Posted by : Unknown
Minggu, 21 Juni 2015
Diriku yang dulu tak pernah melihat
langit cerah
5 Oktober 2013, Cherrystone, washingtone
Saat jam
istirahat tiba, aku langsung meninggalkan kelas bersama Samantha... “Waah...
disini indah ya..” ucap Samantha menari-nari di taman belakang sekolah. Aku
bernaung dan duduk bersender dibawah pohon ek yang rindang dan lebat. Udara
disini sangat segar. Hhh... aku dapat merasakan hembusan angin lembut yang menerpa
tubuhku.
“Ever... kau terlihat lelah sekali,
Oh... aku akan mencari minum dikantin, kau tunggulah disini” ucap Samantha dan
berlalu meninggalkanku. Sepi... akhirnya aku dapat ketenangan. Ketenangan yang
kuinginkan, ketenangan yang akhir-akhir ini sulit kuraih... Setelah berhubungan
dengan beberapa orang yang mulai masuk dikehidupanku yang kurasa itu tak
mungkin, selain Samantha. Aku mencoba memejamkan mata barang sejenak.
SCENE Other
Ever, gadis itu terlelap dalam
mimpinya. Tanpa sepengetahuannya, seorang pria datang menghampiri dan tersenyum
kearah gadis yang tengah bersender dalam lelap itu. Dia memperhatikan wajah
Ever, kemudian terdengar suara derap langkah kaki mendekat kearahnya,
“Ever... ak-”
suara itu berhenti.
“Sssst...” sambil tersenyum pria itu
menaruh telunjuknya dibibirnya meminta gadis itu untuk diam. Kemudian gadis itu
berlari meninggalkan mereka berdua. Setelah kepergian gadis itu, pria yang tak
lain adalah Daniel, dengan lahan-perlahan, ia mengambil kepala ever dan
menjadikan pahanya sebagai bantal untuk Ever. Dia
tersenyum melihat gadis itu terlelap dalam tidur dan dia-pun menikmati hembusan
angin yang lewat.
AKU terbangun
dan kudapati... “Hei...” dia tersenyum.
“Hah.. D- Daniel?
Sejak kapan kau? Ah... aku terlambat” aku bangun dan berniat untuk berdiri,
tapi tangannya menutup mataku hingga aku terjatuh dan berbaring ditempat
semula.
“Sudah... tidur saja lagi” ucapnya,
aku memegang tangannya yang ada di atas mataku “Kenapa kau tidak
membangunkanku?” tanyaku, dia hanya tersenyum.
“Karena kau tidur dengan sangat lelap
dan juga kau terlihat manis saat tertidur”. Ucapan apa itu? Kenapa dia
mengatakan hal yang membuatku speechless
-lagi-? Jangan-jangan dia sengaja tidak membangunkanku?. Hari ini... cuacanya
sangat cerah. Pasti diriku yang dulu tak pernah menyadari bahwa langit terlihat
begitu biru cerah. Aku sadar... duniaku mulai meluas. Semua kebisingan yang
selama ini kudengar, kini terasa nyaman. Nyaman sekali.
“Daniel...” aku bangun dan berbalik
kearahnya. Dia tersenyum..
“Aku bersyukur dapat bertemu denganmu.
Aku sudah mulai menikmati kehidupanku ini” ucapku. Kini kehidupanku berubah dan
semua penilaianku tentang semua hal pun berubah. Aku tahu siapa yang
merubahnya... Daniel. Terimakasih, aku senang bertemu denganmu.
“Daniel...” aku memanggil namanya
lagi.
“Hm...?”,
“Aku menyukaimu..” Aku mengatakannya,
a-aku benar-benar mengatakannya.
A-apa yang akan dia fikirkan, bagaimana ini?
Kurasa keringat dingin membanjiri tubuhku.
“Hm... heh..” dia tersenyum, apa dia
mengejekku?
“A-aku
berbohong”.
“Kenapa wajahmu me-merah? Kau seperti
anak kecil yang baru saja diambil permennya oleh anak nakal” ucapnya tertawa,
Apa dia bersikap dewasa?.
“Lalu...? apa kau mau pacaran?”
tanyanya,
“Apa? Pa-pacaran?, hei
aku hanya berbohong” ucapku, huh...
“Benarkah? Hm... syukurlah”. Apa? Apa
yang dia katakan? Apa yang sebenarnya difikirkan oleh pria ini?
10 oktober 2013, Cherrystone, washingtone
Aku dan Daniel duduk dihalaman
belakang rumahku sambil menikmati senja yang akan kembali keperaduannya. Dia
mengambil bunga lili milik ibuku,
“Ini bagus...” dia bergumam lalu duduk
disampingku.
“Kau menyukainya?”
“Hm...” dia menghenduskan hidungnya
kearah bunga itu. Apa ini suatu kebiasaan? Kufikir ia... Dia bertindak seperti
orang gila. Dari pintu belakang kulihat Troy tersenyum evil kepadaku lalu ia
berjalan kearah kami.
“Hei Daniel... apa kakakku selalu
membuat masalah?” ucapnya, lalu duduk disamping Daniel, Daniel memandangku
sejenak lalu beralih ke Troy.
“Kufikir, tidak” ucapnya.
“Troy, sebaiknya kau masuklah kedalam
sebelum kau yang membuat masalah ditempat ini” aku menimpali. Dia menghendus
kesal dan masuk meninggalkan aku dan Daniel.
Daniel sibuk dengan bunga lili-nya
sementara aku berdiam diri dengan fikiranku sendiri.
“Apa kau tahu... Tuhan memutuskan
kapan manusia mendapat keberuntungan atau kesialan, jadi semuanya terlihat
seimbang” ucapnya dan membuatku tersentak dari lamunan anehku.
“Awalnya... aku tidak mempercayai itu
sama sekali, menurutku... itu hanyalah omong kosong belaka. Tapi akhir-akhir
ini aku berfikir. Bertemu denganmu adalah saat-saat beruntungku, jadi itu semua
menjadi seimbang. Semenjak bertemu denganmu, banyak hal-hal baik yang terjadi
padaku” ucapnya melemparkan batu krikil kecil kearah pagar kebun kecil milik
ibu lalu beberapa detik kemudian tersenyum kearahku. Aku menyerah.
“Daniel...” aku memanggil namanya.
“Hm...?” dia menatapku heran.
“Aku mencintaimu...” ucapku, aku sudah
memutuskannya dan aku mengulangi kejadian itu, raut wajahnya terlihat berubah,
sepertinya-terkejut. Dia memainkan bunga itu sambil menatap pohon holy yang
masih kecil, disebuah kebun
yang
terbilang tidak terlalu luas milik ibuku.
“Saat itu kau mengatakan ‘syukurlah’
setelah aku mengatakan aku berbohong. Aku tau, kau tidak ingin kasih sayang
dariku... tapi aku telah jatuh cinta padamu, Daniel. Apa yang harus aku
lakukan?”ucapku akhirnya, bola mataku masih menatap kearahnya, berharap dan
berharap.
“Kau ini... mengutarakannya secara
terus terang”, “Itu karena kau terus berpura-pura” sela-ku .
“Aku memang mencintaimu, tapi... mungkin
cintaku tidaklah sama dengan cinta yang kau rasakan” jelasnya melempar batu
krikil kecil kearah kebun milik ibuku.
“Sejujurnya... aku memiliki pandangan
buruk terhadapmu, Ever...” lanjutnya.
“Oh... aku tak perlu mendengarnya,
itu... yah, terserah kau saja. Tapi... aku tak ingin mendengarnya” ucapku
gelagapan.
“Hahahaha..., kau lucu sekali” ia
menyentuh kepalaku dan mengelusnya pelan. Kupastikan wajahku benar-benar
memerah, ya tuhan... Jelas dia telah menolakku.
“Aku akan menunggu, yah... aku akan
menunggu sampai kau menyukaiku. Dan aku akan mengatakannya untuk yang ke-dua
kali, ketika kau telah mulai mencintaiku” ucapku, aku harus menunggu,
menunggunya untuk kuraih dan kudapatkan. Setelah mengucap kata yang seperti
itu, aku merasa tenang dan tersenyum kearahnya.
“Hm... aku akan menunggu” ucapku.
Tiba-tiba dia berdiri dan tersenyum kearahku,
“Jadi... kau akan menunggu sampai aku
menyukaimu?” kembali ia bertanya.
“Iya...” ucapku spontan. Dia
berjongkok dihadapanku, dan mendekatkan wajahnya kewajahku. Sangat dekat,
terbilang sejengkal anak jariku. ‘Apa yang kau lakukan? Selalu saja seperti
ini? Berhentilah bermain-main denganku. Baru saja kau menolakku, bahkan tidak
sampai lima menit, kau telah berlaku seperti ini. Jadi kumohon jangan
berpura-pura. Daniel-. Bisikku dalam hati.
“Aku belum mengerti apa-apa tentang
cinta” ucapnya, seperti berbisik.
“Bagiku... itu semua hanyalah
sandiwara dunia. Sandiwara yang menyatukan seorang manusia dengan lain jenisnya
kemudian dunia merenggut kebahagiaan yang selama ini dibangun... dalam cinta
mereka. Hhh... akhirnya aku berbicara ngelantur. Jangan perdulikan aku” ucapnya
yang langsung menegakkan tubuhnya.
“Baiklah... mungkin aku terlalu lama
ditempat ini. Sebaiknya aku pulang saja, aku takut Dylan khawatir. Aku pergi”
ucapnya berdiri dan meninggalkanku.
“Tunggu...” ujarku setengah menjerit,
dia menghentikan langkahnya
“Aku... aku benar-benar akan
menunggumu” ucapku, dan dia berbalik kemudian setengah tersenyum.
“Terimakasih... Baiklah, aku pulang”
ucapnya dan melangkah meninggalkan ku sendirian ditaman belakang ini.
