar
spontan.
“Bisakah kau tidak mengejutkan orang
lain?” tanyaku masih memegang dada, rasa keterkejutanku benar-benar spontan,
bagaimana bisa dia bersikap tenang seperti itu. Sementara ia hampir membuat
orang lain mati karenanya.
“Ada apa kau kesini?”
tanyaku membenarkan cara duduk.
“Akhir-akhir ini, aku jarang sekali
melihatmu. Apa kau bermaksud untuk menghindariku?” ucapnya memainkan bolpoin
milikku.
“Itu hanyalah perasaanmu saja,
sebaiknya kita keluar” ajakku dan berdiri, dia mengikutiku dari belakang.
Kami melewati koridor kelas, beberapa
gadis terlihat berbisik-bisik dan sesekali tersenyum ke arah Daniel. Selang
beberapa menit aku mengangkat kepala dan kulihat dia tampak tegap dan cuek
dengan gadis-gadis disekitar yang tengah tersenyum kearahnya. Hhh... dia bahkan
tidak tahu, betapa simpatiknya gadis-gadis itu terhadapnya. Kami berbelok
ditikungan koridor dan menuju kelas.
“Woy... Daniel, Ever” seseorang
menyerukan nama kami berdua. Di bangku pojok belakang kulihat Ralf tengah duduk
dengan Samantha, mereka seperti tengah membicarakan sesuatu.
“Kau mengenalnya?” tanya Daniel
padaku.
“Dia Ralf... aku baru saja bertemu
dengannya, ketika di perpustakaan” jelasku.
“Aku juga baru saja bertemu dengannya.
Aku baru tahu, selain dirimu ternyata ada juga yang memanggil namaku” ucapnya
tertawa. Tidak, bukan hanya aku dan dia. Kau bahkan tidak menyadari di luar
sana banyak gadis yang simpatik terhadapmu. Aku menuju kearah Ralf dan Sam,
kemudian diikuti oleh Daniel dibelakang.
“Bagaimana? Apa dia mengganggumu?
Ah... kufikir tidak, sepertinya kau cepat sekali berada di perpustakaan”
celoteh Ralf.
“Daniel...” panggil Ralf, dan “Ah...
bukankah kita baru saja bertemu? Aku Daniel” ucap Daniel.
“Ralf Carrot, kuharap kita bisa
menjadi teman”.
“Ah... tentu saja, kita sudah menjadi
teman”.
“Benarkah. Aku senang kalau begitu”
ujar Ralf hingga akhirnya mereka mengoceh berdua dan aku hanya memandangi awan
yang seperti berkelopak ditengah langit biru. Kufikir ini adalah awal bagi
Daniel, ketika ia akan mulai dikelilingi oleh banyak orang. Kuharap untuk
seterusnya akan seperti ini.
