Archive for Januari 2015

Sanggupakah

Sabtu, 24 Januari 2015
Posted by Unknown
Sanggupkah aku untuk berjalan diatas api?
yang lahan-perlahan melahapku hidup-hidup
Sanggupkah aku untu berjalan diatas duri?
yang bisa saja menancapku tiba-tiba
Aku heran, mungkin kenangan baik bukanlah hal yang menyenangkan
dan hal buruk adalah sesuatu yang bisa saja membuat hati berdansa
Namun, pada kenyataannya pula...
Aku tidak mungkin lagi melihat kikisan manis
dari pemilik pipi merah itu.

Sadarkah Aku ??

Jumat, 23 Januari 2015
Posted by Unknown
Aku memusatkan diri pada hal yang sebelumnya tak dapat kumengerti. Bahkan, itu menarikku hingga tak dapat kutemui dunia yang aku impikan. Menjangkaunya saja, aku bisa kewalahan. Pernah aku berfikir, untuk memulai dengan jalan yang berbeda. Namun..., tetap saja, jalan itu menuju pada hal dan tempat sebelumnya.
Ketika kujelajahi lebih dalam lagi. Aku jadi mengerti maksud dari semua itu. Hingga akhirnya, sesuatu mengharuskan ku untuk menyerah pada hal yang tak dapat kumengerti.
Meski dari awal kucoba tuk menghindarinya, kucoba tuk tak berpaling pada titik fokus ku..
Tetap saja, aku mengaku rapuh, aku bahkan tak dapat memahaminya sedetail mungkin.
Masalah tetap saja masalah, dan kufikir ada sebuah cara untuk menyelesaikannya.
Dan pada saatnya pula, aku pun tahu... semua itu terjadi karena aku tak dapat mengendalikan ataupun menahan diri sebagaimana mestinya. Akupun terjatuh pada tempat yang sangat dalam.

TITIK

Selasa, 20 Januari 2015
Posted by Unknown
Sekelebat malam yang baru saja hadir
Deringan cakrawala seolah bergema diantara buih-buih bumi yang tengah berputar
Lambaian wawasan yang kusut akibat keterbelakangan
Riuh tawa jutaan yang disebut ilmu namun sedih, bimbang dibalik masamnya muka
Tepuk tangan sipengalaman begitu keras, namun prihatin
Suara desisan dari otak yang selalu bergumul oleh jendela-jendela pengetahuan yang disebut buku
Menyanyi dan menari-nari bersamaan dengan trend canggih yang dikenal dengan elektronik
Dibangku yang bermeja, tersuapi oleh banyaknya intonasi-intonasi yang menggema
Tanpa adanya pemberontakan
menyuapi dan menelan
tanpa menolak dan ditolak
Begitulah pergulatan ditempat itu
Masing-masing memiliki tujuan yang sama
Berkerumun dan berebut
Dari sekian juta benih, hanya satu yang berbunga
Babak pergulatan, bahkan ironisnya...
Yang berbunga itupun hanya terduduk lesu berteman selembar kertas yang penuh dengan bingkaian-bingkaian per kata
Keluar masuk, keluar masuk dari tempat yang diharapkan
Wajah itu tetap sama..
Meskipun angka-angka itu bertambah
Meskipun pujian-pujian itu semakin bertebar dari mulut ke mulut
Namun, wajah itu tetap saja muram
Apakah nelangsa...?? atau inikah juntaian nasib yang tak berpihak??


Untukmu wahai sarjana muda, sepenting itukah IP-K dimatamu??

Si Tua

Sabtu, 17 Januari 2015
Posted by Unknown
Dari tadi... hujan tak juga mereda, sepertinya malam ini akan serasa dingin dan sepertinya ranum-ranum malam mulai terlihat letih. Semakin menua sesuatu, semakin diabaikan pula oleh yang lain. Kasihan, sungguh kasihan.
Aku melihat dari seberang sana, duduk termenung, tatapan yang renta, rambut yang memutih, dan kulit yang sudah menua dimakan usia. Duduk bersender pada tembok-tembok putih yang tinggi. Celana selutut tampak membaluti kulit kecoklatannya. Dia diam kemudian menyentuh penyanggah gerobak dorongnya.
Dia mengais-ais tempat sampah, sesekali keringat peluh ia rasakan diteriknya matahari yang menyengat.
Malangnya nasib si tua, dimanakah rumahmu? dan kemanakah seluruh keluargamu... Wahai pak tua? Hanya inikah yang dapat kau lakukan ditengah kekejaman dunia yang tak lagi berpihak ini? Ataukah... kau sudah merasa bosan dan lelah dengan pandangan yang menjijikkan disudut-sudut kota itu sehingga kau selalu menunduk dan merasa rendah pada dunia ini? Aku tahu, namun aku tidak begitu yakin. Puluhan orang masih dengan ketetapan mereka, menggunakan kebodohan mereka. Mungkin? Sehingga tak ada akal yang bermain dalam bait-bait biola yang sedang mengalun, terdengar indah memang... tapi menyayat kulit hingga ke yang paling dalam.

Aku mengikuti malam

Kamis, 15 Januari 2015
Posted by Unknown
Aku mengikuti malam
dan mungkin mengikuti pagi, siang, sore hingga menjelang petang
Aku mengikuti malam
Bersamaan desahan angin yang lembut, pelan bahkan kadang menggebu
Aku mengikuti malam
Yang kadang menampilkan kecerahan dan mendung dilangit yang pekat
Walaupun pekat namun kadang tak semarah kala itu
Suara gemuruh memaksa untuk mengorbitkan sang malam meski tak beradu dengan hujan
Aku mengikuti malam
Walau seandainya tanpa bulan dan bintang
namun tidak terkoyak ketika kesepian dan kesendirian itu menghujung ditelan arus
Aku mengikuti malam
Seperkian detik, menit per-jam
selalu dan selalu terbayang wajah seperti redup sinar bulan
Aku mengikuti malam
Semakin kuikuti, iapun tak menghilang
bersamaan dengan setiap aku terbangun dan memejamkan mata

Kisah malam dan hujan

Rabu, 14 Januari 2015
Posted by Unknown
Telingaku berdenging
Ketika ku dengar suara hujan menyapu separuh bumi
Lengkingan angin tak bisa terlepas
bersamaan dengan malam yang bergandengan bersamanya.
Buih-buih air yang berjatuhan
Menyapu kekeringan dan aku sedikit tergugup
Gemetar hati, nelangsa jiwa yang menyendiri
Menatap deru sang angin yang buas seolah ingin menelan malam yang bergejolak pada bumi.
Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Si Perangkai Kata -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -