Posted by : Unknown
Jumat, 19 Juni 2015
Hei... What’s the problems??
Cafetaria
Sebenarnya apa
yang aku lakukan ditempat seperti ini? Dan siapa mereka? 4 orang pria dengan
tampang aneh.
“Woi... kita bertemu lagi... siapa
gadis ini? Daniel...?” tanya seorang pria yang mungkin jauh lebih kecil dari Daniel,
dia memperhatikanku seakan melihat aneh padaku.
“Dia Ever... temanku” ucap Daniel sinis. Aku
mulai memakan roti panggang yang baru saja dibawakan oleh seorang pelayan wanita.
“Daniel... uang jajanku sudah habis,
bisakah kau memberikan aku uang? Untuk kali ini saja. Ayolah” ucap pria itu
lagi. Aku melihat Daniel merogoh saku jaketnya dan memberikan uang pada pria
itu, kemudian ia mengatakan dengan dingin
“Pergilah...”. Setelah mereka menerima
uang dari Daniel mereka pergi meninggalkan tempat itu. Apa yang difikirkan oleh
pria ini?.
“Apa yang kau fikirkan? Kenapa kau
memberikan uang pada mereka?” tanyaku akhirnya sambil menyesap cream cappuchino
yang masih hangat.
“Mereka orang baik... sekaligus orang
yang pertama menjadi temanku. Mereka juga tidak sekolah. Dan kau... kau adalah
gadis yang pertama kali datang kerumahku” ucapnya. “Bagaimana dengan sekolah?”
lanjutnya.
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa
kau akan datang kesekolah?” tanyaku. Matanya menyipit dan aku hanya bisa menelan
ludah.
“Aku tidak pernah mengatakan akan
datang ketempat itu” suaranya dingin dan suasana berbeda. “Yang kutanyakan
bagaimana keadaan sekolah disana?” lanjutnya, suasana kembali tenang.
“Seperti biasa...” jawabku santai. “Oh
ya... apa setiap hari mereka minta uang padamu? Orang-orang yang tadi?”
lanjutku.
“Iya...” dia menyesap cappuchino-nya.
“Kenapa kau memberikannya? Kau bodoh.
Kalau aku jadi kau... aku tak akan memberikan uang pada orang yang seperti itu.
Lebih baik aku tak punya teman sama sekali dari pada memiliki teman yang
seperti mereka. Aku sudah terbiasa sendiri” ucapku dan... rambutku terasa basah
dan hangat. Dia menyiramku dengan kopinya.
“Kau keterlaluan” ucapnya dan pergi
meninggalkanku dengan basah dibagian kepalaku.
“Hei...” belum sempat dia keluar dari
cafetaria. Yah... bagus, tepat sasaran. Aku kembali melemparnya dengan kopiku
dan mengenai tubuhnya. Aku langsung berlari. Hhh... apa masalahnya? Kenapa dia melakukan ini padaku? Bukankan aku
sudah mengatakan apa adanya? Kenapa dia harus marah? Aku terus berlari
sampai rumah dan langsung menutup pintu rumahku.
“Kau kenapa Ever? Kenapa kau berlari?”
tanya ibuku yang tengah duduk di sofa ruang tamu. “Dan... basah” ayahku
melanjutkan. Dia sedang membaca koran. “Kau kenapa?” tanya ibuku terlihat
khawatir.
“Tidak ada apa-apa bu... aku akan
membersihkan diri” aku pamit dan menuju kamar.
“Hei Ever... bagaimana kencan
pertamamu dengan tetangga sebelah?” Apa? Apa ini bisa disebut kencan? Kufikir
tidak sama sekali.
“Anak kecil... tau apa kau? Lebih baik
kau diam dan pergi dari kamarku sekarang!!”. Dia adikku, Troy Gilldeen.
“Benarkah? Apa terjadi sesuatu antara
kau dan tetangga sebelah itu?” tanyanya, kau telah menyulut api kemarahan Troy.
“Pergi sekarang Troy... atau akan
kupanggilkan kau ibu. Ibu...” teriakku dan diapun pergi dari kamarku menuju
kamarnya yang berada disebelah. Aku menutup pintu
kamar dan menuju kamar mandi membersihkan tubuh dan rambutku. Arght... apa yang
telah kau lakukan?
10 september 2013, Cherrystone,
washingtone
Aku berangkat pagi sekali, sebelum aku
berangkat... sempat aku melihat rumah Daniel. Rumah itu sepi seperti biasanya.
Dia sama sekali tidak terlihat, apa perduliku? Dia hanya... pengganggu!! Aku akan mampir sebentar di
rumah Samantha, ternyata dia sudah menunggu didepan gerbang. “Pagi sekali?”
ucapku.
“Tentu saja, jika aku tak sepagi
ini... kau mungkin akan meninggalkanku seperti kemarin” ucapnya terdengar
protes.
“Boleh aku tau kenapa kau
meninggalkanku kemarin?” tanyanya.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin
mencoba jalan sendiri”.
“Kau keterlaluan, kenapa kau melakukan
hal itu?” ucapnya. Aku menanggapi dengan diam sampai akhirnya kami sampai
dipemberhentian bus dan menunggu bus lewat pagi ini.
“Hei bukankah i-itu
Daniel? Daniel si hantu kelas itu. K-kenapa dia m-masuk
hari ini?” ucap Samantha, aku meliarkan pandangan kesana kemari mencari sosok
yang menakutkan itu. Sebenarnya aku juga takut, bagaimana jika sesuatu nanti
terjadi di sekolah. Ah... tidak. Ketemu... Kenapa dia menatap kami.
“Ah... Bagaimana ini Ever, aku tak mau
mati hari ini. Dia tengah menatap kita. Aku, aku belum siap mati hari ini” ucap
Samantha.
“Lepaskan aku. Bus sudah datang”
ucapku. “Ayo...” ajakku dan kamipun menaiki bus, lalu bus pun berjalan.
Sementara didalam bus, aku duduk bersender didekat jendela memandang jalan
raya.
“Ever, lihatlah”
ucap Samantha dan akupun memandang seorang pria yang tengah berdiri dengan
wajah dinginnya.
“Aku ingin duduk ditempat ini. Apa kau
bisa pergi dari sini?” ucapnya dingin. Samantha berdiri dan pria itu langsung
duduk disampingku. Aku hanya membuang wajah keluar jendela. Apa perduliku?
“Hei... kenapa kau tak
memperhatikanku?”ucapnya, apa itu perlu?.
“Ternyata kau pergi kesekolah juga”
ucapku.
“Aku tidak berniat untuk datang
kesekolah” jawabnya,
“Lalu... Apa yang kau lakukan dengan
menaiki bus ini?”.
“Mengikutimu, apa itu salah?”. Dia
keterlaluan, ini melelahkan, aku hanya mengeluarkan nafas keras dan kembali
memandang luar jendela bus.
SMA Cherrystone
Aku bergegas memasuki kelas dan kenapa
dia selalu mengikutiku? Apa dia ingin memperpanjang masalah kemarin? Ya
tuhan... “Bisakah kau ikut denganku?” ucapnya,
“Bisakah kau ikut denganku?”. Sudah
beberapa kali aku mendengar kalimat itu, aku tidak ingin menanggapinya. Bahkan
ketika aku di perpustakaan dia selalu ada disana.
“Ever... kau telah melakukan tugasmu”
ucap mrs. Rose padaku ketika ia melihatku di perpustakaan dengan Daniel, pria
itu terlihat geram pada mrs. Rose
“Ini” ucap mrs. Rose memberikan buku
kecil kepadaku, rumus kalkulus terbaru. Bagus.
“Aku benci wanita tua itu, hei...
bisakah kau pergi secepatnya. Kau tau... aku tidak suka melihat wajahmu itu” ucapan
apa itu? Mrs. Rose terlihat ketakutan dan meninggalkan kami berdua. Aku
menatapnya marah,
“Hei... bisakah kau tidak selalu
mengikuti. Kau bahkan seperti penguntit saja. Kau juga tidak bisa menjaga
mulutmu. Jadi... sebaiknya kau pulanglah jika kau tidak ingin datang kesekolah.
Kau seperti benalu dan pengganggu” ucapku dan diapun diam, kemudian akupun
pergi meninggalkannya sendirian - diperpustakaan -. Entah, aku tak perduli ‘Mengganggu’ . Dirumah aku berfikir, apa
aku keterlaluan mengatakan hal itu pada Daniel, pengganggu? Entah apa yang
terjadi padaku. Tapi... aku merasa bersalah. Tidak seharusnya aku mengatakan
hal seperti itu padanya. Aku sungguh keterlaluan, aku pergi kerumahnya
dan kembali bertemu dengan pria yang aku temui sebelumnya.
“Apakah Daniel ada?” tanyaku ketika
pria itu mulai menyalakan tv.
“Dia ada, tapi... sepertinya dia tidak
ingin diganggu” ucap pria itu.
“Oh... aku belum tau siapa namamu”
ucapnya tersenyum kearahku.
“Aku? Aku Ever, Cash Everdeen” ucapku,
dia tersenyum. Lalu pria itu masuk sebentar, Beberapa menit setelah itu, diapun
keluar membawa 2 gelas teh panas, asapnya masih mengepul hangat.
“Ever ya? Aku Dylan, Dylan Roudten
sepupu Daniel” ucapnya. Namun setelah itu suara decitan pintu terdengar dari
luar.
“Ahh... kenapa Daniel berhenti
memberikan kami uang? Dylan... apa sebenarnya masalah Daniel. Kalau begini
terus aku tidak mau lagi berteman dengannya”. Degh... apa yang mereka katakan?
“Aku sudah tidak mau menjadi
temannya”,
Aku sudah mengatakan padamu, dan kau
tak percaya. Aku hanya menunduk.
“Bahkan dia terlihat bodoh kemarin,
hahaha...” Hhh... aku hanya bisa menarik nafas, kemudian aku berdiri.
“Daniel...”
Apa yang aku lakukan? “Dia senang
menjadi teman kalian”.
Ini salah, tidak seharusnya aku
perduli. “Dia perduli, kenapa kalian berkata seperti itu? Kenapa kalian tidak
menghargai teman kalian sendiri?” Tidak, apa yang aku lakukan, kurasa mataku
mulai terasa panas.
“Kalian tidak boleh membohonginya”.
Aku tak pernah merasa seperti ini, aku ingin menangis. Ketika melihat wajahnya
waktu itu... saat dimana dia mengatakan
‘Mereka orang
baik... sekaligus orang yang pertama menjadi temanku. Mereka juga tidak
sekolah. Dan kau... kau adalah gadis yang pertama kali datang kerumahku’ dia salah, mereka
bukan orang baik. Aku menangis sambil menundukkan wajah, pria itu mendekat
kearahku
“Bukankah dia gadis yang bersama
Daniel waktu itu?”. Aku takut, ketakutan.. apa yang akan
mereka lakukan.
“D-daniel? A-aku
hanya ingin...”.
“Jangan menyentuhnya...” ucap suara yang
kuyakini adalah milik Daniel. Aku mengangkat kepala, dia -Daniel- memegang
tangan pria itu, kemudian mendorongnya.
“Pergilah Flick dan kalian juga.
Jangan pernah mengganggu temanku” ucapnya kemudian mereka pun pergi
meninggalkan tempat itu. Aku masih gugup, wajah yang dingin dan kaku.
“Aku akan mengantarmu pulang !”
ucapnya. Rumahku tidak jauh, tapi aku tak menolak.
