Posted by : Unknown Sabtu, 17 Januari 2015

Dari tadi... hujan tak juga mereda, sepertinya malam ini akan serasa dingin dan sepertinya ranum-ranum malam mulai terlihat letih. Semakin menua sesuatu, semakin diabaikan pula oleh yang lain. Kasihan, sungguh kasihan.
Aku melihat dari seberang sana, duduk termenung, tatapan yang renta, rambut yang memutih, dan kulit yang sudah menua dimakan usia. Duduk bersender pada tembok-tembok putih yang tinggi. Celana selutut tampak membaluti kulit kecoklatannya. Dia diam kemudian menyentuh penyanggah gerobak dorongnya.
Dia mengais-ais tempat sampah, sesekali keringat peluh ia rasakan diteriknya matahari yang menyengat.
Malangnya nasib si tua, dimanakah rumahmu? dan kemanakah seluruh keluargamu... Wahai pak tua? Hanya inikah yang dapat kau lakukan ditengah kekejaman dunia yang tak lagi berpihak ini? Ataukah... kau sudah merasa bosan dan lelah dengan pandangan yang menjijikkan disudut-sudut kota itu sehingga kau selalu menunduk dan merasa rendah pada dunia ini? Aku tahu, namun aku tidak begitu yakin. Puluhan orang masih dengan ketetapan mereka, menggunakan kebodohan mereka. Mungkin? Sehingga tak ada akal yang bermain dalam bait-bait biola yang sedang mengalun, terdengar indah memang... tapi menyayat kulit hingga ke yang paling dalam.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Si Perangkai Kata -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -