Posted by : Unknown
Jumat, 19 Juni 2015
C’mon... ikutlah denganku
Aku terduduk
dikursi belajar dan menopang dagu dengan tangan kanan. Kemudian mengambil
kertas putih kecil yang diberikan mrs. Rose padaku tadi disekolah. ‘Hhh...
melelahkan’. Mataku tertuju pada jendela kamarku yang terbuka,
hembusan angin seakan masuk bergantian, beberapa detik kemudian aku bangun dari
tempat duduk dan beranjak meninggalkan kamarku.
“Hei Ever...” sapa ibuku yang tengah
menyiapkan makan malam.
“Hei ibu... kau masak apa?” tanyaku
mendekat kearahnya.
“Sup sapi dengan sandwich balada”
ucapnya tersenyum.
“Oh... bisakah kau membawa sup ini
kemeja makan?” pinta ibu dan akupun melakukannya.
“Ermm... bu, apa kau tahu keluarga
Schrifer?” tanyaku pelan.
“Iya... ibu tahu, hanya saja...
keluarga itu tertutup. Mereka jarang bersosialisasi, seperti dirimu” ucap ibu
tersenyum kearahku. Kemudian menuju wastafel air mencuci tangannya dan akupun
mengikutinya.
“Ayolah bu... aku serius”.
“Iya memang kenyataannya seperti itu.
Hm... tak jarang kau mendesakku seperti ini?” ucap ibuku dan mengambil kain
putih dengan sedikit rajutan benang ditengahnya kemudian menge-lap tangannya
yang basah. Hhh... kau menjengkelkan bu.
“Baiklah, kalau begitu aku tidak akan
bertanya lagi” ucapku dan pergi meninggalkannya menuju kamarku, kemudian
mengambil map coklat itu lalu keluar lagi.
“Bu... aku pergi sebentar, aku tidak
lama. Sebelum makan malam aku akan pulang. Aku pergi...” ucapku dan sempat aku
mendengar ibuku yang berteriak “Hei... kau mau kemana?” akupun tak menghiraukannya.
Rumahnya bersebelahan dengan rumahku, aku hanya menyeberangi jalan kecil yang
tidak sering dilewati oleh mobil-mobil atau bahkan transportasi lainnya.
Aku menarik nafas pelan dan berdiri
didepan rumahnya. Lalu memberanikan diri memencet bel... suara derap kaki
terdengar dari dalam dan...
“Ada apa?” tanya seorang pria
tersenyum kearahku.
“Mmm... aku Ever, Cash Everdeen. Apa
Daniel ada?” tanyaku sopan.
“Kau teman Daniel?” tanya pria itu.
“I...iya” jawabku dan...
“Daniel, Daniel... keluarlah sebentar.
Seseorang mencarimu. Masuklah...” ajaknya dan akupun mengikuti. Aku melihat isi
dalam rumahnya, ini keren... beberapa lukisan Kahlil Gibran terpampang di
tembok putih pucat itu.
“Kau duduklah dulu... akan
kupanggilkan Daniel” ucapnya dan akupun mengikuti. Tak lama kemudian dua orang
pria datang kearahku, satunya orang yang tadi dan satunya kufikir itu...
Daniel.
“Ada apa?” ucapnya sarkatis. “Kau duduk dulu, temanmu mencarimu” ucapnya kearah Daniel.
“Aku akan membuat minum untukmu
sebentar” lanjut pria itu tersenyum padaku.
“Tidak perlu, aku akan langsung pergi”
jawabku. “Ini...”.
“Oh... sudah kuduga, kau pasti salah
satu mata-mata dari sekolah yang diperintahkan oleh guru botak sialan itu?”
ucapnya kesal. Apa? Apa aku seperti seorang mata-mata sekarang?.
“Ti... tidak. Kau, kau salah faham.
Aku kesini... hanya mengantar ini” ucapku
“Apa itu?” tanya pria yang sebelumnya
menemuiku diluar.
“Ini dari mrs. Rose untuk Daniel”
ucapku dan memberikan map coklat itu pada Daniel.
“Katanya... kau juga harus masuk
sekolah, kalau tidak kau akan dikeluarkan” ucapku dan dia membuang muka kearah
lain. Ah... pria ini.
“Baiklah... aku akan pergi” ucapku.
Pria yang tak kutahu selain Daniel itu mengantarku sampai pintu.
“Rumahmu dimana?” tanyanya lagi sebelum
menutup pintu rumah itu.
“Disana...” jawabku tersenyum dan
diapun membalas dengan senyuman.
“Oh... tetangga ya?” ucapnya, aku
hanya mengangguk dan... pergi. Hhh... benar-benar melelahkan.
SCENE other
“Dia temanmu-kan?. Dia
terlihat ramah” ucap seorang pria dengan tubuh tegap dan kulit putih pucat sama
seperti pria yang sedang duduk di atas sofa berwarna kuning keemasan itu,
sementara pria yang diajak bicara hanya membuang wajah kearah lain.
“Daniel, datanglah kesekolah jika kau
tidak ingin kakak dan ayahmu datang dan membawamu ketempat itu lagi” ucapnya
duduk disamping pria yang diajak bicara -Daniel-.
“Hhh... itu bukan harapanku Dylan”
ucapnya berdiri dan menuju kamarnya. Sementara pria yang bernama Dylan itu
hanya menggeleng pelan dan menyandarkan punggungnya disenderan sofa itu.
Daniel, berdiri di depan jendela dan
melihat kearah luar. Memandang sebuah rumah bergaya victoria yang bersebelahan
dengan rumahnya. ‘Gadis itu temanku, dan
aku sama sekali tak mengenalnya’ ucapnya dalam hati dan menutup tirai
jendelanya. Ia pun mengambil jaket dengan campuran warna hitam pada bagian
bawah dan atasnya berwarna hijau dengan tulisan X18SCREAMO di punggungnya
kemudian beranjak keluar.
“Hei Daniel... apa kabar?” tanya
seorang pria yang tengah duduk disamping Dylan.
“Baik... ada apa kalian kesini?” tanya
Daniel memasukkan tangan pada saku celananya.
“Hei... jangan bersikap seperti itu
pada temanmu” ucap pria lainnya dengan baju kotak-kotak berwarna hitam
putihnya.
“Teman ya?” ucapnya tersenyum,
“Aku mau pergi sebentar, hanya
berjalan-jalan saja” ucapnya dan berlalu meninggalkan mereka.
“Ah... kita bahkan belum meminta uang
padanya” ucap pria bertopi yang terlihat lebih muda dari beberapa pria lainnya.
“Ayo pergi...” ajaknya kemudian
meninggalkan Dylan sendirian dengan asap rokok yang mengepul disekitar ruangan
itu.
AKU duduk di
pinggir tempat tidur, tadi itu... melelahkan dan mengganggu. Aku masih
terbayang akan raut wajah pria itu. Maksud ku Daniel, wajah yang kelam dan
dingin. Kalian tau... aku pernah mendengar cerita tentang pria itu, dia suka
berkelahi, clubbing dan sering memukul siapa saja yang ia tak sukai. Mungkin
itu salah satu alasan kenapa dia sering tidak masuk sekolah, tapi... apa
perduliku? Sempat aku melihat lampu yang menyala di rumahnya, yeah lewat
kamarku... ternyata aku bisa melihat kamarnya dari sini. Dia berdiri dengan
angkuhnya dan menatap kosong kearah depan.
“Ever...” panggilan itu hampir
membuatku terlonjak dan akupun keluar menemui ibuku yang memiliki khas baritone
itu.
“Ada apa bu...?” tanyaku dan... oh
tidak, apa yang membuat dia datang kerumahku?
“K-kau?” ucapku
gugup, matanya terlihat berbeda, dan oh tidak...
“Bisakah kau ikut denganku sebentar?”
tanyanya dan akupun mengangguk. Aku berjalan dibelakangnya.
