Archive for Mei 2014
Narukami Yuu : Ganteng, baik hati. Pokoknya
tipe orang baik deh. Dia loh tokoh utamanya yang paling banyak memiliki
persona.
Hanamura Yasuke : Teman deketnya Narukami, yang
paling sering sama Narukami dia orangnya juga lucu kalo’ sama Chie, Kanji dan
Kuma. Dia pewaris toko Junes tempat pertama kali mereka masuk kedalam Mayonaka
tv.
Satonaka Chie : Ini dia nih cewek yang agak
sedikit tomboy, kerjaannya bertengkar sama si Hanamura. Dia juga ikutan masuk
bersama Yuu dan Hanamura kedalam Mayonaka tv.
Amagi Yukiko : Cantik, salah satu pewaris penginapan tua tempat meninggalnya Yamano
Mayumi, dia suka tertawa berlebihan.
Tatsumi Kanji : Orangnya keras, cepet
marah/emosional. Dia dikira guy (suka sesama pria) haha... lucu juga.
Kujikawa Rise : Seorang artis populer, cantik,
imut, dia suka sama Narukami. Hehe... Kalo’ dideket Narukami dia suka centil.
Kumada : Penjaga di dalam tv. Aslinya boneka
besar, juga ditakutin sama banyak orang. Tapi lama-lama tubuh manusia pun
tumbuh didalam bonekanya. Dia itu cowok, manis pula sama lucu. Selalu berucap
apa adanya, dia seperti anak kecil.
Shirogane Naoto : Pangeran detektif, dia keren
tapi sebenarnya dia itu cewek. Tapi cukup tampan kalo’ diliat sebagai pria.
Sifatnya misterius yang membuat Kanji menaruh hati padanya.
Nah itulah tokoh-tokoh yang ada dianime Persona
4 the Animation. Orang yang memiliki masalah dengan dirinya sendiri. Di anime
itu menceritakan, setiap keinginan dari lubuk hati yang terdalam akan
diperlihatkan dalam tv. Tidak heran, kalau mereka ujung-ujungnya menginginkan
yang tidak bisa mereka raih. Mulai dari Satonaka Chie yang cemburu melihat
kecantikan Amagi Yukiko sahabatnya, kemudian Amagi Yukiko yang merasa hidupnya
seperti burung yang berada didalam sangkar, kemudia Tatsumi Kanji lalu Kujikawa
Rise dan datanglah Kumada ke dunia Yuu lalu yang terakhir Shirogane Naoto.’
Ada saja hal yang tak
mungkin dapat terkuak olehku. Hanya saja disana sebuah penantian pun yang tak
dapat kugali...
Ah merebaknya semua ini bagai membuat diriku terkalut dalam drama yang tak karuan
Ah merebaknya semua ini bagai membuat diriku terkalut dalam drama yang tak karuan
Kala ini...
pernah terbayang dalam benak,
ingin rasanya tak menggubris,
ingin rasanya melenyapkan...
tapi tak bisa.
Semua itu dimulai seperti perputaran
roda saja..
Mengapa?mengapa?
Bukankah lebih baik mengurung dari pada
terkurung?
Bunga
yang telah kering akan berserakan tertiup angin... (Popy Merkuri – Terlambat sudah)
Kerap
kali hidup memandang angkuh dengan semboyan ~angin berlalu, sudahi deraian yang
tak nyata walau terkikis api membara~
Walau tak mestinya terkadang keangkuhan mendera... dalam bait meraja sang merpati bertebaran dimalam yang kian
Walau tak mestinya terkadang keangkuhan mendera... dalam bait meraja sang merpati bertebaran dimalam yang kian
Pertemuan
secara tiba-tiba membuat merasa hal yang mungkin berbeda
Oh ... mahligai keindahan, terkadang merasa terkalut akan pemandangan yang terpancar dikala itu...
Hm... pertemuan secara tiba-tiba membuat aruman indah dalam samudra yang telah melupa...
Oh ... mahligai keindahan, terkadang merasa terkalut akan pemandangan yang terpancar dikala itu...
Hm... pertemuan secara tiba-tiba membuat aruman indah dalam samudra yang telah melupa...
Kadangkala,
sebuah irama mengalun tepat dihati sang lembayung...
Oh... irama merdu, bagai lendikan berkisar dalam samudra yang bertepur dalam keindahan yang mendera...
Dikala itu... seperti nyanyian terkisar menyambut datangnya esok menjemput...
Waw... pertemuan tiba-tiba mendayu-dayu dalam alunan gemericik hati yang tengah terkikis.
Oh... irama merdu, bagai lendikan berkisar dalam samudra yang bertepur dalam keindahan yang mendera...
Dikala itu... seperti nyanyian terkisar menyambut datangnya esok menjemput...
Waw... pertemuan tiba-tiba mendayu-dayu dalam alunan gemericik hati yang tengah terkikis.
Demikian bunyi alunan samudra,
katanya... mungkin tak hias habis
terkikis sudah,
saat menjamah senyuman terukir bak bunga
merah meradu
meradu dalam sirna sang lembayung
Biarlah
berlalu... berlalu, berlalu nan berlalu...
Kini... sebuah cermin indah akan nampak sekilas walau tak berkias
Pertemuan tiba-tiba yang memungkinkan untuk berlabuh secara harfiah...
Kini... sebuah cermin indah akan nampak sekilas walau tak berkias
Pertemuan tiba-tiba yang memungkinkan untuk berlabuh secara harfiah...
Sempat berfikir pada lembayung layu ketika
itu berduka... Walau terkadang sulit, namun setiap itu semua jika harus
difikirkan juga tidak akan berarti. Sang balada telah menapuk samudra pada
lembayung baru, lembayung lama sudah terkikis. Biarpun begitu, tak akan menjadi
masalah... sebab, lembayung layu telah terpikat olehpertemuan secara tiba-tiba.
Dari sang pujangg untuk menjaga samudra yang telah usang. Kadang terfikirkan,
bagaimana sebaiknya lembayung pergi dengan indah...
Malam
yang merajuk menyikapi seluruh kegelisahan
Ditengah gulana... sebuah pasir menepi, dalam helain sang pujangga mengaik deburan angin yang begitu keras...
Ditengah gulana... sebuah pasir menepi, dalam helain sang pujangga mengaik deburan angin yang begitu keras...
Teruntuk
teman ~ Mungkin tak kan kias habis memory yang telah diciptakan, akan ingatan
nan keindahan serta tawa yang menghiasi waktu-waktu dikala itu.~ Katanya, tak
sempat untuk meluruskan dikala semuanya telah terlambat, oh... tak dapatkah
untuk bersama?
Kepada
seorang teman ~ Kerapkali ia mengatakan ini adalah sebuah kemajemukan hidup
dalam suasana harfiah entah mengenai bathin atau kah emosi yang memang tak
sejajar dalam ingatan~ Tapi, ketahuilah ada pula saatnya pengertian itu timbul
dari jiwa setiap sang pujangga malam.
Sungguh...
Tak peka aku pada sekeliling, semuanya menggebu seakan mendorong batin yang tertutup untuk terbuka kembali...
Tak peka aku pada sekeliling, semuanya menggebu seakan mendorong batin yang tertutup untuk terbuka kembali...
Teruntuk (Teman)
Mungkn yg lain tak peka akan usaha yang di lakukan, jika memikirkan itu... hanya akan menambah peluh yang tak berarti...
Mungkn yg lain tak peka akan usaha yang di lakukan, jika memikirkan itu... hanya akan menambah peluh yang tak berarti...
HIDUP ini tak seperti
yang kau fikirkan...
Setiap perkara menjadi satu dalam detik yang tak pernah berakhir
Keabadian setiap makhluk bukanlah sebuah persetujuan, ketika dikalutkan dalam suatu perkara yang tak berarah...Top of Form
Setiap perkara menjadi satu dalam detik yang tak pernah berakhir
Keabadian setiap makhluk bukanlah sebuah persetujuan, ketika dikalutkan dalam suatu perkara yang tak berarah...Top of Form
Ketika lembayung
menangis... tak kan ada yang tahu...Oh... inilah arti lamat yang berembus
sinestesia tak beraturan. Sudah terlanjur dan dapat melupa, melupa nan melupa
agar lamat tak menyakit nantinya. Ah... melupa nan melupalah... sang balada ada
lembayung lain yang ia kasihi. Oh... sang persada, lupa nan melupa-lah... sang
lembayung merintih dalam kediaman.
Dia
berjalan ditengah koridor, kemudian ia melesak ke
kelas. Terduduk diatas bangku kayu dan memandang lurus kearah papan putih. Tak
lama kemudian ia menunduk menatap atas meja yang penuh coretan tangan yang tak
bertanggung jawab. Lalu ia menoleh kearah jendela dan menembus pandang menatap
awan dilangit. Ketika itu, ia merasakan sebuah hembusan menyapa tubuhnya,
lembuuuut...
Langit kebiru-biruan, dia berkata dalam hati "Angin penuh kelembutan... bertiup dari celah jendela.Aku mengerutkan wajah padanya untuk menyembunyikan perasaan aneh ini. Aku mengangguk ragu saat membentuk masa depan ditangan ini, masa depan dari diriku yang lebih baik dari kemarin"
Ia menunduk dan melemas...
Langit kebiru-biruan, dia berkata dalam hati "Angin penuh kelembutan... bertiup dari celah jendela.Aku mengerutkan wajah padanya untuk menyembunyikan perasaan aneh ini. Aku mengangguk ragu saat membentuk masa depan ditangan ini, masa depan dari diriku yang lebih baik dari kemarin"
Ia menunduk dan melemas...
Gadis
itu menarik nafas dalam... matanya menatap kosong kedepan.Sekalipun ada yang
lewat bahkan menyapa, tak dihiraukan jua. Dalam hati ia mengatakan "
Langit berawan menceritakan kisah yang akan datang, bentangkan tanganmu dengan
keberanian yang lebih pasti. Dari kemarin... cahaya dan kegelapan masih berada
dikejauhan. Walaupun begitu... Aku ingin mengetahui alasan dari perbuatan
baikmu itu " dia tersadar ketika seorang teman menghampiri. Lamunannya
terbang bersama angin yang berhembus pelan dan bernada ringan.
Ketika
berjalan... pandangan itu lurus kedepan.Tatapan kosong sudah tak terelakkan
lagi.Malam tanpa bulan seperti mengingatkannya pada sesuatu. Ketika itu, dia
berkata dalam hati " Gelak tawa mengejar bulan dari langit. Menuju
kemarin... Jika aku memang pembohong, penakut dan semua itu, aku hanya berkata
bahwa itu semua adalah mimpi. Bersembunyi dibayangan bulan, kumenangis... Tapi
air mataku mengering dan meninggalkanku. Meski jika semua termaafkan, mungkin
aku akan menangis lagi "
Setelah itu ia menuju pembaringan dan mencoba memejamkan mata.
Setelah itu ia menuju pembaringan dan mencoba memejamkan mata.
Dia
berjalan dengan beberapa temannya di tengah-tengah keramaian koridor, kemudian
memasuki kelas dan bercengkerama dengan teman-temannya.Ditengah kerisauan,
seorang gadis duduk sendiri di atas kursi kayu, kemudian menopang dagu. Dalam
hati, dia berkata " Sepinya langit dan pagi yang menyongsong, disini dan
sekarang adalah dimana semuanya dimulai, aku ingin memikirkan apa yang bisaaku
lakukan " Ia melihat sekeliling, dua orang gadis dengan penuh canda tawa
yang tak lain adalah temannya menghampiri. Seketika ia tersenyum
Dia
menarik kursi belajarnya dan langsung duduk, membuka lembar demi lembar kertas
yang ada dihadapannya.Ia mengambil bolpoin dan menuliskan sesuatu, lalu...
beberapa menit kemudian ia memutar-mutar bolpoinnya sambil menopang dagu. Dlam
hati, ia berkata " Memalukan jika memikirkannya. Jika aku memikirkannya,
hatiku seperti terdiam. Perasaanku bercampur dengan rasa pedih, aku
berbohong...
Dan sedikit lagi... momen ini tidak akan terlupakan. Oh tuhan... berilah aku sedikit keberanian " dia tersadar ketika angin lembut menyapa dari jendela yang terbuka.
Dan sedikit lagi... momen ini tidak akan terlupakan. Oh tuhan... berilah aku sedikit keberanian " dia tersadar ketika angin lembut menyapa dari jendela yang terbuka.
Disertai
keremangan malam, gadis itu mencoba menenangkan diri.Ketika sebuah kehidupan
yang mulai nampak membuat dia sedikit ragu.Waktu itu... ketika dia mulai
membuka mata memandangi dunia yang datang mengarungi kehidupannya, kembali.Dikediaman
malam, hatinya mengatakan "Meski ini sudah menjadi takdir, atau sudah
menjadi sebuah penentuan. Meski ini membuatku terluka, ini bukanlah sebuah
akhir, sehingga aku selalu berharap lebih " dia tersadar ketika seseorang
menarik knop pintu dan menghampirinya.
Gadis
itu menerobos keluar ruangan, dia menuju sebuah tempat untuk menenangkan
diri.Duduk dibawah pohon, deru angin membawa kelembutan dipagi itu.Dia terdiam,
seakan memikirkan sesuatu, tapi sebenarnya tidak.Matanya berkeliaran seperti mencari
sesuatu, tapi sesuatu itu tidak ditemukan jua. Dia berpindah,,, menghampiri
teman-temannya, lama ia terdiam disana... Dia berpindah-lagi-, dia terduduk di pinggir koridor kelas. Keributan dari lalu-lalang siswa
sama sekali tak mengganggunya.
Dalam hati ia mengatakan " Katakan sesuatu padaku, kesedihanku, bunga yang cantik, tepat sebelum aku berada disini. Ini belum bisa ku mengerti, saat lagu-lagu itu terbuat dengan sendirinya. Aku memimpikan kebebasan dan selalu mengharapkannya" Dia tersentak ketika seseorang melempar sebuah batu kecil dihadapannya
Dalam hati ia mengatakan " Katakan sesuatu padaku, kesedihanku, bunga yang cantik, tepat sebelum aku berada disini. Ini belum bisa ku mengerti, saat lagu-lagu itu terbuat dengan sendirinya. Aku memimpikan kebebasan dan selalu mengharapkannya" Dia tersentak ketika seseorang melempar sebuah batu kecil dihadapannya
Dalam
diam ia sendiri tengah berfikir, ia terlalu banyak menggunakan kepala ini untuk
berfikir yang tidak sepantasnya, dalam hati ia mengatakan "Suara detak
jantung membawa sebuah keinginan yang mengisi hati. Selalu saja mencari
kesalahan.Dan sebuah kebaikan percaya hanya pada perasaan yang meluap
mengingatkan tentang masa lalu" dia tersentak ketika sebuah benda pipih
berdering disampingnya.
Saat
itu juga, hampir dan hampir saja diketahui oleh yang lain. Jika dia tidak
menyela mungkin akan terungkap jua. Dalam hati ia mengatakan " Ditempat
terpencil seperti ini, kita dapat bertemu. Senyuman tersungging ketika angin
lembut berhembus" ia tersentak ketika seseorang memanggilnya.
Jauh… didalam
Sepenggal hati tengah terluka
Menangis… dalam keremangan malam.
Ketika itu…
Setiap orang terjaga
Sendiri… melampirkan setiap bait
kata-kata.
Diatas benda putih bergoreskan tinta
hitam
Oh… ada malaikat menyelam disebuah
tembok putih.
Nyanyikan lagu sang balada
Hati bertepur pada kemenangan…
Oh keremangan malam itu
Ketika sang
rembulan menyapa dikala itu, hembusan angin penuh kelembutan seakan memanggil.
Dikala itu… berjuta ungkapan yang tak mungkin tersampaikan untuk sang pelipur
lara yang tersenyum dari kejauhan.
Mentari Nampak…
Indah ketika mata menyelang
Sebuah permadani terbentang luas
Menanti samudra yang tak kunjung datang
Sepoi-sepoi setiap helaan
Ketika nuansa nan indah mulai terkoyak
Saat kertas putih tergores tinta hitam
Belenggu mencengkam
Nirvana… oh…
nirvana
Dendangan syair bersutra diatas bumi
Ribuan tangan seakan meraih
Harapan pun tak kunjung dalam pengabdian
Sendiri menelan pahit kehidupan
Akankah semua sirna dalam sekejap ?
Malam-malam
membawa sang lembayung meraih bulan. Dikala itu, angin berhembus pelan menyapa
jiwa yang tengah meratapi. Oh… malam yang kian mencengkam mengaduk seluruh jiwa
yang tengah gulana.
Kadangkala…
ketika waktu bergulir cepat, sang lembayung terduduk menanti dan menanti. Walau
di dalam kediaman… ia berfikir dan menanti. Menanti dalam waktu yang begitu
lama… yang mungkin tak kan pernah tersampaikan pada sang balada.
Dalam keremangan sepi
Sebuah penantian menabuk suci
Oh… berkala merintih dalam hati sunyi
Kadangkala…
Seonggak senyum tertepis menanti kepastian
Sudahi saja… dan jera
Semuanya bak menempuh dalam kesendirian
Oh… pelara sang lembayung
Setiap dentingan berkabut menanti
Aruman mimpi-mimpi terlampiaskan
Dikala… sendiri…
Dibawah langit
senja… seakan menapak pasir yang kian begitu dalam.Dibuai oleh samudra yang
begitu datang tiba-tiba. Secara tak sengaja lembayung menaruh hati pada samudra
lain. Oh… seperti menggapai bulan dalam mimpi indah yang tabu.
Dalam sepi… sang
lembayung menepi… ketika lembayung layu tengah berguguran di tengah-tengah
samudra, sang balada berpindah pada lembayung baru. Saat itu pula… sang balada
menepuh samudra kembali. Ah… samudra yang tak dapat terubah oleh sinar sang
pujangga.
Awan biru tertawa
pada samudra yang tengah mengering. Walau begitu… sang lembayung tak dapat
berbohong… ketika ada saatnya benturan langit gelap dengan cahaya matahari.
Jauh… yang tak kan didapat oleh lembayung gugur.
Haruskah
lembayung bersembunyi dalam kediaman?Ketika mencoba bertanya pada samudra yang
tengah masam.Sang pujangga rindu menoleh dalam samudra sendiri. Tiba-tiba, dan
tiba-tiba… Yang mungkin lebih baik untuk menghilangkan samudra yang tengah
mengering.
