Posted by : Unknown
Jumat, 13 Juni 2014
Bila cinta tak
tersampaikan
Yang ada hanyalah
penyesaln
Didalam hati dan
menjadi hancur
Semua telah hilang, hanyut
terbawa aku
Jadi harapan yang tak
mungkin kumiliki
Apakah kau tahu, aku
mencintaimu, bila kuingat dirimu
Pernah kah kau sadari,
kucoba raih hatimu
Dan tak akan henti,
untuk tempatkan kau didalam hatiku.
Yang aku rasakan saat
ini, cinta yang tlah lama kupendam
Tak bisa, kukatakan
padamu. Karena kau telah berdua dengannya.
Suara
merdu gadis berambut hitam sebahu itu mengiringi matahari yang akan sebentar
lagi kembali pada peraduannya. Ia memejamkan mata menghayati setiap lirik demi
lirik dari lagu dengan alat musik yang ia mainkan. Sebuah gitar berwarna putih
polos itu seakan mengantarkan apa yang sedang dialami oleh hatinya.
Tetesan-tetesan kecil mulai merembes diwajahnya, ia mencoba untuk mengusapnya
namun tetesan itu semakin terus mengalir deras.
‘Apa yang harus kulakukan? Kenapa
aku menyukainya dan benar-benar menyukainya?’ gumamnya dalam hati. Dia menaruh gitar itu
disampingnya, kemudian duduk dibalkon jendela menikmati resapan angin. Dia
melamun, mengingat dan merindukannya. lelaki yang selama ini singgah dihatinya,
lelaki yang selama ini selalu menghiasi mimpinya dan lelaki yang pernah membuat
ia merasakan getaran-getaran hangat itu. Dia bahkan tak bertemu ketika
perpisahan kemarin yang diadakan disekolah dan membuat dia semakin merindukan
lelaki itu. Walaupun niatnya memberikan bingkisan kecil untuk kenang-kenangan
yang dititipkan pada temannya waktu itu telah tersampai, namun apalah artinya,
jika tak dapat bertemu. Tak dapat memberikannya secara langsung. Bagi gadis
itu, sangat mengecewakan, dan menyedihkan. Meski dia mencoba dalam keadaan
baik-baik saja, namun hatinya belum tentu baik. “Aku tidak akan pernah
memilikinya, sampai kapanpun aku tak akan pernah” ia bergumam kecil.
Tut...tut...
Suara
deringan membuatnya sedikit terlonjak. Dia melihat sebuah benda pipih diatas
meja belajarnya yang tengahmenyala, kemudian ia bangun, meninggalkan balkon dan
menuju meja belajarnya, melihat isi pesan yang beberapa hari tidak pernah masuk
kedalam ponselnya.
‘Kita akan liburan besok.
Ikutlah, kamu tidak pernah ikut liburan bersama. Jadi untuk hari ini saja,
ikutlah. Untuk perpisahan kita’
Dia
menarik kursi belajarnya kemudian menjatuhkan bokongnya. Lalu mengetik
huruf-huruf yang ada diponselnya.
‘Insyaalloh, aku akan ikut. Tapi
apakah ini liburan satu kelas?’
dia menekan tombol send dan mengirimnya. Beberapa menit berlalu, balasan dari
pesannya-pun datang.
‘Iya, sepertinya Jadith juga akan ikut. Datanglah, kita semua akan
berkumpul disekolah besok. Pukul 8, jangan terlambat. Oke’ dia terkikik geli melihat kata terakhir dari
balasan temannya itu. Kemudian mengetik lagi,
‘Baiklah...’ hanya kata singkat itu, kemudian terkirim.
Dia menunggu balasan pesan dari temannya, tapi kunjung tiba. Dan pada menit
yang sudah berlalu meninggalkan menit sebelumnya, dia mengambil buku kecil
berbentuk persegi dengan sampul tebal berwarna coklat ketua’an dan gambar mobil
bis berwarna merah. Di bagian atas terdapat bertuliskan england kemudian mulai
menulis beberapa kata, dan kata itu berasal dari fikirannya. Semua yang
difikirkan terangkai dalam buku kecil itu.
02 mei 2014
Dear Deary
Mengapa aku begini? Ini melelahkan... Apa yang sebenarnya
difikirkan oleh gadis sepertiku ini? Kenapa aku menyukai seseorang yang tidak
menyukaiku? Seseorang yang sudah memiliki kekasih. Seharusnya aku sadar akan
diriku, aku tidak boleh berharap lebih. Seharusnya aku membuang perasaan ini
jauh-jauh dari kemarin. Seharusnya aku benar-benar melupakannya untuk suatu
alasan yang jelas dan bahkan sangat jelas.
Deary, kemarin ketika perpisahan yang diadakan disekolah,
Aku sama sekali tak melihatnya, kufikir dia tak datang. Aku sempat kecewa.
Benar saja, kufikir dia tidak mau menerima kenang-kenangan yang akan kuberikan
makanya dia tidak hadir diacara perpisahan sekolah. Aku sempat meliarkan mata
mencarinya, tapi tidak ketemu. Pas pulang, kebetulan aku bertemu dengan
temannya yang dulu samanya pulang pergi kesekolah, lalu aku titipkan saja
padanya. Dan syukurnya, dia mau membantuku.
Dan akupun pulang bersama bapak yang sudah menungguku
diluar gerbang sekolah. Dan pada malam harinya, temanku Diana mengirimiku
pesan, dan mengatakan kalau dia datang dan dia benar-benar keren dengan balutan
jaket kainnya. Ya tuhan... aku menyesal pulang, andaikan aku mau menunggu untuk
beberapa menit, mungkin aku bisa bertemu dan memberikan bingkisan itu secara
langsung. Mmh... tapi apalah, waktu tak bisa kuputar, itu sudah terlanjur.
Dia
menutup buku diarynya dan mulai beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan ke
arah pintu, ia memegang gagang pintu dan menarik knopnya kemudian terbuka.
Dilihatnya seorang anak kecil dengan rambut keriting, bibirnya tipis dan
matanya lebar serta bundaran hitam didalam matanya terlihat sangat besar. Wajah
kecilnya memandang polos dan manis.
“Aku
mau main ayunan” dia berujar polos, membuat gadis itu tersenyum. Anak kecil itu
berlari kearah luar dan menuju ayunan yang menggantung dipohon mangga, gadis
itupun mengikuti kemana dia pergi. “Dorong...” rengeknya, kemudian dia mulai
mendorongkan anak kecil itu, suara gelak tawa terdengar dari mulut sikecil.
“Pegangan, nanti jatuh” suruh gadis itu, namun sikecil hanya tertawa kemudian
menggerakkan ayunan kain itu dengan keras membuat si gadis khawatir.
“Zayna...”
suara seseorang membuat dia menghentikan aksinya. “Pelan-pelan caranya” ujar
pemilik suara yang menyebut namanya tadi. “Iya, ini koq pelan-pelan. Aku takut
juga nanti dia jatuh” ucap gadis bernama Zayna itu, dia terkikik juga melihat
aksi si kecil yang terlalu bahagia. “Terus... tinggi-tinggi ya” perintahnya
seperti komando kapal perang, semakin membuat Zayna tertawa. “Kamu itu ya,
makanya pegangan yang benar. Nanti aku dorongin tinggi-tinggi, tapi pegangnya
yang bener. Biar kamu ndak jatuh. Nanti kalau jatuh nangis, terus aku yang
disalahin” ucap Zayna, bukan marah hanya memperingati gadis kecil itu.
“Aku
mau berhenti” lanjut sikecil.
“Lah?
Kenapa? Toh enakan?” Zayna berhenti mendorong ayunan itu, dan sikecil turun.
“Hati-hati” lembut Zayna membantu sikecil turun dari ayunannya.
“Dea.
Main sana...” suruh wanita paruh baya yang tengah duduk dikursi yang bahannya
dari bambu berwarna kuning kecoklatan. Tidak terlalu banyak ukiran, namun adem.
“Udah, ah...” suaranya polos. Dea, si rambut keriting, sukanya nyerocos,
sedikit nakal namun pemalu. Malunya hanya didekat orang yang baru dilihatnya.
Tapi nanti kalau udah lama-lama, yah... jadinya sok kenal, awalnya baik tapi
jadi nakal. Fuh... Dea, Dea.
“Bu...
Aku besok mau pergi liburan sama temen-temen. Satu kelas” ujar Zayna menuju
tempat wanita yang dipanggil ibu itu. “Jam berapa?” tanya ibunya.
“Sekitar
jam 8”
“Iya,
boleh. Kamu bawa bekal?”
“Ndak.
Toh disana banyak mungkin yang jualan”
“Kemana?”
“Nah
kurang tau? Temen-temen belum kasih tau dimana tempatnya. Aku ya, hanya
ikut-ikut aja”jelas gadis itu dan masuk kedalam rumah lagi.
Tepat
pada keesokan harinya. Tas punggung hitam yang berisi mukenah dan hp serta
novel, buku catatan kecil dan dompet hitam sudah siap. Dia mengenakan celana
jeans biru, kaos hitam biasa dan jilbab abu-abu kemudian menggunakan jaket
merah. ‘It’s perfecto’ gumamnya dalam
hati. Kemudian berangkat menuju sekolah karena kumpulnya memang disekolah.
Sesampainya
disekolah, semua teman-temannya sudah kumpul. Lengakap. Mereka semua terlihat
gembira ketika berkumpul, sebab sudah lama tidak bertemu. Semua rasa kangen dan
rindu sudah dilepaskan.
“Zayna”
sapa temannya, “Aku kangen, udah lama kita tidak ketemu” ujarnya seperti biasa.
Diana namanya, gadis alay dan kalau diajak bicara + menerawang sesuatu sukanya
lola. “Iya, aku juga kangen. Kamu jarang balas pesanku. Cuman beberapa lalu
ngilang. Mentang-mentang udah mau tamat sekolah” ujar Zayna tersenyum tipis.
Lama juga menunggu, karena beberapa masih belum keliatan batang idungnya.
“Hai,
hai, hai... aku kangen kalian”seseorang berlari menuju kearah mereka yang
berkumpul
“Hehehe,
aku juga” peluk dan cium itu sudah menjadi khas para gadis, mungkin.
Beberapa
jam menunggu, sekitar pukul 9 mereka pun berangkat. Tujuannya mereka pergi ke
batu payung, salah satu pantai indah yang berada dilombok. Kami menaiki bus
berwarna biru muda dengan ukiran seorang gadis sasak yang sedang duduk
dipinggir pantai. Selama berada dalam perjalanan, Zayna tampak asyik melihat
pemandangan bukit yang dilewati, berbagai macam tumbuhan yang belum pernah ia
lihat berjejer dipinggir jalanan. Sawah-sawah terlihat hijau, bahkan para
petani disana tidak menggunakan alat traktor untuk sawahnya, tapi mereka
menggunakan sapi. Senangnya, disana juga terlihat banyak lumpur. Jalanan yang
dilewati terjal dan rusak. Setiap orang yang berada didalam bis tampak mengeluh
namun sekali-kali tertawa.
Zayna
melihat lelakinya bersama dengan gadis lain. Tepatnya kekasihnya. Gadis itu
bergelayut manja dan tidak mau pisah dari lelaki itu. Ia merasakan dadanya
terasa panas, perasaannya terasa dicabik jika boleh ia ingin menangis didalam
bus. Dia hanya bisa diam dengan kesesakan yang ia rasakan. Sesekali dia
mendengar mereka tertawa bersama, malah semakin membuat gadis itu kecewa.
‘Kenapa aku ikut jika seperti ini? Aku benar-benar bodoh’ gumamnya dalam hati.
“Zayna...
kamu nggak apa-apa? Sabar ya” ucap Diana yang duduk disebelahnya
“Sabar,
sakit...” ujar Naomi, teman yang duduk dibelakangnya.
“Sudahlah...
aku toh juga ndak terlalu berharap. Sebenarnya aku salah menyukainya.
Seharusnya aku tidak suka sama dia. Tapi kenapa?”
“Nggak,
kamu keren. Aku salut sama kamu. Kamu udah nyatain perasaan kamu sendiri.
Keren”
“Itu
salah, seharusnya ndak boleh. Besok aku akan lupa sama dia”
“Cinta
bertepuk sebelah tangan”
“Diam
Naomi”
Semua
sibuk dengan ocehan masing-masing, namun salah seorang teman mereka-Nanda-
membawa gitar kemudian mulai memainkan gitar. Mereka bernyanyi.
Bungkamlah
mulutku,
Ketika
kau tau kumulai banyak bicara tentang kita
Kau
tau ku rindu, biarkan saja aku
Terus
mengagumimu dan simpan cerita... tentangmu
Kau
jauh dariku
Biasanya
sepi menemaniku
Takkan
hilang sampai kau kembali, kesini...
Aku
masih disini, aku menunggumu
Sampai
kau kembali aku tetap begini
Aku
masih disini, aku menunggumu
Sampai
kau kembali aku tetap begini
Bungkamlah
mulutku
Ketika
kau tau kumulai banyak bicara tentang kita
Kau
tau kurindu,
Biarkan
saja aku
Terus
mengagumimu dan miliki semua darimu
Kau
jauh dariku...
Biasanya
sepi, menemaniku
Dan
takkan hilang sampai kau kembali, kesini...
Aku
masih disini, Aku menunggumu
Aku
masih disini, aku menunggumu
Sampai
kau kembali aku tetap begini
Whowooo
Aku
masih disini, aku menunggumu, sampai kau kembali, aku tetap begini 3x
(Tahta : Aku
masih disini)
Zayna
merasa sedikit terenyuh ketika mendengar suara Nanda, seolah dia merasakan dia
sedang berada diposisi lagu yang dinyanyikan oleh Nanda, suara tepuk tanganpun
terdengar nyaring dan suara siulan membuat suasana semakin riuh. Mereka terus
bernyanyi, menyanyikan apa saja, seolah didalam bus adalah sebuah panggung.
Kadang mereka membuat lelucon, katanya supaya lebih seru. Dan semua tampak
menikmati perjalanan itu kecuali gadis itu. Wajahnya sedikit menegang dan
sedih, dia tak hentinya memandang kedekatan lelakinya itu dengan gadis lain. ‘Aku akan pergi. Dan tak kan ada lagi cinta’
gumamnya dalam hati.
Tempat
itu luas, airnya terlihat bersih dan biru. Disana pasirnya putih dan lembut.
Hembusan angin serasa segar yang bercampur aduk dengan kepanasan ditempat itu.
Udaranya terasa sejuk, beberapa orang
asing terlihat berjalan kesana kemari disekitar tempat itu. Terang saja, tempat
itu sangat indah dan menakjubkan namun panas.
“Kita
ganti baju yuk, terus mandi” ajak salah seorang temannya-Naomi-
“Ayo...”
Merekapun
pergi ketempat ganti. Disekitar tempat itu ada mushola kecil dan beberapa
mukenah telah disediakan. Mereka masuk kedalam kamar mandi kemudian mengganti
pakaian. Zayna, gadis itu memakai kaos hitam dan celana selutut. Kemudian lebih
dahulu keluar dari tempat itu. Saat hendak pergi, dia bertemu dengan kekasih
lelakinya. Zayna hanya tersenyum dan gadis itu pun membalas dengan senyuman
bersama teman-temannya.
Mereka
menaruh tas dan barang-barang yang lain didalam bus. Zayna, Naomi, Diana, dan
Reina pergi jalan-jalan menikmati keindahan pantai. Sesekali mereka bertemu
dengan turis-turis yang sedang berjemur. Dan ditempat lain, tepatnya didekat
bus, teman-teman mereka sedang berkumpul dan duduk-duduk. Adapula yang mendekati
laut dan berenang.
Jadith,
pria itu duduk pasir keputih-putihan dibawah bale-bale kecil. Disana dia dan
beberapa teman menonton ombak laut yang semakin besar sambil menyesapi angin
yang lewat. Seseorang melambai kearahnya sambil berseru. “Aku mandi ya” ujarnya
dengan beberapa teman gadisnya. Dan Jadith pria itu hanya mengangguk dan
tersenyum.
Sementara,
dilain tempat, tak jauh dari bale-bale kecil. Zayna dan teman-temannya saling
menertawakan dan bermain. Mereka juga menari-nari dipanggung terbuka itu.
Mereka tak perduli berapa banyak orang yang memperhatikan, yang jelas mereka
bersuka cita ditempat itu.
Ditempat
lain tak jauh dari tempat mereka. Seseorang tengah memperhatikan aktifitas
keempat gadis itu. Jadith-lelaki itu sekali-sekali mencuri pandang kearah
mereka.
“Lihatlah
anak-anak itu. Sepertinya seru” ujar Nanda yang membuat mata teman-temannya
berdalih dari ombak menuju kepada empat gadis itu.
“Sepertinya
seru...”
“Aku
kesana bentar” ujar lelaki yang tengah menggunakan kaca mata hitam kemudian
berlari kecil kearah gadis-gadis itu.
“Seru
juga rupanya, kita kesana liat-liat yuk. Jadith, kau mau ikut?” ajak Nanda
sambil menenteng gitarnya, kemudian dia pun pergi tanpa mendapat balasan
jawaban dari lelaki itu-Jadith.
Zayna
terus bernyanyi sambil berjoget bebas, seolah masalah kemarin ia lupakan dengan
begitu cepat. “Wah, seru ya. Aku ikutan ya” ucap salah seorang teman lelakinya
yang membuat Zayna langsung menghentikan aksinya.
“Tidak
boleh. Kau dilarang ikut Sony” larang Naomi
“Plit
sekali kamu Naomi” ujar lelaki itu, tapi diapun tetap menari.
Suara
musik yang dimainkan lewat ponsel Zayna, diikuti dengan alunan-alunannya, Zayna
menyanyikannya seperti orang gila. Sesekali, dia tertawa.
“Heh...
aku lelah” ucap Zayna berhenti sebentar
“Lanjut
dong Na... seru nih” ujar Diana tambah asik dengan tariannya.
“Woi...
wah seru ya...” ucap seseorang lagi yang tiba-tiba muncul dengan sebuah
gitarnya.
“Nanda,
hehe...” kikuk Zayna pelan
“Kenapa
Na...? lanjut aja, nggak usah malu”
“Ndak
koq, hehe... jelas aku malu, ndak taunya Nanda udah disini? Hehe. Ndak usah
ketawa” ujar Zayna
“Kita
lagi main nih, emang mau ikutan ya?” lanjut Zayna bertanya.
“Boleh...”
“Nanda
yang duluan nyanyi”
“Lagu
apa?”
“Apa
aja, asal nyanyi”
“Woi...”
ujar salah seorang temannya sedikit memukul pundak Reina,
“Eh...
nakalnya...” ucap Reina, dia ingin membalas tapi keduluan temannya langsung
pergi melarikan diri, dia bbermain-main bersama Reina.
“Lagi
nyanyi-nyanyi ya. Kayaknya seru tuh” ujar Dani salah seorang temannya
“Eh
kita ngumpul dibawah bale-bale kecil sambilan nyanyi yuk” seru Ani-temannya,
gadis itu nampak bersemangat sekali. Mereka semuanya menuju tempat yang
dimaksudkan sama Ani, tempatnya teduh, sejuk ditambah desahan angin yang lewat.
Mereka menyanyi bersama-sama, Zayna mencuri pandang, dilihatnya lelaki itu
tengah bermesraan dengan gadisnya. Gadis itu tidur dibahu sang lelaki dan itu
semakin membuat hatinya merasa tercabik. Dia harus menerima kenyataan, dia
tidak mungkin bersama lelaki itu, benar-benar tidak mungkin. Lelaki itu sudah
dimiliki oleh gadis lain, tentunyalah lelaki itu mencintai gadisnya, apa haknya
arah. Sungguh dia tidak punya hak untuk marah, dia ingin menangis. Tapi apalah,
ini tempat umum. Dia tidak bisa mengeluarkan air mata begitu saja, sementara
disana banyak orang. Beberapa dalam kediaman yang tak berarti dan memikirkan
hal yang tidak mungkin, yah... hatinya benar-benar hancur. Suara musik yang
keluar dari gitar dan lagu-lagu melow yang mereka dendangkan terasa mengerti
akan apa yang dirasakan, dia diam. Diam menatap kosong kearah depan, memandang
semilir ombak dilaut, namun tidak berarti.
“Zayna...”
seru seorang lelaki dari arah berlawanan, baju kaos kuning dan celana katok
selutut. Berwajah putih dan kacamata minus.
“Zayna...”
serunya lagi, Zayna tersentak sedikit. Dia mencari-cari pemilik suara itu, dan
menggerakkan kepalanya kearah kiri, kanan, samping, belakang.
“Zayna...”
untuk yang ketiga kalinya, suara yang cari ditemukan juga. Pemilik suara itu
tersenyum, namun Zayna tidak mengerti. Dia tidak mengenal lelaki itu, dia merasa
belum pernah bertemu dengannya atau dia pernah bertemu tapi lupa?
“Siapa
tuh Na...?” ujar Diana heran
“Ndak
tau, aku ndak kenal orang itu”
“Tapi
dia koq kenal kamu ya?”
“Aku
ndak tau-lah” dia melihat lelaki itu melambai sembari tersenyum kearahnya. ‘Siapa ya?’ bisiknya dalam hati.
“Sini...
Zayna” ujar lelaki itu lagi sambil menggerakkan jemari-jemari tangannya
menyuruh untuk kemari-ke tempatnya-.
“Tuh,
kamu disuruh kesana. Cepet”
“Masa’?
Tapi aku ndak kenal”
“Cobain
aja, temuin dia dulu”
Zayna
bangun dari tempat duduknya dan menuju kearah lelaki itu, lelaki itu tersenyum.
Wajah putihnya semakin bersinar dibawah terik matahari.
“Apa
kabar kamu?” ujarnya ramah, Zayna tampak kikuk. Ndak kenal udah nanyain kabar.
“Ba..ik”
ujarnya pelan.
“Kamu
kenapa koq gitu? Kayak nggak kenal aja. Nggak usah malu” ucapnya
“Gimana
kabar kakakmu?”
“Ka
Rasya?”
“Iya,
siapa lagi?”
“Baik.
Temennya ka’ Raysa ya?”
“Iyalah,
aku sering kerumah kamu dulu. Kamu lupa?”
Dia
menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ‘Sering kerumah? Dulu?, ah siapa ya?. Salah jika tak kenal, salah pula
jika pura-pura kenal’
“Nah...
kamu lupa ya?” ucap lelaki itu sembari membenarkan letak kacamata-nya. Zayna
terkekeh pelan, sambil mengangguk.
“Aku
Sam... temen kakakmu dulu”
Oh,
mendengar nama itu dia kikuk sendiri. Ah,, bagaimana bisa lupa sama orang yang
dulu mampir setiap sore kerumahnya. Orang yang dulu sering diolok bahkan
ditertawakan ketika bertandang ke rumahnya. Orang yang menyapa ketika dia
membersihkan rumah. Dia seperti berfikir, menghadap terik panas sebelah timur.
“Kak
Sam? Ah... maaf, aku bener-bener lupa. Hehehe, maaf bener-bener lupa sama
wajahnya kakak. Maaf ya, lasingan beda banget rupanya” ujar Zayna kikuk, dia
tersenyum kearah beberapa orang temannya yang sedang memperhatikannya.
“Beda?
Beda apanya? Perasaan muka ku tetep aja dari dulu kayak gini”
“Iya,
kakak makin putih aja. Jarang berjemur ya?”
“Pakaian
kale yang dijemur. Kamu tuh ya, ada-ada aja. Gimana kabar bapak sama ibu
dirumah”
“Mereka
baik-baik aja kak. Tumben kita ketemu, jadinya lupa deh wajahnya kakak. Ndak
inget aku. Maaf ya”
“Ya,
nggak apa-apa. Oh... iya, kamu lagi liburan sama temen-temenmu ya? Dimana besok
kuliahnya?”
“Mungkin
aku di Jawa, nyusul kak Rasya”
“O...
rajin-rajin ya”
“Kakak
ngapain disini? Sama siapa kakak disini?”
“Keluarganya
kakak. Mereka disana” ujarnya menunjuk tempat teduh bagian timur yang agak jauh
dari tempat mereka.
“O...”
hanya bulatan singkat itu yang dilontarkan Zayna.
“Seru
banget kayaknya temen-temen kamu ya? Aku minta nomernya Raysa boleh?”
“Iya,
aku ambil handphone ku bentar” Zayna berlari kearah bus dan masuk mencari
tasnya. Kemudian setelah ketemu, ia mengambil benda pipih itu didalam tasnya.
Lalu keluar, sempat ia mendengar “Siapa, Na...?” hingga membuat ia menoleh.
“Temen kakakku” balasnya kemudian berlari kecil kearah Sam-lelaki itu.
“Kebukit
yuk Na...” ujar Sam, melihat Zayna yang baru tiba dihadapannya.
“Ayo’
aku juga mau lihat-lihat pemandangan diatas bukit” ucap Zayna, kemudian mereka
pergi menuju bukit, berjalan-jalan dipinggir laut menikmati semilir angin.
“Cie...
katanya nggak kenal tadi. Tapi koq jalan bareng?” teriak Naomi nyerocos, Zayna
mendengar dan langsung nyengir kearah teman-temannya. Dia mencuri pandang
kearah Jadith, pria itu terlihat biasa-biasa saja. Dia diam dan acuh, tidak
perduli.
“Temen-temen
kamu lucu ya Na...?”
“Aah,
kakak ini... iya mungkin” ujarnya, dia mempercepat langkahnya. Malu akan ejekan
teman-temannya. Dia menunduk, memikirkan sesuatu yang masih berseliweran
didalam kepalanya. Andai saja itu tak pernah terjadi, mungkin dia akan
menghadapi hidup yang lebih baik sekarang, akan senang dan lebih berani dan
akrab dengan yang lainnya.
“Na...”
dia berbalik dan sebongkahan pasir mendarat tepat di ujung rambutnya. Sedikit
pasir-pasir kecil melayang disekitar pupil matanya, dia mengerjap-kerjap
beberapa kali, kemudian mengucek matanya pelan dengan punggung jemari tangan
kanannya.
“Maaf...”
ujar Sam
“Ndak
apa-apa kak” ucapnya, dia mempercepat langkahnya. Wajah Zayna sedikit murung,
memang terlihat murung.
“Ada
sesuatu?” Menyadari hal itu, Sam langsung bertanya seolah ada sesuatu yang
mengganggu fikiran gadis yang tengah bersamanya itu.
“Ndak
ada apa-apa kak”
Beberapa
menit dalam perjalanan, mereka telah sampai di atas bukit. Kemudian mulai
berfoto bareng. Beberapa orang asing pun ikut mengambil foto, ramai sekali
orang ditempat itu. Sam dan Zayna mengambil beberapa foto mereka kemudian
tertawa bersama.
“Habis
dari mana?” tanya Jadith ketika Zayna sudah berada dibawah bale-bale. Tubuhnya
sudah terlindungi dari terik matahari. Zayna terkejut, tampak kikuk dan malu.
“Ke
bukit” ucapnya membuang pandangan. Dia memang tidak berani memandang bola mata
pria yang ada dihadapannya itu.
“Seru
ya... siapa?” ucapnya terdengar sinis dan seperti mengintrogasi.
“Temen
kakak” polos Zayna
“O...
ngapain aja disana?”
“Main--”
“Jadith,,,”
ucap seseorang melambai kearah mereka
“Tuh
dipanggil”
Jadith
memandang gadis itu, seolah belum berniat pergi dari tempat itu. Begitu pula
Zayna, namun apalah daya. Dia tidak bisa mencegah semua itu, itu diluar
kendalinya.
Jadith
berlari kecil menuju kearah pacarnya, sementara Zayna berdiri mematung melihat
kepergian lelaki itu. ‘Cinta tak mesti
harus memiliki’
Itulah
terakhir kalinya Zayna melihat lelaki yang dicintainya. Dia mungkin tak akan
pernah bertemu lagi. Cinta pertama yang tak dapat diraihnya, hanya dapat
dirasakan tanpa memiliki. Dia tak dapat menggapai lelakinya, namun ketika tuhan
berkata lain. Siapa tahu?
THE END