Ketika sang
penyair tertidur diantara malam-malam yang tabu… sang pujangga mengatakan “
Lembayung layu menangis, merintih dalam kediaman menanti. Samudra untuk balada
yang tak pernah tersampaikan, hingga balada pun merajuk pada lembayung baru”
Tak salah jika
angan tak sampai… bukan dalam gurauan atau hanya angan yang mungkin tak kan
tiba. Lembayung menunggu saat yang tepat untuk menabur hati pada balada… Ah,,,
gejolak berputar dalam bait-bait nada yang terlupakan.
Dalam kebisuan
malam... saat itu, lembayung duduk di tengah-tengah suara yang mendera.Mencoba
untuk menaburi jiwa yang sunyi dengan nada-nada merdu.Tak terfikirkan olehnya…
dalam senandung irama yang menjamah sekujur bait.
Dikeremangan malam yang pekat
Mengalun sebuah irama merdu yang mulai menampik
Seakan mengarungi malam yang begitu tabu
Dalam sepi…
Sebuah aruman berpijak
Pijakan yang seolah-olah mendera dikala itu
Ketika itu… Embun melayap desiran angin terkikis
Angin penuh kelembutan…
Yang mulaimengarungi malam yang tabu
Banyak hal yang
tak dapat kumengerti dalam hidup ini, entah sebuah ide tau pepatah yang tak
mungkin bisa begitu saja diartikan. Walau dalam setiap bait… kadang kebohongan
tak seperti kenyataan. Kadang pula sama sekali tak berarti omongan dengan omong
kosong belaka… kadang kesalahan jauuuuuuuh dari kebenaran… begitulah hidup
bagai roda berputar yang tak diketahui maksud yang berpijak didalamnya.
Bagi lembayung…
kebohongan lebih baik dari kejujuran… ketika lembayung bertemu samudra untuk
yang pertama kali… lebih baik tak berterus terang pada balada tertuju. Kadang…
kebohongan adalah bukti nyata dari samudra yang ingin melupa nan telah terlupa.
Malam yang tabu... membawa lembayung pada
samudra yang tak terkuak.
Ketika hidup mulai berjalan, seperti perputaran roda yang mencari tempat untuk bersinggah sejenak.
Entah... sebuah kebohongan atau-lah kejujuran. Nyatanya itu berbeda jauh... semuanya hanyalah dunia belaka ditempat yang durja ini...
Ketika hidup mulai berjalan, seperti perputaran roda yang mencari tempat untuk bersinggah sejenak.
Entah... sebuah kebohongan atau-lah kejujuran. Nyatanya itu berbeda jauh... semuanya hanyalah dunia belaka ditempat yang durja ini...
Lembayung bagai terombang-ambing ditengah
kehidupan... mencoba menguak apa yang tersirat dikala itu...
Meski samudra telah berlabuh... tapi tak dapat dipungkiri
Meski balada telah dan mungkin melupa... lembayung layu tetap menanti
Ah... Sebuah kehidupan yang menanti kepastian
Meski samudra telah berlabuh... tapi tak dapat dipungkiri
Meski balada telah dan mungkin melupa... lembayung layu tetap menanti
Ah... Sebuah kehidupan yang menanti kepastian
Seorang teman menyela: Sebuah
kehidupan yang menanti kepastian,, melewati gelap terang.a jalan menuju impian,,, deras arus gelòmbg tetap menjadi sahabat sejati mu menuju gerbang
kesuksesan.
Dan aku-pun membalas :
Kesuksesan yang berarti membuat hati indah saat sayup-sayup menemani malam...
Seorang teman :
Sayup_sayup malam yang indah.. Tanpa sinar rembulan, yang tersipuk
malu di belakang awan kelabu,,
Jawaban :
Rembulan bersembunyi bertanda gelap untuk kedatangan hujan yang sebentar lagi
turun. Dalam kebisuan malam... satu cahaya terang berasal dari bintang yang
mengintip ditengah kegelapan
Salah seorang lain menyela ) : Bila
kutitipkan dukaku pada langit, pastilah langit memanggil mendung. Bila
kutitipkan resahku pada angin pastilah angin menyeru badai. Bila
kutitipkan gram ku pada laut pastilah laut mnggiring gelombang. Bila
kuttpkn dendamku pada gunung pastilah gunung meluapkan api...
Jawaban : Dalam
kegelapan... langit menangis, dalam sepoi angin yang hilir... sebuah kemarahan
seakan terkuak, ditengah laut... gelombang pun seakan menghantam karang yang
tak berdosa. Gunung meluapkan api seakan tak melihat entah disana dan disana...
akankah seseorang tengah mengadu...
Tak usah menyimpan amarah dalam kegelapan yang tak kunjung bisa diredakan oleh pilu yang mungkin tak berarti.
Tak usah menyimpan amarah dalam kegelapan yang tak kunjung bisa diredakan oleh pilu yang mungkin tak berarti.
Seorang teman : Akankah
Cahaya itu mengintip
di tengah kegelapan...??? Pertanya'an itu kian terlontar dari bibir ke bibir,, awan kelabu menghalangi sinar bintang yang terpancar.
Jawaban : Cahaya
melesik dalam setitik arus yang berawan... ah, cahaya sunyi ditengah-tengah
kegelapan malam sepi
Ketika sang penyair mulai meluncurkan
berbagai bait dalam kalimat... Sebuah ironi yang terkikis ditengah-tengah sajak
kata.
Penyair mengatakan " Usah dirundung dalam kemalangan, lamat tak menempuh melaju kepastian "
Penyair mengatakan " Usah dirundung dalam kemalangan, lamat tak menempuh melaju kepastian "
Ketika nada mulai bergemuruh menyapa malam
yang mencengkam… seakan warna cerah berubah jadi gelap, mimpi-mimpi terubah
menjadi tabu… kehangatan berubah menjadi dingin. Seakan menyapa pada segelintir
makhluk yang mulai berkeliaran dikala itu.
Walaupun mengharap kedatangan matahari, jika
saja sang pujangga sudah berkata... tak kan bisa.
Benar... Ketika sang pencipta menganugerahi
pada pujangga malam... ketika itu pulalah sang penyair mulai merangkai
bait-bait yang tersampaikan...
Tapi malam kian ada cahaya yang melesak
terang ketika tinta telah berubah warna... seperti... aruman kesejukan yang
nampak dalam malam gelap...
Tak kias walau mimpi yang diidamkan terkadang
tabu... ketahuilah, ditengah-tengah mimpi tabu setitik pengharapan bisa saja
melejap dalam sekejap.
Dalam bibir-bibir indah nan manis terucap
kata-kata santun yang terkuak…
Bunga yang layu menabuk sunyi, sebuah irama merana dalam kesepian keluar dari mulut-mulut para sang pujangga malam.
Bunga yang layu menabuk sunyi, sebuah irama merana dalam kesepian keluar dari mulut-mulut para sang pujangga malam.
Terbilang rahasia... ketika mencoba untuk
mengungkit.Terkadang, segelintir orang berfikir yang tak sepantasnya... tapi
ketahuilah, ketika kebenaran terkuak. Kebenaran memang akan terkuak dari sang
pencipta, penciptanya untuk sang mortal ini.
Ragu… ragu… nan ragu…, hingga berujung
keraguan yang tak pasti. Dalam diam yang sepi, segelintir orang terkadang
mengatakan “ Tak usah dipendam jika merajut luka yang teramat, ah lamat laun
akan menepuh buih yang tak kunjung berakhir. Hingga sampai kepastian yang tak
dapat terkuak kembali ”
Walau dalam diam…
Keremangan ketika ini tak mengapa
Tak usah terfikir juga tak masalah…
Asal tau, bukan nista yang terkuak oleh janji
Tapi kebenaran yang terkuak dengan kenyataan yang
mendamba
Berjuta syair untuk menenangkan fikiran… ketika kala itu,
setiap irama melaju tak berbatas merobek malam yang sepi.Sebuah kedamaian
ketika menjamah malam yang gelap ini.
Desah dan nafas terdengar untuk beberapa saat dikala itu,
keremangan malam seakan mengajak untuk menemui pembaringan yang sebenarnya tak
dapat di percaya.Mata tak dapat terkatup tanpa nada panggilan dari pembaringan
yang tengan menunggu.
Seonggak senyum menyapa segelintir makhluk untuk kesekian
kalinya, sebuah nada yang berjalan terfikirkan untuk terkuak kembali… akankah
dapat dimengerti maksud perbuatan baik yang sebenarnya tengah tercipta ini?
Terfikir jua untuk memikirkan masa depan yang merajut
sebentar lagi… walau saat ini fikir mendera pada satu titik yang tak menentu…
Entah nyata atau ilusi, sungguh… lembayung layu yang tengah merajai kasihan
dalam rindu yang lamat.
Hidup ini rapuh… layaknya sebuah bait yang digunakan
untuk sementara waktu, kemudian lama-lama dan berlama yang selanjutnya akan
diganti dengan bait yang modern ~ cepat merapuh…
Malam untuk
pagi …
Katanya : Pagi yang cerah melebuh sang fajar diantara
matahari bersinar. Tengah terik menerawang membawa mimpi dengan angin yang
begitu halus nan lembut… Memberikan warna untuk hidup bagi segelintir orang.
Pagi untuk
malam…
Katanya : Sayup-sayup angin mengantar kedinginan dibawah
sinar berpancarkan cahaya bulan. Langit gelap menanti bintang membawa setitik
cahaya untuk menemani permai bulan.Bersama mengarungi langit petang untuk
kedamaian yang harfiah.
Minggu untuk
hari…
Katanya : Berlalu… nan berlalu, untuk kesekian kalinya
bertabuh bagi permai ditengah-tengah terik yang akan datang.
Hari untuk
minggu…
Katanya : Hakikat yang akan tiba membawa aruman untuk
esok cerah yang tiba.
Bulan untuk
bintang…
Katanya : Temani dalam sepi untuk menyinari alam perintah
dari pencipta sang penciptanya
Bintang untuk
bulan
Katanya : Bersama untuk bersatu, walau
berjuta tak akan hampa… dalam goresan malam yang kian menapuk kesucian dari
pencipta sang penciptanya.
Hujan untuk langit…
Katanya : Basahi tempat karena
perintah dari pencipta sang penciptanya, memberikan aruman bagi sekian makhluk
yang antah diketahui asal.
Langit untuk hujan…
Katanya : Sang pencipta, penciptanya…
menabur benih bening menampik sekian juta alam yang ternodai. Ibarat tinta
hitam tercelup diatas kertas putih bersih.
Dalam kebisuan malam yang gelap, seolah mentari mulai
ragu untuk nampak kembali. Di keheningan,,, ketika itu seroja menapik akar yang
tak dapat di mengerti. Senyuman yang tak paut untuk dilalui ketika itu, dan
saat itu. Untuk menepuh waktu yang akan datang.
Dunia menepi, hidup melanda.Keremangan malam yang
tertutupi oleh noda berbekas.Sejuta kata mungkin tak dapat tertorehkan dalam
alunan kertas putih sebening salju yang dingin.
Rama-rama melambai, menapik hidup untuk mendamba.Sebuah
anugerah menanti, menanti dan menanti.Dikala menyelam bagai arus yang
menghempas begitu saja.Daku tertoreh untuk menumbuk ikatan yang tak terikat.
Dikala itu, senyuman mungkin tak dapat merekah untuk
menyambut esok yang kian ceria bagi segelintir orang.Tak peluh jika memandang
tanpa harus menggubris sepenggal ingatan yang tak kunjung menjauh.
Seonggak lintang yang tak berbuih, menapuk malam sepi
yang tak berarah.Sebuah aruman mulai nampak dikala itu, seolah bertajuk dalam
rencana yang tak terfikirkan.
Sebuih pasir dilangit, menapak sekaleng embun yang tak
ter-gubris.Dalam bayangan kelabu meronta untuk kembali ketika pertempuran mulai
terasakan.Saat menjamah dunia gelap yang tak diketahui seperti angin berlalu
ketika datang menjemput.
Dalam keheningan malam yang mulai menyapa, sendiri aku
menapuk sunyi yang tak dapat tertoreh olehku.Meski hidup tak dapat kumengerti,
entahlah... mungkin hanya dapat terukir dalam rangkaian kata yang tak bermakna.
Ketika itu... Lembayung merintih bagai buih yang
meronta.Sebutir embun menyapa rembulan yang mulai nampak dikala petang
itu.Sambut untuk suku-suku kejora yang tengah tersenyum dikala gelapnya langit
memandang dunia.
Serumpun padi disawah bergoyang, bergoyang nan bergoyang,
menari, menari nan menari. Matahari tersenyum dengan ceria melatuk sang
berkasih yang tengah berdawai dalam merdu melana...
Angin penuh kelembutan, katanya “ Tak habis kias untuk ku
menyapa setiap makhluk yang berdawai dalam pelana yang tengah menanti ”
Dalam bayangan sebuah nirvana mulai mendaki, menuruni
berbagai gunung yang tak pasti.Entah belagu ataulah berirama. Oh... ketika
gunung mendaki selasih merintih nan bertepur dalam kelemahan.
Pagi yang menyambut menceritakan hidup ceria.Dalam
keramaian, segelintir orang mendamba aruman yang berjelaja. Ah… menapuk suci
dalam keremangan fajar yang tak kian kikis
Dalam serabuk rindu menepis angan tak sampai, bertabur
dalam bumi kejora menuai intan yang menapuk dalam bayangan. Bagai cemeti
menandang mahligai bertapur rindu berkasih .
Candai antah yang tak kunjung reda… Cemeda parah mengukir
awan… Dalam semboyan nurani berdawai, liat awan langit cerah dipagi itu.
Surga melapak dalam kasih… Rindu menapak dalam remang.
Secangkak pertapa mengayomi sang pujangga… untuk melampias bagi lembayung tak
berarti.
Menawan ah menawan… deraian berkabut dalam aruman
meradu.Merancau fikiran menembus pandang, bukti dari pelana memanah samudra.
Lembayung merapat dalam durja, hingga tak tahu menapuk sunyi.
Pertapa agung mendamba sang pujangga, kian… nan kian berkeras diri. Dalam
helaan nafas tak patut merenung dalam pagi yang menyapa… sang fajar melata.
Bak menggenggam arus dalam samudra, samudra pilu merancau
dalam petang.Lembayung menuai angin berlalu, ditengah-tengah gelap yang diam
mendamba balada. Untuk kesekian kali menanti… melihat nan melupa.
Segelintir menyapa, merandai awan walau tak berkias.
Kadang samudra terfikir dalam melupa, namun tak dapat ditepis bila balada
tengah menapuk samudra lain.
Tak sama awan mendung dan hujan berkabut… walau begitu,
awan mendung akan menangis, hujan berkabut mulai merintih. Dalam kediaman,
namun setitik cahaya terang dari langit tengah menanti, walau jauh… masih jauh
nan jauh dalam bayangan.
Malam membawa keremangan rindu, membuai dan menanti sang
mentari untuk esok paginya.
Tidak
seperti yang difikirkan oleh mereka, katanya " Sebuah permata indah telah
melesak dalam jiwa insan yang tengah dirundung ceria " Ah... andai mereka
mengerti, tapi tak apa... jikalah ternyata mereka salah kaprah.
Dia
seperti hidup kembali dalam mimpi ditengah-tengah labirin yang begitu gelap.
Untuk saat ini, ia mencoba untuk berfikir kedepan... menuai keindahan yang
walau masih jauh dan dalam angan. Mungkin angan akan tercapai jika tak
mengeluh...Terus mencoba, sebelum masa lalu mengambilnya ~ lagi
Keluh…
Sakit…
Bagaimana ini ?
Apa yang terjadi ?
Saat telapak kaki terhempas dibumi
Semuanya bagai dunia Hayalan dan penuh
Imajinasi
Aku berlari… Berlari kepantai
Mencari ketenangan yang indah
Saat semuanya tak ada yang mengganggu
Tak ada terdengar kebisingan
Hidup ini penuh dengan kedamaian dan
ketenangan
Pagi
yang menyambut ketika kegelapan menghilang.Sekilauan cahaya nampak memberi
kesan bermakna dalam hidup.Keraguan… menghilang sejenak. Tapi akan muncul
kembali ketika telah berakhir. Sama halnya ketika tuhan menciptakan malam yang
gelap dan pagi yang cerah. Pagi itu pula akan berakhir ketika tiba waktunya.
Senja nan indah terdapat makna yang tergores dalam kesedihan… Dapatkah bertahan
dalam balutan luka?Begitupun hidup ini, tak tau… sampai manakah bisa
bertahan?Setiap keindahan seakan bermakna, dibalik keindahan ada setitik lubang
yang tak diketahui.
Mawar hitam
nampak dalam sekelabu awan pucat, mawar merah ranum tergores oleh sayatan tangan
yang tak dapat diartikan nan… terlelap dalam tidur. Walau bergerak sehaluan…
mungkin dan mungkin tak dapat diartikan kembali.
Sehelai noda
saja… tak dapat mengaruh hati yang lelap. Seuntai dendang saja… hanya menapik
dalam dendang alam yang tak dapat terkuak
oleh hati yang telah mendera. Dalam diam, diam, diam… tak dapat diketahui apa
yang tersirat dalam benak yang membatu.
Derai awan
membawaku kedalam mimpi yang… entahlah, akupun tak tahu sampai kapan aku bisa
bertahan dalam sejuta kerlapan aruman meradu ini.Walau tak seperti yang
dibayangkan… tak mungkin jua dapat terelakkan untuk samudra yang tengah didera
oleh kepiluan ini.
Ketika semat dan
lamat menjalur dalam arus yang sama. Dan saat itu… tak dapat termaktubkan dalam
irama ataupun dendang dan bahkan mahligai yang bersenandung dalam dunia sepi
yang penuh ilusi ini.
Seperti dalam
cermin yang menampak… ketika sekeliling haruslah bernyanyi dalam sejuta irama
yang tak… entah dapat berarti atau pun tidak.Tapi… ketika suatu yang indah
bergulat – lagi. Tak kan dapatlah untuk dielakkan.
Ketika suatu masa
harus berakhir, entah dapat di ungkap kembali masa lama atau masih dalam
fikiran masa lalu. Mungkin, dari sejuta orang lainnya tak akan tahu - rembulan menapik
bintang membisu -.
Saat telapak
menjamah tanah, kebisingan mulai terdengar ditengah-tengah bentang alam. Ramai,
ramai nan ramai. Hidup penuh pilu yang jemu aku melihatnya, saat goncangan
mulai berirama mengikuti arus bumi yang berputar… tetap saja, ramai… ramai nan
ramai. Bising… bising nan bising. Tak taukah ?disini jiwa insan tengah mengaduh
dalam sepi.
Rembulan mungkin
taktersenyum ketika langit pekat, Bintang pun jua tak nampak ketika langit
gelap. Begitupula dengan suasana hati yang dirundung pilu yang melanda...
Kau tak pernah
mengerti dan tak akan pernah mengerti. Katanya “ Bagaimana bisa kau masuk,
ketika dia takut masa lalu akan mengambil masa depan yang sebenarnya?”
Begitulah, bagai rembulan yang takut akan pancaran dan petir dari langit yang
menyambar.
Ketika mentari
melesik ditengah-tengah cakrawala, burung berkicau riang. Lalu, ketika petir
melesik ditengah-tengah kebisuan malam, ketakutan serasa mencengkam dan
kedinginan merambat sekujur tubuh yang telah dilanda derai yang begitu
dahsyatnya. Seperti halnya, tersenum dan menangis...
Buah yang ranum
melekat pada bibir-bibir indah yang mendamai, begitulah pencipta-sang
penciptanya berkarya dalam menuai jiwa sang insan.
Dalam kelembutan
angin malam seperti membawa kedamaian tersendiri bagi nya. Ketika hidup ini
sulit untuk dihadapi, hatinya seperti sebuah emas berkarat dirundung sepi. Emas
yang sudah tak diinginkan lagi – begitulah katanya.
Walau tak sama
cahaya rembulan dengan cahaya bintang. Semuanya bagai sebuah sandiwara yang tak
diketahui maksud dan cara penyelesaiannya. Begitulah bisikan hati dari sang
pujangga yang akan terlelap diatas pembaringan.
Bintang berpancar
menjamah langit malam yang kian gelap, ketika peraduan mulai menjamah bumi yang
berputar semua bak terbangun dalam ingatan yang begitu syahdu. Katanya “
Akankah ikatan sama dengan terikat?”
Malam yang pilu
melesak dalam kediaman sang lembayung, ketika itu pula... fikiran seakan
terungkap walau tak dimengerti. Entah sudah menjadi takdir dari pencipta-sang
penciptanya? Ataukah secara tiba-tiba yang memang disengaja?’
Dendangan alunan
membawa lembayung dikala itu, suara semat seakan menemani samudra yang tengah
terkikis oleh siksa yang tak disengaja. Ah... malapetaka ketika itu seakan
menusuk, walau tak tertusuk.
Kau
meniup seruling bambu
Mendendangkan
irama merdu...
Hidup
tak berarah
Hei
kawan...
Selembut
sutra dengan indahnya menari-nari
Serasa
menggelitik...
Ketika
sang penyair merajut bait
Dengan
suara merdu
Dendangan
syair indah seakan merasuk
Hidup
seakan terpatri
Ketika
itu...
Suara
sang penyair bagai irama
Berkesan
dan penuh takjub
Ketika
kau nyanyikan lagu balada
Hati
semakin menari-nari
Oh...
penyair malam
Suara
merdu dengan barisan bait yang kau atur serapi mungkin
Oh...
penyair malam
Bagai
irama merdu
Ketika
aku tersadar, aku tiada...
Ternyata...
Itu
hanya mimpi
Mimpi
bunga tidur yang indah
Tidak, tidak, tidak itu tidak benar.
Tak taukah ketika lembayung menanti dalam kediaman ketika samudra dengan
sabarnya menemani?. Dalam bayangan-pun tak dapat tertepis kembali walau hanya
sebuah angan yang tak-kan pernah sampai.
Untuk selanjutnya, angin melambat
sejenak menempuh bayang yang tak pasti. Ketika dan dikala itu... Lembayung
menelisik dalam wajah balada yang tengah menatap buih-buih binar dalam samudra
permana.
Dalam galut seperti tak beraturan
walau terkikis dari antah berantah tanpa kepastian. Lembayung seakan
terperangkap dalam duka ketika balada telah menapik indah pada yang lain. Ah...
bak rembulan yang ditinggal bintang tanpa pamit dikegelapan malam.
Walau rencana tak sekedar rencana,
bagai mengaik kapas dalam buih yang terlelap dalam tidur. Bisa saja tak sampai
walau melangkah jauh dengan kepastian yang tak diketahui. Sama halnya dengan
sendiri menapuk sunyi yang sanggup menemani.
Dentingan hati mengalun dalam pengeras
sang seroja yang telah menampik pada sebatang pohon yang merancau dalam akal.
Ah... seperti harus menyingkapi hidup dalam bayangan yang walau tanpa sadar
hanya dapat dilalui.
Apalah arti walau kian lamat menjadi
semat, jikalah tak dapat ternodai hanya dengan segores tinta yang melaknat
walau dalam bayang yang tak dapat disentuh.
Meski hidup berkata “Entah tak tau
walau pujangga berkata apa”. Meskilah jua tinta bergores berkata “Tak rundung
walau noda berpasih dalam benda bening” dan meskipun jua angin lembut berkata
“Damai nan meradu dalam deliman manis dengan dendang bermata sayu” Itu hanyalah
sebuah nada irama bagi sang penyair yang termaktub dalam bibir pujangga malam.
Semestinya ini tinggal cerita walau
berlalu dalam bayangan yang tak pasti. Hanyalah mungkin jika lembayung meraup
tidur indah diatas pembaringan. Jikalah telah menjadi suratan ketika
pencipta-sang penciptanya telah melesik daun seroja dalam daun melati yang
merapuh.
Namun tak dapat terelak yang kian
kikis menjadi meradu. Untai demi untai bagi jelaja yang pekat mengarungi
samudra yang antah sampai kapan tak mudah untuk diartikan. Begitulah bunyi
kalimat dari penyair meradu dalam keheningan malam.
Jalan demi jalan bagai tak berarah,
ketika aku harus menempuh hidup yang begitu membingungkan, dan benar-benar
bingung akan maksud yang tersampaikan ini. Seperti hanya lembayung yang dapat
mengerti tentang samudera yang tengah melanda dalam benaknya.
Dalam hati kecil mengatakan “ Apakah
lembayung harus melata terlebih dahulu untuk mengungkap samudra yang telah lama
dalam seroja? Tak dapatkah sang balada menelaah dalam kabut-kabut yang menelan
awan?”
Sungguh... jika saja malam tak
menggubris pagi untuk nampak, tak mungkin bisa teratai tumbuh akibat lembayung
melanglang dengan balada. Ah... jika saja balada menoreh setitik teratai saja
walau dalam bayangan yang sedikit bersama kabut terbang bersama langit, maka
tak apa-lah.
Pernahkah seorang melabu dalam
kebingungan?Katanya “Kehidupan
adalah panggung sandiwara, dan sandiwara itu sepenuhnya menceritakan tentang
kehidupan umat manusia.Maka sepanjang jalan kehidupan kita, jangan pernah
melakukan perbuatan jahat, atau melakoni peran yang konyol!”(Anne
Ahira)Ketika itu… pagi menyelang, mencoba untuk meraih dunia yang begitu sulit ini… Katanya “Kesuksesan hidup tidak adahubungannya dengan apa yang Andadapatkan atau raih demi diri sendiri.Kesuksesan hidup berhubungan denganapa yang Anda lakukan pada sesama (untuk orang lain)” (Danny Thomas)
Kabut-kabut pekat seakan menoreh pada hidup yang penuh dengan sandiwara ini, entah bagaimana jikala terpagut dalam seroja yang tak diketahui walau dalam kata yang meski tak dapat tertoreh oleh segenggam jati yang berbisik.
Masa lalu yang tak dapat dimengerti, entah sebagai petaka ataukah semangat untuk melaju dalam hidup baru yang lebih indah damai dan penuh temaram, katanya “Jika Anda mengalami trauma pada masa lalu yang begitu membekas.Trauma ini lantas Anda gunakan sebagai 'kambing hitam' atas keterpurukan Anda saat ini.Anda terus terikat dengannya, meski
itu menyakitkan. Bila Anda tak bisa lepas dari trauma, maka coba tanyakanlah hal ini pada diri Anda:
"Berapa banyak luka lagi yang akansaya biarkan diderita oleh diri sayasendiri?Apakah trauma ini pantasmenghancurkan seluruh sisa hidupsaya? Siapa yang berkuasa disini,
diri saya--ataukah trauma?"
Perhatikanlah daun-daun yang mati dan berguguran dari pohon, ia sebenarnya memberikan hidup baru pada pohon. Bahkan sel-sel dalam tubuh kita pun selalu memperbaharui diri.Segala sesuatu di alam ini memberikan jalan kepada kehidupan yang baru dan membuang yang lama.Satu-satunya yangmenghalangi kita untuk melangkah darimasa lalu adalah pikiran kitasendiri.
Beban berat masa lalu, dibawa dari hari ke hari. Berubah menjadi ketakutan dan kecemasan, yang kemudian pada akhirnya akan menghancurkan hidup Anda sendiri” (sebuah nasihat untuk diri saya sendiri dan kita semua) = Anne Ahira
Jika saja langit tak menampung hujan, mungkinkah cahaya terang tak kan keluar? Katanya “hanya seorang pemenanglahyang bisa melihat potensi, sementara seorang pecundang sibuk mengingat masa lalu.
Bila kita sibuk menghabiskan waktudan energi kita memikirkan masa laludan mengkhawatirkan masa depan, makakita tidak memiliki hari ini untukdisyukuri.
Saat kita merasa sedih dan putus asa, atau bahkan menderita, coba renungkan keadaan di sekitar kita.Barangkali masih banyak yang lebih parah dibandingkan kita?
Tetaplah tegar dan percaya diri, berpikir positif dan optimis, berjuang terus, dan pantang mundur” (Anne Ahira)
Aku masih digeluti dalam baying-bayang yang tak kuketahui sendiri, entah sebuah ilusi atau bentuk karya dari sang pencipta-Nya. Bertepur, walau dalam kurung waktu yang seakan lama, ini hanyalah ironi dari sebuah tragedy yang tak dapat terkuak oleh diriku sendiri.
Saat lembayung meraung dalam kehidupan yang penuh dengan (?) terlesak dalam benak meski bertabut dalam bayang yang tak dapat tertepis kembali. Katanya " Fokus pada masa depan bukan masa lalu "
“Kini sebuah hati mendera dalam malam yang sepi” kata seorang pujangga yang mengintip dari celah-celah jendela merasakan gesekan angin yang seolah menyapu lembut wajahnya ditempat itu.
“Bukan hidup namanya jika penuh sandiwara dunia” katanya, saat dunia melesak dalam keajaiban yang tak normal. Namun dendang pagi itu membuainya yang hingga tak dapat ia rasakan seperti apa nuansa yang mengalun bak sutra lembut dalam kelabut yang mendera.
Panas mentari pancarkan cahaya yang tak ubahnya sebuah mahligai yang tengah mendamba. Katanya " Walau kelabu bagai perumpaan tirai yang menghias di balik awan kemudian bagai kabut berlayar -kemudian PUDAR-
Entah mengapa ketika derai bergulir lembut bagai mengartikan sepenggal kalimat, walau dalam bait harus melanglang ketika samudra dari seberang menghilir. Ah… andai rembulan berkisar pada waktunya, ketahuilah meski jeratan menaguh pada buih yang terpagut, akar-pun dapat menepis dalam bayangan tak beriak.
Kalaupun kau tahu makna dari semua itu. Bahkan tak-kan pernah mengerti sama seperti lembayung menepis mentari yang mengubur arti diatas jemari-jemari kecil.
Ketika malam menjemput, dibalik senja terukir makna yang meletup diatas rimba hitam tak beraturan. Ketika senja mulai menampik, lamunan sang penyair menyentuh air bening yang semakin melamat dalam semat yang tak-kan habis oleh curah hujan yang berdendang menggapai irama meradu.
Jangan menoreh ketika langit tak berawan, meski hanya datang tanpa bekas semua terasa terbaluti dalam dendang yang sedikit meragu.Meski hanya sebuah kategori seperti secawat embun yang dituang dan dibiarkan menangis ditengah jalan.
Desah gelisah nafas yang tergugah dalam bayingyang tak nampak, meski menjular dalam jemari yang tak mungkin diartikan meskipun bendangan indah tengah menanti. Wahai dunia yang penuh rekayasa yang tak kunjung mereda meski dalam balutan sang mahligai yang meratap dengan embun membasahi bumi.
Meski semu tak menyemat dalam anugerah yang tak berarti, walau pertapa tengah mengingatkan sebuah nada yang tak mestinya harus menengadah pada balutan desah yang tak kunjung dengan deraian sang empu-nya.
Ketika menatap pagi yang mesti harus di ubah dalam alunan meradu dikala pagi itu, bagai setitik embun yang terbaluti dengan suasana singgah dibatas kota yang entah sampai kapan akan berakhir atau tidak ketika menjerit.
Dalam kehangatan pengantar tidur, lembayung menepis dikala sunyi menyambut. Dalam tabu dan kediaman malam yang tak Nampak walau sebuah angin lembut menyapa. Namun dan dikala itu seonggak senyum tengan terpancar meski hati sedkit teriris menyapa.
Lembut, lembut nan lembut yang kian meradu dalam sepi. Semenjak keheningan yang tak pernah terharapkan jua seperti “ walau angin lalu, tak kan kias aku berdiri menatap sepi yang seperti tak pernah bertaruh menemani awan di kelabu yang senja”
Sedangkan luka yang tak pernah terobati seakan menghapus jejak dikala itu. Tak semat angin berlalu menubuh sang aruman meradu yang tak dapat dimengerti seolah menapuk sunyi dalam bayangan sang mentari dikala itu.
“ Itulah mengapa ” kata seorang pujangga yang ditemani malam sepi penuh kerinduan. Rembulan telah menjadi saksi ketika sekelebat kabut merayap pelan di celah langit yang terbentang.
Ketika ku coba tuk menepis...
Seakan cakrawala-pun turut mendatang
Saat itu...
Aku terdiam dan dipenuhi oleh bayangan-bayangan tabu
Yang mungkin tak dapat kutepis dan kutemukan keberadaannya
Menanti yang
Tak Teraih
Aku
melesik dalam bayangan penuh duka
Ketika
sebuah irama menandang janji
Walau
itu aku…
Tak
dapat mengerti dengan semua yang terjadi
Telah
dilupakan...
Ketika
gerhana muncul bertandang cahaya
Katanya,
buih-buih alunan meradu dalam hati
Bait-perbait
tak dapat terkupas
Angin
penuh kelembutan menyanyi
Merangkul,
dan membelai hati yang bartandang rindu
Ah…
alangkah sekejap bayangan saja tak dapat menghilang dalam rindu?
Malam sepi
Desir
angin dimalam dingin
Membawa
mimpi yang hanya bunga tidur
Dicelah
jendela, merasuk cahaya rembulan
Seakan
mengintip dari selasar sana
Menyampaikan
salam yang tak berarti
Hanya-lah
meradu ketika…
Rembulan
mulai menyapa nan berkata
Bersama
untuk menemani sang pelana yang tengah menanti
Menggapai
yang tak dapat diraih
Dan
hanya mendamba yang tak dapat terungkap
Ku Tunggu…
Kutunggu…
Kutunggu
kau di selasah sana
Kutunggu…
Kutunggu
kau di penghujung malam
Kutunggu…
Kutunggu
kau dibatas senja
Kutunggu…
Kutunggu
kau dalam kediaman
Kutunggu…
Kutunggu
kau ditengah bising yang tak bisa kuhindari
Kutunggu
untuk menanti
Dan
menanti untuk kuraih
MENGADU…
Desiran
panas yang membawaku
Mengadu
aku…
Ah…
seakan menggelora walau tak dapat kuhindari
Semestinya…
ini bertandang dalam haluan yang berbeda
Namun…
meski ku coba,
Aku
jenuh dan lelah
Meski
kucoba untuk memikirkan
Hanya
dapat ku mengadu pada bulan dan bintang
Meski
kuberada dikediaman
Hanya
dapat ku mengadu pada hati yang tak dapat kumengerti
Meski
kuberada ditengah kebisingan
Hanya
dapat ku mengadu pada angin yang menerpa
dan
terbawa pergi jauh… jauh… nan jauh
Menanti
Kepastian
Angin
penuh kelembutan…
Menyapa
di sekitar
Rembulan
bertandang cahaya…
Tersenyum
di selasah singgah
Senja…
Memasuki
peraduan
Ketika
itu…
Seroja
gemulai melantah ruah deru angin
Menelantar
hambar yang tak pasti
Menoreh
walau tak ada
Melesik
kabut yang tak dianggap
Berdiam
layaknya serumpun putri malu
Menanti
pada malam yang menyapa, dan
Menanti
untuk kepastian
Tak
dimengerti
Angin
mulai meradu di penghujung sana
Aku
yang terdiam…
Membawaku
pada kepuasan
Puas
ku merintih nan puas ku berduka
Ini
hanyalah sebuah pertanda
Yang
tak mungkin bisa ku elak lagi
Basah
rindu ini…
Mulai
menyapa dengan sayup-sayup
Yang
bertandang irama
Aku,
aku yang seperti bunga layu
Menangis…
seumpama pengemis
Suasana
Irama
malam…
Membawa
kedukaan kala itu
Teratai
yang layu
Sudah
melapuk tak terurus
Ah…
Keheningan malam bersandar pada angin dingin
Seakan
menjamah gelap yang tertoreh luka
Walau
siyup-siyup ramai berdentang diselasah sana
Hanya-lah renungan berkasih yang membawa alunan tak meradu
Hari Yang Sama
Pada akhirnya akan tiba
Ketika dimana waktu akan
bertemu pada suatu hari yang sama
Saat itu...
Aku tersenyum menyapamu
didalam selasar ini
Dan ...
Kau menghampiriku,
kemudian berkata
Bentangkan kedua
tanganmu
Seperti sayap-sayap yang
utuh
Kita akan terbang
bersama menerobos langit
Namun...
Tak lama engkau-pun
lelah dan meninggalkanku
Sendiri, menanti di
penghujung hari yang sama
Dibawah Rembulan
Saat sayup-sayup malam
mulai berdentangan
Disana...
Dibawah rembulan yang
nampak
Kau memeluk dan
mendengar detak jantungku
Mengelus rambutku dan
berkata
Aku ingin kau seperti
bulan
Memberikan cahaya
disetiap kegelapan malam yang mencengkam
Namun, aku takut jika
kau menghilang disaat langit tak berawan
Dan malam itu...
Kau menceritakan kisah
masa lalu yang membuatmu meneteskan air mata
Aku hanya diam mendengar
Melihatmu, menangis,
untuk masa yang sudah berlalu
Perbedaan
Dibawah cahaya bulan
Ketika itu...
Dimana pada masa membawa
kita kesuatu hari yang biasa
Kau mengantarku keatas
pembaringan
Disampingku...
Memelukku dan mendengar
setiap deru nafasku
Saat itu pula, kau
mengatakan
Pergilah untuk menemui
hari esok yang penuh ceria
Kala itu... sekelebat
kabut melesak dalam lembah berkasih
Namun...
Kini kau dan aku berada
di jurang rimba yang jauh
Jurang yang berbeda,
berbeda untuk semua
Yang berkasih, tapi tak
berbeda pada satu -CINTA-
Tahukah Kau
Tahukah kau…
Saat hari dimana aku ingin
kembali pada saat yang biasa
Serasa aku ingin menikam hati dan
menghancurkan fikiran
Membunuh perasaan yang tak
semestinya harus tumbuh
Betapa sakitnya aku memendam itu
Tahukah kau…
Saat malam yang gelap kembali
seperti biasa
Pucuk-pucuk rindu yang inginku
robek bersama dengan jantung yang berdetak ini
Namun, seakan otak-ku melarang
dan membawaku tergelut kembali
Tahukah kau…
Saat hari cerah beruntun dengan
awan mendung...
Jantung ini seakan berdetak hanya
untukmu
Dan seakan memanggil namamu
Memanggil namamu… dalam kediaman,
kesendirian dan kesedihan
Tahukah kau…
Saat siang berganti dengan senja
yang pekat
Air mata ini, tak hentinya
menetes setiap malam
Merindu dan mendamba dalam
kesepian malam yang menemani
Perih rasa mata ini karena
menangisi dirimu
Tahukah kau…
Saat malam dingin menghembuskan
angin lembut
Kubungkam mulut ini rapat-rapat
walau ingin ku teriak tapi hati ini melarang
Sampai mulut ini terasa mengering
agar tak ku sebut namamu lagi
Meski dalam kediaman… pedih harus
kuterima
Tahukah kau…
Saat fajar mulai nampak di
selasar sana
Telah kucoba untuk melupakanmu
Menghapus tentangmu…
Menghapus jejak-jejak bayangmu…
Namun, semuanya tak bisa
Apa yang kulakukan semua tak
berguna
Dirimu… telah melekat dalam hati
dan jiwa yang terdalam
Karena-mu, Untukmu dan Hanya
kamu…
Si Petani
Angin lembut… meradu
dalam keheningan
Dikala itu… Kiasan
indah bertuliskan janji antara gunung dan alam
Disebuah waktu,
dimana kita bisa kembali pada saat itu
Saat sayup-sayup
gadis desa terdengar
Menuruni bukit-bukit
tinggi
Diselasah sana…
Jalan berliku
terbentang seperti hilir yang melekat
Sebuah dangau kecil
Teraliri… disana…
Air berjalan didekat
bukit
Seruling bambu yang
menemani senja itu
Beramai-ramai membawa
lumbung
Melewati jalan
setapak membumbung cangkul di pundak
KALA HATI GUNDAH
Akan tiba waktunya ketika kita
kembali pada suatu hari yang biasa
Ketika dimana kabut putih menyapa
untuk pertama kali dibukit sepi
Akankah kau seramah dahulu?
Tersenyum... dan duduk
disampingku
Mendengar keluhan kata yang
terlontar dari bibir pahit ini
Akankah kau selembut dahulu?
Memberikan patah kata sambil
menyentuh lembut kedua tanganku
Memelukku, ketika ku dekap kau
dekaplah lebih mesra, lebih... dekat
Akankah kau seceria dahulu?
Membawa kisah kosong dan tertawa
bersama
Dan kita terbawa arus sendiri
Ketika melodi indah berdentuman
dalam nada hati
Walau diselasah sana...
Segelintir orang memandang rendah
dirimu dan diriku
Saat-saat kabut di langit turun
pelan-pelan di bukit sepi
Dibukit Pandanwangi
Kini... kau dan aku berada di curah
yang berbeda
Kau jauh... begitu-pula diriku
Disana... dilangit pekat
Cahaya bulan melihatku...
Angin lembut mulai menyapa...
Mengantarkan ribuan pertanyaan
yang tak dapat kujawab sendiri
Ketika itu...
Seakan membangunkanku dari mimpi
Mimpi-mimpi yang tak dapat ku
mengerti
Hingga mengantarkanku pada
kegundahan hati
(For my friends...)
Malam...
Malam sepi membawaku
pada pembaringan...
Ketika telah sampai...
Kerap kali mencoba,
dan mencoba...
Mata tak dapat
terkatup jua
Walau dalam angan
Tak pernah terasa
sesuatu yang mungkin dapat membawaku ke tempat lain
Entah mimpi ataupun
nyata
Berfikir nuansa indah
benar-benar berlabuh dalam diriku
Tapi...
Sekali lagi kucoba
mengatupkan mata
Serasa seperti film
kuno yang mulai memudar
Memudar akibat malam
yang berjalan dipenghulu waktu
Aku ingin memastika
untuk saat ini
Ataupun dilain
waktu...
Melupa...
Saat aku terdiam...
Berfikir, berfikir dan berfikir
Kau tak mungkin memberikan hati
Oh... aku ingin melupa, melupa
nan melupa
Melupa jauh... sampai tertiup
gesekan badai angin
Aku bagai bunga yang layu...
layu... nan layu...
Bagaimana bisa aku menghapus
dirimu bila kau selalu berdiam dalam otakku?
Oh... kau pergi saat itu..
Kini... aku benar-benar bagai
daun layu
Mencoba untuk melupa, melupa nan
melupa
Ketika kabut berkasih telah
menghilang
Melupa seketika...
Tak Ingin...
Bukan bermaksud menabur luka
dalam lembayung layu...
Ah... andaikan mau mengerti...
Ini jua bukanlah keinginan...
Melainkan harapan yang tak
mungkin dapat teraih...
Oh... malaikat malam...
Sejuta berkasih, dalam lendungan
angin yang tertiup pelan
Menyampaikan seluruh tandanya
untuk (nya)
Suasana Malam
Wahai angin malam...
Bawalah rasa ini pergi jauh nan
jauh...
Wahai hujan...
Hapus-lah rasa ini dengan
rintik-rintik yang berjatuhan
Oh... malam...
Bawalah aku dalam kelupaan esok
pagi
Oh... malam...
Biarkanlah aku dalam kediaman
yang suci
Oh... malam...
Aku yang tepekur dalam hati yang
tak menentu
Menanti kabut berkasih di dalam
lembah bayangan
Oh... malam...
Aku titipkan doa’ku untuk tuhan
pada angin malam
Yang melanda deraian hati dalam
kegundahan
Mimpi bukanlah Mimpi
Saat malam-malam tabu tiba...
Seakan membawa aortaku kedalam
lembah malam yang begitu gelap
Dibalik celah jendela,
Setitik cahaya bulan mengintip
dari persinggahan, lalu berkata
Ketika masa membawa kita pada
satu tujuan yang sama
Pada satu tujuan yang tak dapat
dilupakan
Melekat dan terkubur dalam
ingatan
Akankah kau merenung dalam mimpi
yang singkat ini?
Bagai pecundang yang berlari
menyusuri gurun
Diselasar sana... kau bahkan tak
mengerti arti hidup ini
Dan kini...
Kau dan aku berdiri berhadapan
Dibawah cahaya bulan dan berkata
Mimpi itu hanya bunga tidur
Yang tak mungkin dapat menentukan
apa yang akhirnya terjadi
Ketika sayup-sayup berkasih turun
dari batas senja sana...
Disana-lah kau akan melihatku
Berdiri tegak menantang alam yang
meremehkan
Disana... diselasar sana...
Kita akan bertemu...
Di sana... di lembah sana...
Lembah yang dulu gelap
Kini akan bertabur kasih dalam
naungan ribuan nada
Singgah Penantian...
Saat teratai disana tersenyum...
Dimanalah yang pada akhirnya kita
diingatkan oleh sebuah nyanyian meradu
Ketika itu...
Kau memintaku membawakan secawan
anggur dan meminumnya
Didepan para petatih-tatih sabda
Akankah kau setia terkurung di
selasar sana?
Dipersinggahan malam yang antah
tak dapat dilewati
Di lembah kabut asap...
Kita memasuki buih-buih sabda
yang bertandang pekat
Dibatas rumpun malam yang
berjelaja...
Dikeheningan malam...
Bersama mendengar nyanyian bulan
yang meradu
Membawa kita pada persinggahan
penantian...
Bayangan...
Saat
sayup-sayup malam
mengantarkanku
pada pembaringan
Saat itu
pula aku seperti terbawa arus
Dan ketika
cahaya bulan mengintipku
Seperti
ingin tahu apa yang tengah terjadi
Diselasar
sana...
Kau berdiri
memandangku...
Wajah pucat
itu tampak melemah
Dan aku
terbingung...
Ketika
kusentuh...
Kau memudar
bak noda
Penuh dosa
yang tersucikan...
Kembali...
Karena aku Merindukanmu...
Langitnya selalu sama
Dan di hari yang sama belum
berubah
Aku ingin hidup tanpa memperdulikanmu
Hidup dengan senyuman
Aku merindukanmu... Aku
merindukanmu...
Karena aku merindukanmu
Satu-satunya hal yang berubah
adalah...
Adalah kau tak disisiku
Aku rasa aku seharusnya
membiarkanmu pergi
Tanpa meninggalkan apapun
Tidak, tidak aku belum bisa
Aku belum bisa membiarkanmu pergi
Aku merindukanmu...
merindukanmu...
Karena aku sangat merindukanmu...
Setiap hari...
Disaat aku sendiri dan aku
memanggilmu, memanggilmu
Karena, karena aku
merindukanmu...
Karena aku merindukanmu
Aku ingin bertemu denganmu
Aku ingin bertemu denganmu
Karena aku ingin bertemu denganmu
Bahkan sekarang... ini menjadi
kebiasaan
Aku masih menyebut namamu seperti
biasa
Bahkan hari ini...
Maafkan aku... maafkan aku...
Apa kau dengar hatiku...?
Pengakuanku yang terlambat
Apa kau juga mampu mendengarnya?
Aku mencintaimu
(Heart Strings-CN BLUE)
Teman
itu...
Ibarat
permen karet, katanya..
Kalau
sudah habis manis
Lalu
dibuang
Ceritanya
mengatakan...
Dimakan
untuk dibuat mainan sementara
Ketika
sudah bersenang-senang dengan permainannya sendiri...
Lalu
dibuang menjadi SAMPAH
Yang
tak berguna...
Menurut
pandangan kalian...?
Cerita si
Pujangga
Saat sayup-sayup pagi terdengar
di penghujung sana...
Ribuan untaian datang walau tak
diundang
Seperti...
Menggugah hati yang tengah diam
Dalam keremangan senja pekat
Disana...
Hembusan
angin menyapa
Membuat
sekitar jadi dingin
Ketika
itu...
Cahaya bulan
diselasar sana menampik pada malam gelap
Namun,
saat-saat sayup dingin bersamaan dengan nada angin lewat
Semua
menjadi suram, suram dan suram...
Dentingan
lonceng terdengar seakan membuyarkan yang lain
Dikala
itu...
Semua telah
berlalu dan hanya menjadi sebuah ingatan yang tak terlupakan
JJ(Untuk Orang Tua)JJ
Akhirnya,
Sesuatu mengingatkan kita pada
suatu hari yang biasa
Suatu hari yang melekat dalam
ketika kau dan aku berada ditempat itu
Dipelataran sana...
Aku berdiri menatap jauh
Dari arah berlawan kau menyambut
dengan senyuman
Senyuman lembut yang rapuh...
Dengan wajah rapuh dan lelahmu
Memelukku, mencium keningku dan
menangis karenaku
Dengan rangkulan hangatmu
membawaku pada pilu bahagia
Terimakasih, Terimakasih dan
Terimakasih
Mungkin terimakasih tak dapat
membalas-nya
Bahkan uang-pun tak kan dapat
membalas semuanya.
-ii-
Duduk bosan dipinggir jendela
Hembusan angin masuk ke ruangan
Alasan kenapa aku cemberut adalah
Untuk menyembunyikan rasa maluku
Aku mengangguk dengan suramnya
Aku ingin menjadi lebih dari ini
Aku merasa aku ada perubahan
Kau telah menyentuh hatiku, ini
pasti karenamu
Aku punya perasaan,
Melihat ke awan
Membentangkan sayap, dengan
keberanian yang lebih
Cahaya dan kegelapan samar-samar
ditempat yang jauh
Tapi walaupun begitu
Aku ingin tahu kenapa orang
begitu baik
Tidaklah penting siapa namaku
Diujung cahaya sana
Sebelum semua menjadi masa lalu
Ayo pergi dan cari tahu
(Hyouka)
PERMAINAN
Pada kenyataannya... dunia ini
seperti permainan
Permainan kehidupan, permainan
jiwa, permainan hati dan rasa
Ketika mulai tersadar...
Aku seakan lupa pada dasarnya
hidup itu adalah...
Sebuah nurani yang mencolok
Ataukah jalan hidup yang tak
beraturan?
Ketika kucoba pertanyakan?
Jiwa mengatakan “ Jalani, meski
sulit ”
Ketika untaian itu terlontar
bisikan dari sebuah hati terkuak
Hingga akhirnya aku tak mengerti
sendiri, dengan...
Hati, perasaan, dan Cinta?
Apa itu...?
Ketika kutanyakan kembali?
Cinta ? Apa itu ?
Hanya sebuah ungkapan yang tak
dimengerti maksudnya
Biasa saja... dan mungkin dapat
mengubah pendirian seseorang
Ketika kucoba bertanya...
Rasa, hingga membuat sebuah
naluri bagai berkabut dilembah berkasih
Dan sampai itu pula,
Aku bahkan tak mengerti dan pada
dasarnya itu kembali lagi pada hati
Hati mengatakan “ Ini gila,
seharusnya tidak boleh. Mengapa kau tetap saja menerimanya? Tanpa sadar, kau
akan jatuh kedalamnya dan TERSIKSA ”
Dan pada saat itu, aku berfikir
kembali pada kehidupan
Kehidupan mengatakan “ Itu indah,
dan tanpa sadar kau akan terjun dan tak ingin menghindar – lagi ”
Dan aku fikir, itu hanya sebuah
permainan yang tak dapat ku -elak- lagi
Yang pada dasarnya, hanya sebuah
ilusi...
Yang kembali terbayang didunia
ini
Kata Hati yang diam
Ketika itu...
Dimana ribuan pertanyaan untuk si
pujangga
Saat itu pula, dia bingung
Bingung, dan bingung
Sampai saat ini, semua belum
terjawab
Meskipun beberapa tanda
mengandung bukti yang tak mungkin dihindari
Namun, dia berusaha menghindar,
menghindar dan menghindar
Hingga akhirnya ia tersiksa, dan
menyesali semuanya
Semuanya yang berlalu begitu
sia-sia dan begitu – CEPAT.
Dimana pertama kalinya dia
menemukan permata yang dalam
Dengan mudahnya ia – MELARIKAN
DIRI
Melarikan diri dari
pepatah-pepatah yang mencoba menguak
Yang belum terkuak
Dan menghindar bagai – PECUNDANG
Kebingungan
Saat sajak-sajak kata mulai
terukir
Ketika itu pula...
Bait perbait menampilkan baris
yang beraturan
Begitu pula...
Saat irama mengalun di benak sang
pujangga
Ketika itu pula...
Nada-nada berdentangan dari arah
berbeda
Namun, entah darimana lantunan
itu berasal?
Mungkinkah dari hati yang diam?
Ataukah dari sebait kata yang
terucap ketika itu?
Semua terasa sulit untuk ditebak
Walau sebenarnya begitu jelas
Ah... alangkah sulit untuk
dipecahkan?
Langit
Saat redup-redup awan mulai
berjalan
Pelan-pelan... sebuah rintikan
bening muncul
Dan saat itu pula dunia
bermandikan bak peluh
Dipersinggahan sana...
Sebuah manik menanti
Dengan awan redup yang datang
Seperti berjelaja dalam petang
Menabur kabut dalam kurun yang
akan datang
Begitulah, ketika sekelebat awan
dilangit yang panjang
Dan tak dapat dilipat walaupun
langit meraung...
Penenang Jiwa
Saat rintik-rintik hujan jatuh
Tepat diatas lapangan yang kering
Itulah dimana penuaian
kebahagiaan beruntun datang
Namun... ada pula masanya rintik
hujan tak turun lagi
Pada saat itu pula, kekosongan
bathin bagai mendera dalam jiwa
Seperti berjelaja yang gelap nan
gersang
Semua pernah terfikirkan
Tapi, pada kenyataannya pemikiran
itu hanyalah penenang jiwa
Penenang jiwa bagi rasa yang
gelisah
Penenang jiwa bagi rasa yang
gundah
Penenang jiwa bagi rasa yang
sedih
Dan penenang jiwa bagi rasa yang
sepi
Jalan Hidup
Saat waktu berjalan
Tiap detik bagai tak terlewatkan
Adakalanya hidup itu terasa
sempurna, dan
Adakalanya hidup itu terasa
kekurangan, sepi dan sendiri
Disaat yang sama pula...
Kehidupan terasa asing dan aku
mengerti hal itu
Ketika semuanya tak dapat kuraih
Aku seperti terbawa arus
gelombang api yang tak dapat kukendalikan
Namun...
Disaat yang sama pula...
Kehidupan terasa berwarna dan aku
paham hal itu
Ketika semuanya berada dalam
genggaman
Hembusan angin membawa kesadaran
hidupku pada langit biru
Disana... Di persinggahan sana
Ketika waktu berjalan kembali...
Penantian
Adakalanya dunia sepi tanpa
cahaya
Adakalanya pula, dunia terang
tanpa cahaya
Ketika dunia menanti dibatas
senja sana
Seonggak senyuman matahari
bersama awan kabut mulai membuyar
Begitupula...
Ketika dunia menanti
dipersinggahan fajar
Setulus senyuman mentari beserta
awan biru menanti diselasar
Kabut tipis yang mulai turun
pelan-pelan dibukit sepi
Menerawang jauh menatap angin
yang seakan berlalu
Meninggalkan... dalam kesendirian
Kabut tipis yang mulai turun
pelan-pelan di atas bukit berkasih
Melihat terik matahari yang
menoleh
Bersamaan dengan kedatangan awan
bercahaya
Membawa kesejukan, kedamaian dan
kemakmuran...
Indah...
Angin penuh kelembutan menyapa
secara bergantian
Disinggah sana...
Aku terdiam bercermin pada diri
sendiri
Termenung... menatap
bayang-bayang yang tak dapat hilang
Ingatan bagai terkelupas dalam sepi
Seperti rama-rama terbang yang
bersinar
Dimalam itu...
Ini tentang senja yang nampak di
ujung laut
Tak seramah dahulu, ketika ia benar-benar bertandang
hati dengan penuh kebaikannya. Semuanya nampak berubah ketika ini, saat dan
waktu ini. Sampai tak bisa lagi dibedakan mana rembulan dan langit biru yang
pekat.
.jpg)








